Tag: Berdampingan

Cerita Warga DIY Satu Dasawarsa Hidup ‘Berdampingan’ dengan Nyamuk Wolbachia


Jakarta

Pelepasan nyamuk wolbachia untuk menurunkan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menuai sejumlah polemik. Tidak sedikit masyarakat yang ragu karena dikhawatirkan bisa memicu mutasi genetik pada nyamuk.

Sebelum Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melakukan pilot venture implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan DBD, nyamuk ber-wolbachia sudah lebih dulu dilepaskan di Yogyakarta di tahun 2015.

Seorang tokoh masyarakat Kelurahan Cokrodiningratan, Totok Pratopo, menceritakan pengalamannya saat tim World Mosquito Program (WMP) yang melakukan riset wolbachia melakukan uji coba di wilayah Yogyakarta. Awalnya banyak yang bingung karena selama bertahun-tahun, warga hanya diminta untuk melakukan 3M (menguras, menutup, mengubur) untuk mencegah DBD.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kemudian saya tanyakan, saya minta jaminan andaikata nyamuk dilepas dan ada warga kami yang tertular DBD, apakah ada jaminan atau santunan dari tim ini? Dan waktu itu mohon maaf tidak ada jawaban yang memuaskan dan dikatakan riset ini baru berjalan,” kata Totok dalam webinar Selebrasi Sedasawarsa Warga Yogyakarta Hidup bersama Nyamuk Ber-Wolbachia’ di UGM, Sleman, Rabu (22/11/2023).

Perjalanannya pun bukan tanpa tantangan. Namun dia bersama sejumlah peneliti terus melakukan sosialisasi untuk memberitahu masyarakat tentang manfaat nyamuk wolbachia demi memberantas DBD.

Sebelum penerapan program WMP, kondisi penyebaran DBD di kampung Cokrodiningratan, tempat tinggalnya, bisa dibilang memprihatinkan. Kasus baru selalu muncul menjelang akhir tahun, bahkan hingga mengakibatkan kematian.

“Kampung di pinggir Kali Code sebenarnya memiliki potensi yang tinggi karena tingkat kebersihan lebih rendah dan banyak genangan. Bersyukur teknologi ini ditemukan. Hari ini kampung saya Jetisharjo nol kasus. Tidak ada yang sampai masuk rumah sakit dan meninggal, ini sungguh melegakan bagi kami masyarakat,” kata Totok.

Simak Video “Kata Kemenkes soal Keamanan Program Pengendalian DBD Lewat Wolbachia
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Fakta-fakta Populasi Tikus ‘Meledak’ di Paris, Warga Diminta Hidup Berdampingan

Jakarta

Beberapa waktu terakhir, kota Paris di Perancis menjadi sorotan media gegara dilanda wabah tikus yang jumlahnya mencapai 6 juta ekor. Jumlah populasi tikus tersebut melebihi jumlah warga paris dengan perbandingan 3:1 mengingat bahwa Paris mempunyai populasi 2,1 juta orang.

Walikota Paris Anne Hidalgo ingin meminta kepada masyarakatnya untuk menerima keadaan dan bisa hidup berdampingan dengan tikus. Saat ini, wakil walikota Paris untuk kesehatan masyarakat Anne Souyris membentuk sebuah komite untuk menyelidiki seberapa bisa manusia dan tikus bisa hidung berdampingan.

“Dengan panduan dari walikota, kami telah memutuskan untuk membentuk sebuah komite untuk masalah kohabitasi,” kata Anne Souyris, wakil walikota Paris untuk kesehatan masyarakat dikutip dari RT, Jumat (16/6/2023).

Kebijakan Menuai Professional dan Kontra

Kebijakan ini bukan pertama kalinya dikeluarkan oleh Paris. Pada 2017, Paris menyalurkan 1,8 juta greenback AS atau setara dengan Rp 26,8 miliar untuk memasang tempat sampah kedap udara dan penggunaan racun tikus.

Berdasarkan kebijakan yang telah diumumkan bahwa masyarakat harus hidup berdampingan dengan tikus membuat perubahan yang signifikan dari kebijakan-kebijakan yang sebelumnya pernah diterapkan.

Hal ini lantas menimbulkan professional dan kontra oleh berbagai pihak. Salah satunya orang yang mengkritik rencana tersebut yakni politisi Geoffroy Boulard.

“Kehadiran tikus di permukaan berbahaya bagi kualitas hidup warga Paris,” kata Boulard melalui media sosialnya.

“Paris berhak mendapatkan yang lebih baik,” sambungnya lagi.

Sementara itu, kelompok pecinta hewan seperti Paris Animal Zoopolis (PAZ) menilai bahwa kebijakan tersebut jauh lebih baik.

“Metode pengendalian tikus yang sebelumnya tidak efektif dan kejam. Metode terbaru ini sangat penting,” ucap pihak PAZ.

“Ketika kami berbicara tentang ‘hidup bersama’ dengan tikus. Kami tidak bermaksud tinggal bersama di rumah. Tetapi memastikan bahwa hewan-hewan ini tidak menderita dan kami tidak diganggu,” tambahnya

Penyakit yang Mengintai Warga Paris

Adanya kritik terkait penyebaran penyakit yang disebarkan oleh tikus, Souyris mengatakan bahwa tikus yang sedang menjadi pembahasan ini bukanlah tikus hitam yang membawa wabah. Namun, tikus tetap bisa membawa penyakit.

“Tikus di Paris tidak menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang signifikan. Kami membutuhkan saran ilmiah, bukan siaran pers politik,” ucap Souyris, dikutip dari CNN, Jumat (16/6/2023).

Dikutip dari laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), tikus bisa menularkan beberapa penyakit melalui kotoran, gigitan, air liur, urine, dan udara. Dikutip dari berbagai sumber, berikut penyakit yang bisa ditimbulkan oleh tikus, antara lain:

1. Leptospirosis

Dikutip dari laman CDC, leptospirosis merupakan penyakit yang bisa menyerang manusia dan hewan. Penyakit ini dapat terjadi akibat bakteri dari genus Leptospira.

Pada manusia, beberapa orang tidak menunjukkan gejala sama sekali, tetapi terdapat gejala yang ditimbulkan oleh penyakit leptospirosis yakni sakit kepala, menggigil, demam tinggi, muntah, penyakit kuning, nyeri otot, sakit perut, diare, ruam, dan mata merah.

Jika penyakit ini tidak segera ditangani, menimbulkan kerusakan ginjal, gagal hati, meningitis, gangguan pernapasan, bahkan kematian.