Tag: Biang

‘Biang Kerok’ Krisis Populasi Thailand Makin Horor, Perlahan Didominasi Lansia

Jakarta

Angka kelahiran di Thailand terus menurun, populasi di sana diprediksi bakal berkurang hingga setengahnya, dari sekitar 60 juta menjadi 30 juta di 60 tahun mendatang jika trennya terus berlanjut.

Menteri Kesehatan Masyarakat Dr Cholnan Srikaew melihat menurunnya minat berkeluarga warga Thailand kerap terjadi pada mereka dengan tingkat pendidikan yang tinggi, bahkan sebetulnya mampu secara finansial.

Ada persepsi memiliki anak bisa membuat mereka miskin, sehingga prioritas warga Thailand yang utama adalah berkarier.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Orang Thailand tidak akan memiliki anak, terutama mereka yang memiliki pendidikan, pengetahuan, dan kemampuan yang baik serta mampu secara finansial. Mereka tidak akan melakukannya,” kata Menkes Cholnan, dikutip dari Channel Information Asia, Minggu (17/12/2023).

“Ini adalah sesuatu yang terdistorsi dalam masyarakat Thailand,” tambahnya.

Karenanya, pemerintah berencana untuk membuka klinik kesuburan di setiap provinsi dan melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi beban mengasuh anak. Thailand juga tengah membahas program bantuan baru terkait perempuan yang mengalami kesulitan untuk hamil, dengan memperbanyak teknologi terkait reproduksi dan kesuburan.

Langkah ini merupakan respons terhadap anjloknya angka kelahiran di Thailand, yang turun hampir 40 persen hanya dalam satu dekade, dari 780.975 pada tahun 2012 menjadi 485.085 pada tahun 2022.

Penurunan tersebut begitu signifikan dalam dua tahun terakhir sehingga angka kematian untuk pertama kalinya melebihi angka kelahiran di negara tersebut.

Selain perkiraan depopulasi, jumlah angkatan kerja di Thailand juga diperkirakan menurun dari lebih 40 juta orang saat ini menjadi 14 juta warga di 2083.

“Pada saat yang sama, populasi lansia diperkirakan meningkat dari sekitar delapan juta orang menjadi 18 juta orang, atau sekitar separuh negara,” tambah Dr Piyachart.

Mindset Warga Thailand

Thailand memiliki tingkat kesuburan terendah kedua di Asia Tenggara setelah Singapura, yang mencatat 1,04 kelahiran per perempuan pada 2022.

Negara tetangga lainnya seperti Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Vietnam melaporkan angka kesuburan lebih tinggi, baik mendekati atau di atas tingkat penggantian.

Para analis mengatakan pergeseran demografi di Thailand merupakan masalah multidimensi yang berasal dari berbagai faktor seperti pendidikan tinggi, berkurangnya kesenjangan dalam peran gender dan nilai-nilai sosial yang semakin memprioritaskan pencapaian karier.

Kebijakan keluarga berencana yang sukses dan kondisi sosial-ekonomi seperti kesenjangan sosial, terbatasnya pendapatan, dan rendahnya kualitas pendidikan juga telah membuat masyarakat enggan memiliki anak.

Meskipun pemerintah menginginkan lebih banyak bayi, membesarkan keluarga bukanlah tugas yang mudah bagi masyarakat awam Thailand ketika sistem pendukung tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya hidup atau permintaan kedua orang tua untuk bekerja.

Cuti melahirkan menurut undang-undang selama 14 minggu, termasuk akhir pekan dan hari libur, tidak memberikan banyak waktu bagi orang tua yang bekerja untuk mengasuh bayi mereka. Bahkan, ketika mereka harus kembali bekerja, para analis mengatakan pusat penitipan anak tidak memadai dan fasilitas berkualitas tinggi memerlukan biaya yang mahal.

“Ketika pemerintah meminta masyarakatnya memiliki anak untuk negaranya, kita harus bertanya balik kepada mereka ‘Apa imbalan yang diberikan negara kepada kita?'” kata Nona Phanphaka, salah satu warga Thailand.

Meskipun pemerintah memberikan berbagai macam subsidi, ia menegaskan bahwa subsidi tersebut tidak cukup dan orang tua tidak punya pilihan selain bekerja lebih keras untuk memberikan standar pendidikan yang baik dan kehidupan yang baik bagi anak-anak mereka.

“Thailand tidak menyenangkan. Bukan masyarakat yang cukup baik untuk membuat saya ingin punya anak,” kata Phanphaka, kepada CNA.

Simak Video “Singgung soal Penurunan Angka Kelahiran di Korut, Kim Jong Un Nangis
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Kasus COVID-19 Melonjak hingga 57 Persen, Menkes Malaysia Ungkap Biang Keroknya


Jakarta

Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Dr Zaliha Mustafa melaporkan ada peningkatan kasus COVID-19 yang dilaporkan secara world, termasuk di negaranya. Namun disebutkannya, sebagian besar pasien COVID-19 di negaranya mengalami gejala ringan dan tak memerlukan perawatan di rumah sakit.

“Ada peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan secara world. Di Malaysia, peningkatan ini mengikuti tren yang terlihat setiap akhir tahun, yang juga terjadi di negara lain,” ujarnya, dikutip dari The Star.

Adapun varian yang saat ini mendominasi di negara tetangga RI itu adalah Omicron dengan subvariannya yang diketahui memiliki tingkat penularan tinggi. Meski begitu, Dr Zaliha menekankan, varian tersebut tak menimbulkan kasus yang parah. Menurutnya, tak ada varian baru COVID-19 yang terdeteksi di negaranya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Meski terjadi peningkatan kasus, situasi saat ini di Malaysia masih terkendali dan tidak membebani fasilitas kesehatan yang ada. Kementerian tetap siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi, ujarnya.

baca juga

Dr Zaliha juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga kebersihan diri hingga memakai masker bagi mereka yang mengalami gejala.

Jika gejalanya memburuk, ia mengimbau untuk berkonsultasi ke dokter dan mendapatkan pengobatan antivirus di klinik kesehatan terdekat bagi mereka yang positif COVID-19 dan berisiko tinggi.

“Masyarakat juga dapat menerima vaksin COVID-19 dosis utama di klinik kesehatan untuk mengurangi risiko penularan,” tuturnya,

“Kementerian akan terus memantau situasi dan varian Covid-19 dari waktu ke waktu,” katanya seraya menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh menyebarkan berita yang tidak terverifikasi untuk menghindari kebingungan dan keresahan masyarakat.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Malaysia mengatakan, ada 3.626 kasus COVID-19 yang dilaporkan pada 19 hingga 25 November 2023. Angka tersebut meningkat sebanyak 57,3 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya yang tercatat ada 2.305 kasus.

baca juga

Simak Video “Susul Singapura, Kasus Covid-19 Malaysia Naik 57%
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Pandemi COVID-19 Dituding Jadi Biang Kerok Wabah Kutu Busuk di Paris


Jakarta

Beberapa waktu terakhir, wabah kutu busuk menyerang Prancis, hingga kini ikut merembet ke Inggris. Ahli menduga, kutu busuk ini sebenarnya menyebar gegara lockdown pandemi COVID-19. Apa hubungannya?

Pada dasarnya, jeda aktivitas perjalanan selama pandemi memperlambat penyebaran serangga ini, yang dapat ditemukan di resort, transportasi umum, dan restoran. Namun lantaran kini masyarakat kembali beraktivitas regular layaknya sebelum pandemi, kutu busuk kembali menyebar dan memicu penyebaran penyakit.

Sebelumnya, pemerintah Prancis telah mengadakan pertemuan untuk membahas pengendalian virus lantaran negaranya akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2024. Sekolah dan perpustakaan terpaksa ditutup, sementara para pelancong mengeluhkan penyebaran kutu di tempat penginapan, resort, bioskop, dan restoran.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Laporan aktivitas kutu busuk cenderung meningkat di musim panas karena orang lebih banyak bepergian,” ungkap manajer teknis di British Pest Management Affiliation (BPCA), Natalia Bungay, dikutip dari Day by day Mail, Senin (23/10/2023).

“Kurangnya perjalanan selama masa lockdown akibat pandemi COVID-19 menyebabkan masalah kutu busuk jarang terjadi, jadi tidak mengherankan jika kita sekarang melihat peningkatan pesat dalam hal ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Jean-Michel Bérenger selaku ahli entomologi di IHU (pusat penelitian medis yang terhubung dengan rumah sakit) di Marseille, menyebut penyebaran kutu busuk ini sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Terdapat jeda dalam lockdown akibat pandemi COVID, kemudian terjadi peningkatan dalam dua tahun terakhir dengan pariwisata kembali berjalan lancar karena masyarakat ingin bersenang-senang,” tutur Bérenger.

Profesor entomologi medis di London Faculty of Hygiene & Tropical Medication, Mary Cameron, menyebut hingga kini sebenarnya belum ada penelitian yang membuktikan peningkatan jumlah kutu busuk. Namun tetap ada kemungkinan, kutu busuk ini betulan meningkat jumlahnya dan memicu kekhawatiran di masyarakat.

“Itu karena cuacanya sangat sejuk dan kita mengalami musim panas yang panjang, dan sebagian besar serangga menyukai kehangatan dan kelembaban karena mereka dapat berkembang biak dengan cepat,” bebernya.

“Jadi menurut saya cuaca telah memperpanjang musim bagi berbagai serangga, termasuk kutu busuk,” pungkas Prof Mary Cameron.

Simak Video “Kutu Busuk Serang Paris, Ini Bahayanya Jika Digigit
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

Ternyata Ini ‘Biang’ Kutu Busuk Meledak di Paris

Jakarta

Pasca hidup berdampingan dengan tikus, Paris kini dibayangi wabah kutu busuk. Pemerintah di sana dibuat ketar-ketir lantaran sebentar lagi tegah menggelar Olimpiade di musim panas mendatang.

Dikutip dari Reuters, pejabat setempat melakukan rapat darurat pada Jumat terkait krisis yang diakibatkan kutu busuk, termasuk dengan ahli pengendalian hama. Kutu busuk sebenarnya merupakan serangga kecil, pipih, tidak bersayap, berukuran sekitar seperempat 2,5 cm.

Kutu busuk ini biasanya bersembunyi di kasur dan tempat tidur, suka memakan darah dan menggigit di malam hari. Kutu busuk dianggap sebagai salah satu hama pengganggu utama di dunia, inang utama kutu busuk adalah manusia,


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun parasit dapat terinfeksi patogen manusia, belum ada penelitian ilmiah yang menemukan parasit tersebut menularkan penyakit.

Kutu busuk betina dapat bertelur satu hingga lima telur sehari dan bisa bertelur 200 sampai 500 telur seumur hidupnya. “Mereka bertahan hidup berbulan-bulan sambil menunggu makanan berikutnya,” kata para ahli pengendalian hama.

Mirisnya, wisatawan kereta api, penonton bioskop, dan influencer AS di Paris yang menghadiri Paris Vogue Week ikut terkena gigitan serangga tersebut.

Apa Kata Pemerintah Prancis?

Anggota parlemen Mathilde Panot membawa botol yang menurutnya berisi kutu busuk ke parlemen. Dia mengatakan kepada Perdana Menteri Elisabeth Borne bahwa kutu busuk ada di mana-mana dan dia mengecam pemerintah karena tidak ada tindakan.

“Nyonya Perdana Menteri, serangga-serangga kecil ini menyebarkan keputusasaan di negara kita. Apakah kita perlu menunggu Matignon (kantor PM) dipenuhi kutu busuk sebelum Anda bertindak?” kata Panot.

Anjing pelacak sedang memeriksa kereta api Prancis untuk mencari kutu busuk meskipun sejauh ini tidak ada satu pun yang ditemukan di angkutan umum, klaim menteri transportasi.

Wabah Kutu di Paris

“Antara tahun 2017 hingga 2022, satu dari sepuluh rumah tangga di Prancis diserang kutu busuk,” kata otoritas kesehatan.

Badan Nasional Keamanan Pangan, Lingkungan dan Tempat Kerja (ANSES) mengatakan kehadiran kutu busuk bukan berarti kebersihan yang buruk.

Sebuah organisasi perusahaan pengendalian hama mengatakan laporan kutu busuk pada periode Juni-Agustus meningkat 65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pengendalian hama mahal dan seringkali di luar jangkauan keluarga berpenghasilan rendah.

Paris tidak sendirian. Kelompok pengendalian hama Orkin tahun ini merilis daftar kota kutu busuk terkemuka di AS. Chicago, New York dan Philadelphia menempati posisi teratas.

“Tentu saja kita mempunyai lebih banyak kutu busuk dibandingkan sebelumnya, sama seperti kota-kota besar lainnya di dunia,” kata Nicolas Roux de Bezieux, salah satu pendiri konsultan pengendalian hama Badbugs. “Tetapi ini bukanlah ledakan yang Anda bayangkan saat menonton televisi.”

NEXT: Mengapa Kutu Busuk Mewabah di Paris?

Simak Video “Kutu Busuk Serang Paris, Ini Bahayanya Jika Digigit
[Gambas:Video 20detik]

Pantesan Cuaca Panas Bak ‘Neraka Bocor’, Ternyata Ini Biang Keroknya


Jakarta

Beberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Indonesia mengalami fenomena suhu panas yang cukup terik pada siang hari. Misalnya, pada tanggal 22-29 September, wilayah Jawa Tengah hingga Semarang, mencatat suhu maksimum di angka 37,8 celcius. Kemudian di Tangerang Selatan sampai 29 September, juga mencatat suhu di angka 37,5 derajat celcius.

Tak hanya itu, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto melaporkan, tujuh hari ke depan, suhu maksimum di beberapa wilayah Indonesia berada pada kisaran antara 35 hingga 38 derajat celcius. Adapun cara menghitung prediksi suhu BMKG menggunakan formulasi yang disebut modeling dinamis.

“Jadi kita kita ada beberapa mannequin, kemudian ada information asimilasi, dari information asimilasi itu kita formulasi untuk memperkirakan satu hari, dua hari, sampai tujuh hari ke depan,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Senin (2/10/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi cuaca panas di sebagian wilayah Indonesia. Guswanto mengatakan, salah satunya karena dinamika atmosfer seperti tak ada awan hujan.

“Saat ini kan musim kemarau di mana cuacanya sering cerah, berarti tidak ada awan hujan, tidak ada tutupan awan di angkasa. Sehingga sinar matahari itu bisa langsung intens masuk tanpa hambatan ke permukaan bumi itu yang pertama,” katanya.

Selain itu, ada juga yang disebut gerak semu matahari yang seharusnya bergerak dari utara ke selatan. Pergerakan tersebut terjadi pada tanggal 23 September di equator atau garis khatulistiwa.

“Nah dalam pergerakan itu kan dia di tanggal 23 pas di equator, dan equator itukan di Indonesia. Sehingga, sinar matahari tadi memang lebih intens juga karena jaraknya lebih dekat ke ekuator,” sambungnya.

Di samping fenomena atmosfer, ada juga parameter-parameter cuaca lainnya yang meningkatkan risiko suhu panas, misalnya kelembapan relatif.

“Kelembapan relatif di lapisan 850 millibar dan 700 milibar itu cukup kering. Dan kita lihat pergerakan anginnya di lapisan itu juga tidak tinggi juga sehingga terasa semuanya mendorong bahwa suhu itu betul-betul panas terik,” katanya.

Simak Video “Sejumlah Kota-kota Besar di China Dilanda Suhu Panas Ekstrem
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

Disebut ‘Biang Kerok’ COVID-19 Naik Lagi di AS, Ini Daftar Gejala Varian EG.5

Jakarta

Dunia kembali dihebohkan kemunculan varian baru COVID-19, yakni EG.5. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengungkapkan varian tersebut kini mendominasi seperlima kasus di Amerika Serikat.

Tak hanya di Amerika Serikat, varian EG.5 telah menyebar ke banyak negara seperti China, Korea Selatan, Inggris, Kanada, dan Jepang.

Kemunculan varian EG.5 ini terjadi saat Amerika Serikat melihat peningkatan rawat inap karena virus corona, kenaikan yang signifikan pertama sejak Desember 2022. CDC mencatat adanya kenaikan sebesar 12,5 persen hingga 29 Juli.

Saat itu, sebanyak 9.056 orang sakit karena penyakit pernapasan. Hal itu kemungkinan besar akibat dari peningkatan sosialisasi musim panas, kekebalan yang berkurang, dan tindakan pencegahan yang sudah dihilangkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengklasifikasikan EG.5 sebagai ‘Variant of Curiosity’. Namun, EG.5 tidak dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan masyarakat dan dianggap masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Pimpinan teknis WHO untuk COVID-19 Maria Van Kerkhove mengatakan varian EG.5 memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi. Tetapi, itu tidak lebih parah daripada varian Omicron lainnya.

“Kami tidak mendeteksi perubahan keparahan EG.5 dibandingkan dengan sublineage Omicron lainnya yang telah beredar sejak akhir 2021,” katanya yang dikutip dari Reuters, Kamis (10/8/2023).

Gejala Varian COVID-19 EG.5

Para ahli mengungkapkan adanya sedikit perbedaan gejala dan tingkat keparahan dari semua pressure COVID-19 yang telah menyebar di dunia. Namun, hal itu sulit untuk diungkap secara jelas karena kurangnya pengawasan terhadap virus Corona dibandingkan saat puncak pandemi sebelumnya.

Terkait gejalanya, varian EG.5 tidak jauh berbeda dengan varian sebelumnya. Gejalanya cenderung mirip dengan varian Omicron, seperti:

  • Pilek
  • Hidung tersumbat
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Perubahan indera penciuman pasien

Simak Video “Soal Covid-19 Paling Bermutasi Ada di RI, Epidemiolog: Belum Berpotensi Serius
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

COVID-19 ‘Ngamuk’ Lagi di AS, Varian Eris Diduga Jadi Biang Keroknya


Jakarta

Kasus COVID-19 di Amerika Serikat mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Knowledge terbaru dari Departemen Kesehatan New York yang dirilis per 2 Agustus 2023, menunjukkan kalau kasus COVID-19 meningkat hingga 55 persen selama satu minggu terakhir.

Lebih lanjut, knowledge tersebut juga mencatat bahwa terdapat rata-rata 824 kasus COVID-19 yang muncul setiap harinya di New York. Hal ini juga berimbas pada kenaikan jumlah pasien COVID-19 yang masuk ke rumah sakit sebanyak 22 persen.

Dari jumlah tersebut, Facilities for Illness Management and Prevention melaporkan 17 persen di antaranya merupakan kasus COVID-19 varian EG.5 atau Eris. Kendati demikian, sejumlah pakar mengatakan varian Eris belum menunjukkan tingkat penyebaran dan keparahan yang serius.

“Berita baiknya kami belum melihat dalam virus ini sesuatu yang menunjukkan kalau dia lebih menular atau mematikan. Ini hanya soal kekebalan tubuh yang melemah. Ini bagian dari hidup berdampingan dengan COVID, jadi hal-hal tak terduga seperti ini sudah diperkirakan,” ujar Komisaris Kesehatan Kota New York, dr Ashwin Vasan, dikutip dari New York Put up, Rabu (9/8/2023).

Meski diklaim tidak terlalu menular dan mematikan, kemunculan varian Eris tetap menimbulkan kekhawatiran. Asisten Profesor dari Departemen Kesehatan Penduduk di NYU Medical Faculty, Anna Bershteyn, menuturkan dengan adanya varian Eris, bukannya tidak mungkin ke depannya akan muncul varian COVID-19 yang bisa saja lebih menular.

“Hal yang paling menakutkan adalah jika virus itu lebih mematikan,” ucapnya.

“Bagiku yang paling menakutkan itu adalah kita tidak tahu dari mana varian (omicron) itu muncul. Itu bisa terjadi kapan saja, dan membayangkannya membuatku merinding,” pungkasnya.

Simak Video “Varian Eris Masuk Indonesia, Kemenkes: Jangan Khawatir, Kasusnya Tidak Parah
[Gambas:Video 20detik]
(ath/kna)

Badan Intelijen AS Ungkap Fakta Baru soal Biang Kerok COVID-19


Jakarta

Badan Intelijen Amerika Serikat mengumumkan fakta baru terkait asal-usul pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan pada Jumat (23/6/2023), pihaknya tidak menemukan bukti langsung yang menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 berasal dari insiden di Institut Virologi Wuhan, China.

Laporan sebanyak empat halaman yang dipublikasikan oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) mengatakan komunitas intelijen AS masih tidak dapat mengesampingkan kemungkinan, bahwa virus itu berasal dari laboratorium, dan belum dapat menemukan asal-usul virus tersebut.

“CIA dan badan lain tetap tidak dapat menentukan asal muasal pandemi COVID-19 secara tepat, karena hipotesis (alami dan laboratorium) bergantung pada asumsi yang signifikan atau menghadapi tantangan dengan pelaporan yang bertentangan,” catat laporan ODNI yang dikutip dari The Straits Instances, Sabtu (24/6/2023).

Sementara, ‘pekerjaan ekstensif’ telah dilakukan pada virus Corona di Institut Wuhan (WIV), lembaga tersebut belum menemukan bukti insiden spesifik yang dapat menyebabkan wabah tersebut.

“Kami terus tidak memiliki indikasi bahwa kepemilikan penelitian pra-pandemi WIV termasuk SARS-CoV-2 atau nenek moyang dekat, atau bukti langsung bahwa insiden terkait penelitian tertentu terjadi yang melibatkan personel WIV sebelum pandemi yang dapat menyebabkan pandemi COVID-19,” kata laporan itu.

Asal-usul pandemi telah menjadi bahan perdebatan sengit di Amerika Serikat hampir sejak kasus manusia pertama dilaporkan di Wuhan pada akhir 2019. Presiden Joe Biden pada bulan Maret lalu menandatangani RUU yang mendeklasifikasi informasi terkait asal-usul pandemi.

Dia kemudian mengatakan bahwa akan berbagi tujuan Kongres, untuk merilis informasi sebanyak mungkin tentang asal mula COVID-19.

Perdebatan dimulai yang dipicu oleh laporan Wall Avenue Journal pada bulan Februari, bahwa Departemen Energi AS telah menilai dengan ‘kepercayaan rendah’ dalam laporan intelijen rahasia bahwa pandemi kemungkinan besar muncul dari kebocoran laboratorium China. Namun, penilaian itu dibantah oleh Beijing.

Direktur FBI Christopher Wray mengatakan pada 28 Februari, agensinya telah menilai selama beberapa waktu bahwa asal mula pandemi.

“Kemungkinan besar, potensi insiden laboratorium di Wuhan. Namun, China mengatakan ini (klaim) tidak memiliki kredibilitas apapun,” sambungnya.

Hingga 20 Maret, empat lembaga AS lainnya masih menilai bahwa COVID-19 kemungkinan besar merupakan hasil dari penularan alami, sementara dua lainnya belum diputuskan.

Simak Video “Jepang Turunkan Klasifikasi Covid-19 Jadi Setara Flu Biasa
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)