Jakarta

Masyarakat dunia beberapa hari terakhir dikejutkan dengan kemunculan subvarian Omicron, EU.1.1. Subvarian turunan XBB.1.5 ini telah menyerang wilayah seperti Colorado, Montana, Dakota Utara, Dakota Selatan, Utah dan Wyoming, serta beberapa negara di Eropa.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi memastikan subvarian EU.1.1 masih belum ditemukan di Indonesia.

“Indonesia belum nemuin,” ucapnya saat ditemui di Gedung DPR RI Senayan, Selasa (4/7/2023).

Soal potensi menjadi sebuah wabah pandemi baru, dr Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir. Sebab, World Well being Group (WHO) sendiri masih belum memberi peringatan terkait subvarian baru ini.

“Ini kan baru penemuan subvarian, jadi dia masih virus variant beneath monitoring (VUM),” imbuhnya.

Meski begitu, dia menegaskan masyarakat tetap tidak boleh lengah. Memasuki masa endemi, masyarakat harus semakin lebih bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan dirinya.

“Pascapandemi, perlindungan kepada diri kita itu milik tanggung jawab pribadi. Kalau dulu kan pemerintah, nggak boleh beraktivitas masyarakat, harus pakai masker, harus skrining beraktivitas. Sekarang kita sendiri,” terangnya.

“Kalau kita (pemerintah) merasa ada ancaman penularan COVID, kita menganjurkan tetap menggunakan masker,” sambungnya.

dr Nadia menambahkan jika memang ditemukan di Indonesia, EU.1.1 tidak akan serta merta dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) ataupun memicu standing kedaruratan.

“Nanti kita lihat seberapa besar perluasan dan peningkatan kasusnya. Karena definisi KLB kan ada enam kriteria. Tapi kalau memutuskan ini kedaruratan, kita lihat yang sudah ditemukan di Eropa kasusnya kan nggak ada peningkatan,” pungkasnya.

Simak Video “Kemenkes Jawab Beda Penanganan Covid-19 saat Pandemi dan Endemi
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)