Tag: Dikhawatirkan

Disebut Jadi ‘Silent Pandemic’, Ini yang Dikhawatirkan WHO soal Dampak Superbug


Jakarta

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti penyebaran superbug atau bakteri yang kebal atau resistan terhadap obat atau antibiotik. Diketahui, resistensi antimikroba (AMR) kini marak disebut-sebut sebagai ‘silent pandemic’. Memangnya potensi dampak seperti apa yang kini dikhawatirkan WHO?

Mengacu pada WHO, AMR adalah krisis kesehatan world yang sering diabaikan dan terus berkembang. Sebelumnya, WHO juga telah menyatakan AMR sebagai satu dari 10 ancaman world terbesar terhadap kesehatan manusia. Diperkirakannya, setiap tahun ada 1,3 juta orang meninggal akibat patogen yang resisten tersebut.

WHO menegaskan, angka tersebut akan melonjak secara dramatis jika tidak ada tindak lanjut sesegera mungkin. Dampaknya, biaya kesehatan masyarakat melonjak. Terutama di negara berpenghasilan rendah, ekonomi dan sosial yang lebih tinggi mendorong lebih banyak orang jatuh ke dalam kemiskinan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antimikroba, termasuk antibiotik dan antivirus, adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi pada manusia dan hewan. Namun, penyalahgunaan dan penggunaan antimikroba secara berlebihan diketahui sebagai penyebab utama fenomena AMR.

AMR terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan parasit mengalami peningkatan kemampuan untuk bertahan, bahkan bertumbuh meskipun sudah ada obat yang dirancang untuk membunuh mereka. Penelitian menunjukkan, krisis AMR ini juga dipengaruhi oleh perubahan iklim.

“Perubahan iklim pada dasarnya penting karena apa yang terjadi dengan planet kita dan masalahnya adalah semakin tinggi suhu kita, semakin banyak penyakit menular yang bisa menular, dan itu termasuk bakteri AMR,” ungkap profesor mikrobiologi molekuler College of Plymouth, Tina Joshi, dikutip dari CNBC, Kamis (23/11/2023).

“Bakteri AMR dikenal sebagai silent pandemi. Alasan mengapa ini disebut diam adalah karena tidak ada yang mengetahuinya, dan sangat menyedihkan karena tidak ada yang peduli,” pungkasnya.

Simak Video “Catatan dari WHO untuk Indonesia Terkait Transisi ke Endemi
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/suc)

Yang Dikhawatirkan Pakar soal COVID Varian Pirola, Bisa Secepat Ini Menularnya


Jakarta

Dunia kembali digegerkan dengan munculnya varian baru COVID-19 bernama ‘Pirola’ atau BA.2.86. Pasalnya, varian ini memiliki jumlah mutasi paling banyak dibandingkan varian-varian Corona lainnya, yakni sebanyak 35 mutasi.

Di samping tingkat penularannya, sejumlah ahli juga menyoroti risiko varian Corona baru ini memiliki kemampuan yang besar untuk kabur dari perlindungan vaksin COVID-19 maupun infeksi virus Corona secara alamiah.

Juga disebut sebagai BA.2.86, Pirola adalah varian virus corona jenis Omicron yang sangat bermutasi, yang muncul pada tahun 2021 dan menyebabkan lonjakan kasus dan kematian akibat COVID-19. Hal ini juga berkaitan dengan risiko terjadinya lagi gelombang COVID-19, akibat varian Pirola.

“Ketika Omicron menyerang pada musim dingin tahun 2021, terjadi peningkatan besar dalam kasus COVID-19 karena sangat berbeda dari varian Delta, dan ia menghindari kekebalan baik dari infeksi alami maupun vaksinasi,” kata spesialis penyakit menular dr Scott Roberts. dalam buletin Yale Medication dikutip dri New York Submit, Minggu (3/9/2023).

“Jumlah mutasi yang begitu tinggi sungguh luar biasa. Saat kami beralih dari XBB.1.5 ke EG.5, mungkin ada satu atau dua mutasi. Namun pergeseran besar-besaran ini, yang juga kita lihat dari Delta ke Omicron, sangat mengkhawatirkan,” ujarnya lebih lanjut.

Sembari ia menambahkan, sampai saat ini belum ada informasi pasti perihal dampak dari varian Pirola. Namun, penelitian tengah berlangsung.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), varian Pirola awalnya terdeteksi di Israel dan kemudian diidentifikasi di Kanada, Denmark, Inggris, Afrika Selatan, Swedia, Norwegia, Swiss, dan Thailand. Namun, CDC belum membeberkan tingkat keparahan gejala yang muncul pada pasien COVID-19 dengan infeksi varian Pirola.

“Masih terlalu dini untuk mengetahui apakah varian ini dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya,” ungkap CDC.

“CDC memantau dengan cermat tingkat rawat inap untuk mengidentifikasi potensi sinyal awal bahwa varian BA.2.86 menyebabkan penyakit yang lebih parah,” pungkasnya.

Seorang pendiri klinik pengujian COVID-19 di London, Gabriela Brewer, mengungkapkan ada empat tanda penting yang harus diwaspadai sebagai gejala Pirola:

  • Demam tinggi
  • Batuk
  • Dingin
  • Hilangnya indera penciuman atau indera rasa

“Setelah Anda mengidentifikasi tanda-tanda ini dan ingin memastikannya, Anda harus melakukan tes antigen atau PCR,” ungkap Brewer dikutip dari Categorical.co.uk.

Simak Video “ Kenali Gejala Varian Pirola yang Disebut Picu Gelombang Covid-19 Baru
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)