Tag: Kanker

Pegiat Kebugaran Curhat Kena Kanker, Gejala Awal Diabaikan karena Merasa Sehat


Jakarta

Seorang pria 31 tahun menceritakan pengalamannya didiagnosis kanker stadium akhir. Kondisi kankernya telanjur mematikan karena gejala awal yang muncul seringkali diabaikan.

Pria bernama Liam Griffiths di Middlesbrough, Inggris, itu mulai mengeluhkan beberapa gejala sejak Maret 2023. Gejala yang dirasakan seperti pembengkakan perut, sembelit kronis, kram, hingga muntah-muntah.

Namun, Griffiths merasa dirinya masih sehat-sehat saja. Ia terus berolahraga dan bekerja, sehingga mengabaikan gejala yang dirasakannya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semakin lama gejala yang dikeluhkan Griffiths tidak terkendali dan langsung pergi ke rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan, ia didiagnosis mengidap penyakit Crohn atau radang usus.

“Tidak memeriksakan diri lebih awal adalah kesalahan terbesar yang pernah saya buat,” kata Griffiths yang dikutip dari Every day Mail, Senin (18/12/2023).

“Saya wiraswasta, dan saya membutuhkan uang, jadi saya terus bekerja. Saya melakukan apa yang saya pikir perlu dilakukan seorang pria. Aku sedang berjaga-jaga,” sambungnya.

Namun, sebulan kemudian Griffiths menerima telepon dari dokter yang memintanya untuk datang ke rumah sakit. Di sana ia diberitahu bahwa dirinya mengidap kanker peritoneum dan memerlukan kemoterapi.

“Mereka menemukan kanker saya pada stadium tiga stadium lanjut, tetapi jika saya pergi ke dokter lebih awal mungkin mereka bisa tertular,” tutur Griffiths.

“Yang saya ingat, saya bertanya berapa lama kesempatan hidup saya dan dokter mengatakan dia tidak ingin memberi saya jangka waktu kapan hidup saya akan berakhir, karena dia tidak ingin saya memfokuskan hidup pada hal itu,” lanjut dia.

Kanker peritoneum adalah jenis kanker langka yang menyerang lapisan tipis jaringan yang melapisi bagian dalam perut. Menurut Most cancers Analysis UK, kondisi ini lebih sering dialami wanita dan orang-orang berusia di atas 60 tahun.

Gejala awalnya berupa perut bengkak, sakit perut, sembelit, diare, mual, kembung, dan kehilangan nafsu makan.

Griffiths merasa itu adalah hal terburuk yang terjadi dalam hidupnya. Saat itu, ia merasa dirinya adalah pria ‘paling sehat di dunia’ karena selalu berolahraga.

Tetapi, kini untuk menaiki tangga saja ia sudah tidak sanggup. Secara psychological, Griffiths merasa kondisinya itu sangat berpengaruh.

“Saya harus memilih hal-hal yang membuat saya bisa duduk, karena secara fisik saya tidak dapat melakukan hal-hal yang awalnya saya inginkan,” pungkasnya.

Simak Video “Stigma Tentang Penyintas Kanker yang Diharapkan Hilang dari Masyarakat
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

BPOM Temukan Kosmetik Ilegal Mengandung Pewarna K3-K10 yang Picu Kanker


Jakarta

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) menemukan lebih dari dua juta produk ilegal mengandung bahan terlarang yang bisa berbahaya bagi kesehatan publik. Produk tersebut meliputi 51 merchandise obat tradisional berbahan kimia obat (BKO) dengan satu juta produk, 183 merchandise kosmetik mencapai 1,2 juta produk.

Beredar sepanjang September 2022 hingga Oktober 2023, temuan produk ilegal secara keseluruhan meningkat 8 persen dalam tiga tahun terakhir.

Menurut Plt Kepala BPOM RI Lucia Rizka Andalucia, obat tradisional ilegal paling banyak teridentifikasi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Bali, hingga Sulawesi Selatan meliputi ‘obat kuat’, obat pelangsing, suplemen dan lainnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara kosmetik dengan bahan terlarang paling sering ditemukan di ibu kota, ada krim pemutih yang mengandung merkuri, hingga hidrokuinon. Tak hanya itu, sejumlah kosmetik juga ditemukan memiliki kandungan pewarna K3 hingga K10, yang biasa digunakan untuk tekstil, malah ditemukan di produk eyeshadow, blush on, hingga lipstick.

Padahal, bisa berisiko kanker jika terhirup atau masuk ke dalam tubuh.

“Temuan kosmetik bahan berbahaya ini didominasi krim wajah mengandung merkuri, hidrokuinon, yang bisa memicu efek jangka panjang. Seperti bintik-bintik hitam di wajah, alergi, iritasi kulit, sampai menyebabkan sakit kepala, diare, muntah, dan gangguan ginjal,” pesan Lucia, dalam konferensi pers Jumat (8/12/2023).

“Ada juga yang mengandung asam retinoat, mengakibatkan kulit kering. fungsi organ terganggu, makanya harus berhati-hati. Ini jangan sampai ada di kosmetik kita.”

Rizka berpesan agar masyarakat yang menemukan sejumlah produk mencurigakan segera melapor ke BPOM RI, demi menekan penyebaran semakin meluas.

Simak Video “BPOM RI Ungkap Daftar 5 Kosmetik Ilegal di Market
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Kronologi Wanita 24 Tahun Meninggal Kena Kanker, Gejala Awalnya Dikira Ambeien


Jakarta

Seorang wanita berusia 24 tahun meninggal dunia karena kanker usus stadium 4. Wanita bernama Mia Brehme, di Leigh, Larger Manchester, Inggris, itu awalnya tak sadar dan menganggap kondisi yang dialami merupakan gejala ambeien.

Mia awalnya mengeluhkan perdarahan di dubur pasca melahirkan putrinya yang kini berusia tiga tahun, Kyla Mae. Akan tetapi, perdarahan tersebut terus-menerus dialaminya hingga kondisinya semakin memburuk. Ia juga mengalami gejala kelelahan, mual, diare, hingga sembelit.

Ia menduga perdarahan itu akibat dari ambeien karena sempat melahirkan sebelumnya, mengingat kondisi tersebut umum terjadi pada ibu baru. Menurut Nationwide Well being Service UK, ambeien kerap hilang dalam beberapa hari setelah melahirkan. Namun ada pula yang bertahan hingga beberapa bulan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Juni 2023, Mia memutuskan pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Namun karena dikira ambeien, ibu anak satu itu diberi obat krim oles di anusnya.

Setelah obatnya habis, perdarahannya tak kunjung berhenti. Mia akhirnya menjalankan tes lanjutan di rumah sakit. Hasilnya, ibu muda tersebut mengidap kanker usus stadium empat dan sudah menyebar ke bagian tubuh lain.

“Kami tidak pernah berpikir bahwa gejala yang dialami Mia bisa menjadi sesuatu yang serius, karena dia adalah seorang ibu muda yang sehat. Saya berharap, atas namanya, generasi muda dapat diperiksa dan nyawa dapat diselamatkan,” imbuh Kakak Mia, Alice (28) , dikutip dari Every day Mail.

“Itu sangat cepat. Kanker menyebar dengan sangat cepat pada orang muda, dan hal ini tidak saya sadari. Kondisinya memburuk dengan cepat, dan saya menghabiskan setiap hari di rumah sakit,” imbuhnya lagi.

Sebelum meninggal, Mia juga sempat menjalani kemoterapi. Akan tetapi, pengobatan tersebut tak menunjukkan hasil yang baik. Mia meninggal dunia pada bulan lalu di usianya yang masih muda, empat bulan setelah didiagnosis.

“Mia merayakan ulang tahunnya yang ke 24 di rumah sakit, pada tanggal 27 September. Kurang dari satu bulan kemudian, dia meninggal,” imbuh Alice.

Simak Video “Stigma Tentang Penyintas Kanker yang Diharapkan Hilang dari Masyarakat
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

Menyoal Komplikasi Kanker Paru Stadium 4, Diidap Kiki Fatmala Sebelum Meninggal


Jakarta

Kabar duka datang dari dunia hiburan Tanah Air. Aktris Kiki Fatmala meninggal dunia pada Jumat (1/12/2023). Pihak keluarga mengungkap penyebab meninggalnya Kiki Fatmala yakni komplikasi kanker.

“Kiki Fatmala meninggal dunia pada 1 Desember 2023 pada usia 56 tahun, karena komplikasi akibat kanker,” tulis pihak keluarga di akun @qq_fatmala, Jumat (1/12/2023).

Kiki Fatmala bercerita sempat didiagnosis kanker paru-paru stadium 4 pada November 2021. Ia lalu menjalani radioterapi, kemoterapi dan terapi imun untuk memulihkan kesehatannya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kanker paru adalah suatu kondisi saat sel-sel tumbuh secara tidak terkendali di dalam organ paru-paru. Seperti jenis kanker lainnya, stadium kanker paru-paru dikategorikan berdasarkan seberapa luas penyebarannya di dalam tubuh. Hanya saja kanker paru biasanya baru ketahuan saat stadium lanjut.

“Semua penyakit kanker yang strong, itu dibedah dan bisa sembuh, hanya saja 80 persen ketemu stadium lanjut,” ujar Prof dr Elisna Syahrudin, PhD. SpP(Okay), Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedoteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam temu media di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/11).

dr Elisna menjelaskan kanker paru-paru stadium 4 berarti jenis kankernya sudah bermetastasis atau telah menyebar dari lokasi asalnya. Penyebaran kanker paru bisa di berbagai organ di tubuh, namun terbanyak di otak.

“Kadang-kadang menyebar ke hati, perutnya jadi membengkak. Ke tulang, dada nyeri. Sakit kepala, nyeri kepala hebat. Penyebaran paling banyak adalah ke otak dan ke tulang,” tuturnya.

Angka kematian kanker paru disebut termasuk tinggi karena kebanyakan pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Sekitar 70 persen kasus kanker paru di Indonesia merupakan usia produktif.

“Pengobatan untuk kanker paru itu bisa bedah, bisa radioterapi, bisa kemoterapi, bisa terapi goal, bisa imunoterapi. Tidak semua orang sama pilihannya,” tandasnya.

Simak Video “Dokter Paru: Pneumonia Sudah Lama Ada di Indonesia, Gejalanya Sangat Ringan
[Gambas:Video 20detik]
(kna/suc)

5 Gejala Kanker Serviks Stadium Awal yang Perlu Diwaspadai

Jakarta

Kanker serviks adalah salah satu penyebab kematian tertinggi pada kaum wanita. Seringkali, kanker serviks tidak menunjukkan gejala hingga memasuki tahap yang lebih parah. Akibatnya, pengobatan menjadi terlambat dan tingkat kesembuhannya berkurang.

Dikutip dari Mayo Clinic, kanker serviks atau kanker mulut rahim adalah kondisi kanker tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Penyebab kanker serviks hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap berkaitan dengan infeksi human papilloma virus (HPV) yang dapat menular melalui hubungan seksual.

Karena bersifat mematikan, penting untuk mengetahui gejala kanker serviks sejak stadium awal agar bisa melakukan upaya kontrol dan intervensi sedini mungkin, supaya kondisinya tidak berkembang menjadi semakin parah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala Kanker Serviks Stadium Awal

1. Perdarahan yang Irregular pada Vagina

Gejala kanker serviks stadium awal yang paling umum terjadi adalah perdarahan saat sedang tidak menstruasi. Perdarahan juga bisa terjadi pada wanita yang sudah mengalami menopause.

Biasanya, perdarahan yang terjadi lebih banyak atau lebih sedikit dibanding menstruasi biasa. Selain itu, gejala kanker serviks stadium awal juga bisa membuat wanita mengalami menstruasi yang lebih lama atau lebih hebat dibanding biasanya.

2. Keputihan Tidak Wajar

Keputihan yang disertai darah, lendir, dan bau yang tidak sedap juga merupakan salah satu gejala awal kanker serviks stradium awal. Keputihan yang irregular tersebut bisa terjadi antara siklus menstruasi hingga bahkan setelah memasuki fase menopause.

3. Nyeri saat Berhubungan Intim

Nyeri pada space panggul saat berhubungan intim merupakan salah satu gejala kanker serviks stadium awal yang kerap diabaikan. Pasalnya, gejala ini juga bisa disebabkan oleh kondisi lain, seperti vagina kering, peradangan, dan lain sebagainya.

Untuk memastikan analysis dan mencegah terjadinya kondisi yang lebih serius, seperti kanker serviks, segera periksakan diri ke dokter apabila nyeri panggul saat berhubungan intim tak kunjung hilang.

4. Perdarahan setelah Berhubungan Intim

Selain nyeri pada panggul, kanker serviks pada stadium awal juga bisa menyebabkan terjadinya perdarahan setelah berhubungan intim. Namun, perlu diingat bahwa perdarahan setelah berhubungan intim tak selalu menjadi tanda pasti kanker serviks.

Pasalnya, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi seperti perubahan hormon, berhubungan intim saat hamil, atau akibat mengonsumsi pil kontrasepsi. Jika terjadi perdarahan hebat setelah berhubungan intim, segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan analysis pasti dan penanganan yang sesuai.

5. Mudah Merasa Lelah

Kelelahan biasanya menjadi efek samping yang muncul akibat perdarahan. Pada kanker serviks, quantity darah yang dikeluarkan bisa jauh lebih banyak dibanding perdarahan saat menstruasi. Jika hal ini terjadi secara terus menerus, maka dapat memicu terjadinya anemia yang mengakibatkan tubuh mudah merasa lelah.

Simak Video “Stigma Tentang Penyintas Kanker yang Diharapkan Hilang dari Masyarakat
[Gambas:Video 20detik]
(ath/naf)

Aneh Tapi Nyata, Dokter Bingung Ada Lalat Hidup di Usus Pria yang Kena Kanker


Jakarta

Seorang pria di Missouri, Amerika Serikat, membuat para dokter kebingungan lantaran ditemukan seekor lalat hidup berdengung di dalam ususnya. Pria berusia 63 tahun itu diketahui memiliki riwayat masalah jantung ringan, asma, dan tinnitus atau telinga berdenging.

Tak hanya itu, pria yang tak disebutkan identitasnya itu juga didiagnosis terkena kanker usus besar dan kerap menjalani pemeriksaan rutin untuk penyakitnya.

Para dokter melakukan prosedur kolonoskopi dengan memasang kamera pada usus besar atau kolon guna melihat kondisi organ pencernaan ini. Prosedur berjalan seperti biasa sampai dokter mencapai kolon transversum, space di bagian atas usus besar.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan sisa-sisa makanan yang mengalami pembusukan, dokter justru menemukan seekor lalat utuh yang masih hidup dan mengeluarkan suara. Adapun kasus temuan kolonoskopi yang sangat langka ini dipublikasikan oleh tim dokter di jurnal American Journal of Gastroenterology pada Oktober 2023.

Lalat hidup di dalam ususLalat hidup di dalam usus Foto: American Journal of Gastroenterology

“(Ini adalah) misteri tentang bagaimana lalat utuh menemukan jalannya ke usus besar yang melintang,” tulis tim dokter.

Sampai saat ini masih menjadi misteri bagaimana serangga tersebut ada di dalam tubuhnya di bagian akhir saluran pencernaan.

“Pasien tidak yakin bagaimana lalat bisa masuk ke usus besarnya,” jelas tim dalam laporan kasusnya

Namun, kondisi tersebut diduga disebabkan oleh konsumsi selada yang terkontaminasi sehari sebelum jadwal pemeriksaan rutin. Pasien juga mengaku tidak merasakan gejala apa pun.

Kepada dokter, dia juga menyebut hanya mengonsumsi cairan bening sehari sebelum kolonoskopi. Kendati demikian, malam sebelum berpuasa selama 24 jam, dia sempat mengonsumsi pizza dan selada, meski tak mengingat kehadiran lalat pada makanannya.

Lalat dan larvanya dapat menyerang usus manusia, yang secara medis disebut sebagai myiasis usus. Kondisi tersebut terjadi saat seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung telur dan larva lalat.

Simak Video “Satu Pasien Mpox Dilaporkan Meninggal Karena HIV
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

Wanita Ini Sembuh dari Kanker Paru di Hari yang Sama dengan Prognosis, Kok Bisa?


Jakarta

Seorang wanita lanjut usia di Texas didiagnosis dan sembuh dari kanker paru-paru pada hari yang sama. Bak dalam sekejap mata, penyakit pada tubuhnya lenyap begitu saja. Bagaimana kisahnya?

Wanita tersebut adalah April Boudreau (61). Ia terbangun dari anestesi lokal dan menemukan bahwa tumor di paru-parunya telah diidentifikasi dan diangkat. Dikisahkannya, semua terjadi begitu saja tanpa radiasi dan pengobatan kemoterapi.

Ketika bangun dari bius, Boudreau terkejut lantaran tubuhnya sudah dibersihkan dari kanker. Ia menyebut, tak banyak gejala yang sempat dialaminya sebelum hari itu. Ia hanya sempat mengeluhkan sesak napas, yang dikiranya sebagai masalah penuaan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Saya meminum pil pereda nyeri selama tiga hari, dan hanya itu yang saya butuhkan. Dalam tiga hari kemudian, saya regular saja, berjalan-jalan. Saya tidak percaya,” katanya dikutip dari New York Publish, Rabu (22/11/2023).

Boudreau telah menjalani pengobatan kanker sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Ia telah dua kali selamat dari limfoma Hodgkin pada 1984 dan 1985, serta kanker payudara pada 2002. Kemudian pada Januari kemarin, ia menjalani CT scan dan dokter menemukan, ada benjolan mengkhawatirkan di paru-paru kanannya.

Ia kemudian menjalani tes lanjutan di Rumah Sakit Texas Well being Harris Methodist. Mengacu pada biopsi paru-paru, dokter menemukan bahwa benjolan di paru-paru Boudreau adalah kanker paru-paru stadium awal.

Dokter pun segera melakukan tindak lanjut dengan mengangkat sel kanker tersebut saat Boudreau berada di bawah pengaruh bius lokal. Tim medis menggunakan teknik bedah toraks minimal invasif baru, menggunakan kateter ultra-tipis yang dipandu secara robotik untuk menargetkan lesi di space paru-paru yang sulit dijangkau.

Simak Video “Stigma Tentang Penyintas Kanker yang Diharapkan Hilang dari Masyarakat
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/suc)

Founder dan Eks Drummer Kool & The Gang Wafat usai Berjuang Lawan Kanker Paru


Jakarta

George ‘Funky’ Brown, salah satu pendiri dan drummer lama Kool & The Gang meninggal dunia. Pria yang membantu menulis lagu-lagu hits seperti Too Scorching, Girls Night time, Joanna, dan social gathering favourite Celebration tutup usia pada Kamis (16/11/2023), di Los Angeles.

Brown meninggal setelah berjuang melawan kanker. Kematian pria 74 tahun tersebut dikonfirmasi pernyataan resmi yang dirilis Common Music. Dirinya telah pensiun di awal tahun, hampir 60 tahun berkarier sejak bergabung dengan band.

Brown didiagnosa mengidap kanker paru-paru stadium 4.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kool & The Gang telah menjual jutaan rekaman dengan perpaduan jazz, funk, dan soul yang menarik, oleh Brown disebut sebagai ‘suara kebahagiaan’. Pada 1964, Brown membantu meluncurkan grup pemenang Grammy, yang awalnya bernama Jazziacs, bersama dengan teman-teman seperti bassist Robert “Kool” Bell, saudara Ronald Bell pada keyboard dan gitaris Charles Smith.

Pada tahun 2023, Brown memproduseri album terbaru band, Folks Simply Wanna Have Enjoyable, dan merilis memoarnya Too Scorching: Kool & The Gang & Me.

Ia meninggalkan istrinya, Hanh Brown, dan kelima anaknya. Kondisi terakhir Brown sebelum meninggal tidak digambarkan, termasuk kemungkinan gejala yang diidap pasca melawan kanker paru.

Meski begitu, secara umum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan kanker paru di fase awal biasanya tidak memicu keluhan apapun, gejala baru akan berkembang di fase lanjut seperti stadium 3 hingga 4.

Ciri-ciri yang perlu diwaspadai adalah seperti berikut:

batuk yang tidak kunjung hilang setelah 3 minggu
batuk berkepanjangan semakin parah
infeksi dada yang terus datang kembali
batuk darah
rasa sakit atau nyeri saat bernapas atau batuk
sesak napas terus-menerus
kelelahan terus-menerus atau kekurangan energi
kehilangan nafsu makan atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan

Adapula gejala kanker paru-paru yang kurang umum:

perubahan tampilan jari, seperti menjadi lebih melengkung atau ujungnya menjadi lebih besar.
kesulitan menelan (disfagia) atau nyeri saat menelan
mengi
suara serak
pembengkakan pada wajah atau leher Anda
nyeri dada atau bahu yang persisten
Kunjungi dokter umum jika kamu mengalami salah satu gejala utama kanker paru-paru atau gejala yang kurang umum.

Simak Video “Riwayat Sakit Shena Malsiana Sebelum Meninggal
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Berawal dari Keluhan Gatal Biasa, Nenek Ini Ternyata Idap Kanker Pankreas


Jakarta

Barbara Inexperienced (79) di Virginia, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya berjuang melawan kanker. Kejadiannya bermula pada Juli 2022 ketika ia merasakan gatal di seluruh tubuhnya.

“Rasanya seperti gigitan serangga yang menyebar ke seluruh tubuh. Itu membuatku gila,” ujar Barbara dikutip dari NY Publish, Kamis (9/11/2023).

Melihat kondisinya itu, Barbara lantas membuat janji dengan seorang dokter. Tidak hanya gatal-gatal, ia menuturkan juga memiliki gejala lain seperti warna tinja terang dan urine berwarna gelap.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil pemeriksaan darah menunjukkan tingkat enzim hati yang sangat tinggi. Selain itu CT scan juga menunjukkan adanya pertumbuhan pada pankreas. Setelahnya, ia didiagnosis mengidap kanker pankreas stadium 4 yang sudah menyebar ke organ lain di perutnya. Saat itu, ia diberitahu bahwa harapan hidupnya tinggal 8-11 bulan.

Awalnya Barbara merasa kebingungan dengan prognosis tersebut. Terlebih, ia merasa selama ini menjalani pola hidup yang sehat.

“Saya tidak tahu ada yang salah dengan diri saya. Saya pikir saya baik-baik saja. Semua orang sepertinya menyadari bahwa kanker pankreas itu mematikan. Saya bahkan tidak mengetahuinya,” ceritanya.

Rasa gatal bukanlah sebuah gejala umum dari kanker pankreas. Gejala lain dari kanker pankreas termasuk sakit perut atau punggung, gangguan pencernaan, kehilangan nafsu makan, mual atau muntah, kelelahan, dan penurunan berat badan. Barbara mengaku bersyukur, bahwa dokter yang menangani tidak mengabaikan gejala yang dialaminya.

“Saya tidak yakin semua dokter akan memahami hal ini. Saya pikir beberapa dari mereka mungkin menganggap saya orang gila,” ujarnya.

Kanker yang menyebar membuat Barbara tidak dapat melakukan operasi. Untuk perawatan ia menjalani kemoterapi. Pada bulan lalu, tumornya sudah sangat kecil hingga nyaris tidak terlihat. Barbara juga mendapat obat-obatan oral dari dokter.

Meskipun Barbara dan dokternya tidak mengetahui persis sampai kapan ia bisa hidup, ia kini berhasil ‘hidup lebih panjang’ dari prediksi dokter sebelumnya.

“Ini situasi yang aneh ketika Anda siap untuk mati, tapi suatu hari Anda bangun dan berpikir, saya belum mati,” pungkasnya.

Simak Video “Tanda Benjolan Kanker Payudara yang Perlu Kamu Tahu
[Gambas:Video 20detik]
(avk/avk)

Kanker Limfoma: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Jakarta

Pengertian Limfoma

Limfoma atau kanker kelenjar getah bening adalah jenis kanker darah yang menyebabkan pembengkakan di kelenjar getah bening (limfadenopati). Limfoma terjadi ketika sel kanker menyerang salah satu sel darah putih (limfosit) yang berfungsi untuk melawan infeksi.

Selain pembengkakan kelenjar getah bening, limfoma juga menimbulkan gejala-gejala seperti batuk, demam, sesak napas, hingga gangguan pencernaan.

Jenis Limfoma

Limfoma terdiri atas dua jenis, yakni limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Perbedaan utama antara keduanya adalah jenis sel limfosit yang diserang oleh sel kanker.

Limfoma non-Hodgkin lebih sering terjadi dan lebih berbahaya dibanding limfoma Hodgkin. Selain itu, tingkat kesembuhan limfoma non-Hodgkin lebih rendah dibandingkan limfoma Hodgkin.

Penyebab Limfoma

Limfoma terjadi ketika sel kanker menyerang limfosit yang ada dalam tubuh. Hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sel bermutasi dan menyerang limfosit.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena limfoma, antara lain:

  • Berusia 60 tahun ke atas (limfoma non-Hodgkin)
  • Berusia 15-40 tahun, atau lebih dari 55 tahun (limfoma Hodgkin)
  • Berjenis kelamin pria
  • Mengidap penyakit autoimun
  • Mengidap infeksi akibat Epstein-Barr, bakteri H. pylori, atau hepatitis C
  • Memiliki imunitas yang rendah, bisa karena akibat penyakit seperti HIV-AIDS atau efek samping obat-obatan tertentu
    Berhubungan seksual dengan aman dan tidak menggunakan narkoba agar terhindar dari HIV-AIDS, yang mana dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh
  • Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan jika mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti imunosupresan dalam jangka panjang
  • Pernah menjalani radioterapi
  • Riwayat limfoma pada keluarga
  • Pernah terpapar benzene atau pestisida

Gejala Limfoma

Gejala limfoma yang paling khas adalah munculnya benjolan di beberapa bagian tubuh, seperti leher, ketiak, atau selangkangan akibat pembengkakan kelenjar getah bening. Selain benjolan, limfoma juga ditandai dengan:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Batuk
  • Gatal
  • Berkeringat di malam hari
  • Sesak napas
  • Penurunan berat badan secara drastis

Analysis Limfoma

Selain melakukan pemeriksaan fisik untuk mengecek ada atau tidaknya pembengkakan kelenjar getah bening, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan penunjang seperti:

  • Tes darah, untuk mendeteksi penurunan sel darah, fungsi ginjal dan hati, serta kadar LDH pada pasien
  • Aspirasi sumsum tulang, yakni menggunakan jarum untuk mengambil darah dan sampel jaringan sumsum tulang belakang
  • CT scan, MRI, USG, atau PET scan untuk melihat posisi, ukuran, dan penyebaran limfoma

Stadium Limfoma

Sama seperti kanker lainnya, limfoma memiliki tahapan atau stadium sesuai dengan tingkat keparahannya, yakni:

1. Stadium I

Sel kanker baru menyerang salah satu kelompok kelenjar getah bening.

2. Stadium II

Kanker sudah menyerang dua kelenjar getah bening atau menyebar ke organ di sekitarnya. Penyebaran masih sebatas di tubuh bagian atas atau bagian bawah dengan diafragma sebagai batasan.

3. Stadium III

Kanker sudah menyerang tubuh bagian atas dan bawah.

4. Stadium IV

Kanker sudah menyebar melalui sistem getah bening dan masuk ke berbagai organ, seperti hati, paru-paru, atau tulang.

Pengobatan Limfoma

Beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengobati limfoma, antara lain:

  • Obat-obatan, seperti obat kemoterapi atau imunoterapi untuk membunuh sel limfoma
  • Radioterapi, yakni penyinaran dengan sinar khusus untuk membunuh sel kanker
  • Transplantasi sumsum tulang belakang, dilakukan jika limfoma sudah menyebar ke sumsum tulang belakang

Komplikasi Limfoma

Limfoma dapat memicu sejumlah risiko jika tidak segera ditangani. Adapun komplikasi-komplikasi yang bisa terjadi antara lain:

  • Meningkatkan risiko penyakit jantung dan paru-paru
  • Infeksi akibat penurunan daya tahan tubuh
  • Kemandulan, biasanya akibat kemoterapi atau radioterapi
  • Kemunculan sel kanker yang baru

Pencegahan Limfoma

Meskipun sulit dicegah, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena limfoma, di antaranya:

  • Menggunakan alat pelindung diri di tempat kerja, jika tempat bekerja memiliki risiko paparan zat kimia seperti benzene dan pestisida
  • Berhubungan seksual dengan aman dan tidak menggunakan narkoba agar terhindar dari HIV-AIDS, yang mana dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh
  • Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan jika mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti imunosupresan dalam jangka panjang

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri ke dokter jika menemukan ada benjolan di leher, ketiak, atau selangkangan. Benjolan tersebut bisa saja disebabkan oleh pembengkakan kelenjar getah bening yang merupakan salah satu gejala limfoma.

Pengidap HIV-AIDS, serta orang yang mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka panjang juga perlu memeriksakan diri ke dokter secara berkala. Dengan begitu, dokter bisa memantau perkembangan penyakit dan mendeteksi lebih dini bila muncul limfoma.

Pasien limfoma yang sudah selesai menjalani pengobatan juga perlu rutin memeriksakan diri ke dokter. Hal ini untuk mengantisipasi efek samping yang mungkin muncul akibat pengobatan limfoma.

Simak Video “Ari Lasso Terapkan Pola Hidup Sehat Usai Sembuh dari Kanker Limfoma
[Gambas:Video 20detik]
(ath/suc)