Tag: COVID

Bakal Ada Booster COVID Ketiga, Berapa Lama Sih Proteksi Vaksin Menetap di Tubuh?

Jakarta

Menyusul kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini, pemerintah kini membuka kemungkinan diadakannya vaksinasi COVID-19 booster ketiga. Walaupun melihat situasi di RI kini, Direktur Jenderal Pelayanan Kementerian Kesehatan RI Azhar Jaya menyebut keterisian mattress occupancy charge (BOR) relatif rendah dibandingkan gelombang Corona sebelumnya.

“Kita sudah bersiap membuka vaksinasi massal kepada masyarakat, lagi proses juga vaksinasi lagi, untuk booster ketiga,” ungkap Azhar saat ditemui detikcom di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (12/12/2023).

Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(Okay) menyebut secara teori, tingkat proteksi yang diberikan vaksin COVID-19 kepada tubuh masyarakat memang menurun dengan sendirinya dalam waktu hitungan bulan setelah suntikan terakhir.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walhasil, penting untuk masyarakat terutama lansia dan pengidap komorbid mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 booster.

“Seiring waktu daya tahan tubuh atau titer antibodi kekebalan COVID-19 yang dihasilkan vaksin mulai declining, berkurang terutama setelah bulan ke-6 sampai ke-12,” jelas dr Erlina.

“Vaksinasi booster khususnya pada kelompok rentan, manula, dan orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah ini saya kira perlu dianjurkan untuk mengurangi risiko infeksi dan beratnya penyakit,” imbuhnya.

dr Erlina menyebut ada kemungkinan gelombang COVID-19 di RI kali ini dipicu oleh penurunan antibodi masyarakat, lantaran sudah berbulan-bulan berlalu sejak masyarakat mendapatkan suntikan terakhir vaksin COVID-19.

dr Erlina tak yakin varian Corona Eris EG.5 menjadi ‘biang kerok’ tunggal kenaikan kasus COVID, varian ini sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli. Namun saat itu, kasus COVID-19 tak meningkat meskipun varian ini telah ditemukan.

“Ada kemungkinan bahwa titer antibodi juga menurun karena sudah lama kita divaksin. Sudah lebih dari enam bulan dan secara teori harusnya (antibodi) menurun,” pungkas dr Erlina.

Simak Video “Antisipasi Jelang Nataru, Warga Diimbau Lengkapi Vaksinasi Covid-19
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Ada 2 Kematian COVID di DKI, Sefatal Apa Varian EG.5 yang Mulai Dominan di RI?


Jakarta

Menyusul kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia, Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan dua kasus kematian pasien COVID-19 pada Desember 2023. Kasus kematian muncul setelah dua bulan berturut-turut sebelumnya, Oktober hingga November 2023, nihil kasus kematian akibat COVID-19 di DKI Jakarta.

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Ngabila Salama menyebut, kedua pasien tersebut adalah wanita (81) dengan komorbid hipertensi, standing vaksinasi sudah dosis ketiga, belum menerima dosis keempat, dan wanita (91) dengan komorbid stroke dan gagal ginjal dan sama sekali belum divaksinasi COVID-19.

Varian Eris EG.5 disebut-sebut menjadi biang kerok gelombang COVID-19 kali ini. Berkenaan dengan itu, dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(Ok) menyebut varian ini sebenarnya terpantau tak memicu gejala lebih berat dibandingkan subvarian Omicron yang merebak sebelumnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Gejalanya tidak berat. Kalaupun dirawat, karena komorbid (pasien) ada komorbidnya. Kalau asma menjadi mengi, tensi naik, sehingga dirawat karena komorbid,” ungkap dr Erlina dalam konferensi pers beberapa hari lalu.

“EG.5 sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli, bahkan angkanya hampir menyentuh 20 persen saat variannya adalah EG.5. Tapi kan gejalanya ringan-ringan saja, tidak ada lonjakan kasus, lonjakan perawatan di rumah sakit,” imbuhnya.

Seraya ia menambahkan, kenaikan COVID-19 di RI kali ini mungkin dipicu oleh penerapan prokes yang melonggar, mobilitas masyarakat yang meningkat, serta imunitas yang menurun lantaran proteksi vaksin COVID-19 menurun dengan sendirinya dalam waktu 6-12 bulan pasca suntikan terakhir.

Simak Video “Mengenal EG.5 yang Disebut Bikin Kasus Covid-19 Ngegas di RI
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

Warga Malaysia Borong Masker gegara COVID ‘Ngegas’ Lagi


Jakarta

Tak hanya di Indonesia dan Singapura, kasus COVID-19 juga melonjak di Malaysia. Gegara kondisi di sana, warga Malaysia berbondong-bondong membeli dan menyetok masker.

CEO dari salah satu manufaktur alat kesehatan di Malaysia yakni Preferrred Healthcare, Haminuddin Hamid, mengatakan penjualan masker telah meningkat ‘sangat tinggi’ beberapa waktu terakhir. Menurutnya, masyarakat mungkin berniat menimbun masker gegara kasus COVID-19 kembali meroket.

Ia mengaku, perusahaannya masih sanggup mengelola lonjakan permintaan masker dengan stok yang ada. Disebutnya, penjualan ke rumah sakit tetap regular pada periode akhir tahun.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami sudah berencana untuk mendatangkan bahan mentah yang cukup untuk memenuhi permintaan, terutama (untuk memproduksi) masker bedah dan N95 untuk (sektor) pemerintah,” ungkapnya dikutip dari Free Malaysia At this time, Jumat (8/12/2023).

Kondisinya Terkendali

Terkait kenaikan kasus COVID-19 di negaranya saat ini, Menteri Kesehatan Malaysia Dr Zaliha Mustafa menyebut situasi COVID-19 di Malaysia masih terkendali. Fasilitas kesehatan juga tidak terbebani meski jumlah kasus COVID-19 terpantau meningkat.

Menurutnya, peningkatan kasus COVID-19 saat ini sebenarnya terjadi bukan hanya di negaranya, melainkan juga secara world di banyak negara. Dalam kondisi negaranya tak menemukan penyebaran varian Corona baru, Zaliha meyakini, kenaikan kasus ini sejalan dengan tren yang terjadi setiap akhir tahun.

“Sebagian besar kasus COVID-19 di Malaysia mengalami gejala ringan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit,” beber Zaliha dikutip dari Malay Mail, Jumat (8/12).

Simak Video “Susul Singapura, Kasus Covid-19 Malaysia Naik 57%
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Satgas IDI Bicara Kemungkinan Masker Wajib Lagi usai COVID RI Melonjak


Jakarta

Kasus COVID-19 di Indonesia kembali meningkat. Sebagaimana dilaporkan Kementerian Kesehatan RI, kasus COVID-19 di Indonesia naik sebanyak 80 persen dengan jumlah kumulatif kasus COVID-19 mingguan mencapai 267 pasien pada 28 November hingga 2 Desember 2023. Sebelumnya, kasus COVID di Indonesia tercatat sebanyak 30 hingga 40 kasus per minggu.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melaporkan, sepanjang Oktober hingga November ini, kasus COVID-19 di Indonesia meningkat hingga dua kali lipat. Lantas melihat banyaknya masyarakat kini ‘pede’ beraktivitas di tempat umum, misalnya di mal, apakah penggunaan masker bakal balik lagi menjadi hal wajib?

“Kita memang melihat sekarang bahwa pelaksanaan protokol kesehatan itu terutama memakai masker, itu sudah longgar ya,” ungkap Ketua Satgas COVID-19 IDI sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(Okay) dalam konferensi pers digital, Rabu (6/12/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tapi bahkan di Indonesia ada knowledge menunjukkan peningkatan lebih dari dua kali antara Oktober-November. Kami dari PB IDI mengimbau masyarakat mulailah memakai masker,” imbuhnya.

Kini juga beredar informasi bahwa lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia, yang juga terjadi di Singapura, dipicu oleh varian Eris EG.5 dan EG.2. Namun menurut dr Erlina, gejala COVID-19 dengan infeksi varian ini sebenarnya relatif ringan.

“EG.5 sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli. Bahkan angkanya hampir menyentuh 20 persen saat variannya adalah EG.5. Tapi kan gejalanya ringan-ringan saja, tidak ada lonjakan kasus,” tutur dr Erlina.

Simak Video “Kasus Covid-19 di DKI Ngegas Lagi, Gejalanya Ringan
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Singapura Mendadak Catat Lonjakan COVID 2 Kali Lipat, Lampaui 20 Ribu Kasus


Jakarta

Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan lonjakan drastis kasus COVID-19. Naik dua kali lipat dibandingkan pekan lalu, takni 22.094 kasus pada periode 19-25 November 2023.

Pada pekan sebelumnya, whole kasus ‘hanya’ tercatat sebanyak 10.726 orang. Kemenkes Singapura mendesak warganya untuk terus melanjutkan vaksinasi. Kabar baiknya, tren kasus baru tidak dibarengi dengan lonjakan rawat inap COVID-19.

“Rata-rata kasus rawat inap dan ICU harian akibat COVID-19 tetap stabil,” jelas otoritas kesehatan setempat, dikutip dari Channel Information Asia Minggu (2/12/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Kesehatan mengatakan peningkatan infeksi mungkin disebabkan sejumlah faktor, seperti musim perjalanan di akhir tahun dan berkurangnya kekebalan atau imunitas penduduk.

EG.5 dan sub-garis keturunannya HK.3 tetap menjadi subvarian utama di Singapura, ditemukan pada lebih dari 70 persen kasus yang sudah disequencing.

“Saat ini, tidak ada indikasi bahwa subvarian utama lebih mudah menular atau menyebabkan penyakit lebih parah dibandingkan varian lain yang beredar,” kata Depkes tersebut.

Ada Pneumonia Seperti di China?

Peningkatan penyakit pernapasan di negara-negara belahan bumi utara pada bulan-bulan musim dingin juga dilaporkan meningkat, Kemenkes Singapura mengatakan kejadian tersebut secara keseluruhan di Singapura tetap stabil selama sebulan terakhir.

“Tidak ada indikasi peningkatan penyakit pernapasan parah, termasuk pada anak-anak,” tambahnya.

China, yang mengalami lonjakan pneumonia sejak pertengahan Oktober, mengatakan tren tersebut dipengaruhi efek pencabutan pembatasan COVID-19. Tidak ada patogen atau virus baru. Kebanyakan anak terkena influenza dan infeksi bakteri umum termasuk pneumonia mikoplasma.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pihak berwenang China berulang kali memastikan nihil patogen yang tidak biasa, ini sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait munculnya kembali virus yang memicu pandemi.

Kementerian Kesehatan Singapura mencatat hingga saat ini, WHO menyatakan tren peningkatan penyakit pernapasan bukan hal yang tidak terduga, lantaran masuk musim dingin.

Infeksi COVID-19 berkontribusi terhadap jumlah keseluruhan kasus penyakit pernapasan di Singapura.

Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat untuk selalu mengikuti perkembangan vaksinasi COVID-19, dan merekomendasikan dosis tambahan bagi mereka yang menerima dosis vaksin terakhir sekitar satu tahun sebelumnya. Kelompok lansia atau yang berusia 60 tahun ke atas, rentan secara medis, serta penghuni fasilitas perawatan lansia juga diminta kembali melakukan vaksinasi.

“Di luar kelompok ini, semua individu berusia enam bulan ke atas juga didorong untuk menerima dosis tambahan, terutama bagi petugas kesehatan dan anggota rumah tangga/pengasuh individu yang rentan secara medis,” tambah kementerian.

“Kemenkes terus memantau situasi international dan lokal dengan cermat. Dengan dimulainya musim puncak perjalanan ke luar negeri, Kementerian Kesehatan ingin mengingatkan semua wisatawan untuk waspada dan menerapkan tindakan pencegahan perjalanan yang relevan.”

Simak Video “Wabah Kutu Busuk Serang Singapura, Diprediksi Makin Ngegas
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Perawat Meninggal Dikira Lengthy COVID, Salah Prognosis Ternyata Kanker Paru-paru

Jakarta

Seorang perawat di Inggris meninggal dunia setelah dokter salah mendiagnosa gejalanya dengan lengthy COVID. Sebelum meninggal, dia sempat mengeluh sakit dada yang ternyata tanda kankernya telah menyebar.

Brogan Williams (35) di tahun 2021 lalu mencari perawatan di unit gawat darurat karena nyeri dada yang dia rasakan. Namun saat itu petugas medis hanya menganggap gejala yang dialaminya adalah lengthy COVID.

Diberitakan Every day Mail, Williams awalnya mengeluh sakit dada yang sensasinya seperti dipukul. Meski tidak pernah kena COVID-19, petugas medis di rumah sakit itu mengatakan gejalanya hanya tanda lengthy COVID.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena gejalanya tidak kunjung membaik, sepekan setelahnya dia kembali ke UGD untuk menjalani CT Scan.

Hasil CT Scan mengejutkan karena terlihat bahwa keluhannya adalah karena kankernya telah menyebar ke paru-parunya. Williams diberitahu bahwa dia akan membutuhkan perawatan paliatif dan diberi harapan hidup hanya dua minggu.

Setelah menjalani serangkaian perawatan selama setahun, dia akhirnya meninggal pada 9 Oktober 2023. Kabar meninggalnya ini dibagikan keluarganya di media sosialnya.

“Ini adalah berita yang tidak diinginkan dan belum siap disampaikan oleh siapa pun di antara kami. Pada hari Senin tanggal 9 Oktober, Brogan kami yang cantik tertidur dengan damai,” tulis keluarganya di akun Instagram.

Sudah Pernah Kena COVID, Masih Bisa Kena Varian Pirola? Begini Temuan Terbaru CDC

Jakarta

Dunia digegerkan dengan kemunculan varian baru Corona yakni subvarian Omicron BA.2.86 atau yang juga disebut sebagai varian Pirola. Varian ini diketahui memiliki mutasi paling banyak dibandingkan varian-varian Corona lainnya dengan complete lebih dari 30 mutasi.

Varian dikhawatirkan dapat menular dengan amat cepat, dan memiliki kemampuan untuk ‘kabur’ dari proteksi vaksin COVID-19 maupun antibodi yang terbentuk dari infeksi virus Corona alamiah.

Information dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menunjukkan, antibodi yang dihasilkan oleh infeksi virus Corona atau vaksin COVID-19 yang sudah ada masih efektif infeksi BA.2.86.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS juga menyoroti, penyebaran BA.2.86 di Amerika Serikat saat ini tidak mendorong peningkatan kasus COVID dan rawat inap, melainkan mengaitkannya dengan virus-virus lain yang sebagian besar beredar.

Gejala Varian Pirola

Di samping itu hingga kini, belum ada bukti yang yang memastikan bahwa varian Pirola berisiko memicu gejala serius, atau risiko kematian yang besar pada pasien COVID-19.

“Sejauh ini, tampaknya tidak ada peningkatan keparahan pada jenis COVID-19 ini, dan individu tersebut tidak dirawat di rumah sakit,” lapor Pusat Pengendalian Penyakit British Columbia dikutip darid Each day Voice.

Di samping itu, gejala COVID-19 dengan infeksi varian Pirola diyakini mirip dengan gejala Omicron pada umumnya berupa:

  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Pilek
  • Bersin

Simak Video “ Kenali Gejala Varian Pirola yang Disebut Picu Gelombang Covid-19 Baru
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Yang Dikhawatirkan Pakar soal COVID Varian Pirola, Bisa Secepat Ini Menularnya


Jakarta

Dunia kembali digegerkan dengan munculnya varian baru COVID-19 bernama ‘Pirola’ atau BA.2.86. Pasalnya, varian ini memiliki jumlah mutasi paling banyak dibandingkan varian-varian Corona lainnya, yakni sebanyak 35 mutasi.

Di samping tingkat penularannya, sejumlah ahli juga menyoroti risiko varian Corona baru ini memiliki kemampuan yang besar untuk kabur dari perlindungan vaksin COVID-19 maupun infeksi virus Corona secara alamiah.

Juga disebut sebagai BA.2.86, Pirola adalah varian virus corona jenis Omicron yang sangat bermutasi, yang muncul pada tahun 2021 dan menyebabkan lonjakan kasus dan kematian akibat COVID-19. Hal ini juga berkaitan dengan risiko terjadinya lagi gelombang COVID-19, akibat varian Pirola.

“Ketika Omicron menyerang pada musim dingin tahun 2021, terjadi peningkatan besar dalam kasus COVID-19 karena sangat berbeda dari varian Delta, dan ia menghindari kekebalan baik dari infeksi alami maupun vaksinasi,” kata spesialis penyakit menular dr Scott Roberts. dalam buletin Yale Medication dikutip dri New York Submit, Minggu (3/9/2023).

“Jumlah mutasi yang begitu tinggi sungguh luar biasa. Saat kami beralih dari XBB.1.5 ke EG.5, mungkin ada satu atau dua mutasi. Namun pergeseran besar-besaran ini, yang juga kita lihat dari Delta ke Omicron, sangat mengkhawatirkan,” ujarnya lebih lanjut.

Sembari ia menambahkan, sampai saat ini belum ada informasi pasti perihal dampak dari varian Pirola. Namun, penelitian tengah berlangsung.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), varian Pirola awalnya terdeteksi di Israel dan kemudian diidentifikasi di Kanada, Denmark, Inggris, Afrika Selatan, Swedia, Norwegia, Swiss, dan Thailand. Namun, CDC belum membeberkan tingkat keparahan gejala yang muncul pada pasien COVID-19 dengan infeksi varian Pirola.

“Masih terlalu dini untuk mengetahui apakah varian ini dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya,” ungkap CDC.

“CDC memantau dengan cermat tingkat rawat inap untuk mengidentifikasi potensi sinyal awal bahwa varian BA.2.86 menyebabkan penyakit yang lebih parah,” pungkasnya.

Seorang pendiri klinik pengujian COVID-19 di London, Gabriela Brewer, mengungkapkan ada empat tanda penting yang harus diwaspadai sebagai gejala Pirola:

  • Demam tinggi
  • Batuk
  • Dingin
  • Hilangnya indera penciuman atau indera rasa

“Setelah Anda mengidentifikasi tanda-tanda ini dan ingin memastikannya, Anda harus melakukan tes antigen atau PCR,” ungkap Brewer dikutip dari Categorical.co.uk.

Simak Video “ Kenali Gejala Varian Pirola yang Disebut Picu Gelombang Covid-19 Baru
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Fakta Varian Eris, Sudah Masuk ke RI dan Disebut Picu COVID di Inggris Naik Lagi

Jakarta

Kasus COVID-19 dengan infeksi varian baru bernama EG.5.1. atau varian Eris semakin menggila di Inggris. Menurut Zoe Well being Examine, kasus varian COVID-19 Eris diestimasi sudah melebihi 700 ribu kasus.

Ini membuat Eris menjadi varian paling umum kedua yang ditemui di Inggris, setelah Arcturus yang mendominasi kasus infeksi sebanyak 39,4 persen dari jumlah yang ditemukan.

Berikut fakta-fakta terbaru varian COVID-19 Eris.

1. Kasusnya Melonjak Drastis

Varian Eris pertama kali teridentifikasi pada 31 Julu 2023. Para peneliti mencatat bahwa pada 4 Juli 2023, setidaknya sudah ada 606.656 kasus varian Eris.

Namun, para ahli memperkirakan kalau lonjakan kasus varian Eris selama bulan Juli sudah hampir melampaui 200 ribu. Terbaru, jumlah kasus varian Eris di Inggris per 27 Juli 2023 diprediksikan sudah menyentuh 785.980.

2. Dipicu Fenomena ‘Barbenheimer’?

Para ahli menduga lonjakan kasus varian Eris yang sangat tajam dipicu oleh fenomena ‘Barbenheimer’. Fenomena Barbenheimer adalah ketika orang-orang menonton movie Barbie dan Oppenheimer secara berturut-turut di bioskop.

Ahli virologi dari Warwick College, Profesor Lawrence Younger, menjelaskan lonjakan kasus varian Eris bisa jadi dipicu oleh masyarakat yang berkerumun di ruang tertutup dan tidak terventilasi, seperti di ruang bioskop.

Lebih lanjut, ia mengatakan lonjakan kasus juga bisa dipicu oleh berkurangnya kekebalan pelindung vaksin booster.

“Peningkatan kasus di Inggris mungkin karena berkurangnya kekebalan pelindung, karena sudah cukup lama sejak mereka terakhir kali mendapat suntikan booster, serta meningkatnya frekuensi berkumpul di ruangan tertutup dan tidak terventilasi dengan baik,” ujarnya dikutip dari Unbiased, Senin (7/8/2023).

NEXT: Varian Eris pertama kali terdeteksi di Jakarta

Fakta-fakta Varian COVID Baru ‘Eris’, Bikin Inggris Ketar-ketir Imbas Lonjakan Kasus

Jakarta

Belum kelar dengan subvarian COVID-19 XBB, kini Inggris tengah diterpa dengan varian baru bernama ‘Eris’ atau subvarian Omicron EG.5.1. Para ahli khawatir munculnya varian baru ini dapat memicu gelombang baru COVID-19 di negara tersebut.

Hal ini dikarenakan ‘cicit’ Omicron itu menyebabkan lonjakan kasus, termasuk rawat inap di rumah sakit.

“Tingkat kasus COVID-19 terus meningkat minggu ini dibandingkan dengan laporan kami sebelumnya. 5,4 persen dari 4.396 spesimen pernapasan yang dilaporkan melalui Sistem Information Mart Pernapasan diidentifikasi sebagai COVID-19. Ini dibandingkan dengan 3,7 persen dari 4.403 dari laporan sebelumnya,” kata Badan keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) dalam sebuah laporan.

‘Varian’ yang Paling Dominan Nomor 2 di Inggris

Kepala UKHSA menyebut varian ini memiliki keunggulan pertumbuhan 20,5 persen dibandingkan jenis varian maupun subvarian lainnya. Artinya, ia memiliki sifat lebih menular dibandingkan varian maupun subvarian yang tengah beredar di negara tersebut.

Berdasarkan information, subvarian Omicron itu telah menyumbang 14,6 persen kasus, menjadikannya yang paling umum kedua di Inggris setelah subvarian Omicron XBB1.16. Tingkat pertumbuhan didasarkan pada sampel pengujian positif yang dilakukan di rumah sakit.

“Arcturus Subvarian Omicron atau disebut XBB.1.16, itu adalah varian yang paling dominan, menyebabkan 39,4 persen dari semua kasus,” menurut information UKHSA.

Tengah Dipantau Ketat WHO

Varian ‘Eris’ ini telah diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai variant beneath monitoring (VUM) atau varian yang diawasi pada Juli. Hal ini menyusul prevalensinya yang tercatat di Inggris dan meningkatnya kasus secara internasional, khususnya di Asia.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan meski orang sudah terlindungi dengan vaksin dan infeksi yang terjadi sebelumnya, negara tetap tak boleh lengah.

WHO juga mewanti-wanti bagi orang yang berisiko tinggi, seperti lanjut usia dan komorbid, untuk memakai masker di tempat ramai, mendapat booster jika direkomendasikan, dan memastikan ventilasi udara yang memadai di dalam ruangan.

“Dan kami mendesak pemerintah untuk mempertahankan dan tidak membongkar sistem yang mereka bangun untuk COVID-19,” lanjutnya lagi.

NEXT: Gejala hingga Perlukah Khawatir?

Simak Video “Muncul Varian Baru Virus Covid-19 Bernama Eris
[Gambas:Video 20detik]