Jakarta

Pasukan Israel melancarkan serangan pada hari Rabu di rumah sakit terbesar Gaza, Al-Shifa. Pihak Israel menuding bahwa rumah sakit tersebut menjadi markas Hamas yang bersembunyi di bawah kompleks tersebut. Klaim tersebut sebelumnya telah dibantah oleh Hamas dan pihak rumah sakit.

Pihak PBB menuturkan bahwa rumah sakit tersebut menjadi tempat berlindung ratusan pasien yang menjadi korban. Saat ini rumah sakit tersebut sudah tidak berfungsi lagi akibat blokade listrik dan suplai medis yang terus berkurang.

Warga Palestina menganggap bahwa pertempuran di sekitar Al-Shifa sebagai bukti ketidakpedulian Israel terhadap kehidupan warga sipil di Gaza.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami diminta menjauhi jendela dan balkon. Kita bisa mendengar kendaraan lapis baja mereka sangat dekat dengan pintu masuk kompleks,” ucap dokter di rumah sakit tersebut Khaled Abu Samra dikutip dari CNN, Kamis (16/11/2023).

Hamas, pejabat kesehatan Palestina, dan pekerja medis dengan keras membantah klaim Israel yang menyebut bahwa kompleks rumah sakit digunakan untuk tujuan militer.

“Rumah sakit di Gaza digunakan hanya untuk merawat pasien dan tidak digunakan untuk menyembunyikan siapapun,” ujar Dirjen Kemenkes Gaza Dr Medhat Abbas.

Kondisi ini juga mengundang komentar dari Menteri Kesehatan Palestina Dr Mai Al Kaila. Dr Mai menuturkan bahwa serbuan tersebut dapat membahayakan staf medis dan pasien yang ada RS Al-Shifa.

“Tindakan tersebut merupakan kejahatan baru terhadap kemanusiaan, staf medis, dan pasien,” kata Dr Mai.

Hamas dalam sebuah pernyataan menyalahkan Israel dan Amerika Serikat atas serangan tersebut. Mereka mengklaim bahwa AS telah memberikan Israel izin untuk melakukan lebih banyak pembantaian sipil menggunakan narasi palsu. Hamas juga menuding PBB telah gagal membela Palestina.

Simak Video “Hamas: 25 dari 35 RS di Gaza Tak Dapat Beroperasi Akibat Serangan Israel
[Gambas:Video 20detik]
(avk/vyp)