Tag: Diidap

Cerita Pejuang Stiff Individual Syndrome, Penyakit Langka Seperti Diidap Celine Dion

Jakarta

Celine Dion tengah berjuang melawan penyakit langka stiff particular person syndrome (SPS) atau sindrom orang kaku yang membatasi aktivitas sehari-harinya. Keluarga mengabarkan bahwa penyakit tersebut membuat Celine Dion kini tak bisa mengontrol ototnya.

Menurut Nationwide Institute of Neurological Issues and Stroke, sindrom orang kaku memiliki kemiripan dengan penyakit autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh menyerang selnya sendiri. Orang dengan kondisi ini sering mengalami kejang otot di batang tubuh, lengan, atau kaki dan menjadi lebih sensitif terhadap kebisingan dan sentuhan. Pemicu emosional, termasuk stres, dapat memperburuk kejang otot.

Hanya sekitar satu dari satu juta orang yang mengidap sindrom orang kaku, dan penyakit ini menyerang wanita dua kali lebih banyak dibandingkan pria. Banyak orang, seperti Dion, menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mencari penyebab kejang yang mereka alami, karena gejalanya bisa mirip dengan beberapa kelainan autoimun lainnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pasien tersebut adalah Maureen Materna, 74 tahun dari Cleveland, Ohio, yang telah berjuang melawan penyakit sejak 2011. Seperti analysis Dion, dokter memerlukan waktu beberapa saat untuk mengetahui penyakitnya.

“Saya selalu sangat aktif, saya berjalan kaki, bersepeda, dan berolahraga, dan merupakan salah satu dari orang-orang yang melakukan 20 juta hal sekaligus,” kata Materna kepada TIME.

Kemudian, dia mulai mengalami kram hebat di kakinya dan tidak kunjung hilang. Episode tersebut akan berlangsung sekitar 45 menit dan membuatnya menjerit kesakitan. Namun sebaliknya, dia sehat.

Setelah mengunjungi ruang gawat darurat, dokter memberinya infus Valium untuk mengatasi rasa sakitnya, dan hal ini membantu, tetapi dia masih tidak tahu mengapa dirinya mengalami kejang. Dua tahun dan sekitar 20 dokter kemudian, seorang spesialis neuromuskular akhirnya mendiagnosis dia mengidap sindrom orang kaku, berdasarkan gejalanya dan fakta bahwa Valium adalah satu-satunya intervensi yang tampaknya mengurangi sebagian rasa sakitnya.

“Sampai hari ini ketika saya menemui dokter untuk mengetahui hal lain dan mereka mengetahui bahwa saya mengidap sindrom orang kaku, saya tidak dapat memberi tahu Anda berapa banyak [dari mereka] yang berkata, ‘Apa itu? Saya tidak pernah mendengarnya.'”

Bagaimana rasanya mengidap stiff particular person syndrome?

Materna tidak bisa duduk dalam waktu lama, jadi meskipun dia sedang menonton televisi, dia harus bangun setiap 20 menit atau lebih. Penguncian ototnya membuat dia tidak bisa menemani suami dan cucu-cucunya ke pertunjukan, di mana dia harus duduk dalam waktu lama.

Hingga tahun lalu, sandal kamar menjadi satu-satunya alas kaki yang membuat kakinya nyaman. Dia berjalan setiap hari, untuk menjaga dirinya tetap aktif, tapi itu adalah sebuah tantangan.

“Rasanya seperti saya berjalan di atas pecahan kaca,” katanya. “Tapi aku bukan tipe orang yang suka berbaring di tempat tidur. Saya suka melihat tetangga saya dan mengalihkan perhatian saya dan agak lupa bahwa rasa sakit itu ada.”

Simak Video “Mengenal Stiff Individual Syndrom yang Dialami Celine Dion
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)

Menyoal Komplikasi Kanker Paru Stadium 4, Diidap Kiki Fatmala Sebelum Meninggal


Jakarta

Kabar duka datang dari dunia hiburan Tanah Air. Aktris Kiki Fatmala meninggal dunia pada Jumat (1/12/2023). Pihak keluarga mengungkap penyebab meninggalnya Kiki Fatmala yakni komplikasi kanker.

“Kiki Fatmala meninggal dunia pada 1 Desember 2023 pada usia 56 tahun, karena komplikasi akibat kanker,” tulis pihak keluarga di akun @qq_fatmala, Jumat (1/12/2023).

Kiki Fatmala bercerita sempat didiagnosis kanker paru-paru stadium 4 pada November 2021. Ia lalu menjalani radioterapi, kemoterapi dan terapi imun untuk memulihkan kesehatannya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kanker paru adalah suatu kondisi saat sel-sel tumbuh secara tidak terkendali di dalam organ paru-paru. Seperti jenis kanker lainnya, stadium kanker paru-paru dikategorikan berdasarkan seberapa luas penyebarannya di dalam tubuh. Hanya saja kanker paru biasanya baru ketahuan saat stadium lanjut.

“Semua penyakit kanker yang strong, itu dibedah dan bisa sembuh, hanya saja 80 persen ketemu stadium lanjut,” ujar Prof dr Elisna Syahrudin, PhD. SpP(Okay), Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedoteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam temu media di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/11).

dr Elisna menjelaskan kanker paru-paru stadium 4 berarti jenis kankernya sudah bermetastasis atau telah menyebar dari lokasi asalnya. Penyebaran kanker paru bisa di berbagai organ di tubuh, namun terbanyak di otak.

“Kadang-kadang menyebar ke hati, perutnya jadi membengkak. Ke tulang, dada nyeri. Sakit kepala, nyeri kepala hebat. Penyebaran paling banyak adalah ke otak dan ke tulang,” tuturnya.

Angka kematian kanker paru disebut termasuk tinggi karena kebanyakan pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Sekitar 70 persen kasus kanker paru di Indonesia merupakan usia produktif.

“Pengobatan untuk kanker paru itu bisa bedah, bisa radioterapi, bisa kemoterapi, bisa terapi goal, bisa imunoterapi. Tidak semua orang sama pilihannya,” tandasnya.

Simak Video “Dokter Paru: Pneumonia Sudah Lama Ada di Indonesia, Gejalanya Sangat Ringan
[Gambas:Video 20detik]
(kna/suc)

Diidap Indra Bruggman hingga Sempat Bikin BB Menyusut, Begini Gejala Hipertiroid

Jakarta

Artis Indra Bruggman beberapa waktu lalu sempat menjadi sorotan lantaran tubuhnya yang kurus. Bukan tanpa sebab, hal itu terjadi karena dirinya mengidap hipertiroid.

Namun setelah menjalani pengobatan, Indra mengungkap kini kondisinya sudah jauh lebih baik meskipun ada salah satu bagian tubuhnya yang sedikit berbeda imbas hipertiroid.

“Sudah ke dokter dan sampai sekarang kondisinya sudah stabil lagi, cuma di bagian mata agak sedikit celong. Makanya saya pakai kacamata ke mana-mana bukan saya mau gaya-gaya,” katanya dalam acara Rumpi No Secret Trans TV.

Begitu juga dirinya tetap harus minum obat hingga diminta tak stres.

“Alhamdulillah sekarang sudah naik berat badannya, stabil, bahkan lebih bulking lagi karena saya rajin,” tuturnya.

Gejala Hipertiroid

Hipertiroid atau hipertiroidisme adalah gangguan kesehatan yang terjadi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid, yaitu triiodothyronine (T3) dan thyroxine (T4), secara berlebihan.

Dikutip dari Cleveland clinic, hormon tiroid dalam tubuh berperan sebagai pengendali proses metabolisme, seperti mengatur suhu tubuh, mengolah nutrisi pada makanan menjadi energi, serta mengendalikan denyut jantung.

Apabila kadar hormon tiroid dalam tubuh melebihi batas regular, maka proses metabolisme menjadi bekerja terlalu cepat. Inilah yang menyebabkan pengidapnya memiliki berat badan rendah serta jantung yang berdetak lebih cepat.

Adapun gejalanya, seperti:

  • Detak jantung cepat (palpitasi).
  • Merasa gemetar dan/atau gugup.
  • penurunan berat badan
  • Nafsu makan meningkat.
  • Buang air besar lebih sering atau diare.
  • Kulit tipis, hangat, dan lembab.
  • Perubahan menstruasi.
  • Intoleransi terhadap panas dan keringat berlebih.
  • Masalah tidur.
  • Pembengkakan dan pembesaran leher akibat pembesaran kelenjar tiroid (gondok).
  • Rambut rontok dan perubahan tekstur rambut (rapuh).
  • Mata menonjol (terlihat pada penyakit Graves).
  • Kelemahan otot.

Simak Video “Salah Satu Strategi Menkes Budi Jika Pandemi Datang Lagi
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

Kata Ahli Jiwa soal Anxiousness, Diidap Panji Petualang gegara Diabetes


Jakarta

Belakangan ramai soal pengakuan Panji Petualang soal kondisi kesehatannya. Ia mengaku tengah mengidap nervousness atau gangguan kecemasan berlebih.

Kondisi ini dipicu ketakutannya akan kematian usai didiagnosis mengidap diabetes. Ia juga sampai berkonsultasi ke psikiater untuk mendapatkan penanganan soal kondisinya itu hingga membuat tubuhnya kurus.

“Jadi kemarin ke psikiater juga karena aku punya nervousness juga, kecemasan yang berlebihan. Kata dokter ada faktor kurus bukan dari diabet, tapi pikiran,” kata Panji Petualang ditemui di Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Menanggapi ini, psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan ansietas atau nervousness itu merupakan gangguan kejiwaan yang ditandai dengan munculnya beberapa gejala pada perasaan, seperti muncul kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan, ketidaktenangan.

Namun kondisi itu juga bisa memunculkan gejala pada kondisi fisik dan perilaku.

“Gejala fisik yang muncul pada ansietas itu adalah misalnya asam lambung naik
sehingga mual, muntah, perutnya terasa kembung, diare, atau jantung berdebar lebih kencang, napas terasa pendek, kepala terasa tidak nyaman, kulit gatal kemerahan,” jelas dr Lahargo pada detikcom, Minggu (20/8/2023).

“Dan juga ada gejala perilaku seperti sulit tidur, pola makan dan tidur yang terganggu, gelisah, tidak tenang, ada perilaku yang berulang-ulang. Semua kumpulan gejala-gejala itu, yang disebut namanya gangguan ansietas,” lanjutnya.

Benarkah Anxiousness Bikin Badan Kurus?

dr Lahargo menjelaskan gangguan fisik akibat nervousness juga kerap disebut sebagai gangguan psikosomatik. Ini terjadi saat adanya keluhan pada fisik dan pikiran.

Menurutnya, kondisi ini yang menyebabkan naik dan turunnya berat badan hingga gangguan fisik lainnya.

“Nah, gangguan anxietas ini juga bisa menyebabkan munculnya atau bertambah beratnya, hingga gangguan-gangguan fisik yang lain, seperti diabetes melitus, hipertensi, sakit jantung, dan lainnya,” kata dr Lahargo.

“Karena di otak penderita gangguan ansietas itu keluar sebuah hormon yang namanya hormon kortisol, yang menyebabkan organ tubuh bekerja ekstra,
yang tentunya akan membuat munculnya gangguan-gangguan fisik dan berkurangnya
kalori, dan memperberat apabila seseorang punya diabetes melitus atau kencing manis,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kesehatan fisik dan jiwa sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Maka dari itu, dr Lahargo menyarankan agar pasien mendapat penanganan secara holistik.

Simak Video “Studi China: Banyak Makan Gorengan Bisa Terkait dengan Depresi
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Mengenal Nervousness, Diidap Panji Petualang gegara Takut Kematian

Jakarta

Panji Petualang saat ini tengah berjuang melawan diabetes yang membuat tubuhnya semakin kurus. Namun selain diabetes, ia juga mengalami nervousness dysfunction atau gangguan kecemasan berlebihan.

Pria dengan nama lengkap Muhammad Panji ini pun harus berkonsultasi dengan psikiater untuk mengatasi kecemasannya lantaran takut akan kematian.

“Itu yang buat aku ngedrop banget. Jadi kemarin ke psikiater juga karena aku punya nervousness juga, kecemasan yang berlebihan. Kata dokter ada faktor kurus bukan dari diabet, tapi pikiran,” kata Panji Petualang ditemui di Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Meski dihantui dengan hal-hal negatif, ia saat ini memilih pasrah pada Tuhan dalam menjalani hidup di tengah penyakit yang didapnya. Panji juga sering melawan rasa takutnya terhadap kematian. Dia berusaha mengubah pola pikir ke arah yang lebih positif untuk mencegah datangnya kecemasan tersebut.

“Misalkan kalau makan nasi diabet gue naik nih, wah mati gue cepat. Jadi mikirnya makan nasi mati, nggak makan nasi mati, sudah ah sama aja. Kayak ngerokok mati nggak ngerokok mati,” imbuhnya.

Tentang Nervousness Dysfunction

Nervousness Dysfunction atau gangguan kecemasan adalah kondisi yang membuat seseorang merespons hal-hal dan situasi tertentu dengan kecemasan dan ketakutan. Ini juga mungkin memunculkan gejala fisik seperti jantung berdebar dan berkeringat.

Dikutip dari Cleveland Clinic, kondisi ini bisa muncul saat seseorang merasa cemas atau gugup jika harus mengatasi masalah di tempat kerja, mengikuti tes, atau membuat keputusan penting.

Namun, gangguan kecemasan ini bisa lebih parah dari kegugupan biasa dan sedikit ketakutan yang mungkin dirasakan dari waktu ke waktu. Gangguan kecemasan terjadi ketika:

  • Sering bereaksi berlebihan ketika ada sesuatu yang memicu emosi
  • Tidak dapat mengontrol respons terhadap situasi
  • Gangguan kecemasan dapat membuat sulit menjalani hari

Simak Video “Studi China: Banyak Makan Gorengan Bisa Terkait dengan Depresi
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Diidap Jo Lindner Sebelum Meninggal, Kenali Sederet Penyebab Aneurisma


Jakarta

Jo Lindner, sosok yang terkenal sebagai influencer kebugaran, meninggal dunia akibat aneurisma. Kabar meninggalnya Lindner dikonfirmasi oleh kekasihnya, Nicha.

Beberapa hari sebelum meninggal, Lindner memang sempat mengeluhkan rasa sakit di leher. Pria berusia 30 tahun itu meninggal dalam pelukan sang kekasih.

“Dia memakai kalung di leherku yang dia buat untukku .. Kami hanya berbaring berpelukan .. menunggu waktu untuk pergi menemui Noel di health club pukul 16.00 .. Dia ada di pelukanku .. Ini terjadi terlalu cepat,” kata Nicha, dikutip dari The Impartial, Senin (3/7/2023).

“Kata terakhir yang dia katakan [kepada saya] ‘Bae, kita semua selalu bisa memulai lagi dan itulah kuncinya. selalu mulai lagi, ” sambungnya.

Mengutip dari Mayo Clinic, aneurisma adalah tonjolan irregular yang terjadi di dinding pembuluh darah. Jika tonjolan ini pecah, dapat menyebabkan pendarahan di dalam tubuh dan sering berujung pada kematian. Aneurisma kadang juga muncul tanpa gejala, bahkan pengidapnya bisa tidak tahu mengidap aneurisma meski ukurannya sudah besar.

Tapi apa sih faktor penyebab penyakit satu ini?

Dikutip dari Instances of Information, American Coronary heart of Affiliation membeberkan sejumlah faktor yang dapat menyebabkan aneurisma. Umumnya, aneurisma disebabkan oleh darah yang menekan dinding pembuluh arteri.

Adapun faktor risiko lain yang dapat memicu aneurisma antara lain:

  • Pola makan yang buruk
  • Kebiasaan merokok
  • Hipertensi
  • Penyalahgunaan zat tertentu
  • Faktor usia
  • Trauma fisik
  • Faktor keturunan

Selain itu, aneurisma juga bisa disebabkan oleh kondisi bawaan saat lahir yang menyebabkan dinding pembuluh darah melemah, serta infeksi penyakit tertentu yang dapat menyerang dan memperlemah dinding pembuluh aorta, seperti syphilis.

Simak Video “Mekanisme Penggunaan BPJS Kesehatan di Masa Endemi Covid-19
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)