Tag: Jangan

Jangan Langsung Tidur! 6 Hal Ini Wajib Dilakukan Usai Bercinta biar Miss V Sehat

Jakarta

Beberapa orang terbiasa langsung tidur sehabis bercinta saking lemasnya. Hati-hati, kebiasaan ini sebenarnya nggak dibenarkan lho secara medis. Sebab, ada hal-hal yang perlu dilakukan wanita sehabis bercinta biar Miss V tetap sehat.

Langkah-langkahnya pun sebenarnya nggak ribet kok! Hal sesimpel buang air kecil pun rupanya berpengaruh sekali untuk kesehatan Miss V. Dikutip dari Ladies Well being, inilah berbagai hal simpel yang harus dilakukan setelah bercinta untuk menjaga kesehatan vagina:

1. Buang air kecil

Simpel sih, tapi rupanya buang air kecil setelah bercinta punya peran yang penting sekali untuk menjaga kesehatan vagina. Saat seseorang berhubungan seks, bakteri dari rektum dapat mendekati uretra sehingga menyebabkan infeksi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bakteri yang secara mekanis berada di ujung uretra dibersihkan bersamaan dengan keluarnya urine. Tak heran, aktivitas buang air kecil sangat penting dilakukan usai bercinta.

2. Bersihkan vagina

Tidak perlu menggunakan pembersih mahal, cukup ambil waslap dengan air hangat dan usap lembut vagina bergerak dari depan ke belakang. Tak perlu melakukan double cleaning, karena vagina memiliki siklus pencucian internalnya sendiri untuk membuatkan tetap bersih dengan pH yang seimbang.

3. Berendam di bak mandi

Yang satu ini sifatnya memang bukan wajib. Namun tak ada salahnya memanjakan diri dengan berendam setelah berhubungan seks. Pasalnya, rutinitas menyenangkan ini juga bisa membantu mengurangi risiko infeksi.

4. Gunakan pakaian dalam katun yang longgar

Mengenakan pakaian dalam berbahan katun dan longgar membantu menjaga space kewanitaan untuk tetap kering. Celana dalam dengan bahan nilon dan ketat dapat menjebak kelembaban dan membantu pertumbuhan bakteri.

Jangan Salah! Ini Cara Bantu Anak Atasi Stres-Cemas Sesuai Usianya


Jakarta

Anak-anak bisa mengalami stres dan gangguan kecemasan sejak usia dini. Umumnya, respons stres anak berbeda di tiap tahapan usia.

Anak-anak biasanya mengalami stres dan kecemasan karena beberapa alasan, mulai dari tekanan belajar atau aktivitas di sekolah, adaptasi di lingkungan baru, hingga dampak dari hubungan keluarga/orang tua yang tak harmonis.

Stres pada anak tidak boleh diabaikan apalagi disepelekan karena dapat berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Yuk, kenali cara membantu anak mengatasi stres sesuai usianya agar tepat sasaran.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak Usia 4-7 Tahun

Pada rentang usia ini, anak-anak bisa mengalami regresi atau perilaku mundur yang tak sesuai usianya sebagai gejala dari stres atau kecemasan yang ia rasakan. Contohnya, anak usia 4 tahun kembali mengompol seperti yang kerap dilakukannya pada usia 2 tahun.

Untuk bantu anak mengatasi hal ini, orang tua mesti lebih memerhatikan kondisi mereka. Serta bantu anak-anak tetap patuh pada jadwal atau rutinitas yang sesuai dengan usianya.

Anak Usia 7-10 Tahun

Pada usia 7 tahun ke atas, anak umumnya mulai menyadari situasinya dan lebih mengenal ketakutan. Namun, kekhawatiran dan kecemasan ini seringnya ditunjukkan lewat amarah karena mereka bisa jadi bingung mengungkapkan perasaannya.

Untuk itu, orang tua perlu memberi informasi yang tepat untuk bantu anak mengelola emosinya. Serta lebih mendengarkan kekhawatiran anak.

Anak Usia 10-13 Tahun

Usia 10-13 tahun merupakan rentang waktu yang umumnya memberi tekanan berat pada anak karena aktivitas sekolah dan pekerjaan rumah yang banyak. Bantu dan dampingilah anak untuk melewati masa-masa tersebut.

Caranya, bisa dengan membuat rutinitas, membagi waktu belajar, istirahat, dan bersosialisasi, serta tetap mengapresiasi segala usaha anak.

Anak Usia 13-17 Tahun

Di rentang usia ini, anak yang beranjak remaja rentan mengalami depresi dan perasaan putus asa. Oleh karena itu, orang tua perlu mencermati betul perubahan besar pada tingkah laku anak. Misalnya, sikap menarik diri dari keluarga, mengisolasi diri di kamar, hingga perubahan pola makan dan tidur.

Cobalah untuk tetap terhubung dengan anak dengan mengajaknya berdialog dan mencurahkan isi hati. Hal ini mungkin dapat membantu memotivasi mereka, serta meyakinkan anak kalau mereka tidak sendirian.

Intinya, dalam membantu anak mengelola stres, orang tua bisa mencoba untuk lebih terhubung dengan anak-anak dan meluangkan waktu mendengar keluh kesahnya dengan saksama.

Selain penting untuk memperhatikan kondisi psychological anak, orang tua juga perlu mengimbangi dengan menjaga kondisi fisik mereka. Cara menjaga kondisi fisik ini bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat. Pilihlah makanan bergizi seimbang, mulai dari buah, sayur, lemak sehat, susu, protein, dan karbohidrat.

Agar anak tak bosan, Bunda bisa pilih variasi makanan bergizi. Misalnya, memilih alternatif sumber karbohidrat bergizi yang dapat mengisi energi anak untuk beraktivitas. Tak hanya bisa didapat dari nasi, sumber karbohidrat yang nikmat dan sehat juga bisa didapatkan dari pilihan mi.

Pastinya pilihlah mi yang lebih sehat, umumnya yang melalui proses pemanggangan (oven). Mi instan yang melalui proses dioven ini biasanya punya air rebusan lebih jernih dan rendah kandungan minyak sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi anak-anak.

Alternatif mi yang melewati proses oven ini juga sudah cukup mudah ditemukan. Kini, tak ada lagi alasan bagi Anda untuk mengabaikan kesehatan demi masa depan yang lebih baik.

(akn/ega)

Pneumonia ‘Misterius’ Merebak di China-Belanda, Kemenkes Imbau Warga Jangan Panik


Jakarta

Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat agar tak panik menyusul penyebaran undefined pneumonia atau disebut pneumonia misterius. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, dr Imran Pambudi mengatakan masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan diri, terlebih bila melakukan perjalanan ke luar negeri.

“Masyarakat tetap tenang, jangan panik,” kata dr Imran, dalam konferensi pers, Rabu (29/11/2023).

Sebelumnya, negara China saat ini tengah mengalami ancaman serius terhadap penyebaran pneumonia misterius sejak November 2023. Selain China, penyakit ini juga telah dilaporkan di Belanda. Adapun sebagian besar kasus didominasi pada anak-anak.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dr Imran, pneumonia yang saat ini merebak di China sebenarnya sama dengan pneumonia yang terjadi di masyarakat, yakni disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus. Berdasarkan laporan epidemiologi, kebanyakan kasus pneumonia di sana disebabkan oleh mycoplasma pneumoniae.

Mycoplasma merupakan bakteri penyebab umum infeksi pernapasan (respiratory) sebelum COVID-19. Bakteri ini diketahui memiliki masa inkubasi yang panjang, sehingga penyebarannya tak secepat virus penyebab pandemi COVID. Juga, tingkat fatalitasnya tergolong rendah.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan RI sudah melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mengantisipasi merebaknya mycoplasma pneumonia di Indonesia. Salah satunya, menerbitkan Surat Edaran Nomor : PM.03.01/C/4632/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia.

Surat Edaran yang ditandatangani Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu pada 27 November 2023 ini memuat sejumlah langkah antisipasi yang harus dilakukan oleh seluruh jajaran kesehatan dalam menghadapi penyebaran mycoplasma pneumonia di Indonesia.

Melalui surat edaran tersebut, Kemenkes juga telah mendorong fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan pintu masuk negara untuk aktif pelaporan temuan kasus pneumonia melalui saluran yang disediakan, yakni Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Occasion Primarily based Surveillance (SKDREBS)/Surveilans Berbasis Kejadian (SBK) maupun ke PHEOC.

“Kami mengimbau kepada Dinas Kesehatan, rumah sakit maupun pintu masuk negara agar segera melaporkan apabila ada indikasi kasus yang mengarah pada pneumonia,” terangnya.

dr Imran mengatakan, upaya mitigasi tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, melainkan harus dibarengi dengan komitmen seluruh masyarakat agar pengendalian pneumonia lebih optimum. Berikut adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi penularan pneumonia di Indonesia.

  • Pertama, melakukan vaksin untuk melawan influenza, COVID-19, dan patogen pernapasan lainnya jika diperlukan
  • Kedua, tidak melakukan kontak atau menerapkan jaga jarak aman dengan orang yang sakit
  • Ketiga, memastikan memiliki ventilasi yang baik. Keempat, membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan memakai sabun antiseptik dan air mengalir
  • Kelima, apabila merasa kurang enak badan atau sakit, sebaiknya tidak keluar rumah dan tetap menggunakan masker dengan baik serta benar.

“Segera ke fasyankes terdekat jika ada tanda gejala, batuk dan/atau kesukaran bernapas disertai dengan demam,” kata dr Imran.

Simak Video “Kasus Pneumonia ‘Misterius’ Anak Belanda Meningkat Hampir 25%
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Bapak-bapak Jangan Asal Sentuh! Zona Ini Bikin Istri Malah Ogah Bercinta

Jakarta

Rutinitas pasutri akan terasa semakin hebat saat semuanya berlangsung secara spontan. Memberikan kejutan dengan mengeksplor seluruh bagian tubuh pasangan dapat meningkatkan gairah keduanya, terlebih saat pasangan memberi lampu hijau.

Namun, ternyata ada beberapa space yang dilarang untuk disentuh. Dikutip dari PUNCH, berikut beberapa bagian tubuh wanita yang sebaiknya jangan disentuh saat berhubungan seks.

1. Kepala klitoris

Mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, tetapi klitoris adalah bagian yang penuh dengan saraf dan sangat sensitif pada ujungnya. Akan tetapi menyentuh kepala klitoris, terlebih saat pasangan sedang terangsang membuatnya terasa terlalu parah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rasanya mungkin seperti saat meneguk minuman dingin dan gigi mulai terasa ngilu. Alih-alih menyentuh space ini, lebih baik mencari batang klitoris atau menggosok bagian sekitarnya yang akan melibatkan ujung saraf tanpa membuatnya terlalu bersemangat.

2. Bagian kaki

Kaki menjadi salah satu bagian yang sebaiknya tak disentuh saat berhubungan seks.

Untuk mencapai orgasme, wanita harus benar-benar rileks dan bebas dari kecemasan. Ketika merasa cemas biasanya kaki akan dingin, dan ini mengganggu kemampuan pasangan untuk benar-benar menikmati seks.

3. Anus

Lubang anus yang cukup kecil membuatnya merasa tidak nyaman, bahkan jika kamu tetap nekat melakukan eksplorasi di sana.

Simak Video “Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Melakukan Seks Oral
[Gambas:Video 20detik]
(Nala Andrianingsih/naf)

6 Penyebab Sakit Kepala Terus Menerus, Jangan Dianggap Sepele

Jakarta

Hampir setiap orang pernah mengalami sakit kepala. Namun pada sebagian orang, sakit kepala bisa datang secara terus menerus dan berkepanjangan. Apa penyebab sakit kepala terus menerus?

Dikutip dari Healthline, sakit kepala terus menerus juga dikenal dengan sebutan sakit kepala kronis. Sakit kepala kronis ditandai dengan sakit kepala yang berlangsung minimal selama 15 hari dalam satu bulan dan terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

Kira-kira apa penyebab sakit kepala bisa muncul terus menerus? Simak penjelasan berikut.

Penyebab Sakit Kepala Terus-Menerus

1. Stres

Ketika mengalami stres, tubuh akan mengartikan hal tersebut sebagai sebuah ancaman. Untuk mengatasinya, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dalam jumlah yang sangat banyak untuk mematikan fungsi-fungsi tubuh yang tidak diperlukan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di saat yang bersamaan, hormon adrenalin dan kortisol dapat memicu pelebaran pembuluh darah untuk mengalirkan darah ke bagian tubuh yang berguna merespons secara fisik, seperti kaki dan tangan.

Karena jantung terlalu fokus memompa darah untuk dialirkan ke bagian tersebut, otak jadi tidak mendapat asupan darah dan oksigen yang cukup. Inilah yang membuat banyak orang mengalami sakit kepala saat merasa stres.

2. Kurang Tidur

Penyebab sakit kepala terus menerus yang pertama adalah kurang tidur. Orang yang kurang tidur atau suka begadang lebih berisiko mengalami sakit kepala berkepanjangan dibanding mereka yang tidurnya cukup.

Dikutip dari laman Sleep Basis, otak memiliki bagian bernama kelenjar pineal. Kelenjar pineal memproduksi hormon melatonin yang berperan dalam memunculkan rasa kantuk dan mengatur irama tidur alami.

Kurang tidur dapat menggangu fungsi kelenjar pineal dalam memproduksi hormon melatonin. Kadar melatonin yang rendah inilah yang disebut menjadi penyebab sakit kepala terus menerus.

3. Telat Makan

Sering telat atau melewatkan waktu makan juga bisa menyebabkan sakit kepala. Ini karena melewatkan waktu makan dapat menurunkan kadar gula dalam darah sehingga merangsang tubuh melepaskan hormon yang meningkatkan tekanan darah dan mempersempit pembuluh darah dalam tubuh. Inilah yang kemudian memunculkan gejala sakit kepala.

4. Faktor Cuaca

Pernah mengalami sakit kepala setelah kehujanan? Hujan dan sakit kepala ternyata memang berkaitan. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan barometrik.

Tekanan barometrik adalah tekanan udara atau jumlah gaya yang akan mengenai tubuh kita dari udara. Ketia tekanan barometrik di luar turun, maka akan menciptakan perbedaan udara di luar dan udara di rongga sinus. Inilah yang dapat menyebabkan sakit kepala.

5. Pengaruh Kafein

Kandungan kafein dalam kopi ternyata juga bisa memicu sakit kepala terus menerus. Kafein dapat menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah. Hal ini menimbulkan perubahan aliran darah secara tiba-tiba dan memicu sakit kepala.

Biasanya, sakit kepala seperti ini terjadi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi kopi atau mengonsumsi jenis kopi tertentu.

6. Ansietas atau Cemas Berlebihan

Ansietas atau cemas berlebihan juga bisa menjadi penyebab sakit kepala terus menerus. Ada beberapa faktor yang bisa membuat pengidap ansietas mengalami sakit kepala.

Pertama adalah stres. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, stres memicu tubuh memproduksi hormon adrenalin dan kortisol dalam jumlah banyak yang memengaruhi aliran darah ke otak sehingga memicu sakit kepala.

Kedua, ketegangan otot. Dikutip dari Healthline, saat seseorang merasa cemas tubuh secara tidak sadar akan menegang sebagai respons untuk menghadapi sumber kekhawatiran. Jika ansietas terus terjadi dalam jangka panjang, maka tubuh akan terus menerus berada dalam kondisi tegang dan menyebabkan sakit kepala.

7. Aktivitas Fisik Tertentu

Beberapa aktivitas fisik yang terlalu keras dapat menimbulkan efek berupa sakit kepala. Misalnya, batuk atau bersin terlalu keras. Ketika batuk atau bersin, terjadi peningkatan tekanan pada beberapa otot tubuh seperti wajah dan perut. Peningkatan tekanan tersebut yang terkadang dapat menyebabkan sakit pada kepala.

Selain batuk atau bersin, aktivitas fisik yang intens seperti angkat beban, lari, hingga berhubungan seks juga bisa memicu sakit kepala. Saat melakukan aktivitas tersebut, tubuh mungkin saja membutuhkan lebih banyak suplai darah dan oksigen. Hal ini merangsang pembuluh darah untuk melebar sehingga bisa mengalirkan lebih banyak darah. Pelebaran pembuluh darah, dan peningkatan tekanan darah itulah yang kemudian bisa memicu sakit kepala.

Simak Video “ 1 Pasien Baru Mpox Domisili Bekasi, Whole 33 Kasus di RI
[Gambas:Video 20detik]
(ath/suc)

Pipis Setelah Seks Wajib! Jangan Tunggu Lewat dari 30 Menit usai Bercinta

Jakarta

Apa saja hal yang biasanya Anda lakukan setelah berhubungan seks? Bercumbu, mengobrol, atau bahkan langsung tertidur merupakan hal-hal yang normalnya dilakukan pasangan setelah berhubungan seks. Namun, apakah Anda tahu ada hal yang tak kalah penting yang harus dilakukan setelah seks?

Buang air kecil atau pipis merupakan hal penting yang harus dilakukan setelah bercinta, khususnya bagi wanita. Hal ini mungkin terdengar sepele, tapi pipis setelah berhubungan seks ternyata memiliki dampak yang besar bagi kesehatan.

Spesialis obstetri dan ginekologi Salena Zanotti, MD, mengungkapkan salah satu manfaat terbesar pipis setelah berhubungan seks adalah mengurangi risiko infeksi saluran kemih (ISK).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Banyak jenis bakteri yang tidak berbahaya jika menempel di kulit atau dalam anus. Tapi saat berhubungan seks, bakteri tersebut bisa menyebar ke saluran kencing dan menyebabkan infeksi saluran kemih,” ujar dr Zanotti, dikutip dari Cleveland Clinic, Sabtu (7/10/2023).

dr Zanotti menjelaskan pipis ibarat bathe kuat yang dapat mendorong keluar semua kuman, termasuk bakteri, jamur, hingga virus yang mencoba masuk ke uretra.

“Ketika Anda buang air kecil, segala sesuatu yang mencoba masuk ke saluran kemih akan terdorong keluar bersama urine,” ujar dr Zanotti, dikutip dari Cleveland Clinic, Sabtu (7/10/2023).

Lebih lanjut, dr Zanotti menjelaskan wanita lebih rentan terkena ISK ketimbang pria karena faktor anatomi tubuh. Uretra, atau saluran yang berfungsi mengalirkan urine ke luar tubuh, pada wanita lebih pendek dan lokasinya lebih dekat ke anus. Hal ini membuat kuman lebih mudah mencapai uretra dan masuk ke kandung kemih.

Lantas, kapan waktu terbaik untuk buang air kecil setelah seks? dr Zanotti, dan sejumlah pakar seks lain menyarankan agar wanita pipis setidaknya 30 menit setelah berhubungan seks. Semakin lama menunda, maka semakin besar pula kemungkinan bakteri masuk ke kandung kemih.

Apakah Pria Juga Harus Pipis Setelah Seks?

Tidak ada salahnya bagi pria untuk pipis setelah berhubungan seks. Hanya saja, risiko pria mengalami ISK lebih rendah dibanding wanita. Ini karena pria memiliki uretra yang lebih panjang daripada wanita, sehingga mereka biasanya tidak gampang terkena ISK setelah berhubungan seks.

Di sisi lain, ISK pada pria umumnya lebih sering disebabkan oleh penyakit seperti batu ginjal atau pembengkakan pada prostat.

Simak Video “Kata Psikolog soal Pengaruh Artis Promosikan Judi On-line di Masyarakat
[Gambas:Video 20detik]
(ath/naf)

Jangan Sampai Terlewat, Ini Jadwal Imunisasi Bayi Mulai Usia 0-18 Bulan

Jakarta

Imunisasi adalah sebuah proses yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, caranya yakni dengan melakukan vaksinasi. Imunisasi sangat penting dilakukan agar bayi mendapatkan perlindungan yang cukup.

Oleh karena itu, mengetahui jadwal imunisasi untuk bayi terbilang sangat penting. Karena pada umumnya, bayi memiliki kekebalan tubuh yang rendah, sehingga memudahkan mereka untuk terserang penyakit.

Cara kerja imunisasi adalah dengan menyuntikkan virus atau bakteri yang sudah dilemahkan atau tidak aktif, supaya nanti jika bayi atau balita terserang penyakit, tubuh jadi terbiasa melawan virus tersebut. Selain virus asli yang dimasukkan, terkadang imunisasinya berupa protein buatan laboratorium yang dibuat khusus untuk meniru sebuah virus.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, bayi dan balita harus mendapatkan imunisasi. Imunisasi harus dilakukan secara teratur dan rutin agar mendapatkan hasil yang maksimal. Berikut ini jadwal imunisasi bayi yang dilansir melalui laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Jadwal Imunisasi Bayi

1. Hepatitis B (HB)

Vaksin Hepatitis B (HB) adalah imunisasi yang diberikan kepada bayi agar mencegah virus hepatitis B sehingga tidak mengganggu fungsi dari organ hati. Vaksin hepatitis B (HB) disuntikkan kepada bayi yang akan lahir sebelum berusia 24 jam. Sebelum menyuntikkan vaksin hepatitis B (HB) biasanya akan didahulukan menyuntikkan vitamin KI minimal dilakukan 30 menit sebelumnya.

Jika bayi yang baru lahir memiliki berat kurang dari 2 kilogram, maka imunisasi hepatitis hendaknya ditunda sampai bayi berusia 1 bulan. Vaksin hepatitis B (HB) biasanya diberikan pada bayi sebanyak 4 kali. Dosis kedua untuk vaksin hepatitis B diberikan setelah imunisasi pertama berjalan 4 minggu. Untuk dosis ketiga, minimal dilakukan saat jaraknya 2 bulan dari dosis kedua. Dan paling baik dilakukan saat 5 bulan setelah dosis kedua.

2. Polio

Vaksin Polio adalah imunisasi yang dilakukan agar bayi kebal terhadap penyakit polio. Penyakit polio biasanya menyebar melalui infeksi virus. Polio merupakan penyakit menular yang akan menyerang sistem saraf, sehingga terjadinya kerusakan pada saraf motorik dan penderita akan menjadi lumpuh. Vaksin polio oral biasanya diteteskan melalui mulut bayi saat akan pulang. Jadwal pemberian vaksin polio secara lengkap terdiri dari:

  • bOPV saat lahir
  • 3x bOPV
  • 2x IPV

Hal ini sesuai dengan panduan yang diberikan oleh Kementrian Kesehatan. Vaksin diberikan pada usia 4 dan 9 bulan.

3. BCG

Vaksin BCG adalah imunisasi yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC atau Tuberculosis. Tuberculosis sekarang lebih dikenal dengan sebutan TB. TBC disebabkan oleh adanya bakteri mycobacterium tuberculosis. TBC adalah penyakit menular yang cukup berbahaya.

Penyakit ini menyerang paru-paru, otak, ginjal, dan tulang. Imunisasi BCG untuk bayi hanya perlu dilakukan satu kali. Imunisasi BCG sebaiknya diberikan saat bayi lahir atau sebelum bayi genap berusia sebulan. Hal ini dikarenakan, bayi yang berusia kurang dari dua bulan memiliki sistem imun yang rendah.

4. DPT atau DTP

Vaksin DPT adalah imunisasi yang diberikan untuk melindungi anak dari penyakit seperti difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin ini disuntikkan pada bayi berusia 6 minggu. DTaP juga dapat diberikan pada anak usia 2, 3, 4 bulan atau saat berusia 2, 4, 6 bulan. Booster pertama sebaiknya diberikan saat berusia 18 bulan, dan booster berikutnya saat berusia 5-7 tahun dan 10-18 tahun.

5. Haemophilus Influenza B (HIB)

Vaksin HIB digunakan untuk imunisasi anak agar menghindari resiko tertular bakteri yang bernama Haemophilus influenza tipe B. Vaksin HIB adalah jenis vaksin inaktif yang disuntikkan dalam bentuk kombinasi sesuai dengan jadwal vaksin heksavalen atau pentavalen, DTwP atau DTap. Vaksin ini diberikan saat anak berusia 2, 4, 6 bulan atau 2, 3, 4 bulan dan pada usia 18 tahun.

6. Pneumokokus (PCV)

Vaksin PCV diberikan dengan tujuan untuk mencegah adanya infeksi dari bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan penyakit pneumonia dan meningitis. Vaksin ini umumnya diberikan pada bayi yang memiliki orang tua sudah lanjut usia. Hal ini karena orang lanjut usia rentan terserang bakteri pneumokokus. Vaksin PCV diberikan pada saat usia 2, 4, 6 bulan dengan booster selanjutnya pada usia 12-15 bulan.

Apabila bayi belum mendapatkan imunisasi PCV saat usia 7-12 bulan, maka PVC diberikan 2 kali dengan jarak 1 bulan dan booster saat usia 12-15 bulan dengan interval dua bulan dari dosis sebelumnya. Untuk anak yang berusia lebih dari 5 tahun yang belum mendapatkan vaksin PCV memiliki resiko tinggi dalam mengalami infeksi pneumokokus.

7. Rotavirus (RV)

Vaksin rotavirus adalah imunisasi yang diberikan pada bayi untuk mencegah terjadinya penularan diare akibat dari rotavirus. Vaksin ini dipercaya bisa mencegah 98% infeksi berat rotavirus. Vaksin RV monovalen diberikan dengan cara diteteskan pada mulut bayi dalam dua dosis, saat bayi berusia 6-12 minggu, dosis kedua diberikan dengan jarak 4 minggu setelah dosis pertama.

Paling lambat diberikan imunisasi ini saat berusia 24 minggu. Vaksin (RV5) biasanya diberikan dalam 3 dosis, dosis pertama saat usia 6-12 minggu, dosis berikutnya dengan jarak 4-10 minggu. Dan dosisi ketiak paling lambat saat berusia 32 minggu. Vaksin ini sudah dimasukkan ke dalam program nasional secara bertahap sejak tahun 2022.

8. Influenza

Vaksin influenza merupakan imunisasi yang diberikan dengan tujuan untuk mengurangi resiko flu yang dialami. Vaksin influenza diberikan mulai usia 6 bulan. Dosis pertama saat usia 6 bulan sampai 8 tahun. Dosisi kedua saat usia 9 tahun ke atas dengan jarak minimal 4 minggu. Selanjutnya diberikan vaksin yang sama setiap tahunnya pada bulan yang sama tanpa memperhatikan jenis vaksinnya, baik itu North hemisphere (NH) atau South hemisphere (SH).

9. Campak (MR dan MMR)

Vaksin MR diberikan dengan tujuan untuk mencegah terkena penyakit campak dan rubella. Sedangkan vaksin MMR berfungsi untuk mencegah terkena penyakit gondongan, campak, dan rubella. Vaksin MR diberikan kepada bayi berusia 9 bulan. Untuk dosis kedua diberikan saat berusia 15-18 bulan, dan dosis ketiga diberikan saat berusia 5-7 tahun.

Apabila bayi sudah menginjak usia 12 bulan namun belum melakukan imunisasi MR, maka bisa diberikan imunisasi MMR pada usia 12-15 bulan dengan dosis kedua di usia 5-7 tahun. Alasan kenapa MMR diberikan kepada usia 2 tahun adalah untuk mengurangi resiko terjadinya kejang demam.

10. Japanese Encephalitis (JE)

Vaksin JE adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah terkena penyakit JE. Vaksin in bisa dibilang efektif karena sudah digunakan oleh lebih 12 negara. Vaksin JE diberikan kepada bayi yang lingkungan tempat tinggalnya ada di daerah endemis atau akan melakukan perjalanan jauh ke daerah endemis. Dosis pertama bisa diberikan saat berusia 9 bulan, dan dosis selanjutnya atau dosis penguat diberikan kemudian pada 1-2 tahun setelah dosis pertama agar bayi mendapat perlindungan jangka panjang.

11. Varisela

Vaksin varisela adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah terkena hen pox atau cacar air. Vaksin varisela diberikan kepada bayi berusia 12-18 bulan. Saat usia 1-2 tahun diberikan 2 dosis dengan jaraknya 6 minggu sampai dengan 3 bulan. Untuk yang berusia 13 tahun ke atas, jaraknya adalah 4-6 minggu.

12. Hepatitis A

Vaksin hepatitis A adalah imunisasi yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terkena penyakit hepatitis tipe A. Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam, nyeri sendi, mual, lelah, dan nafsu makan berkurang. Vaksin hepatitis A diberikan kepada bayi berusia lebih dari 12 bulan dengan interval pemberian dosis 6-18 bulan.

13. Tifoid

Vaksin tifoid adalah imunisasi yang diberikan kepada anak yang bertujuan untuk mencegah penyakit tifus atau demam tifoid. Tifoid merupakan penyakit yang mudah menular melalui minuman dan makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Salmonella typhi. Vaksin tifoid diberikan kepada anak berusia 2 tahun. Dan diulang memberikan imunisasi tiap 3 tahun.

Nah itu dia penjelasan mengenai jadwal imunisasi bayi yang bisa detikHealth rangkum. Semoga bermanfaat!

Simak Video “FDA AS Setujui Vaksin RSV Pertama untuk Ibu Hamil, Bantu Cegah Bayi Sakit Parah
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)

Jangan Skip! 5 Hal Ini Penting Dilakukan Pasutri usai Berhubungan Intim

Jakarta

Setelah momen intim yang melelahkan, sering kali pasutri lupa bahwa perawatan diri setelahnya merupakan hal yang penting. Padahal, berhubungan intim dapat menyebarkan banyak bakteri yang dapat mengganggu kesehatan, mulai dari gatal-gatal sederhana hingga infeksi saluran kemih.

Maka dari itu, kesehatan dan kebersihan tubuh, terutama alat kelamin, setelah berhubungan seks penting untuk diperhatikan. Dikutip dari WebMD, berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan setelah berhubungan intim.

1. Pipis

Ketika berhubungan seks, bakteri dapat masuk ke dalam uretra, yakni saluran yang membawa air seni keluar dari tubuh. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan terkena infeksi. Bakteri-bakteri tersebut terbuang ketika seseorang membuang air kecil. Jadi, nikmati waktu berpelukan dengan pasangan, lalu pergilah ke kamar mandi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

2. Basuh alat kelamin

Seseorang tidak perlu langsung beranjak dari tempat tidur dan mandi. Namun, basuhlah space di sekitar (bukan di dalam) alat kelamin dengan air hangat biasa. Hal ini dapat melindungi pria dan wanita dari infeksi, seperti infeksi saluran kemih. Untuk wanita, basuhlah alat kelamin dari arah depan ke belakang untuk meminimalkan penyebaran bakteri.

3. Minum segelas air putih

Aktivitas seks bisa sangat melelahkan. Agar tubuh tetap terhidrasi, penting untuk meminum air putih setelahnya. Hal ini juga akan membuat tubuh lebih banyak membuang air kencing. Alhasil, lebih banyak bakteri yang akan terbuang dari tubuh sebelum infeksi muncul.

4. Kenakan pakaian yang longgar

Tempat yang panas dan berkeringat adalah tempat yang sempurna bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Jadi, pakailah pakaian dalam dan pakaian yang memungkinkan udara untuk masuk.

Wanita harus menghindari stoking, korset, dan celana dalam yang terlalu ketat. Celana dalam yang memiliki sirkulasi udara dan menyerap kelembapan sangat baik untuk digunakan pada momen ini. Gunakan bahan katun atau hindari pakaian dalam sama sekali saat tidur.

5. Cuci tangan

Cuci tangan adalah cara terbaik untuk menghilangkan bakteri yang mungkin didapatkan dari menyentuh alat kelamin. Hal ini adalah kunci untuk menghentikan penyebaran infeksi. Cucilah tangan dengan sabun dan air. Jadikan cuci tangan bagian dari rutinitas pembersihan setelah berhubungan seks.

Simak Video “Kenali Manfaat Seks Rutin Bagi Kesehatan untuk Pasutri
[Gambas:Video 20detik]
(Syifaa F. Izzati/kna)

Jangan Diurut! Dokter Ungkap Nyeri Seperti Ini Bisa Jadi Gejala Kanker Tulang


Jakarta

Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang lebih memilih ke tukang urut untuk mengatasi nyeri atau pegal di tulang dan sendi. Padahal nyeri pada tulang tak bisa sembarangan diurut karena bisa jadi merupakan gejala awal kanker tulang.

Spesialis ortopedi dan traumatologi serta konsultan onkologi ortopedi dr Yogi Prabowo, SpOT(Ok) Onk dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyebut tidak sedikit pasien osteosarkoma yang datang dengan keluhan benjolan dan patah kemudian gejalanya memburuk karena diurut.

“Budaya kita itu apa apa diurut, itu nggak bener,” ujar dr Yogi saat ditemui detikcom di RSCM, Senin (18/9/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Urut itu kan tindakan traumatik, kalau pada kasus ada tumor, dikasi traumatik, menimbulkan radang semakin berat. Kalau patah, ditambah urut, bisa cedera di pembuluh darah, saraf,” sambungnya.

Kanker tulang osteosarkoma sendiri merupakan jenis tumor tulang yang sifatnya ganas dan pertumbuhannya cepat. Karena pertumbuhan tumor osteosarkoma termasuk ganas, pembentukannya bisa cepat.

Penyakit ini umumnya banyak dialami oleh anak dan remaja. Osteosarkoma paling sering ditemukan di sekitar lutut, bahu, dan daerah sendi.

“Gejala awal itu nyeri. Segera periksakan ke dokter jangan sampai ketahuannya sudah gede,” ujar dr Yogi.

Bengkak dan nyeri adalah gejala awal osteosarkoma yang harus diwaspadai. Ciri-cirinya adalah nyeri yang bersifat progresif, artinya rasa sakit tak kunjung hilang bahkan setelah minum obat pereda nyeri.

“Setelah nyeri, dia akan timbul benjolan. Lalu bisa jadi patah karena (tulangnya) lemah,” bebernya.

Oleh karena itu, sangat penting melakukan pemeriksaan ke dokter sebelum pergi ke tukang urut. Apalagi jika gejala yang dirasakan tidak kunjung sembuh meski sudah meminum obat.

Simak Video “Kemenkes Bantah soal Polusi Sengaja Dibuat untuk Munculkan Pandemi 2.0
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)

Cara Membersihkan Telinga dengan Mudah dan Aman, Jangan Dikorek

Jakarta

Menjaga kebersihan telinga merupakan tanggung jawab setiap orang agar organ ini tetap berfungsi dengan baik. Pada umumnya, kotoran yang diketahui oleh masyarakat sebenarnya adalah serumen.

Serumen sebetulnya adalah cairan yang diproduksi oleh kelenjar minyak untuk melindungi kulit liang telinga. Yuk, kita simak penjelasan mengenai cara untuk membersihkan telinga.

Mengapa Membersihkan Telinga Penting?

Dikutip dari situs Healthline, kotoran telinga merupakan hal yang regular dan baik di saluran telinga. Namun, apabila kotoran tersebut menumpuk dapat menyebabkan gejala, seperti pusing atau bahkan gangguan pendengaran.

Karena itu, penting untuk kamu menjaga kebersihan telinga. Ketika kotoran menumpuk kamu berisiko mengalami infeksi telinga. Dikutip dari situs WebMD, kamu mungkin akan mengalami impaksi serumen.

Hal ini terjadi ketika kotoran telinga sudah memenuhi liang telinga pada salah satu atau kedua telinga. Berikut beberapa gejala dari impaksi serumen:

  • nyeri dan terasa penuh di telinga
  • telinga terasa tersumbat
  • kehilangan sebagian pendengaran, yang semakin buruk seiring berjalannya waktu
  • telinga berdenging
  • terasa gatal dan keluar cairan atau bau dari telinga
  • batuk.

Penumpukan kotoran telinga seperti itu jarang terjadi, namun bisa saja terjadi. Apabila kamu merasakan salah satu dari gejalanya, jangan langsung berasumsi. Sebaiknya hubungi dokter terlebih dahulu dan mencari penyebabnya.

Bagaimana Cara Membersihkan Telinga?

Dikutip dari situs Universitas Muhammadiyah Jakarta, serumen memiliki mekanisme pembersihan secara alami atau self-cleansing. Serumen dapat keluar dari telinga secara alami berupa migrasi epitel dari umbolateral membran timpani ke arah lateral. Penggunaan benda asing dapat mengganggu mekanisme self-cleansing.

Namun, kamu dapat membersihkan telinga secara mandiri di rumah dengan aman dan mudah. Dikutip dari situs Medical Information Right this moment, berikut beberapa cara membersihkan telinga:

1. Gunakan kain lembap

Basahi kain atau handuk dengan air hangat, lalu peras agar tidak terlalu basah. Gunakan kain tersebut untuk membersihkan bagian luar telinga. Namun, tidak disarankan untuk memasukkan benda ke dalam telinga karena dapat mendorong kotoran menjadi masuk lebih dalam.

2. Obat tetes pembersih telinga

Penggunaan obat tetes telinga yang dijual bebas di apotek dapat membantu untuk memecah kotoran telinga. Terdapat beberapa alternatif larutan yang dapat kamu gunakan untuk melonggarkan penumpukan kotoran telinga. Contohnya yaitu child oil, gliserin, hidrogen peroksida, dan karbamid peroksida.

3. Lakukan irigasi telinga

Kamu dapat membeli peralatan irigasi yang menggunakan air biasa atau larutan garam. Kamu pun dapat mengunjungi dokter untuk mendapatkan irigasi dari profesional.

Sebelum memulai prosedur, kamu perlu menghangatkan air dan obat tetes telinga hingga mencapai suhu tubuh agar tidak terjadi efek samping. Pastikan larutan tidak terlalu panas karena dapat menyebabkan luka bakar.

Untuk melakukan irigasi telinga, kamu dapat menggunakan jarum suntik dan menyemprotkan air atau larutan garam ke dalam saluran telinga. Kamu perlu mendiamkan obat tetes telinga selama 15 hingga 30 menit dengan menjaga kepala tetap miring.

Apabila kamu memiliki penyakit diabetes, lubang di gendang telinga, eksim, sistem kekebalan tubuh yang lemah, atau tabung di gendang telinga. Kamu tidak disarankan untuk melakukan irigasi telinga.

Apa yang Harus Dihindari Saat Membersihkan Telinga?

Berikut beberapa cara yang perlu dihindari saat membersihkan telinga:

1. Membersihkan telinga menggunakan cotton bud

Penggunaan cotton bud akan mendorong kotoran telinga lebih dalam. Selain itu, cotton bud dapat memperlambat sistem self-cleansing, melukai gendang telinga, dan membuat kapas tersangkut di telinga.

2. Membersihkan telinga menggunakan lilin

Cara membersihkan telinga menggunakan lilin dapat mengakibatkan luka bakar pada kulit, penyumbatan, berdarah, serta lubang pada selaput antara saluran telinga, telinga tengah, dan gendang telinga bocor.

3. Terlalu sering membersihkan telinga

Terlalu sering membersihkan telinga berisiko mengakibatkan infeksi dan mengganggu fungsi organ pendengaran ini.

Itulah beberapa cara membersihkan telinga yang dapat kamu lakukan. Semoga bermanfaat!

Simak Video “KuTips: Cegah Masalah Pendengaran dengan Rumus 60:60
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)