Tag: Eater

Please, Warga +62 Harus Jadi Good Eater! Waspada Jika Lingkar Perut Sebesar Ini


Jakarta

Wakil Menteri Kesehatan Ri dr Dante Harbuwono mengatakan kasus obesitas di Indonesia mengalami peningkatan. dr Dante mengatakan ada peningkatan kasus obesitas di Indonesia dapat dilihat dari knowledge Riskesdas 2013 dan 2018.

“Riskesdas 2013 itu angka obesitas di Indonesia sekitar 15,3 persen. Begitu dipotret lagi tahun 2018, obesitasnya menjadi 21,8 persen. Jadi ada peningkatan yang begitu drastis di masyarakat tentang obesitas,” katanya dalam konferensi pers, Senin (24/7/2023).

Diperlukan keterlibatan semua pihak untuk bisa menekan angka obesitas yang terus meningkat di Indonesia. Ia mengimbau masyarakat untuk bisa menjadi ‘konsumen cerdas’ ketika membeli berbagai produk makanan atau minuman kemasan.

“Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mendidik masyarakat menjadi ‘sensible eater’ atau cerdas untuk makan,” ucap Wamenkes.

“Jadi sebelum membeli makan, dia harus baca dulu itu kalorinya berapa, sehingga nanti dia bisa memperhitungkan kalau dia makan makanan tersebut atau untuk anaknya bisa dilihat,” tambahnya.

Selain memperhatikan informasi nilai gizi makanan, Wamenkes juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan ukuran lingkar perut. Hal ini kerap diabaikan padahal bisa menjadi potensi berbagai penyakit berkaitan dengan obesitas.

“Obesitas itu berkaitan dengan berat badan dan tinggi badan. Untuk dewasa yang penting juga adalah lingkar perut. Walau tinggi dan berat badan seimbang, jangan sampai lingkar perutnya buncit seperti bapak-bapak,” katanya.

Wamenkes mengatakan ukuran lingkar perut maksimal untuk laki-laki adalah 90 cm, sedangkan untuk perempuan 80 cm.

“Kalau lebih dari itu, maka akan ada banyak sekali lemak visceral atau lemak yang terkandung di dalam lapisan jaringan usus yang akan berpotensi memberikan kontribusi pada penyakit-penyakit yang berkaitan dengan obesitas. Misalnya seperti jantung diabetes, hipertensi, dan sebagainya,” pungkasnya.

Simak Video “Kemenkes Ungkap Pemicu Obesitas pada Anak
[Gambas:Video 20detik]
(avk/naf)

Saykoji Sebut Dirinya ‘Emotional Eater’, Bagaimana Mengatasinya?

Jakarta

Rapper kondang Indonesia, Ignatius Rosoinaya Penyami atau yang akrab disapa Igor Saykoji baru-baru ini membagikan kabar terbaru mengenai progres dietnya. Dalam waktu 8 bulan, berat badan Igor berhasil menyusut hingga 35 kilogram.

Perjalanan weight-reduction plan Igor bermula dari dirinya ‘dijebak’ sang istri, Tessy Penyami. Selain itu, berusia 40 tahun tersebut juga mengaku pernah menjadi emotional eater.

“Gue emotional eater. Banyak orang ngira gue bahagia terus, tapi gue makan sebagai cara gue menangani rasa sakit batin,” katanya dalam akun Instagram-nya @saykoji.

Apakah Emotional Consuming Bisa Diatasi?

Dikutip dari Healthline, emotional eater adalah seseorang yang mencari makanan ketika menghadapi sedang masalah emosi atau perasaan berat. Ketika seseorang makan sebagai respons dari sebuah emosi, hal tersebut disebut dengan istilah emotional consuming.

Jika seseorang mengalami masalah emotional consuming dan tidak memiliki cara lain untuk mengatasinya, hal ini bisa menjadi masalah. Sebab, makanan yang dikonsumsi tidak dapat memperbaiki masalah yang sebenarnya.

Emosi negatif dapat memicu seseorang untuk mengonsumsi makanan secara berlebihan. Dikutip dari Mayo Clinic, berikut adalah ideas untuk mengatasi emotional consuming:

1. Membuat ‘diary’ makanan

Cobalah menulis diary atau buku harian tentang makanan yang dikonsumsi. Tuliskan apa yang dikonsumsi, berapa banyak porsi makanan, kapan makanan tersebut dikonsumsi, bagaimana perasaan saat makan dan seberapa lapar.

Seiring waktu, pola yang mengungkapkan hubungan antara suasana hati dan makanan mungkin akan terlihat.

2. Mengendalikan stres

Jika stres berkontribusi pada emotional consuming, cobalah teknik manajemen stres, seperti yoga, meditasi, atau pernapasan dalam.

3. Melakukan ‘double examine’ sebelum makan

Sebelum makan, cobalah untuk memastikan bahwa apakah rasa lapar yang dirasakan bersifat fisik atau emosional? Jika perut tidak keroncongan meski sudah makan beberapa jam sebelumnya, mungkin rasa lapar tersebut hanya sekadar ‘lapar mata’.

Jika mengalami hal tersebut, berikan waktu agar perasaan tersebut segera berlalu.

4. Mencari help system

Keluarga, teman atau komunitas dapat menjadi sistem pendukung (help system). Sebab, seseorang cenderung menyerah pada perilaku emotional consuming jika tidak memiliki help system yang baik.

NEXT: Memiliki Hobi

Simak Video “Suggestions Weight loss program ala Fadli Zon yang Berat Badannya Turun 32 Kg
[Gambas:Video 20detik]