Tag: Mengenal

Mengenal Hipertiroid: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Jakarta

Hipertiroid adalah gangguan akibat produksi hormon tiroid yang terllau banyak. Hormon triiodothyronine (T3) dan thyroxine (T4) diproduksi kelenjar tiroid, yang berbentuk seperti kupu-kupu dan terletak di depan leher.

Hormon tiroid memiliki peran penting untuk mengatur fungsi tubuh, mengontrol metabolisme, dan sebagainya. Hormon tiroid yang terlalu banyak atau sedikit, berdampak buruk pada fungsi tubuh. Karena itu, hipertiroid membutuhkan pengobatan secepatnya dari tenaga kesehatan.

Pengertian Hipertiroid

Dikutip dari Panduan Praktik Klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia Analysis dan Tata Laksana Hipertiroid yang disusun oleh Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, hipertiroid adalah hipersekresi produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab Hipertiroid

Dikutip dari situs Nationwide Institutes of Well being, berikut ini beberapa penyebab dari hipertiroid:

1. Graves’ Illness

Graves’ Illness merupakan penyebab paling umum dari hipertiroid. Graves’ Illness adalah gangguan autoimun. Dengan kondisi ini, sistem kekebalan tubuh menyerang tiroid dan menyebabkan memproduksi terlalu banyak hormon tiroid.

2. Nodul tiroid yang terlalu aktif

Nodul tiroid yang terlalu aktif atau benjolan pada tiroid adalah hal yang umum dan biasanya tidak bersifat kanker. Namun, satu atau beberapa nodul dapat menjadi terlalu aktif dan menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid. Nodul yang terlalu aktif sering ditemukan pada orang dewasa yang telah berusia lanjut.

3. Tiroiditis

Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid. Beberapa jenis tiroiditis dapat menyebabkan hormon tiroid bocor keluar dari kelenjar tiroid ke dalam aliran darah. Akibatnya, kamu mungkin mengalami gejala hipertiroid.

4. Terlalu banyak yodium

Tiroid menggunakan yodium untuk membuat hormon tiroid. Seberapa banyak yodium yang dikonsumsi dapat mempengaruhi seberapa banyak hormon tiroid yang dibuat oleh tiroid. Pada beberapa orang, mengonsumsi yodium dalam jumlah besar dapat menyebabkan tiroid membuat terlalu banyak hormon tiroid.

5. Terlalu banyak minum obat hormon tiroid

6. Tumor non-kanker

Gejala Hipertiroid

Dikutip dari Nationwide Well being Service, berikut ini beberapa gejala dari hipertiroid:

  • Gugup, cemas, dan mudah tersinggung
  • Perubahan suasana hati
  • Kesulitan tidur
  • Kelelahan yang terus menerus
  • Sensitif pada panas
  • Pembengkakan pada leher karena pembesaran kelenjar tiroid
  • Denyut jantung yang tidak teratur atau sangat cepat
  • Gemetar
  • Penurunan berat badan.

Cara Mengatasi Hipertiroid

Menurut Mayo Clinic, terdapat beberapa cara untuk mengatasi hipertiroid, yaitu:

1. Pemberian obat-obatan

Pemberian obat-obatan dapat meringankan gejala hipertiroid dengan mencegah kelenjar tiroid dengan mencegah kelenjar tiroid membuat terlalu banyak hormon. Dokter akan memberikan jenis obat anti tiroid, seperti methimazole dan propylthiouracil. Dokter juga akan memberikan obat berdasarkan gejala yang dialami. Biasanya, gejala akan membaik beberapa minggu hingga beberapa bulan.

2. Terapi radioiodin

Perawatan ini dapat menyebabkan kelenjar tiroid menyusut. Hal ini karena kelenjar tiroid menyerap radioiodin. Dengan pengobatan ini, biasanya gejala akan berkurang dalam beberapa bulan. Pengobatan ini biasanya menyebabkan aktivitas tiroid melambat sehingga kelenjar tiroid menjadi kurang aktif.

3. Operasi

Tindakan ini tidak sering dilakukan untuk mengobati hipertiroid. Namun, ini mungkin dapat menjadi pilihan bagi pasien yang tidak kunjung membaik setelah mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter. Setelah pasien yang menjalani operasi, pasien membutuhkan terapi hormon tiroid dalam bentuk obat seumur hidup.

Pemberian obat-obatan dan terapi lain untuk mengatasi hipertiroid tentunya hanya bisa dilakukan dokter. Penanganan hipertiroid dan penegakan prognosis yang cepat serta tepat tentu berdampak baik pada pemulihan pasien.

Simak Video “Pakar: Dopamin Bisa Jadi Tanda ‘Purple Flag’
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Mengenal Apa Itu Mioma Uteri: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Jakarta

Mendengar kata tumor bisa membuat sebagian orang khawatir dan ketakutan. Apa sih sebenarnya tumor itu? Tumor adalah benjolan irregular yang tumbuh pada bagian tubuh manapun, termasuk rahim (uterus). Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal dengan mioma uteri atau fibroid rahim.

Mioma uteri merupakan sebuah kondisi medis di mana, tumbuh tumor atau jaringan tidak regular pada bagian dalam maupun luar rahim. Apakah mioma uteri berbahaya? Mioma uteri termasuk dalam tumor yang bersifat jinak, tidak seperti kanker ganas.

Meskipun bersifat jinak, mioma uteri tetap perlu untuk diwaspadai, karena bisa menimbulkan komplikasi lainnya jika tidak segera ditangani. Nah, untuk tahu lebih lanjut mengenai mioma uteri, mulai dari penyebab, gejala, hingga pengobatannya, simak penjelasannya di bawah ini.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Mioma Uteri

Dikutip melalui buku berjudul Asuhan Keperawatan Gangguan Maternitas ditulis oleh Rina dan Arni (2018), mioma uteri adalah tumor jinak pada rahim yang berasal dari otot rahim. Mioma uteri tumbuh pada bagian dinding rahim dan memiliki bentuk menonjol ke permukaan rahim.

Jumlah dan ukuran dari mioma uteri bervariasi, terkadang bisa ditemukan lebih dari satu. Mioma uteri biasanya menyerang wanita yang memasuki usia produktif. Terutama pada wanita-wanita yang berusia sekitar 30-40 tahun.

Pada beberapa kasus, mioma uteri tidak menimbulkan gejala, khususnya bagi perempuan berusia 35 tahun. Oleh karena itu, sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, agar mioma uteri bisa terdeteksi lebih awal dan tidak menjadi semakin ganas.

Apabila mioma uteri berkembang menjadi ganas, maka bisa menyebabkan keguguran dan pengangkatan rahim. Mioma yang berubah menjadi ganas disebut sebagai leiomiosarkoma.

Jenis Mioma Uteri

Mioma uteri dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan letaknya. Berikut ini jenis mioma uteri dikutip melalui buku berjudul Organ Reproduksi Wanita ditulis oleh Ernawati, dkk (2023).

Mioma Uteri Subserosum

Mioma uteri subserosum adalah mioma yang lokasi tumornya terletak pada subserosa korpus uteri. Biasanya, mioma jenis ini dapat berbentuk tonjolan yang dihubungkan melalui tangkai dengan uterus. Mioma yang ukurannya cukup besar akan mengisi rongga peritoneum. Mioma jenis ini sering dikenal dengan mioma parasitik.

Mioma Uteri Intramural

Mioma uteri intramural disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Apabila mioma ini masih berukuran kecil, maka tidak akan merubah bentuk dari uterus. Namun, apabila ukurannya sudah membesar, maka uterus menjadi menonjol dan bertambah besar bentuknya.

Mioma Uteri Submukosum

Mioma uteri submukosum adalah mioma yang berada pada bagian bawah lapisan mukosa uterus, dan tumbuh mengarah ke kavum uteri. Hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan bentuk dan besar pada kavum uteri.

Apabila tumor ini tumbuh bertangkai, maka tumor bisa keluar dan masuk ke dalam vagina, hal ini disebut mioma geburt. Mioma uteri submukosum meskipun ukurannya kecil, namun seringkali menimbulkan keluhan pendarahan di vagina.

Penyebab Mioma Uteri

Penyebab mioma belum diketahui secara pasti. Pasalnya, mioma jarang sekali ditemukan sebelum pubertas. Dikutip melalui laman Mayo Clinic, meskipun belum diketahui penyebab pastinya mioma uteri, tetapi ada beberapa kondisi yang menjadi faktor munculnya mioma uteri, yaitu:

  • Perubahan genetik
  • Keturunan
  • Gangguan hormon
  • Kehamilan
  • Kebiasaan merokok
  • Kekurangan vitamin D.

Gejala Mioma Uteri

Gejala mioma uteri tergantung pada ukuran, lokasi, dan jumlah tumor yang ada. Berikut ini gejala mioma uteri dikutip melalui laman Healthline:

  • Terjadi pendarahan berat selama menstruasi
  • Adanya gumpalan pada menstruasi
  • Menstruasi berlangsung lebih lama daripada biasanya
  • Mengalami nyeri dan kram pada perut saat menstruasi
  • Nyeri pada bagian panggul atau punggung bawah
  • Perut terasa tertekan atau penuh
  • Terjadi pembengkakan dan pembesaran perut
  • Frekuensi buang air kecil meningkat
  • Terasa sakit saat sedang berhubungan intim.

Pengobatan Mioma Uteri

Sebelum dokter menyarankan sebuah pengobatan, biasanya akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu meliputi tes laboratorium, tes kehamilan, ultrasonografi, dan pielogram intravena.

Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter akan melakukan beberapa pilihan pengobatan mioma uteri. Berikut ini pengobatannya dikutip melalui jurnal berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien Submit Operasi Mioma Uteri dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut ditulis oleh Rahayu dan Dian (2020).

1. Pengobatan Konservatif

Dalam beberapa dekade terakhir, belum ada usaha untuk mengobati mioma uteri dengan Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) agonis. Pengobatan ini dilakukan selama 16 minggu pada mioma uteri, sampai menghasilkan degenerasi hialin di miometrium sehingga uterus menjadi kecil.

2. Pengobatan Operatif

Pengobatan operatif dilakukan apabila mioma uteri menimbulkan gejala yang tidak bisa ditangani. Tindakan operatif yang dilakukan yakni:

a. Miomektomi

Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa perlu melakukan pengangkatan uterus. Miomektomi biasanya dilakukan pada wanita yang tetap ingin mempertahankan fungsi dari sistem reproduksinya. Tindakan ini bisa dilakukan pada mioma submukosum dengan menggunakan cara ekstirpasi lewat vagina.

b. Histerektomi

Histerektomi adalah pengobatan yang dilakukan dengan pengangkatan uterus. Histerektomi bisa dilaksanankan pada perabdomen atau pervaginum. Tindakan ini baik dilakukan bagi wanita berusia 40 tahun dan sudah tidak menghendaki adanya keturunan.

Demikian penjelasan mengenai mioma uteri. Semoga bermanfaat!

Simak Video “Kemenkes Minta Edukasi Kesehatan Reproduksi Dimulai Sejak SMP
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)

Mengenal Herpes Labialis: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Jakarta

Herpes labialis adalah salah satu dari infeksi virus yang cukup umum terjadi. Begitu virus herpes menginfeksi tubuh, maka virus penyebabnya akan bertahan cukup lama dan dapat kambuh sewaktu-waktu.

Kira-kira apa ya herpes labialis itu? Lalu apa saja penyebab dan gejala dari herpes labialis? Apakah herpes labialis bisa diobati? Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya menyimak penjelasan berhasil detikHealth rangkum di bawah ini.

Apa itu Herpes Labialis?

Dikutip melalui jurnal berjudul Penanganan Herpes Simpleks Labialis Rekuren (2014), herpes labialis atau yang dikenal dengan herpes simpleks 1 (herpes oral) adalah infeksi umum yang dapat menyebabkan lepuhan atau bisul pada bagian tubuh tertentu. Herpes labialis tersebar melalui kontak dari kulit ke kulit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara umum, herpes merupakan infeksi virus yang menyebabkan terjadinya bisulan atau lepuhan berwarna kemerahan berisikan cairan pada bagian kulit tertentu. Bentuk umum dari herpes labialis adalah gingivostomatitis primer atau infeksi berulang HSL.

Infeksi ini umumnya terjadi pada anak-anak prasekolah atau TK, remaja, dan dewasa muda. Herpes labialis dapat diobati, namun tidak dapat disembuhkan. Ada dua jenis herpes simpleks:

1. Tipe 1 (VHS-1)

Menyebar melalui kontak mulut dan dapat menyebabkan adanya infeksi pada bagian dalam atau sekitar mulut. Virus ini juga dapat menyebabkan adanya herpes genital. Sebagian besar yang terinfeksi herpes simpleks tipe 1 adalah orang dewasa.

2. Tipe 2 (VHS-2)

Menyebar melalui kontak seksual dan dapat menyebabkan terjadinya herpes genital.

Penyebab Herpes Labialis

Dikutip melalui laman WebMD, penyebab dari herpes labialis adalah virus herpes simpleks 1 (VHS-1) dan simpleks 2 (VHS-2) yang penularannya melalui kontak langsung dengan penderita. Kontak langsung yang dapat menularkan virus seperti menggunakan peralatan makan atau handuk yang sama dengan penderita.

Tipe 1 dapat menyebabkan lepuhan atau bisul, sedangkan tipe 2 dapat menyebabkan herpes genital. Beberapa hal yang dapat menjadi pemicu dari munculnya herpes labialis:

  • Terjadinya infeksi akibat penyakit lain
  • Mengalami stres
  • Mengalami demam
  • Mengalami pilek
  • Memiliki alergi
  • Adanya luka terbuka pada space sekitar mulut
  • Terkena paparan sinar ultraviolet secara berlebihan
  • Efek samping dari pasca operasi.

Gejala Herpes Labialis

Sebagian besar penderita dari herpes labialis tidak langsung mengalami gejala yang menunjukkan sedang menderita herpes labialis. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami infeksi dan dapat menularkannya kepada orang lain.

Tanda-tanda munculnya herpes labialis yaitu adanya lepuhan atau bisul yang terasa sakit atau perih. Berikut ini gejala awalnya:

  • Terjadinya pembengkakan pada kelenjar getah benih
  • Sakit kepala dan sakit tenggorokan
  • Mengalami demam
  • Munculnya luka melepuh pada space sekitar mulut dan bibir
  • Space sekitar mulut mengalami kesemutan
  • Bibir membengkak
  • Space sekitar mulut terasa gatal
  • Seluruh anggota tubuh terasa tidak nyaman.

Selain gejala-gejala awal di atas, akan muncul gejala lanjutan berupa:

  • Space sekitar mulut terasa panas dan nyeri
  • Luka melepuh pada bagian bibir atau bawah hidung
  • Ruam atau bisul yang ada pada bagian kulit mengeluarkan cairan
  • Luka mengering dan sembuh dengan sendirinya setelah hampir 4 sampai dengan 6 hari.

Pengobatan Herpes Labialis

Dikutip melalui laman resmi World Well being Group (WHO), herpes labilis dapat diobati dengan memberikan obat anti virus seperti asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir. Selain itu, diberikan juga obat yang dapat mengatasi rasa sakit seperti parasetamol, naproxen, atau ibuprofen.

Ada juga obat-obatan yang bisa dioleskan langsung pada space yang terkena herpes labialis yaitu benzokain dan lidokain, tapi tidak dianjurkan untuk menggunakan obat oles. Obat-obatan tersebut dapat digunakan untuk mengobati herpes tipe 1 dan dapat membantu mengurangi gejala, namun tidak bisa menyembuhkan infeksi.

Dokter akan mempertimbangkan beberapa faktor sebelum menentukan cara pengobatan yang akan dilakukan untuk mengobati herpes labialis.

  1. Mempertimbangkan usia pasien
  2. Mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien
  3. Mengetahui terlebih dahulu riwayat kesehatan dan riwayat obat
  4. Mengetahui apakah ada toleransi dari tubuh pasien terhadap pengobatan tertentu.

Virus herpes simpleks hidup dalam sel saraf dan bergantian antara aktif dan tidak aktif. Beberapa hal yang dapat memicu virus herpes untuk menjadi aktif antara lain:

  1. Kondisi kesehatan atau demam
  2. Paparan sinar matahari langsung
  3. Periode menstruasi
  4. Cedera
  5. Stres secara emosional
  6. Pasca operasi.

Bagi seseorang yang menderita herpes oral, ada baiknya menghindari paparan sinar matahari secara langsung dengan menggunakan tabir surya. Untuk mengurangi gejala dari herpes oral, penderita dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Meminum minuman dingin atau mengisap es krim
  • Menggunakan obat pereda nyeri.

Sedangkan, untuk penderita herpes genital, penderita dapat mengurangi gejalanya dengan cara:

  • Duduk dalam bak mandi yang berisi air hangat selama kurang lebih 20 menit, tanpa menambahkan sabun
  • Menggunakan pakaian yang longgar
  • Menggunakan obat pereda nyeri.

Demikian yang dapat detikHealth sampaikan mengenai herpes labialis. Semoga bermanfaat!

Simak Video “Penjelasan Kemenkes soal Kabar Vaksin HPV Bikin Mandul
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)

Mengenal Tes HBsAg untuk Deteksi Penyakit Hepatitis B

Jakarta

HBsAg adalah kepanjangan dari Hepatitis B Floor Antigen (antigen permukaan hepatitis B). Ini merupakan protein yang muncul dalam darah ketika seseorang terinfeksi hepatitis B.

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena penyakit hepatitis B atau tidak, maka tes HBsAg dapat dilakukan. Namun, apa itu tes HBsAg? Simak informasinya pada uraian berikut.

Apa Itu Tes HBsAg?

Dilansir situs Verywell Well being, tes HBsAg adalah tes darah yang mendeteksi antigen permukaan hepatitis B. Kadar HBsAg yang tinggi biasanya bisa mengindikasi aktif atau tidaknya infeksi hepatitis B virus (HBV) dalam tubuh.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

HBsAg adalah lapisan luar dari sel HBV. Bagian tengah sel mengandung DNA virus, sementara di sekelilingnya terdapat protein yang disebut hepatitis B core antigen (HBcAg).

HBsAg mengelilingi HBcAg dan menjadi komponen terselubung yang melindungi virus dari serangan sistem imun alami tubuh. Tapi, sistem kekebalan tubuh bekerja sampai menembus komponen ini untuk membunuh virus.

Di saat sistem imun berhasil merusak virus, maka akan ada sisa-sisa HBsAg yang tertinggal dalam puing-puing seperti darah. Dan inilah yang bisa terdeteksi oleh tes laboratorium.

Adapun hepatitis B adalah infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B virus. Virus dapat menyebar saat kamu bersentuhan dengan darah, luka, maupun cairan tubuh seseorang yang mengidap hepatitis B.

Pada sebagian orang, hepatitis B dapat bersifat ringan dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Kasus hepatitis B jangka pendek (akut) mampu menjadi kronis dan dapat menyebabkan gagal hati, kanker, dan kondisi yang mengancam nyawa.

Hepatitis B merupakan penyakit yang serius. Namun, pengidap hepatitis B akut tidak selalu mengalami gejala. Jika mengalami gejala, mungkin seperti penyakit kuning, kotoran berwarna terang, demam, kelelahan dalam waktu lama, nyeri perut hingga sendi.

Gejala pada infeksi kronisnya juga tidak selalu muncul. Kalau muncul, gejalanya kemungkinan akan sama dengan gejala kasus akut. Dan gejala juga tidak timbul pada 1-6 bulan setelah tertular HBV, sehingga kamu mungkin tidak merasakan apa-apa bila terkena penyakit ini.

Menurut laman WebMD, sekitar sepertiga dari orang yang mengidap hepatitis B tidak merasakan bahwa diri mereka terkena penyakit ini. Mereka baru mengetahui terjangkit hepatitis B melalui tes HBsAg ini.

Siapa yang Harus Melakukan Tes HBsAg?

Setiap orang bisa melakukan tes HBsAg secara berkala atau minimal sekali dalam seumur hidup. Tapi, kamu dapat mengikuti tes ini jika mengalami gejala dari hepatitis B yang meliputi:

Penyakit kuning, seperti kulit, bagian putih mata, serta air kencing berubah menjadi kuning, cokelat, atau oranye

  • Kotoran berwarna pucat
  • Demam
  • Kelelahan yang berlangsung dalam waktu lama
  • Gangguan perut seperti kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah
  • Nyeri perut dan sendi.

Selain itu, pemeriksaan HBsAg bisa dilakukan secara rutin selama masa kehamilan, sebelum mendonorkan darah atau organ, sebelum memulai terapi imunosupresif, hingga pada individu yang berisiko lebih tinggi terkena HBV.

Dengan melakukan tes ini, seseorang akan teridentifikasi apakah terkena hepatitis B akut atau kronis. Sehingga mereka juga dapat memperoleh vaksinasi hepatitis B setelahnya.

Penjelasan tentang Hasil Tes HBsAg

Setelah melakukan tes HBsAg maka kamu akan mendapatkan hasil positif atau negatif. Berikut penjelasan hasilnya:

1. Hasil HBsAg Positif

Jika hasil tes menunjukkan positif maka kamu kemungkinan terinfeksi hepatitis B. Tak hanya itu, kamu bisa tahu apakah terkena hepatitis B akut atau kronis. Hasil tes HBsAg yang positif dapat pula menandakan bahwa kamu bisa menularkan virus ke orang lain.

Tapi, vaksin hepatitis B disebutkan juga bisa menyebabkan hasil tes HBsAg positif, lho. Maka itu, jika kamu baru mendapat dosis vaksin hepatitis B maka bisa saja dokter menyarankan untuk menunggu sebulan lagi untuk melakukan tes HBsAg ulang.

2. Hasil HBsAg Negatif

Jika hasil tes HBsAg menyatakan negatif maka artinya antigen permukaan virus hepatitis tidak ditemukan pada sampel darah kamu. Itu menunjukkan pula kalau kamu tidak terinfeksi penyakit hepatitis B.

Tes Lain untuk Analysis Hepatitis B

Selain tes HBsAg, ada juga beberapa tes lain yang dilakukan bersama untuk mengidentifikasi apakah ada infeksi HBV dalam tubuh atau tidak. Berikut beberapa tes lain untuk prognosis hepatitis B:

1. Tes Anti-HBs

Tes anti-HBs atau Hepatitis B Floor Antibody (antibodi permukaan hepatitis B) adalah tes yang menunjukkan kekebalan dari infeksi HBV, baik karena pemulihan setelah infeksi atau dari vaksinasi.

2. Tes Anti-HBc

Tes anti-HBc atau Whole Antibody to Hepatitis B core Antigen (antibodi whole terhadap antigen inti hepatitis B) adalah tes yang mengukur antibodi dan menunjukkan apakah kamu pernah memiliki infeksi HBV aktif. Anti-HBc muncul pada awal infeksi HBV dan mampu bertahan seumur hidup.

3. Tes IgM Anti-HBc

Tes IgM Antibody to Hepatitis B core Antigen (antibodi IgM terhadap antigen inti hepatitis B) adalah tes yang menunjukkan apakah infeksi HBV akut telah terjadi dalam kurun waktu 6 bulan terakhir atau tidak.

Itu tadi penjelasan mengenai tes HBsAg untuk mendeteksi penyakit hepatitis B. Jadi, apakah kamu sudah melakukan tes satu ini dan tes-tes hepatitis B lainnya, detikers?

Simak Video “ Upaya Kemenkes Atasi Penularan Hepatitis B dari Ibu ke Anak
[Gambas:Video 20detik]
(inf/inf)

Mengenal Bedah Toraks dan Kardiovaskular bersama dr. Wirya A Graha, Sp. BTKV. Subsp. JD (Okay)


Mengenal Bedah Toraks dan Kardiovaskular bersama

dr. Wirya A Graha, Sp. BTKV. Subsp. JD (Okay)


Buat Janji dokter

    dr. Wirya Ayu Graha, Sp. BTKV. Subsp. JD (Okay) merupakan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dan Konsultan Bedah Jantung Dewasa di Bethsaida Hospital. Beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan menyelesaikan Subspesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular di universitas yang sama.


 

    dr. Wirya adalah dokter spesialis yang secara khusus memiliki keahlian di bidang pembedahan Toraks, Kardiak dan Vaskular. Toraks adalah nama lain dari rongga dada, kardiak memiliki arti jantung sedangkan vaskular sendiri adalah pembuluh darah. Singkatnya, spesialis BTKV menangani pembedahan daerah dinding dada dan organ-organ dalam rongga dada seperti jantung, paru, tenggorok, serta pembuluh darah di tubuh. Dalam praktiknya, spesialis BTKV bekerja sama dengan dokter spesialis jantung, spesialis paru, penyakit dalam, anestesi/pembiusan, dan dengan spesialis lainnya.

 

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dan Konsultan Bedah Jantung Dewasa mempunyai keahlian dalam mengatasi berbagai kondisi seperti:

  1. Melakukan pembedahan Bypass Coroner atau CABG (Coronary Artery Bypass Graft) pada kelainan jantung koroner
  2. Melakukan pembedahan pada katup jantung seperti Mitral valve surgical procedure, Aortic Valve Surgical procedure dan katup jantung lain
  3. Tindakan emergency pada jantung seperti Tamponade jantung
  4. Kelainan jantung bawaan seperti Atrial Septal Defect, Ventricle Septal Defect, dan Tetralogy of Fallot
  5. Kanker yang terjadi pada space rongga dada, termasuk kanker Esofagus, tumor Mediastinum dan kanker paru
  6. Gangguan paru berat akibat TBC paru yang memerlukan tindakan pembedahan seperti batuk darah massif, Fungus Ball, Lung Collapse atau Destroyed Lung
  7. Emfisema atau udara bawah kulit yang berat
  8. Hernia diafragma atau adanya organ perut yang naik ke rongga dada baik akibat kelaianan bawaan atau trauma
  9. Akses vaskular untuk kepentingan cuci darah (hemodialisa) seperti Double Lumen Catheter, Tunnel Double Lumen, AV Shunt/fistula dan AV Graft
  10. Tindakan Endovascular untuk memperbaiki aliran darah pada kaki diabetes atau sumbatan pada pembuluh darah lain
  11. Tindakan minimal invasive untuk tatalaksana Varises
  12. EVAR (EndoVascular Aortic Restore) dan TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Restore)



 

   Selain bedah toraks dan kardiovaskular, dr. Wirya juga memiliki keahlian dalam pembedahan jantung dewasa. Tindakan-tindakan yang biasa dilakukan untuk pembedahan jantung pada dewasa adalah Coronary Arterial Bypass Graft (CABG) baik di usia muda atau usia lanjut, kelainan katup jantung yang berat yang membutuhkan pembedahan seperti Katup Mitral, Aorta, Tricuspid atau Pulmonal, Angioplasti, Kardiomioplasti, Transplantasi dan operasi invasif minimal. 

 

 

   Dalam menentukan masalah kesehatan atau analysis penyakit pasien, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi riwayat penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang. Setelah analysis dipastikan, dokter akan menentukan metode penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien. Tujuannya adalah untuk mengembalikan fungsi organ dada, termasuk jantung dan paru-paru, agar dapat kembali berfungsi dengan baik. Dengan penanganan yang tepat, risiko terjadinya komplikasi pun akan berkurang.

 

Assessment : dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV. Subsp. JD(Okay)


Mengenal Bedah Toraks dan Kardiovaskular


Mengenal Bedah Toraks dan Kardiovaskular bersama

dr. Wirya A Graha, Sp. BTKV. Subsp. JD (Ok)


Buat Janji Dokter
dr. Wirya Ayu Graha, Sp. BTKV. Subsp. JD (Ok) merupakan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dan Konsultan Bedah Jantung Dewasa di Bethsaida Hospital. Beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan menyelesaikan Subspesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular di universitas yang sama. dr. Wirya adalah dokter spesialis yang secara khusus memiliki keahlian di bidang pembedahan Toraks, Kardiak dan Vaskular. Toraks adalah nama lain dari rongga dada, kardiak memiliki arti jantung sedangkan vaskular sendiri adalah pembuluh darah. Singkatnya, spesialis BTKV menangani pembedahan daerah dinding dada dan organ-organ dalam rongga dada seperti jantung, paru, tenggorok, serta pembuluh darah di tubuh. Dalam praktiknya, spesialis BTKV bekerja sama dengan dokter spesialis jantung, spesialis paru, penyakit dalam, anestesi/pembiusan, dan dengan spesialis lainnya. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dan Konsultan Bedah Jantung Dewasa mempunyai keahlian dalam mengatasi berbagai kondisi seperti:
  1. Melakukan pembedahan Bypass Coroner atau CABG (Coronary Artery Bypass Graft) pada kelainan jantung koroner
  2. Melakukan pembedahan pada katup jantung seperti Mitral valve surgical procedure, Aortic Valve Surgical procedure dan katup jantung lain
  3. Tindakan emergency pada jantung seperti Tamponade jantung
  4. Kelainan jantung bawaan seperti Atrial Septal Defect, Ventricle Septal Defect, dan Tetralogy of Fallot
  5. Kanker yang terjadi pada space rongga dada, termasuk kanker Esofagus, tumor Mediastinum dan kanker paru
  6. Gangguan paru berat akibat TBC paru yang memerlukan tindakan pembedahan seperti batuk darah massif, Fungus Ball, Lung Collapse atau Destroyed Lung
  7. Emfisema atau udara bawah kulit yang berat
  8. Hernia diafragma atau adanya organ perut yang naik ke rongga dada baik akibat kelaianan bawaan atau trauma
  9. Akses vaskular untuk kepentingan cuci darah (hemodialisa) seperti Double Lumen Catheter, Tunnel Double Lumen, AV Shunt/fistula dan AV Graft
  10. Tindakan Endovascular untuk memperbaiki aliran darah pada kaki diabetes atau sumbatan pada pembuluh darah lain
  11. Tindakan minimal invasive untuk tatalaksana Varises
  12. EVAR (EndoVascular Aortic Restore) dan TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Restore)

Selain bedah toraks dan kardiovaskular, dr. Wirya juga memiliki keahlian dalam pembedahan jantung dewasa. Tindakan-tindakan yang biasa dilakukan untuk pembedahan jantung pada dewasa adalah Coronary Arterial Bypass Graft (CABG) baik di usia muda atau usia lanjut, kelainan katup jantung yang berat yang membutuhkan pembedahan seperti Katup Mitral, Aorta, Tricuspid atau Pulmonal, Angioplasti, Kardiomioplasti, Transplantasi dan operasi invasif minimal. Dalam menentukan masalah kesehatan atau prognosis penyakit pasien, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi riwayat penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang. Setelah prognosis dipastikan, dokter akan menentukan metode penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien. Tujuannya adalah untuk mengembalikan fungsi organ dada, termasuk jantung dan paru-paru, agar dapat kembali berfungsi dengan baik. Dengan penanganan yang tepat, risiko terjadinya komplikasi pun akan berkurang. Assessment : dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV. Subsp. JD(Ok)

Mengenal Diastasis Recti yang Dialami Fairuz Arafiq Pasca Hamil 4 Kali


Jakarta

Belakangan ini aktris Fairuz A. Rafiq mengunggah foto kolase yang menunjukkan dirinya saat anak ketiganya berusia 6 bulan dan dirinya di bulan agustus ini. Dari foto tersebut dapat terlihat perbedaan yang cukup signifikan.

Dia mengaku mengalami kenaikan berat badan setelah melahirkan bahkan semakin membesar saat menyusui. Tak hanya itu, Fairuz juga memiliki masalah diastasis recti dan doming setelah 4 kali hamil dan 3 kali melahirkan secara caesar.

“Aku tipe setiap abis lahiran badannya langsung membesar makin besar lagi pas nyusuin, yang pernah nyusuin pasti tahu rasanya laperrrr bgt kalau abis nyusuin anak. Belum lagi masalah perutku diastasis recti dan doming biasa terjadi after lahiran,” curhat Fairuz dalam unggahan di Instagram @fairuzarafiq (25/8/2023).

Fairuz pun memberikan semangat kepada para ibu yang berjuang menghadapi diastasis recti dan doming. Menurutnya, masalah ini perlu perjuangan panjang yang harus dinikmati dan disyukuri saja. Lalu, bagi para ibu yang mengalaminya pasti bisa kembali seperti semula selama berusaha dan yakin pada diri sendiri.

Sebenarnya, apa itu diastasis recti?

Setelah melahirkan umumnya perut akan kembali mengecil dalam waktu 6-8 minggu. Namun, tak sedikit yang kondisi perutnya tak kunjung mengecil meski telah melahirkan beberapa minggu.

Inilah yang disebut dengan diastasis recti. Dikutip dari Mother and father, diastasis recti merupakan sebuah kondisi saat sisi kanan dan sisi kiri otot perut mengalami pemisahan. Akibatnya, kondisi perut akan terlihat membuncit.

Kondisi ini disebabkan karena otot di sekitar perut menjadi lebih tipis dan melebar karena pertumbuhan bayi saat di dalam kandungan. Umumnya otot yang terpisah akan kembali regular beberapa saat tetapi dalam beberapa kasus diperlukan penanganan yang lebih ekstra.

LANJUTKAN MEMBACA DI SINI

Simak Video “Kenapa Hidung Saya Membesar saat Hamil?
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Mengenal Ragam Jenis Polutan dan Efeknya bagi Kesehatan

Jakarta

Belakangan polusi udara di wilayah Jakarta menjadi perhatian publik. Polutan merupakan zat yang menyebabkan polusi udara. Polutan terbagi menjadi dua yakni polutan primer dan polutan sekunder. Berikut merupakan penjelasan singkat perbedaan antara keduanya.

Polutan primer merupakan polutan yang dilepaskan langsung ke atmosfer dan berada di sekeliling kita seperti asap pabrik, asap kendaraan, pembakaran sampah dan lain sebagainya. Sedangkan polutan yang terbentuk di udara yang diakibatkan adanya reaksi kimia dengan polutan lain disebut sebagai polutan sekunder.

Polutan dengan bukti terkuat yang dapat menyebabkan permasalahan kesehatan masyarakat yakni Particulate Matter (PM), Karbon Monoksida (CO), Ozon (O3), Nitrogen Dioksida (NO2), serta Sulfur Dioksida (SO2).

Mengatasi permasalahan polusi udara merupakan kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat. Sebagian besar sumber polusi udara ada di luar kendali individu, sehingga hal ini menuntut tindakan bersama oleh pembuat kebijakan baik di tingkat daerah maupun nasional di berbagai sektor.

Terdapat beberapa contoh kebijakan sukses dalam mengurangi polusi udara, dikutip dari World Well being Group (WHO).

1. Industri

Kebijakan yang dapat dilakukan yakni, teknologi bersih yang mengurangi emisi cerobong asap industri, pengelolaan limbah perkotaan dan pertanian termasuk penangkapan gasoline metana yang dikeluarkan dari lokasi limbah sebagai alternatif pembakaran seperti biogas.

2. Transportasi

Beralih ke mode pembangkit listrik yang bersih, berjalan kaki dan bersepeda di perkotaan, serta memanfaatkan bahan bakar rendah emisi dapat menjadi pilihan untuk mengurangi polutan.

3. Pengelolaan limbah kota dan pertanian

Strategi pengurangan dan pemisahan limbah dan pembakaran limbah padat dengan kontrol emisi yang ketat sangat penting dilakukan.

4. Kegiatan perawatan kesehatan

Penempatan layanan kesehatan di jalur pembangunan rendah karbon dapat mendukung pemberian layanan yang lebih tangguh dan hemat biaya.

Simak Video “Ini 3 Biang Kerok Polusi di Jakarta
[Gambas:Video 20detik]
(Nala Adrianingsih/naf)

Mengenal Nervousness, Diidap Panji Petualang gegara Takut Kematian

Jakarta

Panji Petualang saat ini tengah berjuang melawan diabetes yang membuat tubuhnya semakin kurus. Namun selain diabetes, ia juga mengalami nervousness dysfunction atau gangguan kecemasan berlebihan.

Pria dengan nama lengkap Muhammad Panji ini pun harus berkonsultasi dengan psikiater untuk mengatasi kecemasannya lantaran takut akan kematian.

“Itu yang buat aku ngedrop banget. Jadi kemarin ke psikiater juga karena aku punya nervousness juga, kecemasan yang berlebihan. Kata dokter ada faktor kurus bukan dari diabet, tapi pikiran,” kata Panji Petualang ditemui di Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Meski dihantui dengan hal-hal negatif, ia saat ini memilih pasrah pada Tuhan dalam menjalani hidup di tengah penyakit yang didapnya. Panji juga sering melawan rasa takutnya terhadap kematian. Dia berusaha mengubah pola pikir ke arah yang lebih positif untuk mencegah datangnya kecemasan tersebut.

“Misalkan kalau makan nasi diabet gue naik nih, wah mati gue cepat. Jadi mikirnya makan nasi mati, nggak makan nasi mati, sudah ah sama aja. Kayak ngerokok mati nggak ngerokok mati,” imbuhnya.

Tentang Nervousness Dysfunction

Nervousness Dysfunction atau gangguan kecemasan adalah kondisi yang membuat seseorang merespons hal-hal dan situasi tertentu dengan kecemasan dan ketakutan. Ini juga mungkin memunculkan gejala fisik seperti jantung berdebar dan berkeringat.

Dikutip dari Cleveland Clinic, kondisi ini bisa muncul saat seseorang merasa cemas atau gugup jika harus mengatasi masalah di tempat kerja, mengikuti tes, atau membuat keputusan penting.

Namun, gangguan kecemasan ini bisa lebih parah dari kegugupan biasa dan sedikit ketakutan yang mungkin dirasakan dari waktu ke waktu. Gangguan kecemasan terjadi ketika:

  • Sering bereaksi berlebihan ketika ada sesuatu yang memicu emosi
  • Tidak dapat mengontrol respons terhadap situasi
  • Gangguan kecemasan dapat membuat sulit menjalani hari

Simak Video “Studi China: Banyak Makan Gorengan Bisa Terkait dengan Depresi
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Mengenal Sindrom Child Blues Pasca Melahirkan, Bisa Begini Dampaknya pada Ibu

Jakarta

Sebagian wanita mungkin pernah mengalami perubahan suasana hati setelah melahirkan. Kondisi ini kerap dikenal sebagai child blues syndrome (BBS) atau disebut postpartum misery syndrome.

Child blues adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami beberapa wanita usai melahirkan. Kondisi ini masih tergolong ringan dan biasanya berlangsung hingga 2 minggu.

Penyebab Child Blues

Dikutip dari American Being pregnant Affiliation, sejauh ini penyebab pasti dari child blues masih belum diketahui. Namun, kondisi ini diduga karena hormon yang terjadi selama kehamilan dan pasca kelahiran (post-natal).

Pasalnya, perubahan hormonal ini dapat menghasilkan perubahan kimia otak yang mengakibatkan depresi. Selain itu, child blues juga bisa jadi disebabkan karena gangguan tidur hingga gangguan rutinitas seorang ibu, sehingga memicu emosi.

Gejala Child Blues

Gejala child blues biasanya akan muncul dalam waktu empat sampai lima hari setelah kelahiran bayi. Adapun gejalanya, seperti:

  • Menangis atau menangis tanpa alasan yang jelas
  • Ketidaksabaran
  • Mudah marah
  • Merasa gelisah
  • Merasa cemas
  • Kelelahan
  • Insomnia (bahkan ketika bayi sedang tidur)
  • Selalu merasa sedih
  • Perubahan temper
  • Sulit berkonsentrasi

Gejala ini biasanya terjadi selama beberapa menit hingga beberapa jam setiap hari. Nantinya, gejala tersebut akan berkurang dan hilang dalam 14 hari setelah melahirkan.

Kondisi child blues ini bisa juga menjadi berbahaya jika terjadi lebih dari 2 minggu, yang disebut sebagai postpartum melancholy (PPD). Jika mengalami kondisi tersebut, sebaiknya segera mengunjungi dokter atau berkonsultasi dengan psikolog.

NEXT: Bisa Terjadi Pada Ayah