Tag: Malaysia

Kasus COVID-19 Melonjak hingga 57 Persen, Menkes Malaysia Ungkap Biang Keroknya


Jakarta

Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Dr Zaliha Mustafa melaporkan ada peningkatan kasus COVID-19 yang dilaporkan secara world, termasuk di negaranya. Namun disebutkannya, sebagian besar pasien COVID-19 di negaranya mengalami gejala ringan dan tak memerlukan perawatan di rumah sakit.

“Ada peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan secara world. Di Malaysia, peningkatan ini mengikuti tren yang terlihat setiap akhir tahun, yang juga terjadi di negara lain,” ujarnya, dikutip dari The Star.

Adapun varian yang saat ini mendominasi di negara tetangga RI itu adalah Omicron dengan subvariannya yang diketahui memiliki tingkat penularan tinggi. Meski begitu, Dr Zaliha menekankan, varian tersebut tak menimbulkan kasus yang parah. Menurutnya, tak ada varian baru COVID-19 yang terdeteksi di negaranya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Meski terjadi peningkatan kasus, situasi saat ini di Malaysia masih terkendali dan tidak membebani fasilitas kesehatan yang ada. Kementerian tetap siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi, ujarnya.

baca juga

Dr Zaliha juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga kebersihan diri hingga memakai masker bagi mereka yang mengalami gejala.

Jika gejalanya memburuk, ia mengimbau untuk berkonsultasi ke dokter dan mendapatkan pengobatan antivirus di klinik kesehatan terdekat bagi mereka yang positif COVID-19 dan berisiko tinggi.

“Masyarakat juga dapat menerima vaksin COVID-19 dosis utama di klinik kesehatan untuk mengurangi risiko penularan,” tuturnya,

“Kementerian akan terus memantau situasi dan varian Covid-19 dari waktu ke waktu,” katanya seraya menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh menyebarkan berita yang tidak terverifikasi untuk menghindari kebingungan dan keresahan masyarakat.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Malaysia mengatakan, ada 3.626 kasus COVID-19 yang dilaporkan pada 19 hingga 25 November 2023. Angka tersebut meningkat sebanyak 57,3 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya yang tercatat ada 2.305 kasus.

baca juga

Simak Video “Susul Singapura, Kasus Covid-19 Malaysia Naik 57%
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Warga Malaysia Borong Masker gegara COVID ‘Ngegas’ Lagi


Jakarta

Tak hanya di Indonesia dan Singapura, kasus COVID-19 juga melonjak di Malaysia. Gegara kondisi di sana, warga Malaysia berbondong-bondong membeli dan menyetok masker.

CEO dari salah satu manufaktur alat kesehatan di Malaysia yakni Preferrred Healthcare, Haminuddin Hamid, mengatakan penjualan masker telah meningkat ‘sangat tinggi’ beberapa waktu terakhir. Menurutnya, masyarakat mungkin berniat menimbun masker gegara kasus COVID-19 kembali meroket.

Ia mengaku, perusahaannya masih sanggup mengelola lonjakan permintaan masker dengan stok yang ada. Disebutnya, penjualan ke rumah sakit tetap regular pada periode akhir tahun.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami sudah berencana untuk mendatangkan bahan mentah yang cukup untuk memenuhi permintaan, terutama (untuk memproduksi) masker bedah dan N95 untuk (sektor) pemerintah,” ungkapnya dikutip dari Free Malaysia At this time, Jumat (8/12/2023).

Kondisinya Terkendali

Terkait kenaikan kasus COVID-19 di negaranya saat ini, Menteri Kesehatan Malaysia Dr Zaliha Mustafa menyebut situasi COVID-19 di Malaysia masih terkendali. Fasilitas kesehatan juga tidak terbebani meski jumlah kasus COVID-19 terpantau meningkat.

Menurutnya, peningkatan kasus COVID-19 saat ini sebenarnya terjadi bukan hanya di negaranya, melainkan juga secara world di banyak negara. Dalam kondisi negaranya tak menemukan penyebaran varian Corona baru, Zaliha meyakini, kenaikan kasus ini sejalan dengan tren yang terjadi setiap akhir tahun.

“Sebagian besar kasus COVID-19 di Malaysia mengalami gejala ringan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit,” beber Zaliha dikutip dari Malay Mail, Jumat (8/12).

Simak Video “Susul Singapura, Kasus Covid-19 Malaysia Naik 57%
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Dugaan Pemicu Kasus COVID-19 Malaysia Ikut ‘Ngegas’, Naik Lebih dari 50 Persen


Jakarta

Kasus COVID-19 dilaporkan kembali meningkat di Malaysia. Direktur Jenderal Kesehatan Dr Radzi Abu Hassan mengatakan kasus baru COVID-19 meningkat pada minggu lalu sebesar 57,3 persen, dari 2.305 menjadi 3.636 kasus.

Dalam laporan terbarunya untuk pekan yang berakhir 25 November, Radzi mengatakan 48 persen kasus terjadi pada individu berusia antara 20 dan 40 tahun, dan 98 persen hanya mengalami gejala ringan.

Kenaikan kasus dikaitkan dengan laporan pemerintah soal adanya empat varian Omicron baru yang teridentifikasi. Semuanya diklasifikasikan sebagai variant of concern (VoC). Radzi mengatakan dua kasus varian Omicron baru, BA.2.86, telah dilaporkan setelah pemeriksaan gejala di klinik kesehatan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski diduga memicu peningkatan kasus, infeksi yang dikeluhkan bukan merupakan gejala berat.

Radzi mengatakan kedua kasus tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri dalam waktu 14 hari, sebelum gejala muncul. Mereka juga tengah menjalani rawat jalan.

“Varian tersebut tidak menimbulkan gejala yang lebih parah,” kata Radzi yang dikutip dari laman Free Malaysia In the present day, Senin (4/12/2023).

Meski terjadi peningkatan kasus, Radzi memastikan bahwa situasi dan fasilitas kesehatan di Malaysia masih terkendali. Namun, ia mengimbau agar masyarakat dan layanan kesehatan tetap waspada.

“Mengingat peningkatan kasus COVID-19, petugas kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta diimbau untuk tetap waspada dan memiliki ‘indeks kecurigaan yang tinggi’ terhadap pasien dengan gejala pernapasan akut, terutama yang berasal dari kelompok risiko tinggi,” jelasnya.

Simak Video “Kasus COVID-19 di Singapura Naik 2 Kali Lipat dalam Sepekan
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

Bukan Cuma Singapura, Kasus COVID-19 di Malaysia Naik 57,3 Persen!


Jakarta

Tidak hanya Singapura, Malaysia juga melaporkan peningkatan signifikan kasus COVID-19, mencapai 57,3 persen. Namun, angkanya masih jauh lebih rendah ketimbang laporan di Negeri Singa, yakni dalam periode 19 hingga 25 November tercatat sebanyak 3.626 kasus, meningkat dari periode 12 hingga 18 November yakni 2.305 pasien.

“Kasus mingguan yang terdeteksi telah melampaui 1.000 setiap minggunya sejak pekan lalu, dengan tingkat peningkatan antara 7,1 persen hingga 57,3 persen,” tutur Direktur Jenderal Kesehatan Datuk Dr Muhammad Radzi Abu Hassan, dikutip dari media lokal Malaysia, The Star, Senin (4/12/2023).

“Telah dilaporkan delapan klaster aktif COVID-19 dengan whole 121 kasus,” sambungnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar kasus ditemukan menyerang usia 20 hingga 40 tahun. Kabar baiknya, 98 persen dari whole keseluruhan pasien COVID-19, hanya mengeluhkan gejala ringan.

“Jumlah kumulatif klaster yang dilaporkan hingga kini 7.248 klaster. Mayoritas adalah klaster yang melibatkan sektor pendidikan,” kata Dr Muhammad Radzi dalam keterangannya kemarin.

Ia menambahkan, tingkat perawatan pasien COVID-19 ke fasilitas kesehatan meningkat menjadi 2,9 persen per 100.000 penduduk pada Juli, dibandingkan 2 persen pada Juni.

“Angka ini sudah termasuk kasus suspek dan infeksi terkonfirmasi,” katanya.

Pemerintah Malaysia mendeteksi empat varian Omicron baru.

“Ini semua terdiri dari varian of concern (VOC),” kata Dr Muhammad Radzi.

“Kasus kumulatif yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 yang dikategorikan VOC dan varian of curiosity (VOI) sebanyak 28.102 kasus.”

Organisasi Kesehatan Dunia telah melaporkan peningkatan varian Omicron baru, dengan BA.2.86 pertama kali dilaporkan pada 24 Juli.

“Namun, tidak ada perubahan klinis dan tingkat keparahan yang diakibatkannya,” tutur Radzi.

Varian yang mendominasi kasus di Malaysia saat ini adalah BA.2.86.

“Kasus-kasus tersebut terdeteksi melalui skrining gejala dan tidak memiliki riwayat pergi ke luar negeri dalam waktu 14 hari setelah gejala muncul.”

“Mereka telah dirawat sebagai pasien rawat jalan dan kondisinya stabil. Meski terjadi peningkatan kasus COVID-19, situasi terkendali. Kementerian akan terus memantau situasi dan variannya,” sorotnya.

Petugas kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta diimbau untuk waspada dengan meningkatnya jumlah kasus, terutama pada pasien dengan gejala pernapasan akut dan kelompok risiko tinggi. Ia mengingatkan masyarakat Malaysia untuk melakukan tindakan pencegahan, termasuk menjaga kebersihan diri.

Simak Video “Kasus COVID-19 di Singapura Naik 2 Kali Lipat dalam Sepekan
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Muncul Lagi! Malaysia Laporkan 2 Kasus Baru Mpox ‘Cacar Monyet’


Jakarta

Kementerian Kesehatan Malaysia mengkonfirmasi dua kasus positif infeksi cacar monyet atau mpox. Kasus tersebut terjadi pada akhir Juli 2023 lalu.

Dalam keterangan tertulis pada Jumat (25/8/2023), Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Muhammad Radzi Abu Hassan mengungkapkan kasus pertama cacar monyet ini terkonfirmasi pada 26 Juli 2023. Itu terjadi pada pria warga negara asing (WNA) yang tinggal dan bekerja di Malaysia sejak April 2022.

Radzi mengatakan pria tersebut sempat melakukan perjalanan pada 6 Juli ke negara yang banyak melaporkan kasus cacar monyet. Dan dia kembali ke Malaysia pada 10 Juli.

“Dia mulai menunjukkan gejala pada 19 Juli, dan muncul lepuh pada 23 Juli,” terang Radzi dalam keterangannya yang dikutip dari The Star, Senin (28/8).

“Dia diisolasi dan dipulangkan pada 10 Agustus, setelah sembuh whole tanpa komplikasi,” sambung dia.

Kasus kedua terjadi pada seorang pria lokal. Ia mengalami gejala saat di karantina karena memiliki kontak dekat dengan kasus indeks.

Radzi mengungkapkan pria kasus kedua itu menjalani karantina pada 27 Juli, dan dipastikan positif terkena cacar monyet pada 29 Juli. Pasien kedua ini masih dalam keadaan sehat selama diisolasi.

“Semua kontak dekat pasien pertama telah diidentifikasi dan standing kesehatan mereka dipantau. Tidak ada yang menunjukkan gejala infeksi cacar monyet, kecuali pasien kedua,” jelasnya.

Simak Video “WHO Cabut Standing Kedaruratan World Cacar Monyet
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)