Tag: Ada

Penduduk Gaza Hadapi Bencana Kelaparan, Hampir Tak Ada yang Bisa Dikonsumsi


Jakarta

Laporan Built-in Meals Safety and Vitamin Part Classification (IPC) memberikan gambaran seberapa buruk krisis pangan di wilayah Gaza, Palestina. Nasib mereka hanya bisa ditentukan dengan gencatan senjata atau berakhirnya perang dengan Palestina.

Menurut temuan IPC, 100 persen penduduk Gaza yang berkisar 2,22 juta orang menghadapi krisis kelaparan parah akibat konflik dan pengepungan wilayah mereka. “Hampir semua rumah tangga melewatkan waktu makan setiap hari,” demikian catatan IPC, Kamis (22/12/2023).

“IPC mengungkapkan situasi yang mengerikan di Gaza, di mana 576.600 orang saat ini mengalami bencana kelaparan yang parah,” kata Dalmar Ainashe, penasihat teknis senior CARE untuk Ketahanan Pangan, Mata Pencaharian, dan Gizi, merujuk pada tahap tertinggi krisis pangan di Gaza.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Angka ini tidak ada bandingannya dalam sejarah IPC, terutama jika dibandingkan dengan populasi Gaza yang relatif kecil. Sebelum konflik saat ini, jumlah orang yang tergabung dalam IPC Fase 5 di seluruh dunia hanya 128.600 orang. Sekarang, jumlah ini meningkat empat kali lipat karena kondisi berbahaya di Gaza.”

Tragisnya, dengan jumlah korban tewas melebihi 20.000 orang, situasi warga sipil semakin memburuk.

“Ini adalah peringatan ekstrem bagi komunitas internasional bahwa perlu ada tindakan hari ini untuk menjamin gencatan senjata dan menghentikan hilangnya nyawa secara signifikan dan dapat dihindari dalam beberapa hari, minggu, dan bulan mendatang,” kata Aaron Brent, CARE West Financial institution dan Gaza Performing Nation Direktur.

“Bantuan kemanusiaan harus bisa menjangkau masyarakat dengan aman dan konsisten sebelum ada perbaikan, tapi kita tidak bisa melakukannya di tengah pertempuran. Kita tidak bisa menunggu hingga terjadi bencana kelaparan, saat itu sudah terlambat.”

Selain risiko deadly berupa kelaparan, kekurangan gizi, penyakit, dan kehilangan anak akibat kelaparan ekstrem, Brent menyoroti bahaya lain yang ditimbulkan oleh upaya putus asa warga Palestina untuk mencari makanan di Gaza. “Keluarga tak berdosa yang terjebak dalam pertempuran akan menghadapi risiko lebih besar untuk menjadi korban. terbunuh karena kelaparan memaksa mereka untuk mencari bantuan kemanusiaan terbatas dan mengantre panjang di luar toko roti, yang semakin membuat mereka rentan terhadap pertempuran.”

Di antara mereka yang paling berisiko di tengah pertempuran adalah perempuan dan anak-anak, lebih dari 70 persen korban tewas.

Brent juga mencatat tingkat kelaparan ekstrem secara dramatis meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender serta eksploitasi dan pelecehan seksual bagi perempuan dan anak perempuan.

“Kami tahu dari pengalaman kami bahwa perempuan dan anak perempuan biasanya makan paling akhir dan paling sedikit. Kelaparan yang parah akan mempunyai dampak yang lebih besar karena berdampak negatif terhadap kesehatan kekebalan tubuh dan membuat mereka rentan terhadap penyakit yang berhubungan dengan gizi, sementara penyakit menular menyebar dengan merajalela. Tingkat kelaparan ekstrem ini juga secara dramatis meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender serta eksploitasi dan pelecehan seksual bagi perempuan dan anak perempuan.”

Simak Video “70% RS di Jalur Gaza Tak Beroperasi-250 Ribu Rumah Luluh Lantak
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

10 Tanda Ada Masalah di Ginjal yang Sering Diabaikan, Termasuk Mudah Lelah

Jakarta

Ginjal adalah salah satu organ terpenting untuk menjaga keseimbangan tubuh. Tugas utama ginjal adalah membuang limbah dari darah dan mengembalikan darah yang telah dibersihkan ke tubuh.

Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, hal ini akan berujung pada berbagai masalah kesehatan dan komplikasi. Alhasil, penyakit ginjal akan sulit untuk diobati jika kondisinya sudah parah.

Oleh sebab itu, penting untuk mencegah dan menangani penyakit ginjal sedini mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mewaspadai beberapa tanda awal masalah pada ginjal yang sering diabaikan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari WebMD, berikut adalah 10 tanda masalah pada ginjal yang harus diwaspadai.

1. Selalu lelah

Ginjal menyaring limbah dari darah dan mengeluarkannya melalui air seni. Ketika ginjal tidak bekerja dengan baik, racun dapat menumpuk. Salah satu tanda yang umum adalah kelelahan.

Seseorang mungkin merasa lelah, lemah, atau sulit berkonsentrasi. Ginjal memproduksi hormon yang memerintahkan tubuh untuk membuat sel darah merah. Jika jumlah sel darah merah kurang, darah tidak dapat menyalurkan oksigen ke otot dan otak sebanyak yang dibutuhkan.

2. Kualitas tidur yang buruk

Penelitian menunjukkan kemungkinan hubungan antara sleep apnea dan penyakit ginjal kronis, yang lama kelamaan akan merusak organ-organ tubuh dan dapat menyebabkan gagal ginjal.

Apnea tidur dapat merusak ginjal seseorang dengan mencegah tubuh dari mendapatkan oksigen yang cukup. Penyakit ginjal kronis kemudian dapat menyebabkan sleep apnea dengan mempersempit tenggorokan, penumpukan toksin, dan cara-cara lainnya.

3. Gatal-gatal pada kulit

Kulit gatal dapat terjadi jika ginjal tidak dapat membuang racun sehingga menumpuk di dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan ruam atau membuat seseorang merasa gatal.

Seiring waktu, ginjal mungkin tidak dapat menyeimbangkan mineral dan nutrisi dalam tubuh. Alhasil, kondisi ini dapat menyebabkan penyakit mineral dan tulang, yang dapat membuat kulit Anda kering dan gatal.

4. Bengkak pada wajah dan kaki

Ketika ginjal tidak dapat membuang natrium dengan baik, cairan akan menumpuk di dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan tangan, kaki, pergelangan kaki, tungkai, atau wajah bengkak.

Seseorang mungkin akan merasakan pembengkakan terutama pada kaki dan pergelangan kaki. Selain itu, protein yang keluar melalui urin dapat terlihat sebagai pembengkakan di sekitar mata.

5. Kram otot

Kram pada kaki dan bagian tubuh lainnya dapat merupakan tanda fungsi ginjal yang buruk. Pasalnya, ketidakseimbangan kadar natrium, kalsium, kalium, atau elektrolit lainnya dapat mengganggu kerja otot dan saraf.

6. Sesak napas

Bila seseorang menderita penyakit ginjal, organ-organ tubuhnya tidak menghasilkan cukup hormon eritropoietin. Hormon ini memberi sinyal kepada tubuh untuk membuat sel darah merah.

Tanpa hormon ini, seseorang bisa mengalami anemia dan merasa sesak napas. Penyebab lainnya adalah penumpukan cairan. Seseorang mungkin mengalami kesulitan mengatur napas. Dalam kasus yang serius, berbaring dapat membuat tubuh terasa seperti tenggelam.

7. Kepala Berkabut

Ketika ginjal tidak menyaring semua limbah dari tubuh, racun-racun tersebut dapat mempengaruhi otak. Anemia juga dapat menghalangi otak dari suplai oksigen yang dibutuhkannya.

Seseorang mungkin merasa pusing dan mengalami masalah dengan konsentrasi dan daya ingat. Dirinya mungkin menjadi sangat bingung sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas sederhana.

8. Nafsu Makan Rendah

Penyakit ginjal dapat menyebabkan mual atau muntah dan membuat perut terasa sakit yang dapat membuat seseorang tidak nafsu makan. Hal itu terkadang dapat menyebabkan penurunan berat badan.

9. Nafas yang Bau

Ketika ginjal tidak dapat menyaring limbah, hal ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut uremia. Kondisi ini dapat membuat mulut seseorang berbau. Selain itu, racun dalam aliran darah dapat membuat makanan terasa seperti logam atau tidak enak.

10. Air seni berbusa, kecoklatan, atau berdarah

Kencing berbusa bisa jadi merupakan tanda terlalu banyak protein yang disebut albumin. Hal ini dapat diakibatkan oleh masalah ginjal. Begitu juga dengan air seni yang berwarna kecoklatan atau sangat pucat.

Fungsi ginjal yang rusak juga dapat menyebabkan darah bocor ke dalam kandung kemih.

Adapun darah dalam air seni juga dapat disebabkan oleh batu ginjal, tumor, atau infeksi.

Simak Video “KuTips Cegah ‘Kena Psychological’ dan Kecanduan Imbas Foremost Medsos
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Harian COVID-19 di DKI Naik 2 Kali Lipat, Ada 2 Kematian Sepanjang Desember


Jakarta

Kasus COVID-19 di DKI Jakarta belakangan meningkat, dalam sepekan ‘melonjak’ 40 persen. Sementara kasus harian dari yang semula berada di puluhan kasus, kini tercatat melampaui 100 orang.

Laporan COVID-19 dalam tiga hari terakhir misalnya, menunjukkan tren demikian. Pada Senin (11/12/2023) tercatat sebanyak 57 kasus konfirmasi positif COVID-19. Kemudian pada Selasa meningkat nyaris dua kali lipat menjadi 127 orang, sementara pada Rabu (13/12) tercatat sebanyak 131 kasus baru COVID-19, kenaikan mencapai 2,2 kali lipat.

“Sementara untuk kasus positif aktif atau pasien yang membutuhkan perawatan per 13 Desember 2023 sebanyak 365 kasus,” terang Kepala Seksi Surveilans Epidemiolog dan Imunisasi Dinas Kesehatan Ngabila Salama kepada detikcom Rabu (13/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak satu hingga 10 Desember 2022, dilaporkan ada dua orang meninggal akibat COVID-19, sementara dalam tiga hari terakhir nihil catatan kasus kematian. Hal ini sejalan dengan laporan gejala pasien mayoritas ringan, bahkan berada di angka 90 persen.

“Penggunaan tempat tidur stabil di bawah 5 persen. Belum ada kenaikan bermakna,” lanjutnya.

Vaksinasi COVID-19 di DKI Jakarta masih diberikan secara free of charge, adapun jenis vaksin yang tersedia merupakan Indovac dan Inavac, keduanya produksi dalam negeri. dr Ngabila mengimbau kelompok komorbid, lansia, hingga mereka yang memiliki gangguan imunitas tubuh segera melengkapi dosis vaksinasi hingga empat dosis.

Ada kemungkinan laporan penurunan antibodi COVID-19 di masyarakat setelah enam bulan vaksinasi terakhir terlewat, sehingga booster penting kembali dilakukan. Pemerintah tengah ‘menggodok’ regulasi pemberian vaksinasi booster ketiga atau vaksin COVID-19 dosis kelima, kelompok prioritas menyasar orang yang rentan berakhir deadly saat tertular SARS-CoV-2.

Simak Video “Covid-19 Kembali Ngegas, Perlukah Pakai Masker Lagi?
[Gambas:Video 20detik]
(naf/vyp)

Bakal Ada Booster COVID Ketiga, Berapa Lama Sih Proteksi Vaksin Menetap di Tubuh?

Jakarta

Menyusul kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini, pemerintah kini membuka kemungkinan diadakannya vaksinasi COVID-19 booster ketiga. Walaupun melihat situasi di RI kini, Direktur Jenderal Pelayanan Kementerian Kesehatan RI Azhar Jaya menyebut keterisian mattress occupancy charge (BOR) relatif rendah dibandingkan gelombang Corona sebelumnya.

“Kita sudah bersiap membuka vaksinasi massal kepada masyarakat, lagi proses juga vaksinasi lagi, untuk booster ketiga,” ungkap Azhar saat ditemui detikcom di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (12/12/2023).

Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(Okay) menyebut secara teori, tingkat proteksi yang diberikan vaksin COVID-19 kepada tubuh masyarakat memang menurun dengan sendirinya dalam waktu hitungan bulan setelah suntikan terakhir.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walhasil, penting untuk masyarakat terutama lansia dan pengidap komorbid mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 booster.

“Seiring waktu daya tahan tubuh atau titer antibodi kekebalan COVID-19 yang dihasilkan vaksin mulai declining, berkurang terutama setelah bulan ke-6 sampai ke-12,” jelas dr Erlina.

“Vaksinasi booster khususnya pada kelompok rentan, manula, dan orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah ini saya kira perlu dianjurkan untuk mengurangi risiko infeksi dan beratnya penyakit,” imbuhnya.

dr Erlina menyebut ada kemungkinan gelombang COVID-19 di RI kali ini dipicu oleh penurunan antibodi masyarakat, lantaran sudah berbulan-bulan berlalu sejak masyarakat mendapatkan suntikan terakhir vaksin COVID-19.

dr Erlina tak yakin varian Corona Eris EG.5 menjadi ‘biang kerok’ tunggal kenaikan kasus COVID, varian ini sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli. Namun saat itu, kasus COVID-19 tak meningkat meskipun varian ini telah ditemukan.

“Ada kemungkinan bahwa titer antibodi juga menurun karena sudah lama kita divaksin. Sudah lebih dari enam bulan dan secara teori harusnya (antibodi) menurun,” pungkas dr Erlina.

Simak Video “Antisipasi Jelang Nataru, Warga Diimbau Lengkapi Vaksinasi Covid-19
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Ada 2 Kematian COVID di DKI, Sefatal Apa Varian EG.5 yang Mulai Dominan di RI?


Jakarta

Menyusul kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia, Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan dua kasus kematian pasien COVID-19 pada Desember 2023. Kasus kematian muncul setelah dua bulan berturut-turut sebelumnya, Oktober hingga November 2023, nihil kasus kematian akibat COVID-19 di DKI Jakarta.

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Ngabila Salama menyebut, kedua pasien tersebut adalah wanita (81) dengan komorbid hipertensi, standing vaksinasi sudah dosis ketiga, belum menerima dosis keempat, dan wanita (91) dengan komorbid stroke dan gagal ginjal dan sama sekali belum divaksinasi COVID-19.

Varian Eris EG.5 disebut-sebut menjadi biang kerok gelombang COVID-19 kali ini. Berkenaan dengan itu, dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(Ok) menyebut varian ini sebenarnya terpantau tak memicu gejala lebih berat dibandingkan subvarian Omicron yang merebak sebelumnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Gejalanya tidak berat. Kalaupun dirawat, karena komorbid (pasien) ada komorbidnya. Kalau asma menjadi mengi, tensi naik, sehingga dirawat karena komorbid,” ungkap dr Erlina dalam konferensi pers beberapa hari lalu.

“EG.5 sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli, bahkan angkanya hampir menyentuh 20 persen saat variannya adalah EG.5. Tapi kan gejalanya ringan-ringan saja, tidak ada lonjakan kasus, lonjakan perawatan di rumah sakit,” imbuhnya.

Seraya ia menambahkan, kenaikan COVID-19 di RI kali ini mungkin dipicu oleh penerapan prokes yang melonggar, mobilitas masyarakat yang meningkat, serta imunitas yang menurun lantaran proteksi vaksin COVID-19 menurun dengan sendirinya dalam waktu 6-12 bulan pasca suntikan terakhir.

Simak Video “Mengenal EG.5 yang Disebut Bikin Kasus Covid-19 Ngegas di RI
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

Wanita Ini Ngeluh Sakit Perut-Kembung 10 Hari, Ternyata Ada Bayi di Dekat Ususnya


Jakarta

Seorang wanita berusia 37 tahun di Prancis mengeluh nyeri di perut selama 10 hari, dibarengi gejala kembung yang terus memburuk. Tak diduga, keluhannya itu rupanya muncul gegara ada bayi tumbuh di dekat ususnya. Bagaimana bisa?

Awalnya gegara gejalanya tak kunjung mereda, wanita tersebut menjalani pemindaian perut. Dari sanalah baru ditemukan bahwa ada janin tumbuh dengan regular di rongga perutnya, tepatnya di antara perut dan ususnya.

Fenomena medis tersebut dikenal sebagai kehamilan ektopik yang hampir selalu berakibat deadly bagi anak. Kasus tersebut terungkap dalam New England Journal of Medication.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter mendiagnosis wanita yang tidak disebutkan namanya itu menderita kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim, dan terjadi di perut. Bayi berada di rongga peritoneum, atau space tempat organ very important berada.

Sementara plasenta sang janin menempel di bagian atas panggul.

Dokter mengatakan kehamilan ini sangat jarang terjadi. Tetapi, mungkin terjadi jika janin mulai tumbuh di saluran tuba, yang membawa sel telur dari ovarium ke rahim atau ovarium.

“Seiring waktu, lubang ini bisa pecah sehingga memungkinkan janin ‘melarikan diri’ ke dalam rongga,” tulis jurnal yang dikutip dari Every day Mail, Selasa (12/12/2023).

Mengetahui kondisinya, wanita tersebut datang ke dokter yang ada di daerahnya. Dokter memintanya menunggu hingga usia kandungan 29 minggu untuk melahirkan bayinya. Ini dilakukan untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidupnya.

Dokter membantu proses kelahiran bayi tersebut dengan membuat sayatan di perut. Setelah itu, dokter memindahkannya ke unit perawatan intensif neonatal.

Sang ibu menjalani operasi terpisah 12 hari setelah kelahiran, agar dokter dapat mengeluarkan sisa plasentanya. Ibu dan bayinya dipulangkan selama 25 hari, dua bulan setelah kelahiran.

Diketahui, wanita tersebut sebelumnya sudah memiliki dua orang anak dan pernah mengalami keguguran.

“Bayi dapat hidup di luar rahim sejak usia 24 minggu,” kata dokter.

“Tetapi, tingkat kelangsungan hidup lebih rendah, dengan 68 persen bertahan hidup. Ada juga kasus bayi bertahan hidup setelah dilahirkan pada usia 21 minggu,” pungkasnya.

Simak Video “Viral Bayi 5 Bulan Disebut ‘Hamil’, Ini Hasil Diagnosisnya
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

Tanggal 12 Desember 2023 Memperingati Apa? Ada Hari Cakupan Kesehatan Common

Jakarta

Ada sejumlah hari penting yang diperingati pada 12 Desember 2023, salah satunya Hari Cakupan Kesehatan Common, atau Common Well being Protection (UHC) Day. Selain itu, juga ada Hari Mendekorasi Kue Jahe di Amerika Serikat, Hari Konstitusi di Thailand, dan masih banyak lagi.

Terkait kesehatan, peringatan Hari Cakupan Kesehatan Common bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sistem kesehatan yang kuat dan tangguh, serta cakupan kesehatan yang common.

Hari Cakupan Kesehatan Common juga mengangkat suara orang-orang yang sampai saat ini masih harus menunggu untuk bisa mendapat pelayanan kesehatan. Tujuannya adalah untuk menyerukan kepada para pemimpin untuk melakukan investasi yang lebih besar dan cerdas di bidang kesehatan, sekaligus mengingatkan dunia bahwa setiap orang berhak atas pelayanan kesehatan yang sama.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Hari Cakupan Kesehatan Common

Dikutip dari situs UHC2030, gagasan Hari Cakupan Kesehatan Common bermula pada 12 Desember 2012. Ketika itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak negara-negara untuk mempercepat cakupan kesehatan common sebagai prioritas penting bagi pembangunan internasional.

Majelis Umum PBB pun mengesahkan resolusi yang berisi gagasan bahwa setiap orang, di manapun mereka berada, harus memiliki akses e pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Hal ini lantaran banyak negara-negara anggota PBB, termasuk Amerika Serikat, masih belum memiliki sistem kesehatan yang mampu mencakup seluruh masyarakatnya kala itu.

Pada 2014, Koalisi Cakupan Kesehatan Common (Common Well being Protection Coalition) mulai memperingati 12 Desember sebagai Hari Cakupan Kesehatan Common. Peringatan ini dilakukan untuk mengapresiasi Majelis Umum PBB yang sudah mengakui pentingnya cakupan kesehatan common.

Lalu pada 2017, Majelis Umum PBB secara resmi mengumumkan 12 Desember sebagai Hari Cakupan Kesehatan Common, membuatnya menjadi salah satu hari resmi yang ditetapkan oleh PBB.

Tema Hari Cakupan Kesehatan Common 2023

Hari Cakupan Kesehatan Common 2023 mengusung tema ‘Well being For All: Time for motion’. Tema ini bertujuan untuk menyerukan kepada seluruh pihak untuk melakukan aksi yang berfokus pada ketahanan sistem kesehatan.

Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar yang berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ketika negara-negara tengah berjuang untuk lepas dari dampak pandemi COVID-19, di saat yang sama mereka juga harus menghadapi tantangan yang semakin kompleks yang mengancam keberadaan umat manusia, seperti krisis iklim, degradasi lingkungan, urbanisasi yang tidak merata, serta konflik-konflik berskala besar yang terus bermunculan dan semakin meluas.

Menghadapi semua itu, keberadaan sistem kesehatan yang adil dan tangguh sangat dibutuhkan untuk menjamin kesehatan semua orang. Namun, perkembangan cakupan kesehatan mengalami stagnasi sejak 2015 dan terhenti akibat pandemi COVID-19. Akibatnya, lebih dari setengah populasi dunia tidak sepenuhnya tercakup dalam layanan kesehatan.

Karenanya, di Hari Cakupan Kesehatan Internasional WHO menyerukan kepada pemerintah untuk segera berinvestasi guna mewujudkan ketahanan sistem kesehatan agar dapat mendorong kemajuan menuju cakupan kesehatan common, dan memberikan pelayanan kesehatan yang adil dan merata bagi setiap orang di dunia.

Simak Video “Respons Sandiaga Uno Soal Kenaikan Kasus Covid-19 Jelang Libur Nataru
[Gambas:Video 20detik]
(ath/up)

Ada 6 Kasus Mycoplasma Pneumoniae di RI, Begini Gejala yang Dikeluhkan


Jakarta

Kementerian Kesehatan RI melaporkan ada 6 kasus infeksi Mycoplasma pneumoniae di Indonesia, bakteri yang disebut-sebut memicu merebaknya pneumonia ‘misterius’ di China. Ditegaskannya, penyakit ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.

“Bukan penyakit baru. Umumnya ada sejak dulu sebelum COVID, itu insidensinya 8,5 persen. Jadi penyakit ini memang sudah lama ada, jadi bukan penyakit baru. Cuma memang naik di China. Naiknya karena apa belum tahu,” tegas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr Maxi Rein Rondonuwu dalam konferensi pers, Rabu (6/12/2023).

Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Nastiti Kaswandani, SpA(Ok) menjelaskan, gejala infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae ini sebenarnya mirip dengan infeksi saluran pernapasan (ISPA) lainnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Biasanya diawali dengan demam, kemudian batuk. Batuk ini yang sangat mengganggu sehingga bisa sampai dua sampai tiga pekan,” jelasnya juga dalam konferensi pers.

“Gejala-gejala lainnya nyeri tenggorok. Kalau anak besar terkadang sampai nyeri dada, kemudian ada gejala fatigue atau lemah. Itu yang menonjol pada pneumonia karena Mycoplasma,” pungkas dr Nastiti.

Simak Video “Pneumonia ‘Misterius’ di China Picu Pandemi? Ini Kata Kemenkes
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

Aneh Tapi Nyata, Dokter Bingung Ada Lalat Hidup di Usus Pria yang Kena Kanker


Jakarta

Seorang pria di Missouri, Amerika Serikat, membuat para dokter kebingungan lantaran ditemukan seekor lalat hidup berdengung di dalam ususnya. Pria berusia 63 tahun itu diketahui memiliki riwayat masalah jantung ringan, asma, dan tinnitus atau telinga berdenging.

Tak hanya itu, pria yang tak disebutkan identitasnya itu juga didiagnosis terkena kanker usus besar dan kerap menjalani pemeriksaan rutin untuk penyakitnya.

Para dokter melakukan prosedur kolonoskopi dengan memasang kamera pada usus besar atau kolon guna melihat kondisi organ pencernaan ini. Prosedur berjalan seperti biasa sampai dokter mencapai kolon transversum, space di bagian atas usus besar.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan sisa-sisa makanan yang mengalami pembusukan, dokter justru menemukan seekor lalat utuh yang masih hidup dan mengeluarkan suara. Adapun kasus temuan kolonoskopi yang sangat langka ini dipublikasikan oleh tim dokter di jurnal American Journal of Gastroenterology pada Oktober 2023.

Lalat hidup di dalam ususLalat hidup di dalam usus Foto: American Journal of Gastroenterology

“(Ini adalah) misteri tentang bagaimana lalat utuh menemukan jalannya ke usus besar yang melintang,” tulis tim dokter.

Sampai saat ini masih menjadi misteri bagaimana serangga tersebut ada di dalam tubuhnya di bagian akhir saluran pencernaan.

“Pasien tidak yakin bagaimana lalat bisa masuk ke usus besarnya,” jelas tim dalam laporan kasusnya

Namun, kondisi tersebut diduga disebabkan oleh konsumsi selada yang terkontaminasi sehari sebelum jadwal pemeriksaan rutin. Pasien juga mengaku tidak merasakan gejala apa pun.

Kepada dokter, dia juga menyebut hanya mengonsumsi cairan bening sehari sebelum kolonoskopi. Kendati demikian, malam sebelum berpuasa selama 24 jam, dia sempat mengonsumsi pizza dan selada, meski tak mengingat kehadiran lalat pada makanannya.

Lalat dan larvanya dapat menyerang usus manusia, yang secara medis disebut sebagai myiasis usus. Kondisi tersebut terjadi saat seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung telur dan larva lalat.

Simak Video “Satu Pasien Mpox Dilaporkan Meninggal Karena HIV
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

Remaja Darurat Kesehatan Psychological, Pakar Sarankan Ada Skrining di Sekolah


Jakarta

Kesehatan psychological merupakan sebuah permasalahan yang cukup mengkhawatirkan. Tak hanya pada orang dewasa, anak-anak usia remaja juga rentan mengalami masalah kesehatan psychological.

Tim peneliti Studi World pada Remaja Awal atau World Early Adolescent Examine (GEAS) Prof dr Siswanto Agus Wilopo, SU, MSc, mengatakan pendidikan kesehatan psychological pada remaja masih sangat rendah. Hal ini membuat kasus kesehatan psychological pada remaja cukup tinggi.

“Bagaimana cara mengatasi kasus kesehatan psychological, itu harus diskrining, seperti mana anak yang berisiko tinggi,” beber Prof Siswanto saat ditemui di acara Rutgers Indonesia di Bogor, Senin (13/11/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Karena hampir 40 persen itu anak-anak remaja dengan gejala-gejala depresi. Jadi depresi sama anxiousness yang paling banyak,” lanjutnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Prof Siswanto mengatakan perlu ada kolaborasi. Misalnya, untuk skrining awal bisa dilakukan oleh guru bimbingan konseling (BK).

Pada tahap ini, guru BK bisa melihat anak-anak yang memang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan psychological. Sementara untuk pencegahannya, itu harus dilakukan oleh ahlinya yaitu psikolog.

“Untuk pencegahannya itu harus ke psikolog. Oleh karena itu, perlu dirujuk ke puskesmas yang memang memiliki psikolog. Karena guru BK saja nggak bisa untuk mencegah anak-anak itu dari masalah kesehatan psychological. Tapi, masalahnya puskesmas itu sudah punya psikolog atau belum,” jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Sebagai contoh, Prof Siswanto mengungkapkan cara itu yang sudah dilakukan di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Ia mengatakan wilayah tersebut sudah memulai skrining kesehatan psychological di lingkungan sekolah.

Jika ditemukan anak yang dianggap berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan psychological, akan diarahkan untuk melakukan konsultasi ke puskesmas oleh guru BK. Di Yogyakarta sendiri, lanjut Prof Siswanto, semua puskesmas sudah mempunyai psikolog.

“DIY itu punya psikolog, nah mannequin itu yang kita dorong. Di puskesmas harus ada psikolog, karena guru BK saja nggak bisa untuk mencegah (masalah kesehatan psychological),” pungkasnya.

Simak Video “Dampak Positif Merawat Kebersihan Diri pada Kesehatan Psychological Anak
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)