Jakarta

Kementerian Kesehatan RI buka suara soal sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait kemungkinan pemanis aspartam memicu kanker hati atau karsinoma hepatoseluler. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI dr Maxi Rein Rondonuwu menyebut kepastian kaitan kanker dengan pemanis bukan gula semacam ini masih sangat rendah.

Artinya, belum banyak studi yang menunjukkan keterkaitan di antara keduanya.

“Masih membutuhkan pembuktian dari penelitian lainnya,” jelas dr Maxi kepada detikcom Jumat (14/7/2023).

Meski begitu, pemerintah disebutnya mengimbau masyarakat untuk mengganti gula bebas dalam makanan dengan sumber rasa manis alami. Ini bisa didapat dari buah-buahan sehingga lebih aman bagi kesehatan.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi sebisa mungkin juga diproses secara minimal, artinya tidak dengan penambahan gula berlebihan, minyak berlebih, dan kandungan lain yang berpotensi memicu penyakit diabetes hingga obesitas.

Soal Pemanis Bukan Gula

Mengutip pedoman WHO, Maxi menuturkan studi observasi prospektik jangka panjang dengan tindak lanjut rata-rata 13 tahun, menunjukkan tidak ada kaitan antara penggunaan pemanis bukan gula dengan kejadian atau kematian kanker.

“Tinjauan sistematis jangka panjang pada orang dewasa atau anak-anak, potensi efek yang tidak diinginkan dari penggunaan jangka panjang NSS dalam bentuk peningkatan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kematian pada orang dewasa,” kata dia.

“Penggunaan NSS (terutama sakarin) dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kandung kemih sebagaimana dinilai dalam studi kasus-kontrol, tetapi bukti kepastian studi ini masih sangat rendah dan membutuhkan pembuktian dari penelitian lainnya,” pungkasnya.

NEXT: Kekhawatiran WHO