Tag: Diwaspadai

8 Ciri-ciri Darah Tinggi yang Perlu Diwaspadai

Jakarta

Tekanan darah merujuk pada tekanan yang dihasilkan oleh darah menekan dinding arteri. Arteri berfungsi sebagai saluran yang mengangkut darah dari jantung ke berbagai bagian tubuh.

Dalam satu hari, tekanan darah cenderung naik dan turun. Rentang regular tekanan darah berada di bawah 120/80 mmHg. Lantas, apa saja ciri-ciri darah tinggi dan kapan sebaiknya periksa ke dokter? Simak artikel berikut ini!

Ciri-ciri Darah Tinggi

Kondisi tekanan darah tinggi, yang juga dikenal sebagai hipertensi, terjadi ketika tekanan darah melebihi batas regular.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semakin tinggi tingkat tekanan darah, semakin besar risiko terhadap masalah kesehatan lain, seperti penyakit jantung, serangan jantung, dan stroke. Berikut ini ciri-ciri tekanan darah tinggi.

1. Sakit Kepala

Sakit kepala adalah tanda umum pada individu yang mengalami hipertensi. Kondisi tekanan darah tinggi dapat memicu rasa sakit kepala karena darah mengalir dengan tekanan yang melebihi norma ke dalam pembuluh darah yang lebih kecil di otak.

2. Kelelahan

Kelelahan menjadi salah satu ciri-ciri yang sering dialami oleh individu dengan tekanan darah tinggi.

Dampak hipertensi dapat merusak pembuluh darah di jantung dan paru-paru, memaksa jantung untuk bekerja lebih keras, dan meningkatkan risiko kelelahan.

3. Penglihatan kabur

Pandangan kabur bisa menjadi gejala hipertensi karena kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di mata.

Kerusakan pembuluh darah dapat menyebabkan peradangan pada retina, yang berdampak pada kualitas penglihatan.

4. Sesak napas

Hipertensi dapat mempengaruhi pembuluh darah yang menuju paru-paru, menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan membuat jantung bekerja lebih keras.

Akibatnya, individu dengan hipertensi mungkin mengalami sesak napas karena beban tambahan pada sistem pernapasan.

5. Degupan Terasa Kuat

Degupan jantung yang terasa kuat atau tidak teratur dapat dihubungkan dengan hipertensi.

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah, menghasilkan sensasi degupan yang lebih kuat atau tidak teratur.

6. Mimisan

Dalam beberapa kasus, mimisan dapat diindikasikan sebagai gejala dari tekanan darah tinggi.

Hipertensi dapat melemahkan dan merusak pembuluh darah di kepala dan leher, serta meningkatkan risiko kerusakan dan perdarahan yang dapat menyebabkan mimisan.

7. Mual/Muntah

Nausea (mual) dan muntah juga dapat dikaitkan dengan hipertensi.

Tekanan darah tinggi dapat memengaruhi fungsi organ-organ tubuh, termasuk lambung, yang dapat menyebabkan perasaan mual dan dorongan untuk muntah.

8. Pingsan

Pingsan atau kehilangan kesadaran dapat menjadi reaksi tubuh terhadap tekanan darah tinggi yang tidak terkendali.

Tekanan darah yang ekstrem dapat memengaruhi aliran darah ke otak, menyebabkan pingsan sebagai upaya tubuh untuk mengatur keseimbangan.

Kapan Perlu ke Dokter?

Dilansir dari laman WebMD, jika Anda mengalami salah satu ciri-ciri di atas, segera berkonsultasi dengan dokter. Kemungkinan Anda sedang mengalami hipertensi yang dapat berpotensi menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Pada umumnya, tekanan darah tinggi tidak menyebabkan sakit kepala atau mimisan. Namun, hal ini bisa terjadi dalam situasi krisis hipertensi ketika tekanan darah mencapai stage 180/120 ke atas.

Jika tekanan darah Anda sangat tinggi dan Anda mengalami gejala tersebut, istirahat selama 5 menit dan periksa kembali. Jika tekanan darah tetap tinggi, segera datangi klinik atau rumah sakit terdekat.

Penting untuk diingat bahwa tekanan darah tinggi umumnya tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, setiap orang sebaiknya secara rutin memeriksanya. Semoga bermanfaat!

Simak Video “Ini Bahayanya Jika Hipertensi Tak Dikontrol
[Gambas:Video 20detik]
(inf/inf)

6 Ciri-ciri Batu Ginjal yang Harus Diwaspadai sejak Dini

Jakarta

Batu ginjal, atau yang disebut juga dengan nefrolitiasis, adalah kondisi akibat terbentuknya endapan padat di dalam ginjal. Biasanya, endapan tersebut berasal dari zat-zat kimia yang ada di dalam urine.

Batu ginjal dapat terjadi di sepanjang saluran urine, seperti ureter, uretra, dan kandung kemih. Ukuran batu ginjal bisa bervariasi, mulai dari sekecil butiran pasir hingga sebesar bola golf.

Ketika masih dalam tahap awal, ciri-ciri batu ginjal sering tidak terdeteksi, apalagi jika ukuran batu ginjal sangat kecil. Namun seiring berjalannya waktu, ukuran batu ginjal bisa semakin bertambah besar hingga akhirnya menghambat aliran urine. Pergerakan batu ginjal di sepanjang saluran urine juga dapat menyebabkan rasa sakit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, penting untuk mengetahui ciri-ciri batu ginjal sejak dini guna melakukan upaya pencegahan, sehingga kondisinya tidak semakin parah dan menimbulkan komplikasi.

Ciri-ciri Batu Ginjal

1. Kolik Ginjal

Ciri-ciri batu ginjal yang paling khas adalah kolik ginjal, yakni rasa sakit tajam dan menusuk yang terjadi di salah satu sisi tubuh atau punggung. Batu ginjal dapat menghambat saluran urine. Ketika batu ginjal tersangkut di saluran kencing, hal ini dapat menghambat aliran urine dan menyebabkan pembengkakan pada ginjal serta membuat ureter menjadi kejang. Inilah yang kemudian memicu munculnya rasa sakit hebat di sisi tubuh, punggung, atau di bawah tulang rusuk.

2. Mual dan muntah

Ciri-ciri batu ginjal juga bisa berupa mual dan muntah. Gejala ini muncul karena adanya koneksi saraf yang sama antara ginjal dan saluran pencernaan. Akibatnya, batu ginjal juga dapat menyebabkan sakit perut. Mual dan muntah merupakan cara tubuh merespons terhadap rasa sakit tersebut.

3. Darah di urine

Batu ginjal yang berukuran sangat kecil biasanya dapat dikeluarkan dengan mudah bersama urine tanpa gejala yang berarti. Tapi batu ginjal yang sudah berukuran cukup besar dapat dengan mudah tersangkut di bagian ginjal maupun saluran kemih.

Batu ginjal yang tersangkut dapat menimbulkan kerusakan pada sel-sel di lapisan saluran kemih, yang kemudian menyebabkan luka dan memungkinkan darah masuk ke dalam urine.

4. Nyeri ketika buang air kecil

Pengidap batu ginjal juga bisa mengalami nyeri saat buang air kecil. Endapan batu ginjal memiliki struktur yang keras dan tajam, sehingga ketika bergerak di sepanjang saluran urine dapat menimbulkan rasa sakit. Batu ginjal yang tersangkut di saluran kemih juga bisa menimbulkan nyeri saat buang air kecil.

5. Sering buang air kecil

Selain menimbulkan nyeri, batu ginjal juga bisa membuat pengidapnya sering buang air kecil. Ketika batu ginjal bergerak atau tersumbat di saluran kemih bagian bawah, seperti uretra, maka dapat memunculkan rasa ingin buang air kecil. Biasanya, rasa tersebut tidak hilang meski sudah buang air kecil. Inilah yang menyebabkan pengidap batu ginjal sering buang air kecil dalam quantity yang sedikit.

6. Urine bau dan berbuih

Urine berbau atau berbuih adalah salah satu ciri-ciri batu ginjal yang cukup mudah untuk dikenali. Buih atau aroma tak sedap itu disebabkan oleh infeksi bakteri atau nanah yang berasal dari saluran kemih.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pergerakan batu ginjal dapat menyebabkan luka di saluran kemih. Jika luka tersebut sampai mengalami infeksi, maka bisa menimbulkan nanah yang kemudian bercampur dengan urine yang dikeluarkan dari dalam tubuh.

Simak Video “Bukan Mitos! Sering Menahan Kencing Bisa Sebabkan Batu Ginjal
[Gambas:Video 20detik]
(ath/kna)

8 Reaksi Tubuh Setelah Minum Rebusan Daun Sirsak yang Perlu Diwaspadai

Jakarta

Walaupun memiliki manfaat untuk kesehatan karena kaya vitamin yang mengandung banyak antioksidan, sirsak juga memiliki beberapa potensi kelemahan.

Penggunaan daun sirsak untuk pengobatan alternatif juga bisa memiliki beberapa risiko. Dalam hal ini, ada beberapa risiko efek samping berbahaya daun sirsak yang perlu diwaspadai.

Lebih lanjut, ketahui beberapa reaksi tubuh setelah minum rebusan daun sirsak hingga cara mengatasinya di bawah ini.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Reaksi Tubuh Setelah Minum Rebusan Daun Sirsak

Waspadailah reaksi tubuh berikut ini setelah minum air rebusan daun sirsak.

1. Sembelit

Dilansir dari laman Medicpole, sembelit (kondisi sulit buang air besar) menjadi salah satu reaksi tubuh setelah minum rebusan daun sirsak. Bagi orang yang melakukan pengobatan dengan air daun sirsak, efek samping ini akan langsung terasa sesudah terapi.

Hal itu terjadi karena ada senyawa di daun sirsak yang mempengaruhi lendir pada usus, yang membuat usus tidak bisa menyerap sari makanan dengan baik.

Oleh karena itu, disarankan untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat ketika tengah terapi dengan air daun sirsak.

2. Memungkinkan Nyeri Otot dan Sendi

Banyak yang menganggap penggunaan air rebusan daun sirsak yang merasakan efek nyeri pada otot dan persendian. Pasalnya, ada senyawa dalam daun sirsak yang mungkin bisa memperparah penyakit tertentu misalnya asam urat.

Selain itu, efek rebusan daun sirsak juga berisiko memperparah bahaya rematik tulang (bagi penderita rematik).

Namun ternyata semua efek itu akan hilang, apabila tubuh sudah tidak menerima air rebusan daun sirsak. Di sisi lain, perlu ada penelitian lebih lanjut tentang efek ini.

3. Dehidrasi

Efek paling umum pada orang yang minum rebusan daun sirsak yaitu dehidrasi (kondisi saat tubuh kehilangan banyak cairan daripada yang diterimanya).

Dalam hal ini, dehidrasi disebabkan karena tubuh menerima senyawa dalam daun sirsak, yang mengeluarkan seluruh racun tubuh dengan melalui keringat dan urine.

Akibatnya, keseimbangan cairan tubuh akan mengalami gangguan. Oleh sebab itu, tubuh akan membutuhkan lebih banyak cairan. Apabila tidak diatasi dengan banyak minum air putih, maka tubuh bisa mengalami dehidrasi.

4. Gangguan Asam Lambung

Kandungan senyawa dalam daun sirsak berisiko menyebabkan asam lambung naik hingga ke kerongkongan.

Saat asam lambung naik, maka semua makanan kembali ke kerongkongan lalu membuat kondisi asam berlebih. Kondisi ini ditandai dengan gejala asam lambung yang naik.

5. Memungkinkan Tubuh Tidak Nyaman

Efek samping berbahaya dari rebusan daun sirsak lainnya yaitu berisiko membuat panas tubuh berlebih. Kondisi tersebut disebabkan oleh senyawa daun sirsak yang bisa mengubah proses metabolisme tubuh.

Jika ada senyawa tertentu yang masuk ke saluran pencernaan lalu diserap tubuh, maka akan ada gangguan hormon dan enzim.

Gejala masalah metabolisme tersebut ditandai dengan lemas, berkeringat berlebihan, rasa terbakar, kurang nafsu makan, hingga gelisah.

6. Disfungsi Hati

Minum air rebusan daun sirsak secara berlebihan juga memungkinkan menyebabkan gangguan fungsi hati. Karena akan membuat kerja liver sangat berat, yang membuat fungsi hati menjadi tidak maksimal lagi.

Saat sudah terjadi gangguan fungsi hati. maka kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi penyakit lain.

7. Gangguan Fungsi Ginjal

Banyak orang yang telah mencoba mengkonsumsi air rebusan daun sirsak namun dikatakan ada beberapa efek yang berhubungan dengan ginjal.

Ginjal menyaring semua cairan yang masuk ke dalam tubuh termasuk bahan kimia dari obat-obatan dan berbagai senyawa dari zat asing.

Gangguan fungsi ginjal sebagian besar disebabkan oleh ginjal yang terus menyaring segala zat asing dari air rebusan daun sirsak. Jadi meminum rebusan daun sirsak bisa menjadi salah satu faktor penyebab gagal ginjal.

8. Memungkinkan Gejala yang Mirip Penyakit Parkinson

Dilansir dari laman WebMD, sebuah penelitian menyatakan bahwa buah dan teh yang terbuat dari daun sirsak bisa menyebabkan gejala yang mirip dengan penyakit Parkinson (penyakit di sistem saraf).

Hasil penelitian juga menunjukkan teh rebusan daun sirsak mungkin berinteraksi dengan obat tekanan darah tinggi atau obat diabetes.

Di mana, ada senyawa dalam sirsak yang bisa memperkuat efek obat-obatan tersebut. Hal tersebut berisiko menyebabkan penurunan tekanan darah atau kadar gula darah yang berbahaya.

Cara Mengatasi Efek Samping Daun Sirsak

Efek samping yang muncul setelah minum air rebusan daun sirsak tentu bisa mengkhawatirkan.

Berikut merupakan beberapa cara untuk mengatasi efek samping atau reaksi minum rebusan daun sirsak:

  • Pilih daun sirsak segar atau dipetik langsung dari pohon sirsak.
  • Jika ingin menggunakan daun sirsak yang sudah diolah menjadi teh celup, pilihlah yang baru diproduksi yang jauh dari tanggal kadaluarsa.
  • Campur rebusan daun sirsak dengan bahan lain, seperti sedikit gula pasir atau madu supaya rasanya tidak terlalu kental.
  • Jangan konsumsi rebusan daun sirsak sesudah meminum obat kimia, karena bisa menimbulkan reaksi keracunan pada tubuh.
  • Saat meminum air rebusan daun sirsak, harus memperbanyak minum air putih supaya ginjal bekerja lebih baik sekaligus bisa menghindarkan tubuh dari dehidrasi.
  • Selama pengobatan dengan air rebusan daun sirsak, disarankan untuk banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi untuk mencegah sembelit.

Sejatinya, reaksi tubuh setelah minum rebusan daun sirsak tiap orang bisa berbeda-beda. Bahkan, ada juga yang tidak merasakan efek sampingnya dan bisa sembuh. Namun, kita juga harus tetap waspada agar efeknya tidak bertambah parah.

Di sisi lain, hingga saat ini belum ada uji klinis yang meneliti manfaat daun sirsak untuk pengobatan beberapa penyakit. Oleh sebab itu, jika ada efek samping yang langsung yang dirasakan, lebih baik hentikan konsumsinya.

Simak Video “Cara Memastikan Kualitas dan Keaslian Ramuan Natural
[Gambas:Video 20detik]
(khq/inf)

5 Gejala Kanker Serviks Stadium Awal yang Perlu Diwaspadai

Jakarta

Kanker serviks adalah salah satu penyebab kematian tertinggi pada kaum wanita. Seringkali, kanker serviks tidak menunjukkan gejala hingga memasuki tahap yang lebih parah. Akibatnya, pengobatan menjadi terlambat dan tingkat kesembuhannya berkurang.

Dikutip dari Mayo Clinic, kanker serviks atau kanker mulut rahim adalah kondisi kanker tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Penyebab kanker serviks hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap berkaitan dengan infeksi human papilloma virus (HPV) yang dapat menular melalui hubungan seksual.

Karena bersifat mematikan, penting untuk mengetahui gejala kanker serviks sejak stadium awal agar bisa melakukan upaya kontrol dan intervensi sedini mungkin, supaya kondisinya tidak berkembang menjadi semakin parah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala Kanker Serviks Stadium Awal

1. Perdarahan yang Irregular pada Vagina

Gejala kanker serviks stadium awal yang paling umum terjadi adalah perdarahan saat sedang tidak menstruasi. Perdarahan juga bisa terjadi pada wanita yang sudah mengalami menopause.

Biasanya, perdarahan yang terjadi lebih banyak atau lebih sedikit dibanding menstruasi biasa. Selain itu, gejala kanker serviks stadium awal juga bisa membuat wanita mengalami menstruasi yang lebih lama atau lebih hebat dibanding biasanya.

2. Keputihan Tidak Wajar

Keputihan yang disertai darah, lendir, dan bau yang tidak sedap juga merupakan salah satu gejala awal kanker serviks stradium awal. Keputihan yang irregular tersebut bisa terjadi antara siklus menstruasi hingga bahkan setelah memasuki fase menopause.

3. Nyeri saat Berhubungan Intim

Nyeri pada space panggul saat berhubungan intim merupakan salah satu gejala kanker serviks stadium awal yang kerap diabaikan. Pasalnya, gejala ini juga bisa disebabkan oleh kondisi lain, seperti vagina kering, peradangan, dan lain sebagainya.

Untuk memastikan analysis dan mencegah terjadinya kondisi yang lebih serius, seperti kanker serviks, segera periksakan diri ke dokter apabila nyeri panggul saat berhubungan intim tak kunjung hilang.

4. Perdarahan setelah Berhubungan Intim

Selain nyeri pada panggul, kanker serviks pada stadium awal juga bisa menyebabkan terjadinya perdarahan setelah berhubungan intim. Namun, perlu diingat bahwa perdarahan setelah berhubungan intim tak selalu menjadi tanda pasti kanker serviks.

Pasalnya, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi seperti perubahan hormon, berhubungan intim saat hamil, atau akibat mengonsumsi pil kontrasepsi. Jika terjadi perdarahan hebat setelah berhubungan intim, segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan analysis pasti dan penanganan yang sesuai.

5. Mudah Merasa Lelah

Kelelahan biasanya menjadi efek samping yang muncul akibat perdarahan. Pada kanker serviks, quantity darah yang dikeluarkan bisa jauh lebih banyak dibanding perdarahan saat menstruasi. Jika hal ini terjadi secara terus menerus, maka dapat memicu terjadinya anemia yang mengakibatkan tubuh mudah merasa lelah.

Simak Video “Stigma Tentang Penyintas Kanker yang Diharapkan Hilang dari Masyarakat
[Gambas:Video 20detik]
(ath/naf)

Ciri-ciri DBD pada Anak dan Orang Dewasa yang Harus Diwaspadai!

Jakarta

Memasuki musim penghujan, detikers disarankan untuk selalu berhati-hati terhadap berbagai penyakit, seperti influenza dan demam berdarah (DBD).

DBD dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, yakni Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Lantas apa ya ciri-ciri DBD? Apakah ciri-ciri DBD pada anak dan orang dewasa berbeda? Bagaimanakah cara mencegah dan mengobatinya? Untuk mengetahuinya, simak penjelasannya di bawah ini.

Ciri-ciri DBD

DBD dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini bisa ditandai melalui gejala atau ciri-ciri DBD. Dikutip melalui buku berjudul Mengenal Demam Berdarah Dengue (2019), World Well being Group (WHO) menyebutkan beberapa ciri-ciri DBD secara klinis.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini ciri-cirinya.

  1. Demam tinggi secara mendadak dan terjadi terus-menerus selama kurang lebih 2 sampai 7 hari.
  2. Terjadi pembesaran hati.
  3. Diikuti atau tidak diikuti oleh renjatan.
  4. Turunnya trombosit (1.000.000/ul atau kurang).
  5. Hemokonsentrasi adalah pembesaran plasma yang dapat ditinjau dari tingginya nilai hematokrit sebanyak 20%.
  6. Terjadi manifestasi pendarahan. Salah satu bentuk dari pendarahannya yaitu:
    • Peteka adalah bintik-bintik merah yang muncul akibat adanya pendarahan secara intradermal.
    • Purpura adalah pendarahan yang terjadi di kulit.
    • Ekimosis adalah bercak pendarahan yang terjadi pada kulit atau selaput lendir.
    • Epistaksis adalah pendarahan berbentuk mimisan atau pendarahan pada gusi.
    • Hematemesis adalah pendarahan yang terjadi melalui muntah darah.
    • Melena adalah pendarahan yang menyebabkan tinja berwarna hitam.

Ciri-ciri DBD pada Anak-anak dan Orang Dewasa

DBD bisa menyerang anak-anak berusia kurang dari 15 tahun dan juga orang dewasa.

Sebenarnya, ciri-ciri DBD pada anak-anak dan orang dewasa cukup mirip, namun ciri-ciri DBD pada anak sering kali disalah artikan sebagai ciri-ciri dari penyakit lainnya.

Ciri-ciri DBD akan timbul saat mulai memasuki hari ke 4 sampai hari ke 10 setelah terjadinya infeksi.

Berikut ini ciri-ciri DBD pada anak dan orang dewasa yang dikutip melalui laman resmi World Well being Group (WHO).

  1. Mengalami demam tinggi hingga 40°C/104°F
  2. Mengalami sakit kepala yang parah
  3. Merasakan nyeri di bagian belakang mata
  4. Merasakan nyeri pada otot dan sendi
  5. Mual dan muntah
  6. Kelenjar mengalami pembengkakan
  7. Munculnya ruam

Seseorang yang terinfeksi DBD untuk kedua kalinya akan memiliki risiko yang lebih besar. Berikut ini ciri-cirinya:

  1. Mengalami sakit perut yang parah
  2. Muntah secara terus-menerus
  3. Napas tidak beraturan
  4. Gusi dan hidung mengalami pendarahan
  5. Merasa kelelahan dan gelisah
  6. Muntah darah atau BAB berdarah
  7. Menjadi mudah haus
  8. Kulit lebih pucat dan terasa dingin

Cara Mencegah DBD

Dikutip melalui laman resmi World Well being Group (WHO), berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko DBD.

  1. Menggunakan pakaian yang tertutup
  2. Pakai gorden atau tirai di siang hari
  3. Semprot gorden atau tirai menggunakan semprotan obat nyamuk
  4. Gunakan kasa jendela
  5. Semprot obat nyamuk
  6. Gunakan obat nyamuk bakar atau yang lainnya
  7. Hindari menggantung pakaian kotor
  8. Lakukan vaksin dengue pada usia 9 hingga 16 tahun
  9. Melakukan pemberantasan jentik nyamuk

Cara Mengobati DBD

Dikutip melalui buku berjudul Mengenal Penyakit Menular (2022), belum ditemukan adanya obat khusus yang dapat mengobati penyakit DBD.

Langkah pengobatan DBD dilakukan untuk mencegah dan mengatasi gejala dari infeksi yang lebih parah.

  1. Melakukan hidrasi dengan pemberian cairan intravena IV
  2. Memberikan resep obat yang digunakan untuk mengatasi rasa sakit
  3. Memberikan terapi elektrolit
  4. Memberikan terapi oksigen
  5. Memberikan transfusi darah
  6. Melakukan pemantauan tekanan darah secara cermat

Demikian yang dapat detikHealth sampaikan mengenai ciri-ciri DBD. Semoga bermanfaat!

Simak Video “Peringatan WHO Soal Efek El Nino pada Penyebaran Virus
[Gambas:Video 20detik]
(inf/inf)

Sampai Picu Kematian, Ini Komplikasi Gigi Bolong yang Harus Diwaspadai


Jakarta

Viral curhatan warganet yang mengaku sahabatnya meninggal imbas gigi bolong atau gigi berlubang. Kondisinya itu terjadi karena gigi berlubang yang tidak dirawat.

Diceritakan, teman pengunggah mengalami gigi berlubang pada bagian geraham. Setelah diperiksa, temannya disebut terkena Descending Necrotizing Mediastinitis (DNM).

Gigi berlubang adalah kondisi gigi yang rusak akibat terkikisnya lapisan terluar gigi (enamel). Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan bakteri di mulut akibat sering mengonsumsi makanan manis dan tidak menjaga kebersihan mulut.

Mengenai Descending Necrotizing Mediastinitis (DNM), drg Paulus Januar, MS, CMC dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia PDGI mengatakan kondisi tersebut bisa terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptokokus dan Staphilokokus.

“DNM sangat berbahaya karena dapat merusak jaringan di mediastinum, bahkan menyebabkan kematian,” katanya kepada detikcom.

Dikutip dari laman Kemenkes RI, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit atau sebesar 45,3 persen.

Hanya saja yang mengakses pelayanan kesehatan hanya sekitar 10 persen dari pasien. Padahal masalah kesehatan gigi dan mulut bisa berpotensi menyebabkan kondisi serius.

Gigi berlubang dapat menyebabkan sejumlah komplikasi jika dibiarkan tidak terobati, antara lain:

  • Sulit mengunyah makanan
  • Nyeri gigi yang berlangsung terus-menerus
  • Gigi patah atau tanggal
  • Pembengkakan atau muncul nanah di sekitar gigi yang berlubang
  • Abses gigi, yang dapat memicu penyakit berbahaya, seperti sepsis
  • Polip pulpa akibat gigi berlubang yang teriritasi

Saat seseorang mengalami gigi berlubang, hal ini perlahan dapat menyebabkan infeksi dan/atau peradangan pada space gusi sekitarnya, dimana menjadi tempat tumbuhnya bakteri-bakteri jahat. Jika tidak segera ditangani, proses infeksi ini akan menyebabkan kerusakan terus-menerus, bahkan bakteri bisa masuk ke dalam aliran darah.

Oleh sebab itu, menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah hal yang penting untuk dilakukan. Rajin menggosok gigi serta memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi secara rutin dan teratur adalah rekomendasi utama untuk kesehatan gigi dan mulut yang baik.

Simak Video “Kemenkes soal Viral Kecanduan Tramadol di Karawang: Sangat Dilarang!
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)

Dialami Panji Petualang, Ahli Jiwa Beberkan Gejala Nervousness yang Perlu Diwaspadai


Jakarta

Panji Petualang belum lama ini buka-bukaan terkait masalah kesehatan psychological nervousness atau kecemasan berlebih yang dialaminya. Panji mengatakan bahwa kondisi tersebut ia dapatkan usai diagnosa diabetes yang diidapnya

Panji bahkan mengaku bahwa kecemasan berlebihan tersebut membuatnya takut mati. Untuk mengatasi masalah kesehatan psychological yang ia alami, Panji tengah menjalani pengobatan dengan psikiater.

“Misalkan kalau makan nasi diabet gue naik nih, wah mati gue cepat. Jadi mikirnya makan nasi mati, nggak makan nasi mati, sudah ah sama aja. Kayak ngerokok mati nggak ngerokok mati,” ucap Panji kepada wartawan.

Berkaitan dengan masalah yang dialami oleh Panji, psikiater dr Lahargo Kembaren SpKJ mengatakan bahwa nervousness atau ansietas merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan munculnya kegelisahan, kekhawatiran, dan ketidaktenangan.

Selain tanda-tanda perasaan, dr Lahargo menjelaskan nervousness juga dapat ditunjukkan dengan tanda kondisi fisik dan perilaku tertentu.

“Gejala fisik ansietas itu bisa berupa asam lambung naik sehingga mual, muntah, perutnya terasa kembung, diare, atau jantung berdebar lebih kencang, napas terasa pendek, kepala terasa tidak nyaman, kulit gatal kemerahan,” ucap dr Lahargo pada detikcom.

“Selain itu gejala perilaku bisa ditunjukkan dengan pola makan dan tidur yang terganggu, gelisah, tidak tenang, ada perilaku yang berulang-ulang,” sambungnya.

dr Lahargo mengatakan bahwa ada beberapa hal atau pertolongan pertama yang dapat dilakukan seseorang ketika memiliki gejala nervousness. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan ‘validasi’.

“Langkah pertama yang kita lakukan adalah melakukan self-care terlebih dahulu. Pertama, coba validasi perasaan kita, ‘Oke, saya lagi cemas, lagi khawatir, saya lagi merasa tidak nyaman saat ini’,” ucapnya.

Selanjutnya, coba lakukan ‘ventilasi’ dengan mencoba bercerita dengan orang terpercaya untuk bisa mengurangi beban. Bisa pada teman, sahabat, keluarga, atau pasangan.

“Atau kalau kita tipe orang yang introvert, nggak gampang untuk bercerita, kita bisa melakukan journaling dengan menulis di buku harian. Itu pun membantu mengekspresikan apa yang sedang kita rasakan,” jelasnya.

Cara ketiga yang dapat dilakukan apabila mengalami masalah nervousness adalah dengan ‘regulasi’. Langkah ini dilakukan dengan berbagai teknik manajemen stres.

“Diregulasi itu kita lakukan berbagai teknik manajemen stres, seperti teknik pernapasan dalam, teknik grounding, mindfulness, teknik relaksasi otot progresif, atau berbagai mekanisme coping lain yang bisa meringankan atau meregulasi masalah pikiran atau emosional yang kita rasakan,” ujarnya.

dr Lahargo mengatakan bahwa teknik regulasi ini juga dapat merubah sudut pandang atau mindset menjadi lebih positif dan rasional.

“Kalau kita sudah mencoba validasi, ventilasi, dan regulasi belum juga membaik, apalagi membuat menderita, dan menghambat aktivitas, itu waktunya untuk datang ke profesional kesehatan jiwa. Mereka punya kompetensi dan kapabilitas untuk memberikan pertolongan,” pungkasnya.

Simak Video “Teknik Baru Atasi Gangguan Kesehatan Psychological dengan VR
[Gambas:Video 20detik]
(avk/kna)