Tag: DKI

Harian COVID-19 di DKI Naik 2 Kali Lipat, Ada 2 Kematian Sepanjang Desember


Jakarta

Kasus COVID-19 di DKI Jakarta belakangan meningkat, dalam sepekan ‘melonjak’ 40 persen. Sementara kasus harian dari yang semula berada di puluhan kasus, kini tercatat melampaui 100 orang.

Laporan COVID-19 dalam tiga hari terakhir misalnya, menunjukkan tren demikian. Pada Senin (11/12/2023) tercatat sebanyak 57 kasus konfirmasi positif COVID-19. Kemudian pada Selasa meningkat nyaris dua kali lipat menjadi 127 orang, sementara pada Rabu (13/12) tercatat sebanyak 131 kasus baru COVID-19, kenaikan mencapai 2,2 kali lipat.

“Sementara untuk kasus positif aktif atau pasien yang membutuhkan perawatan per 13 Desember 2023 sebanyak 365 kasus,” terang Kepala Seksi Surveilans Epidemiolog dan Imunisasi Dinas Kesehatan Ngabila Salama kepada detikcom Rabu (13/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak satu hingga 10 Desember 2022, dilaporkan ada dua orang meninggal akibat COVID-19, sementara dalam tiga hari terakhir nihil catatan kasus kematian. Hal ini sejalan dengan laporan gejala pasien mayoritas ringan, bahkan berada di angka 90 persen.

“Penggunaan tempat tidur stabil di bawah 5 persen. Belum ada kenaikan bermakna,” lanjutnya.

Vaksinasi COVID-19 di DKI Jakarta masih diberikan secara free of charge, adapun jenis vaksin yang tersedia merupakan Indovac dan Inavac, keduanya produksi dalam negeri. dr Ngabila mengimbau kelompok komorbid, lansia, hingga mereka yang memiliki gangguan imunitas tubuh segera melengkapi dosis vaksinasi hingga empat dosis.

Ada kemungkinan laporan penurunan antibodi COVID-19 di masyarakat setelah enam bulan vaksinasi terakhir terlewat, sehingga booster penting kembali dilakukan. Pemerintah tengah ‘menggodok’ regulasi pemberian vaksinasi booster ketiga atau vaksin COVID-19 dosis kelima, kelompok prioritas menyasar orang yang rentan berakhir deadly saat tertular SARS-CoV-2.

Simak Video “Covid-19 Kembali Ngegas, Perlukah Pakai Masker Lagi?
[Gambas:Video 20detik]
(naf/vyp)

Ada 2 Kematian COVID di DKI, Sefatal Apa Varian EG.5 yang Mulai Dominan di RI?


Jakarta

Menyusul kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia, Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan dua kasus kematian pasien COVID-19 pada Desember 2023. Kasus kematian muncul setelah dua bulan berturut-turut sebelumnya, Oktober hingga November 2023, nihil kasus kematian akibat COVID-19 di DKI Jakarta.

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Ngabila Salama menyebut, kedua pasien tersebut adalah wanita (81) dengan komorbid hipertensi, standing vaksinasi sudah dosis ketiga, belum menerima dosis keempat, dan wanita (91) dengan komorbid stroke dan gagal ginjal dan sama sekali belum divaksinasi COVID-19.

Varian Eris EG.5 disebut-sebut menjadi biang kerok gelombang COVID-19 kali ini. Berkenaan dengan itu, dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(Ok) menyebut varian ini sebenarnya terpantau tak memicu gejala lebih berat dibandingkan subvarian Omicron yang merebak sebelumnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Gejalanya tidak berat. Kalaupun dirawat, karena komorbid (pasien) ada komorbidnya. Kalau asma menjadi mengi, tensi naik, sehingga dirawat karena komorbid,” ungkap dr Erlina dalam konferensi pers beberapa hari lalu.

“EG.5 sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli, bahkan angkanya hampir menyentuh 20 persen saat variannya adalah EG.5. Tapi kan gejalanya ringan-ringan saja, tidak ada lonjakan kasus, lonjakan perawatan di rumah sakit,” imbuhnya.

Seraya ia menambahkan, kenaikan COVID-19 di RI kali ini mungkin dipicu oleh penerapan prokes yang melonggar, mobilitas masyarakat yang meningkat, serta imunitas yang menurun lantaran proteksi vaksin COVID-19 menurun dengan sendirinya dalam waktu 6-12 bulan pasca suntikan terakhir.

Simak Video “Mengenal EG.5 yang Disebut Bikin Kasus Covid-19 Ngegas di RI
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

Mycoplasma Pneumonia Muncul di DKI, Menkes Pastikan Gejalanya Tak Seberat COVID-19

Jakarta

Kementerian Kesehatan RI melaporkan ada 6 kasus infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae di DKI Jakarta. Bakteri inilah yang disebut-sebut menjadi pemicu pneumonia ‘misterius’ di China, marak menyerang anak-anak.

Seluruh pasien merupakan anak-anak dengan kisaran usia 3 hingga 12 tahun. Ditegaskannya, bakteri ini di Indonesia sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan sudah lama ada berkaitan dengan penyakit pernapasan.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan perbedaan infeksi bakteri ini dengan awal mula kemunculan COVID-19. Ditegaskannya, berbeda dengan virus Corona, bakteri Mycoplasma pneumoniae sudah lama ada di Indonesia sehingga bentuk penyakit dan pengobatannya pun sudah diketahui.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Itu (infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae) beda dengan COVID. Kalau COVID kan patogen baru, menyebar sehingga kita nggak tahu obatnya apa, vaksinnya apa, merawatnya bagaimana, penyebarannya cepat,” ujarnya saat ditemui di sela peringatan Hari Anti Korupsi Dunia (HAKORDIA) di Jakarta Pusat, Kamis (7/12/2023).

“Kalau mycoplasma, itu dari dulu sudah ada. Kita sudah tahu cara mengobatinya bagaimana, menyebarnya seperti apa, dan kenaikan-kenaikannya juga ada ukuran WHO. 20 per 100 ribu ini masih sangat jauh di bawah,” imbuh Menkes.

Gejalanya Relatif Ringan

Dalam kesempatan sebelumnya, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Nastiti Kaswandani, SpA(Okay) menjelaskan, gejala infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae ini sebenarnya mirip dengan infeksi saluran pernapasan (ISPA) lainnya.

“Biasanya diawali dengan demam, kemudian batuk. Batuk ini yang sangat mengganggu sehingga bisa sampai dua sampai tiga pekan,” jelasnya juga dalam konferensi pers.

“Gejala-gejala lainnya nyeri tenggorok. Kalau anak besar terkadang sampai nyeri dada, kemudian ada gejala fatigue atau lemah. Itu yang menonjol pada pneumonia karena Mycoplasma,” pungkas dr Nastiti.

Simak Video “Pneumonia ‘Misterius’ di China Picu Pandemi? Ini Kata Kemenkes
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

5 Kasus Mpox di DKI Dilaporkan Sempat Kontak dengan Hewan Peliharaan

Jakarta

Kasus Mpox meroket di Tanah Air nyaris mencapai 30 orang, penambahan terus tercatat setiap harinya dengan laporan terakhir di Selasa (31/10/2023) sebanyak 29 kasus. Sebagai kehati-hatian, pemerintah juga melakukan surveilans di banyak pasien, menelusuri kemungkinan kontak erat dengan hewan penyebar virus.

Ada lima orang dari dari 23 kasus di DKI Jakarta yang teridentifikasi memiliki kontak dengan hewan peliharaannya. Empat kasus berkontak dengan kucing, satu orang lainnya melakukan kontak dengan anjing dan kucing.

Meski begitu, sejauh ini kecil kemungkinan paparan Mpox dari hewan peliharaan. Pada banyak kasus, bahkan terjadi sebaliknya yakni manusia yang kerap menularkan virus Mpox.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh pasien Mpox di Tanah Air sejauh ini dipastikan tertular melalui aktivitas seks berisiko. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Maxi Rein Rondonuwu meminta masyarakat untuk menghindari transmisi dan mengedepankan perilaku hidup bersih serta sehat.

Penularan Mpox

Dikutip dari Pusat dan Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), mpox merupakan penyakit zoonosis yang menyebar antara hewan dan manusia. Manusia dapat tertular virus ini melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.

Pada 2003, wabah Mpox pada anjing peliharaan dilaporkan di AS pasca seseorang tidur dengan anjing mereka, yang diyakini terpapar dari mamalia kecil seperti tupai hingga tikus, hal ini menyebabkan penularan di manusia hingga menginfeksi 47 kasus, dilaporkan terjadi pada 6 negara bagian Amerika Serikat.

Karenanya, mengisolasi hewan dan manusia yang terinfeksi atau terpapar dapat membantu mencegah penyebaran Mpox lebih lanjut

“Kami tidak tahu pasti apakah hewan peliharaan seperti anjing dan kucing dapat tertular mpox, tetapi hal itu mungkin saja terjadi,” sebut CDC.

“Pengidap Mpox mungkin dapat menyebarkan virus ke hewan peliharaan melalui kontak dekat, termasuk mengelus, berpelukan, berpelukan, berciuman, menjilat, berbagi tempat tidur, dan berbagi makanan. Sejauh ini tidak ada hewan peliharaan atau hewan lain yang dipastikan mengidap mpox selama wabah mpox world tahun 2022-2023,” pungkasnya.

Simak Video “Nambah Lagi! Pasien Cacar Monyet Aktif di DKI Jakarta Kini 24 Orang
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Sederet Gejala Pasien Cacar Monyet ‘Mpox’ di DKI, Demam-Muncul Lesi

Jakarta

Kementerian Kesehatan RI melaporkan ada kasus baru cacar monyet atau Mpox di DKI Jakarta. Pada 23 Oktober, tercatat ada satu kasus baru. Whole pasien Mpox kini complete ada 8 orang.

“Positif complete ada 8 orang, kasus positif aktif tujuh orang,” ungkap juru bicara Kemenkes RI dr Mohammad Syahril kepada detikcom, Senin (23/10/2023). Sembari ia menambahkan, di samping pasien tersebut, ada empat pasien suspek yang mengalami gejala dan diduga terkena Mpox.

Diketahui, kasus Mpox pertama kali ditemukan di DKI Jakarta pada Agustus 2022. Pasien yang terkonfirmasi saat itu telah dinyatakan sembuh. Sementara saat ini, masih terdapat tujuh pasien aktif Mpox yang menjalani isolasi di rumah sakit. Diperkirakan, proses penyembuhan Mpox membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga pekan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Syahril juga menyebut, seluruh pasien Mpox yang tercatat kini adalah laki-laki berusia 25 hingga 35 tahun.

“Rentang usia pasien cacar monyet dewasa muda dan semuanya laki-laki. Kini semua pasien dalam perawatan biasa dan keadaannya umum baik,” tutur dr Syahril.

Daftar Gejala yang Dialami Pasien Mpox

Dalam kesempatan sebelumnya, Kabid P2P Dinkes DKI Jakarta dr Dwi Oktavia, MEpid sempat menjelaskan ada berbagai gejala yang dialami pasien Mpox di Jakarta. Beberapa di antaranya yakni lesi dan demam.

Berikut daftar gejala Mpox pada pasien di Jakarta:

  • Lesi
  • Demam
  • Pembesaran kelenjar getah bening
  • Nyeri tenggorokan
  • Myalgia
  • Ruam
  • Sulit menelan
  • Nyeri anogenital
  • Sakit punggung
  • Menggigil
  • Arthralgia
  • Lelah
  • Mual
  • Batuk
  • Mata nyeri
  • Asthenia
  • Diare
  • Radang di genital

NEXT: Tantangan deteksi cacar monyet

Tambah 4 Kasus, Whole Pasien Mpox di DKI Jadi 7 Orang!


Jakarta

Juru bicara Kementerian Kesehatan RI dr Mohammad Syahril melaporkan penambahan empat kasus baru cacar monyet atau Mpox dari hasil penelusuran kontak erat. Whole kasus yang ditemukan sejak 2022 sudah mencapai tujuh orang.

“Iya jadi per hari ini ada tambahan empat kasus baru ya, jadi totalnya 7 orang,” beber dr Syahril saat dihubungi detikcom Sabtu (21/10/2023).

“Ini semua dari kontak erat,” sambungnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh pasien dilaporkan di DKI Jakarta. Belum ada catatan kasus penyebaran pasien yang ditemukan di luar ibu kota.

Meski begitu, dr Syahril mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan penularan saat berkontak dengan pengidap Mpox. Bisa dilihat dari lenting dan lesi yang muncul pada pasien.

Adapun enam dari tujuh pasien yang ditemukan langsung menjalani isolasi untuk mencegah transmisi atau penularan semakin meluas.

Berikut riwayat catatan perjalanan kasus Mpox atau cacar monyet.

  • Satu kasus di Agustus 2022: pasien dinyatakan sembuh.
  • Satu kasus di 13 Oktober 2023: pasien masih menjalani isolasi di RS.
  • Satu kasus di 19 Oktober 2023: pasien masih menjalani isolasi di RS.
  • Empat kasus di 21 Oktober 2023 tengah dirujuk menjalani isolasi di RS.

Dari laporan keseluruhan, tersisa empat orang yang masih menjalani proses pemeriksaan di laboratorium PCR. Sementara tiga orang lain yang sempat masuk kategori suspek, belakangan dinyatakan negatif.

dr Syahril belum merinci bagaimana gejala keempat pasien Mpox yang baru ditemukan, lantaran masih dalam tahap penelusuran epidemiologis,

Simak Video “Tambah 1 Kasus Cacar Monyet, Pasien Punya Riwayat Perjalanan
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Heboh Pria DKI Kena Kanker Nasofaring Stadium 4, Sekarang Pantang Makan Ini


Jakarta

Dikira cuma pilek dan mampet biasa, ternyata pria asal DKI ini mengidap kanker nasofaring stadium 4. Pria bernama Yoseppy itu pun membagikan kisahnya yang berjuang melawan penyakit ganas tersebut.

Yoseppy mengatakan, gejala berupa mampet dan pilek sudah dialami sekitar tiga bulan sebelum divonis kanker oleh dokter. Saking tak bisa bernapas, ia menggunakan mulut sebagai alternatifnya.

“Waktu itu aku ngerasa pernapasan aku tuh terhambat, bahkan sampai di daerah ini, di daerah hidung sebelah kiri itu bener-bener nggak bisa napas sama sekali,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (5/10/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, pria yang kini berusia 30 tahun itu juga mengalami gejala sering mimisan dan sakit kepala sebelah. Dokter awalnya mengira, ia hanya mengalami kondisi sinusitis atau peradangan yang terjadi pada saluran pernapasan. Bahkan Yoseppy diberikan pengobatan untuk sinusitis.

Meski sudah diberi obat, gejala yang dialami Yoseppy tidak kunjung membaik. Walhasil dia memutuskan untuk pergi lagi ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

“Dokter ini ngecek dan ternyata ada polip hidung di dalam. Setelah ada polip hidung dia ngecek lagi dengan endoskopi, dia ngecek kebawah lagi, kok ada benjolan yang berdarah-darah, dia mencurigai itu kan. Sebelumnya dokter bilang, pak saya curiga ini takutnya tumor, tapi semoga bukan,” imbuhnya.

“Akhirnya saya putuskan untuk operasi pengangkatan polip, dokter melakukan biopsi kan akhirnya kepada saya. Nah pas itu dokter biopsi mengambil sampelnya dan setelah dicek, hasil lab menunjukkan bahwa itu adalah tumor ganas,” katanya lagi.

Dugaan Penyebab

Dokter menduga kanker yang dialami Yoseppy itu dipicu oleh faktor pola hidup yang tak baik, misalnya makan yang tak sehat. Pria asal DKI ini mengaku sering mengonsumsi makanan all you possibly can eat dan quick meals atau makanan cepat saji.

“Terus aku menghindari makanan quick meals kecuali ayam goreng, terus aku nggak boleh lagi daging yang dipanggang terutama dengan arang. Jadi kayak sate, ikan bakar itu udah nggak boleh lagi,” ucapnya.

“Karena kalau dokter bilang, bagian hitam-hitam nya itu adalah karsinogen, karsinogen yang bisa menyebabkan kanker. Dan memang pola makan saya dulu juga agak jeleknya gitu, saya suka makan makanan bakar,” sambungnya lagi.

Simak Video “Kemenkes Bantah soal Polusi Sengaja Dibuat untuk Munculkan Pandemi 2.0
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

Sepekan Berlalu Sejak WFH ASN 50 Persen, Polusi DKI Masih ‘Gini-gini’ Aja


Jakarta

Penampakan langit DKI Jakarta dalam sepekan terakhir masih tampak berwarna abu pekat meski pemerintah provinsi DKI sudah memberlakukan kebijakan 50 persen make money working from home (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN). Itu menjadi salah satu strategi untuk menghalau polusi, meski pada akhirnya langkah itu memicu pro-kontra di masyarakat.

Tidak sedikit yang menilai WFH kurang efektif dan kemungkinan hanya menurunkan polutan dalam beberapa waktu, tidak secara permanen. Bagaimana information kualitas udara di ibu kota dalam seminggu terakhir?

Aplikasi pemantau kualitas udara Nafas Indonesia merinci rata-rata konsentrasi PM 2.5 sejak WFH diberlakukan. Hasilnya, kurang lebih tidak ada perbedaan seperti hari biasanya sebelum kebijakan diterapkan.

21 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 44 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
22 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 53 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
23 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 49 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
24 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 47 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
25 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 58 (merah, tidak sehat)

Angka tersebut di atas 5 hingga 10 kali lipat pedoman aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni particulate matter (PM) 2.5 angka 5 µg/m³.

Tren yang tidak jauh berbeda dilaporkan situs IQAir dalam periode yang sama, berikut detailnya:

21 Agustus: indeks kualitas udara 147 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
22 Agustus: indeks kualitas udara 158 (merah, tidak sehat)
23 Agustus: indeks kualitas udara 155 (merah, tidak sehat)
24 Agustus: indeks kualitas udara 144 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
25 Agustus: indeks kualitas 147 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)

Simak Video “ASN Diimbau Naik Transportasi Umum, Benarkah Sudah Diterapkan?
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

Dinkes DKI Ingatkan Masker yang Tak Efektif Tangkal Polusi Udara


Jakarta

Kualitas udara di DKI Jakarta terpantau masih masuk ‘zona merah’ siang ini pukul 14:00 mengacu knowledge IQAir, Selasa (15/8/2023). Konsentrasi PM 2.5 berada di 58.7µg/m³, 11,7 kali lipat melampaui pedoman aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dinas Kesehatan DKI mewanti-wanti masyarakat untuk selalu menggunakan masker.

Apa masker yang efektif menangkal polusi?

Kepala Seksi Surveilans Imunisasi Dinkes DKI dr Ngabila Salama menyarankan masyarakat tidak mengenakan masker kain. Partikel polusi udara di PM 2.5 amat kecil, sehingga sangat mudah terhirup.

“Partikel polusi udara kecil, yang terbaik memakai masker N95 dibandingkan masker medis. Apalagi masker kain sangat tidak efektif,” kata dr Ngabila saat dihubungi detikcom Selasa (15/8/2023).

“Selalu pakai jika beraktivitas outside,” pesan dia.

dr Ngabila juga mewanti-wanti kelompok rentan seperti bayi, balita, prelansia, lansia, hingga ibu hamil lebih baik menghindari sementara aktivitas di luar ruang. Selalu memantau kualitas udara sekitar dengan aplikasi, demi menghindari risiko penyakit yang bisa ditimbulkan.

Salah satunya termasuk asma. Di tengah cuaca buruk yang juga dipicu kemarau, ia mengimbau ada baiknya melengkapi 15 imunisasi rutin free of charge untuk anak.

“Ada beberapa imunisasi untuk mencegah terjadinya ISPA dan pneumonia seperti, PCV, haemophilus influenzae tipe B dalam pentavalen. Imunisasi berbayar yang disarankan per tahun ada imunisasi influenzae terutama untuk kelompok rentan anak dan lansia,” jelasnya.

“Untuk menjaga imunitas baik dan tidak mudah sakit terus lakukan pola hidup sehat,” pungkasnya.

Simak Video “Ideas Kurangi Potensi Gangguan Kulit Akibat Polusi Udara Ekstrem
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Instruksi Jokowi demi Tangkal Polusi Udara DKI: WFH sampai Rekayasa Cuaca


Jakarta

Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara terkait kondisi udara di Jakarta. Ia memberikan sejumlah instruksi kepada sejumlah menterinya hingga gubernur untuk penanganan polusi udara di Jakarta yang semakin mengkhawatirkan.

“Pagi ini kita rapat terkait kualitas udara di Jabodetabek yang selama 1 pekan terakhir kualitas udara di Jabodetabek sangat sangat buruk. Dan tanggal 12 Agustus 2023 yang kemarin kualitas udara di DKI Jakarta di angka 156 dengan keterangan tidak sehat,” kata Jokowi dalam ratas di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (14/8/2023).

Jokowi menjelaskan soal kualitas udara di DKI Jakarta berada di angka 156 dengan keterangan tidak sehat. Menurut Jokowi, hal ini diakibatkan kemarau panjang selama tiga bulan terakhir.

Terkait polusi udara, Jokowi menginstruksikan perlunya sistem kerja hibrida atau hybrid working untuk mengurangi polusi udara di Jakarta yang menurutnya semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Dia mengatakan pemerintah perlu mendorong kantor untuk kembali melaksanakan earn a living from home atau (WFH).

“Jika diperlukan kita harus berani mendorong banyak kantor melaksanakan hybrid working. Work from workplace, earn a living from home mungkin (WFH) saya nggak tahu nanti dari kesepakatan di rapat terbatas ini apakah (Jam) 7-5 2-5 atau angka yg lain,” kata tutur Jokowi.

Dia juga meminta ada rekayasa cuaca untuk memancing hujan di wilayah Jabodetabek demi menangkal polusi udara. Percepatan penerapan batas emisi dan ruang terbuka hijau diperbanyak juga diinstruksikannya terkait polusi udara.

Dalam jangka menengah, pemerintah diminta konsisten dalam menerapkan kebijakan mengurangi kendaraan berbasis fosil dan beralih ke transportasi massal. Dalam jangka panjang, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim juga perlu diperkuat.

“Harus dilakukan pengawasan kepada sektor industri dan pembangkit listrik terutama di sekitar Jabodetabek,” pungkas Jokowi.

Simak Video “Ideas Kurangi Potensi Gangguan Kulit Akibat Polusi Udara Ekstrem
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)