Tag: Berpotensi

Berpotensi Jadi Pandemi Baru, Virus Nipah Bisa Picu Radang Otak Akut


Jakarta

India telah menutup sekolah, kantor, dan transportasi umum serta memeriksa ratusan orang dalam upaya untuk melacak dan mengatasi wabah virus Nipah yang telah menewaskan dua orang. Virus ini dapat membunuh tiga dari empat orang yang terinfeksi dan para ahli menganggap virus ini berpotensi menimbulkan pandemi baru.

Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus Nipah dapat ditularkan ke manusia dari hewan, seperti kelelawar dan babi, atau melalui makanan yang terkontaminasi. Virus ini juga dapat ditularkan secara langsung dari manusia ke manusia.

Hingga kini, belum ada pengobatan atau vaksin yang tersedia untuk manusia atau pun hewan. Penanganan utama untuk manusia adalah perawatan pendukung saja. Kasus penularan Nipah dari manusia ke manusia banyak terjadi di antara keluarga dan perawat orang yang terinfeksi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Infeksi pada manusia dapat berkisar dari infeksi tanpa gejala, infeksi saluran pernapasan akut, hingga peradangan otak (ensefalitis) yang deadly.

Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala awal, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Gejala-gejala tersebut dapat diikuti dengan pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut.

Ensefalitis dapat terjadi pada kasus yang parah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Kebanyakan orang yang selamat dari ensefalitis akut akan sembuh complete, tetapi sekitar 20% pasien yang selamat mengalami konsekuensi neurologis residual seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian.

Tingkat kematian kasus ini diperkirakan mencapai 40% hingga 75%. Angka ini dapat bervariasi dari satu wabah ke wabah lainnya, tergantung pada kemampuan daerah setempat untuk melakukan pengawasan epidemiologi dan manajemen klinis.

Simak Video “Langkah India Usai 2 Orang Dilaporkan Meninggal Akibat Virus Nipah
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

WHO Disebut Bakal Umumkan Pemanis Aspartam Berpotensi Picu Kanker


Jakarta

Pemanis buatan aspartam disebut akan dinyatakan sebagai zat yang mungkin memicu kanker. Pemanis buatan itu diketahui banyak digunakan di dunia. Sebagian di antaranya cukup populer di banyak negara.

Dilaporkan Reuters, sumber menyebut bahwa aspartam pada Juli 2023 akan dimasukkan pada daftar zat yang mungkin bersifat karsinogenik terhadap manusia untuk pertama kalinya oleh Badan Riset Kanker Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Worldwide Company for Analysis on Most cancers (IARC).

Putusan IARC sebenarnya sudah diselesaikan sejak awal Juni ini setelah pertemuan dengan para pakar eksternal. Namun, tidak disebut takaran aspartam yang aman dikonsumsi.

Pada 1981, JECFA (Joint Knowledgeable Committee on Meals Components) atau komite gabungan ahli WHO dan Meals and Agriculture Group (FAO) untuk bahan pangan tambahan menyatakan aspartam aman dikonsumsi jika dikonsumsi sesuai batas harian.

Aspartam sendiri telah dipelajari secara ekstensif selama bertahun-tahun. Pada tahun 2022, sebuah studi observasional di Prancis pada 100 ribu orang menunjukkan orang yang mengonsumsi pemanis buatan dalam jumlah lebih besar (termasuk aspartam) memiliki risiko kanker sedikit lebih tinggi daripada mereka yang mengonsumsinya secara regular.

Namun, belajar dari keputusan IARC di masa lalu mengenai zat berbeda, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen. Pada 2015, muncul putusan bahwa glifosat berpotensi bersifat karsinogenik. European Meals Security Authority (EFSA) menentang penilaian ini.

Namun, pada tahun-tahun berikutnya, sejumlah perusahaan masih merasakan dampaknya. Bayer Jerman kalah di meja hijau dan harus memberikan ganti rugi pada pelanggan yang terkena kanker dan menyalahkan glifosat.

“IARC bukan badan keamanan pangan dan tinjauan aspartam mereka tidak komprehensif secara ilmiah dan sangat didasarkan pada penelitian yang didiskreditkan secara luas,” kata Frances Hunt-Wooden, sekretaris jenderal Worldwide Sweeteners Affiliation (ISA), dikutip dari Reuters.

Pada Maret lalu, pejabat dari Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang menuliskan surat pada WHO. Dia meminta agar dilakukan peninjauan sebelum laporan dirilis.

“Kami dengan hormat meminta kedua badan untuk mengkoordinasikan upaya mereka dalam meninjau aspartam untuk menghindari kebingungan atau kekhawatiran di kalangan masyarakat,” tulis Nozomi dalam suratnya pada Wakil Direktur WHO Zsuzsanna Jakab.

Simak Video “Waspada Kanker Mata
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)