Tag: Korsel

Curhat Warga Korsel ‘Diserang’ Kutu Busuk, Jadi Waswas Duduk di Transportasi Umum


Jakarta

Setelah Prancis, wabah kutu busuk juga membuat panik warga Korea Selatan. Wabah ini kembali ke Korea untuk pertama kalinya sejak tahun 1970-an.

Hal yang sangat mengejutkan banyak orang adalah ketangguhan makhluk ini, yang dapat bertahan hidup bahkan ketika dimasukkan ke dalam botol insektisida. Tak sedikit warga yang akhirnya mengubah keseharian mereka untuk menghindari keberadaan kutu busuk.

“Sejujurnya, saya ragu untuk duduk di bangku sembarangan,” kata salah satu warga pada Korea JoongAng Day by day.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Saat ini, saya mencoba untuk tidak meletakkan pakaian saya langsung di tempat tidur,” kata warga lainnya.

Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah Metropolitan Seoul meluncurkan rencana untuk memerangi kutu busuk di transportasi umum. Salah satunya dengan kursi berbahan kain di kereta bawah tanah ‘dipanasi’ dan didesinfeksi secara teratur.

Meski begitu, banyak penumpang transportasi umum yang memilih untuk berdiri saat banyak orang. Bahkan, mereka cenderung menghindari keramaian dan lebih sering bersih-bersih.

“Saya lebih sering bersih-bersih dan cenderung menghindari keramaian,” kata narasumber lainnya.

Namun, tidak semua orang begitu khawatir. Beberapa orang merasa situasi saat ini masih baik-baik saja.

“Saya mendengar ada masalah di kalangan wisatawan yang berkunjung ke negara lain. Tinggal di Korea, saya rasa saya tidak pernah memikirkannya,” katanya.

Simak Video “Kutu Busuk Serang Paris, Ini Bahayanya Jika Digigit
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

Warga Muda Korsel Pilih Jadi Generasi N-Po, Menikah-Punya Bayi Tak Lagi Prioritas


Jakarta

Generasi muda Korea Selatan tengah dijuluki ‘N-Po era’. Sebutan ini disematkan pada mereka yang terpaksa berhenti menikah, memiliki anak, dan banyak mimpi lain imbas pekerjaan belum ‘settle’ di tengah biaya hidup terlampau tinggi.

Seperti kisah Kim Jaram, pria berusia 32 tahun itu mengambil lebih dari dua pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pagi hingga siang hari, dirinya bekerja sebagai desainer internet, sementara di malam hari, Kim Jaram bertugas di dua toko. Dirinya juga tidak pernah absen bekerja saat akhir pekan.

Terhitung lebih dari 100 jam dihabiskan untuk bekerja dalam sepekan. Lebih dari dua kali lipat jam kerja pada umumnya yakni ‘9 to five’ atau pukul 9 pagi hingga 5 sore waktu setempat.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Di Korea Selatan saat ini, jika Anda ingin bertahan hidup dengan gaji bulanan, Anda harus bekerja di perusahaan besar atau di pekerjaan tertentu,” kata pria yang tinggal di Seongnam, kota di bagian tenggara Seoul.

“Bagi orang regular, jika ingin menabung untuk masa depan, memiliki dua pekerjaan adalah suatu keharusan,” sambung dia.

Namun, jadwal yang padat ini berdampak buruk pada Kim, yang memegang gelar affiliate di bidang makanan dan nutrisi, tetapi belakangan beralih karier setelah mengambil kursus desain internet. Sering kehilangan fokus berujung amukan bos. Berat badan bertambah karena kurang berolahraga dan yang lain.

Dirinya ingin memiliki cukup uang membuka toko sendiri dalam waktu setahun.

“Saya tidak berencana hidup seperti ini seumur hidup saya,” katanya.

“Tujuan saya adalah mencapai kebebasan finansial antara usia 40 dan 45 tahun. Mengapa tidak bekerja sekeras yang saya bisa sekarang?”

Korea Selatan adalah negara maju yang berkembang pesat. Namun, ada kecenderungan seperti yang terjadi di beberapa wilayah Asia lain, yakni generasi muda merasa lebih sulit dibandingkan orang tua mereka untuk mencapai kemajuan meskipun memiliki pendidikan lebih tinggi.

Kaum muda di negara ini disebut sebagai ‘generasi N-Po’, yang harus meninggalkan banyak hal karena ketidakamanan pekerjaan dan tingginya biaya rumah, juga hidup. Istilah ini dimulai dengan ‘generasi Sampo’, mengacu pada generasi muda yang terpaksa berhenti berkencan, menikah, dan memiliki anak karena ketidakamanan ekonomi yang diperburuk oleh krisis keuangan world di 2008.

Ada istilah lain yakni Neraka Joseon, yang diciptakan sekitar delapan tahun lalu, menggambarkan masyarakat fashionable Korea sebagai versi buruk dari dinasti Joseon dan sistem kelasnya yang tidak setara.

Kisah Kim, dan kisah remaja lainnya yang baru-baru ini terjadi di Korea Selatan, menyoroti dampak dari sistem yang tidak kenal ampun dan sangat kompetitif, dimulai di sekolah dan berlanjut hingga masa dewasa.

Faktor-faktor di balik terjebaknya generasi muda di negara ini berakar kuat pada budaya.

Simak Video “Anak Muda yang Kesepian di Korea Selatan Akan Diberi Tunjangan
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Korsel Jadi Negara Termahal di Dunia untuk Membesarkan Anak, Segini Biayanya

Jakarta

Studi terbaru mengungkapkan Korea Selatan merupakan negara termahal untuk membesarkan anak hingga usia 18 tahun. Hal tersebut juga menjelaskan alasan di balik angka kelahiran yang merosot tajam di negara tersebut.

Studi tahunan yang dilakukan oleh lembaga asal Beijing, YuWa Inhabitants Analysis Institute menemukan Korea Selatan adalah negara termahal untuk membesarkan anak, di mana biaya membesarkan anak mencapai 7,79 kali lebih besar dibanding produk domestik bruto (PDB) per kapita. Adapun besarannya mencapat KRW 365 juta gained atau sekitar Rp 4,2 miliar. Sementara, posisi kedua ditempati oleh China, diikuti Jerman dan Prancis pada posisi ketiga dan keempat.

Namun, tingginya biaya membesarkan anak berbanding terbalik dengan angka kelahiran di negara tersebut. Tercatat, tingkat fertilitas di Korea Selatan saat ini berada di 0,78. Artinya untuk setiap 100 wanita hanya akan melahirkan 78 bayi sepanjang hidup mereka.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka tersebut merupakan yang terendah sejak tingkat fertilitas di Korea merosot ke 1,48 pada 2000. Padahal, di 1980 dan 1960 tingkat fertilitas di Korea mencapai 2,82 dan 5,95.

Lantas, apa yang jadi penyebab merosotnya angka kelahiran di Korea Selatan?

Media cetak lokal, Cholsun Ilbo, melaporkan pengeluaran terbesar masyarakat Korea dalam membesarkan anak yakni pada bidang pendidikan. Menurut laporan tahun 2022, masyarakat Korea tercatat menghabiskan KRW 26 triliun gained (sekitar Rp 301 triliun) untuk membiayai les atau bimbingan belajar (bimbel) bagi anak-anak mereka. Artinya, dalam sebulan para orang tua mengeluarkan setidaknya KRW 524.000 gained (sekitar Rp 6 juta) untuk biaya pendidikan.

“Korea adalah masyarakat yang sangat fokus pada pendidikan, dan bagi kebanyakan keluarga, pelajaran tambahan setelah jam sekolah berakhir adalah hal yang regular,” ujar Han Ye-jung yang memiliki putri berusia 31 bulan, dikutip dari DW, Senin (9/10/2023).

Han mengatakan bimbel, atau yang dikenal juga dengan istilah ‘hagwon’ di Korea, biasanya dimulai sejak anak berusia 4 tahun. Umumnya, tempat bimbel tersebut mengajarkan bahasa Inggris sambil mengajak anak bermain.

“Ini adalah sebuah tren besar di Seoul sekarang dan banyak orang yang mengeluarkan banyak uang setiap bulannya untuk taman kanak-kanak berbahasa Inggris ini karena mereka percaya anak-anak lebih mudah mempelajari bahasa asing ketika masih kecil, dan itu adalah kemampuan penting yang harus dimiliki,” tutur Han.

Han pun mengaku dirinya kerap berdiskusi soal opsi pendidikan saat berkumpul bersama teman maupun anggota keluarga. Alasan lain orang tua mengirim anak mereka mengikuti bimbel adalah agar anak mendapat pengawasan saat ibu mereka pergi bekerja.

Duh! Kasus Tak Biasa, 2 Kucing di Korsel Positif Flu Burung H5N1


Jakarta

Korea Selatan baru-baru ini mengkarantina tempat penampungan kucing di ibu kota Seoul. Hal itu dilakukan pasca pemerintah setempat mengidentifikasi jenis flu burung H5N1 pada dua kucing di fasilitas tersebut.

Kementerian Pertanian di Korsel menyatakan penemuan ini merupakan kasus baru sejak 2016. “Ini adalah pertama kalinya sejak 2016 flu burung terdeteksi pada kucing di Korsel,” demikian konfirmasi Kementerian tersebut pada Selasa (25/7/2023).

Kabar baiknya, belum ada laporan kasus menyebar ke manusia.

“Belum ada kasus flu burung yang sangat patogen yang dilaporkan pada manusia di Korea Selatan,” tegas pihak berwenang.

Adapun dua kucing yang dinyatakan positif terkena flu burung H5N1, masuk dalam laporan 38 kucing mati di tempat penampungan, baru-baru ini menurut kantor berita Yonhap.

H5N1 telah menyebar di antara unggas dan burung liar selama bertahun-tahun, tetapi ada wabah sporadis yang dilaporkan secara international pada mamalia seperti kucing, cerpelai, dan berang-berang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa risiko terhadap manusia dari H5N1 tetap rendah, tetapi laporan infeksi pada mamalia seperti ini perlu dipantau secara ketat.

Tiga badan PBB bulan ini memperingatkan bahwa peningkatan wabah flu burung secara international menimbulkan kekhawatiran virus tersebut dapat beradaptasi, berkembang, untuk menginfeksi manusia lebih mudah. Pihaknya mendesak negara-negara untuk memperkuat pengawasan penyakit dan meningkatkan kebersihan di peternakan unggas.

“Tidak seorang pun yang melakukan kontak dengan kucing di penampungan Seoul menunjukkan gejala penyakit dan mereka yang melakukan kontak dan dianggap berisiko lebih tinggi akan dipantau selama 10 hari,” kata kementerian itu.

Simak Video “Cara Memastikan Perasaan saat Jatuh Hati dengan Sepupu di Momen Lebaran
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)