Tag: Kedokteran

2 Ilmuwan di Balik Vaksin COVID-19 mRNA Raih Nobel Kedokteran


Jakarta

Dua ilmuwan yang penelitiannya membantu menciptakan vaksin mRNA COVID-19 dianugerahi Hadiah Nobel bidang Kedokteran. Penghargaan tersebut diberikan atas penemuan modifikasi dasar nukleosida yang memungkinkan pengembangan vaksin mRNA efektif melawan COVID-19.

Adalah Katalin Karikó dan Drew Weissman, penemu modifikasi basa nukleosida yang memungkinkan pengembangan vaksin mRNA untuk melawan COVID-19. Keduanya dianggap berjasa membantu mengubah arah pandemi.

“Berkontribusi pada tingkat pengembangan vaksin yang belum pernah terjadi sebelumnya pada salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia di zaman trendy,” kata juri dikutip dari CNN.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komite Nobel juga menyebut fleksibilitas dan kecepatan yang mengesankan dalam pengembangan vaksin mRNA membuka jalan bagi penggunaan platform baru ini juga untuk vaksin terhadap penyakit menular lainnya. Teknologi mRNA juga disebut bakal digunakan untuk menyembuhkan kanker.

Karikó, 68, dan Weissman, 64, pertama kali bertemu pada tahun 1990an saat bekerja di College of Pennsylvania setelah bertemu secara kebetulan saat memfotokopi makalah penelitian. Mereka menyadari memiliki minat yang sama sebelum memulai misi penelitian selama puluhan tahun.

Messenger RNA, atau mRNA, adalah blue-print genetik yang dapat menginstruksikan sel untuk membuat protein dalam tubuh. Vaksin melatih sistem kekebalan untuk mengenali dan melawan ancaman seperti virus atau bakteri.

Tidak seperti vaksin tradisional lainnya, virus hidup atau virus yang dilemahkan tidak disuntikkan atau diperlukan.

Untuk COVID-19, vaksin mRNA menginstruksikan sel untuk membuat protein lonjakan yang ditemukan di permukaan virus itu sendiri. Setelah vaksinasi, sel-sel mulai membuat protein, ‘melatih’ sistem kekebalan untuk mengenalinya dan kemudian membuat sel-sel yang melawannya jika seseorang kemudian terinfeksi virus tersebut.

Simak Video “Kemenkes Izinkan Masyarakat Booster Pakai Vaksin Covid-19 Jenis Apapun
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Menkes Buka-bukaan Tradisi Bullying di Kedokteran Sudah Terjadi Puluhan Tahun

Jakarta

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyoroti praktik perundungan di lingkungan pendidikan kedokteran yang sudah mengakar selama puluhan tahun. Aksi perundungan yang sudah lama terjadi tersebut mengakibatkan berbagai kerugian bagi korban.

“Praktik perundungan ini baik untuk dokter umum, internship, maupun pendidikan dokter spesialis itu sudah terjadi berulang kali dan ini tidak hanya menyebabkan kerugian psychological, tapi fisik dan juga finansial pada peserta didik,” ucap Menkes Budi dalam konferensi pers, Kamis (20/7/2023).

Menkes Budi mengatakan bahwa aksi perundungan ini dilakukan dengan dalih pembentukan karakter. Menurutnya pembentukan karakter dokter bisa dibentuk tanpa harus melakukan perundungan.

Adapun lebih lanjut, Menkes Budi menjabarkan bentuk praktik perundungan di lingkungan kedokteran yang ia temukan. Ia mengatakan bahwa banyak peserta didik yang kerap dijadikan asisten pribadi senior.

“Contoh yang paling saya sering dengar yang pertama kelompok di mana peserta didik dijadikan asisten pribadi bisa disuruh bayarin laundry, anterin laundry, nganterin anak, ambilin itu ini,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja, banyak peserta didik yang juga diminta untuk mengerjakan tugas milik senior. Padahal hal tersebut tentu akan menghambat proses belajar peserta didik.

“Nomor dua saya juga menemukan peserta didik dijadikan pekerja pribadi nulis tugas, atau nulis jurnal, penelitian. Karena ada juniornya, padahal itu tugas kakak kelasnya,” kata Menkes Budi.

“Akibatnya kasian juga juniornya untuk belajar memperdalam spesialisasi malah disuruh ngerjain tugas dari seniornya yang tidak ada hubungan dengan spesialisasinya kadang-kadang,” sambungnya.

Banyak peserta didik kedokteran yang juga mengalami kerugian secara finansial selama mengikuti proses pendidikan. Hal itu disebabkan oleh berbagai permintaan ‘nyeleneh’ yang kerap diminta senior.

Simak Video “Menkes Ungkap Pemicu Perundungan Calon Dokter Spesialis
[Gambas:Video 20detik]

Menkes Ungkap Sanksi yang Akan Diterima Pelaku Bullying di Lingkungan Kedokteran


Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti fenomena perundungan yang dialami oleh calon dokter spesialis. Ia juga menyoroti ‘tradisi’ perundungan yang sudah terjadi selama puluhan tahun.

“Dampak dari perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan dokter spesialis ini berat sekali. Tidak hanya fisik, namun juga psychological dan finansial,” ucap Menkes Budi dalam konferensi pers, Kamis (20/7/2023).

“Mungkin ada yang beralasan bahwa perundungan ini dilakukan dengan tujuan ‘membentuk karakter’, tapi kan bukan dengan kekerasan juga untuk membentuk ketangguhan,” sambungnya.

Terkait kasus perundungan yang terjadi, Kemenkes RI menyediakan web site dan hotline bagi para korban perundungan di rumah sakit vertikal untuk melaporkan kejadian yang dialami.

“Semua orang yang merasa terganggu, atau yang melihat ada sahabatnya diganggu, atau orang tua yang merasa anaknya diganggu bisa melapor dan ini akan langsung masuk ke Inspektorat Jenderal Kemenkes jadi dijamin kerahasiaannya,” tambahnya.

Adapun Menkes Budi juga menjelaskan jenis-jenis sanksi yang bisa diberikan pada pelaku perundungan baik dari senior, pengajar, hingga direktur rumah sakit.

“Hukuman pertama berupa sanksi ringan berupa teguran tertulis. Bisa untuk pengajar, senior, atau direktur utama rumah sakitnya mendapatkan teguran tertulis. Kalau pelanggarannya berulang dan kasar kita bisa berikan sanksi sedang berupa skors langsung selama 3 bulan,” kata Menkes Budi.

“Yang sanksi berat kalau pegawai Kemenkes kita akan diturunkan pangkatnya satu tingkat selama 12 bulan, kemudian kami bebaskan dari jabatan dan statusnya sebagai pengajar. Kalau bukan pegawai Kemenkes akan kami minta nggak usah ngajar di RS kami,” tambahnya.

Tidak hanya itu saja, senior-senior yang melakukan pelanggaran berat juga akan disanksi serupa, yaitu tidak diperbolehkan belajar di rumah sakit vertikal. Menkes Budi berharap langkah tersebut bisa menciptakan lingkungan yang aman dari perundungan di rumah sakit.

Sistem Laporan Perundungan bisa diakses di: perundungan.kemkes.go.id

Hotline Laporan Perundungan Kemenkes: 0812-9979-9777

Simak Video “Curhat Dokter Dapat Kekerasan Verbal dan Psikis saat PPDS
[Gambas:Video 20detik]
(avk/kna)