Tag: Pakar

Pakar Sayangkan Konten Edukasi Kinderflix Dapat Komentar Tak Senonoh dari Netizen


Jakarta

Belakangan viral soal konten edukasi anak di kanal YouTube Kinderflix yang dipenuhi komentar tak senonoh dari netizen, yang diarahkan kepada hostnya. Host konten edukasi tersebut yakni Nisa atau Kak Nisa mengalami catcalling dari netizen.

Menanggapi itu, Nisa mengaku sangat menyayangkan catcalling yang dari netizen. Ia juga merasa ‘down’ dan memilih untuk tidak menanggapi komentar negatif tersebut.

“Kalau aku pasti sedih merasa down. Cuma aku nggak mau berlarut dalam kesedihan dan aku juga mikir ngapain juga harus sedih,” kata Nisa ditemui di Studio FYP Trans 7 di Kawasan Mampang, Jakarta Selatan pada Selasa (7/11/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Nggak (balas komentar netizen) sih fokus ke produksi bagaimana perkembangan produk kita. Kalau ranah pribadi kita tidak,” jelasnya.

Berkaca dari kasus tersebut, komentar dari netizen yang merujuk pada seksualisasi pada perempuan tergolong sebagai pelecehan seksual berbasis gender di media on-line.

Pakar terkait kekerasan berbasis gender on-line (KBGO) sekaligus pengamat dan peneliti media digital, Ellen Kusuma, mengatakan situasi objektifikasi seksual seperti kasus Kinderflix sebenarnya tak jarang terjadi. Ia sangat menyayangkan bagaimana objektifikasi seksual seperti ini masih terus terjadi, terutama di ruang publik.

“Jadi kalau kita ngomongin situasi Kinderflix memang sangat disayangkan karena terjadi di ruang publik. Ya mau di ruang apapun sebenarnya tidak diperkenankan terjadi sebuah objektifikasi, apalagi objektifikasi seksual,” jelas Ellen pada detikcom saat ditemui di acara Rutgers Indonesia, Selasa (14/11).

“Karena itu tidak melihat manusia sebagai manusia, tapi sebagai objek, terutama pada perempuan sebagai objek seksual,” lanjutnya.

Kekerasan berbasis gender on-line atau KBGO dipahami sebagai aksi kekerasan yang memiliki niatan atau maksud melecehkan korban. Hal ini dilakukan berdasarkan gender menggunakan teknologi.

Melihat ini, Ellen merasa ada yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus serupa di kemudian hari. Misalnya, dengan melaporkan fenomena objektifikasi seksual yang berlangsung platform media sosial.

Menurutnya, perlu diketahui lebih lanjut apakah platform media sosial sudah punya penanganan atau kategori pelaporan. Terutama terkait konten seputar objektifikasi seksual.

“Dan kalau misalnya dilaporkan, apakah bentuknya bisa di-take down, atau akunnya bisa dari pelaku atau akun pelakunya bisakah diturunkan atau dihapus sama sekali. Nah itu yang mungkin bisa dicari tahu dan didorong ke platform media sosial,” tutur Ellen.

“Sehingga hal-hal seperti objektifikasi seksual itu tidak menjadi hal yang bisa dilakukan dengan seenaknya oleh siapapun,” pungkasnya.

Simak Video “Konten Kinderflix Dapat Komentar Pelecehan dari Orang Dewasa, Ini Kata Psikolog
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

Remaja Darurat Kesehatan Psychological, Pakar Sarankan Ada Skrining di Sekolah


Jakarta

Kesehatan psychological merupakan sebuah permasalahan yang cukup mengkhawatirkan. Tak hanya pada orang dewasa, anak-anak usia remaja juga rentan mengalami masalah kesehatan psychological.

Tim peneliti Studi World pada Remaja Awal atau World Early Adolescent Examine (GEAS) Prof dr Siswanto Agus Wilopo, SU, MSc, mengatakan pendidikan kesehatan psychological pada remaja masih sangat rendah. Hal ini membuat kasus kesehatan psychological pada remaja cukup tinggi.

“Bagaimana cara mengatasi kasus kesehatan psychological, itu harus diskrining, seperti mana anak yang berisiko tinggi,” beber Prof Siswanto saat ditemui di acara Rutgers Indonesia di Bogor, Senin (13/11/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Karena hampir 40 persen itu anak-anak remaja dengan gejala-gejala depresi. Jadi depresi sama anxiousness yang paling banyak,” lanjutnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Prof Siswanto mengatakan perlu ada kolaborasi. Misalnya, untuk skrining awal bisa dilakukan oleh guru bimbingan konseling (BK).

Pada tahap ini, guru BK bisa melihat anak-anak yang memang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan psychological. Sementara untuk pencegahannya, itu harus dilakukan oleh ahlinya yaitu psikolog.

“Untuk pencegahannya itu harus ke psikolog. Oleh karena itu, perlu dirujuk ke puskesmas yang memang memiliki psikolog. Karena guru BK saja nggak bisa untuk mencegah anak-anak itu dari masalah kesehatan psychological. Tapi, masalahnya puskesmas itu sudah punya psikolog atau belum,” jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Sebagai contoh, Prof Siswanto mengungkapkan cara itu yang sudah dilakukan di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Ia mengatakan wilayah tersebut sudah memulai skrining kesehatan psychological di lingkungan sekolah.

Jika ditemukan anak yang dianggap berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan psychological, akan diarahkan untuk melakukan konsultasi ke puskesmas oleh guru BK. Di Yogyakarta sendiri, lanjut Prof Siswanto, semua puskesmas sudah mempunyai psikolog.

“DIY itu punya psikolog, nah mannequin itu yang kita dorong. Di puskesmas harus ada psikolog, karena guru BK saja nggak bisa untuk mencegah (masalah kesehatan psychological),” pungkasnya.

Simak Video “Dampak Positif Merawat Kebersihan Diri pada Kesehatan Psychological Anak
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)

Pakar Seks Ungkap 4 Trik Bikin Wanita Capai Puncak Kenikmatan saat Bercinta


Jakarta

Hubungan intim yang berkualitas merupakan aspek penting dalam untuk kesejahteraan pasutri. Tidak hanya tentang reproduksi, seks juga merupakan hal yang sehat untuk menunjang kedekatan, komunikasi, dan kenikmatan antara kedua pasangan. Meskipun demikian, mencapai kenikmatan dalam hubungan seksual dapat menjadi tantangan tersendiri bagi wanita.

Namun, sebenarnya ada trik tertentu yang bisa dicoba untuk meningkatkan kenikmatan saat berhubungan intim. Dikutip dari Males’s Well being, urolog dan terapis seks Dr Rena Malik membeberkan temuan dari penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 4.000 wanita di Amerika Serikat tentang teknik seksual yang paling memuaskan. Berikut adalah teknik-tekniknya:

1. Angling


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknik angling dapat dilakukan dengan memutar atau menggoyangkan pinggul selama penetrasi sehingga memberikan variasi pada bagian Miss V yang tersentuh Mr P. Menurut penelitian tersebut, 88 persen wanita mengalami peningkatan kenikmatan seksual dengan melakukan cara ini.

2. Rocking

Dalam teknik ini, Mr P tetap berada di Miss V selama berhubungan seks, tidak seperti gerakan berirama yang biasa dilakukan dengan cara keluar-masuk, sehingga pangkal penis dapat menstimulasi klitoris selama penetrasi. Sebanyak 6 persen responden menikmati teknik ini.

3. Shallowing

Shallowing atau mendangkalkan ialah melakukan sentuhan penetrasi tepat di dalam Miss V. Teknik ini dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk meningkatkan kenikmatan saat berhubungan seks, dengan 84 persen partisipan menikmati pengalaman tersebut. 25 persen dari para wanita tersebut juga percaya bahwa melakukan shallowing membuat orgasme mereka lebih intens.

Dr Malik menjelaskan bahwa hal ini terjadi akibat bagian terluar dari Miss V adalah bagian yang paling sensitif terhadap rangsangan seksual.

4. Pairing

Dalam teknik pairing atau berpasangan, baik wanita atau pasangannya menjangkau ke bawah untuk merangsang klitoris saat penetrasi terjadi.

Simak Video “Kenali Manfaat Seks Rutin Bagi Kesehatan untuk Pasutri
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Pandemi Illness X Disebut Sudah ‘OTW’, Pakar Wanti-wanti Bisa Picu 50 Juta Kematian


Jakarta

Pakar vaksin di Inggris Dame Kate Bingham mewanti-wanti perihal risiko kedatangan pandemi baru ‘Illness X’. Disebut-sebut penyakit ini akan menimbulkan kasus kematian yang jauh lebih besar dibandingkan pandemi sebelumnya, seperti COVID. Bahkan disebut bisa mencapai 50 juta kematian orang di dunia.

Dame mengatakan, dunia selama ini sedikit ‘beruntung’ karena COVID-19 tak lebih mematikan dibanding Illness X. Penyakit ini diprediksi tujuh kali lebih mematikan dari COVID-19.

Adapun Illness X ini merupakan julukan pandemi yang diberi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sejumlah pakar berpendapat penyakit ini sedang ‘OTW’ atau dalam perjalanan. Juga, penyakit ini diprediksi akan berasal dari virus yang memang sudah ada sebelumnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Pandemi flu pada tahun 1918-1919 menewaskan sedikitnya 50 juta orang di seluruh dunia, dua kali lebih banyak dari jumlah korban tewas dalam Perang Dunia I,” ujar Dame Kate dikutip dari Each day Categorical, Sabtu (30/9/2023).

“Saat ini, kita memperkirakan jumlah kematian yang sama disebabkan oleh salah satu dari sekian banyak virus yang sudah ada. Saat ini, terdapat lebih banyak virus yang sibuk bereplikasi dan bermutasi dibandingkan gabungan semua bentuk kehidupan lain di planet kita,” imbuhnya.

Dame mengatakan, tak semua kemungkinan penyakit baru menimbulkan ancaman besar bagi manusia. Namun Dame menyerukan dunia tak boleh lengah. Sebab banyak juga penyakit yang menimbulkan ancaman bagi manusia.

Ia juga mengimbau agar para ilmuwan memantau 25 keluarga virus, yang masing-masing terdiri dari ribuan virus dan berpotensi berkembang menjadi pandemi yang membawa bencana besar. Jumlah keluarga virus ini belum termasuk virus yang dapat berpindah dari hewan lain ke manusia.

Simak Video “Serba-serbi Illness X, Penyakit yang Diwanti-wanti WHO
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Viral Minum Vitamin C 1000 Mg Biar Tak Ngantuk, Pakar Farmasi Bilang Gini


Jakarta

Belakangan ramai soal vitamin C 1000 mg disebut-sebut bisa membuat seseorang terhindar dari rasa kantuk seharian. Konon menjadi ‘dopamin’ di tengah aktivitas padat seharian.

Bjir aku ga nyangka kekuatan vit c 1000mg bakalan bikin aku melek dari pagi tanpa tidur tanpa capek, full gerak seharian tanpa nguap, i like u vit c, sungkeeeeem,” demikian cuitan viral di media sosial X, seperti yang dilihat detikcom Kamis (22/9/2023).

Pakar farmasi Prof Zullies Ikawati dari Universitas Gadjah Mada ikut berkomentar. Penggunaan vitamin C sebenarnya disebut Prof Zullies tidak untuk memberikan efek demikian.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlebih, vitamin C dengan dosis 1000 mg biasa diberikan saat kondisi tubuh sedang tidak match.

“Pada kondisi sakit, kekurangan asupan vitamin C dari makanan, defisiensi vitamin C, orang bisa membutuhkan lebih banyak vitamin C. Maka mengonsumsi dosis 500 mg dan 1000 mg,” tuturnya saat dihubungi detikcom Jumat (22/9).

“Tidak ada hubungannya vitamin C dengan efek melek atau tidak mengantuk,” katanya menegaskan.

Prof Zullies menyebut kemungkinan plasebo di balik munculnya anggapan kaitan mencegah rasa ngantuk dengan konsumsi vitamin C.

“Iya, bisa karena sugesti, karena vitamin C memang meningkatkan imun, jadi rasanya bugar,” sambungnya.

Adakah Batas Mengonsumsi Vitamin C dalam Sehari?

Secara umum, tubuh masih bisa mentoleransi asupan vitamin C saat mengonsumsi lebih dari batas regular. Terlebih, vitamin C disinggung Prof Zullies menjadi vitamin yang mudah larut dalam air. Jika berlebih, otomatis akan terbuang melalui urine.

“Tingkat asupan atas yang dapat ditoleransi atau jumlah maksimum yang dapat dikonsumsi dalam sehari yang kemungkinan besar tidak membahayakan adalah 2000 mg sehari untuk orang dewasa,” beber Prof Zullies.

Saksikan Dwell Detik Pagi:

Simak Video “Kemenkes Bantah soal Polusi Sengaja Dibuat untuk Munculkan Pandemi 2.0
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Mayat Alien di Meksiko Banjir Kritikan, Pakar Beberkan Bukti Anatomis

Jakarta

Dua artefak yang diklaim sebagai jasad ‘alien’ dipamerkan dalam sebuah acara resmi di Kongres Meksiko pada Selasa (12/9). Klaim tersebut menggemparkan dunia.

Kongres Meksiko mengadakan sidang tentang fenomena udara tak dikenal (UAP), sebuah istilah yang sekarang digunakan untuk menggambarkan UFO. UAP juga telah menjadi subyek dengar pendapat kongres di Amerika Serikat selama dua tahun terakhir

Selama presentasi acara tersebut, tim yang terdiri dari jurnalis Meksiko Jaime Maussan dan dokter medis militer José de Jesús Zalce Benítez menampilkan dua jenazah yang tingginya tidak lebih dari 3,3 kaki (1 meter), tampak kurus dengan kulit keabu-abuan, serta kepala besar. Dua jenazah itu diletakan di kotak seperti peti mati.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim tersebut menyatakan, tes DNA mengungkap sisa-sisa makhluk berjari tiga ini bukanlah manusia dan perutnya menyimpan telur yang dapat digunakan untuk reproduksi. Mereka juga menyebut jenazah ‘alien’ ini berasal dari Peru. Menurut penanggalan radiokarbon, kedua jenazah tersebut setidaknya berusia 1.000 tahun lalu.

Bentuk yang mirip dengan perawakan persis seperti penggambaran alien tersebut sebenarnya sempat menjadi berita utama pada tahun 2017 dan 2018. Pada saat itu, para ulama mengecam tubuh-tubuh tersebut karena merupakan bagian tubuh manusia yang dimanipulasi.

Maussan mengatakan, sejak saat itu, lebih banyak tes menunjukkan mayat tersebut bukan manusia. Maussan juga menekankan dirinya tidak mengatakan bahwa benda-benda tersebut adalah benda asing, hanya saja mereka bukan manusia.

“Kami tidak pernah mengatakan bahwa mereka adalah makhluk luar angkasa,” kata Maussan, seraya menambahkan mereka telah menemukan bukti adanya implan yang terbuat dari unsur osmium dan kadmium di dalam tubuh.

Kontroversi Carbon Relationship yang Tak Masuk Akal

Direktur penguatan penelitian di Metropolitan Autonomous College (UAD) di Mexico Metropolis, menyebut kongres yang dilakukan di Meksiko adalah omong kosong.

“Bahwa Kongres kita memberikan sebuah discussion board kepada orang yang memproklamirkan diri sebagai ahli UFO adalah cerminan dari suasana anti-ilmiah yang ada di negara kita saat ini,” ucapnya.

Ia mengatakan, ada pemberitaan di beberapa media yang menyebut tes terhadap jenazah dilakukan di UAD. Padahal faktanya, tidak ada tes DNA yang dilakukan di universitas tersebut, dan meskipun tes karbon-14 dilakukan pada tahun 2017, sebuah perjanjian komersial mencegah universitas tersebut untuk mengungkapkan hasilnya.

Menariknya, jika jenazah tersebut adalah alien, maka penanggalan karbon-14 tidak akan ada gunanya.

“Penanggalan radiokarbon didasarkan pada atom Karbon 14 yang tercipta ketika radiasi matahari menghantam atmosfer bagian atas bumi,” kata David Anderson, asisten profesor antropologi yang telah banyak menulis tentang pseudoarkeologi di Radford College di Virginia.

“Untuk mengetahui tanggal radiokarbon makhluk luar angkasa, kita harus mengetahui berapa tingkat produksi 14-C di planet asal mereka, bukan di planet kita,” sambung David.

NEXT: Kemungkinan Mayat Manusia Dimodifikasi

Simak Video “Dokter Ahli Pencernaan Bicara Efek ke Perut saat ‘Yoga Alien’ Nauli Kriya
[Gambas:Video 20detik]

Yang Dikhawatirkan Pakar soal COVID Varian Pirola, Bisa Secepat Ini Menularnya


Jakarta

Dunia kembali digegerkan dengan munculnya varian baru COVID-19 bernama ‘Pirola’ atau BA.2.86. Pasalnya, varian ini memiliki jumlah mutasi paling banyak dibandingkan varian-varian Corona lainnya, yakni sebanyak 35 mutasi.

Di samping tingkat penularannya, sejumlah ahli juga menyoroti risiko varian Corona baru ini memiliki kemampuan yang besar untuk kabur dari perlindungan vaksin COVID-19 maupun infeksi virus Corona secara alamiah.

Juga disebut sebagai BA.2.86, Pirola adalah varian virus corona jenis Omicron yang sangat bermutasi, yang muncul pada tahun 2021 dan menyebabkan lonjakan kasus dan kematian akibat COVID-19. Hal ini juga berkaitan dengan risiko terjadinya lagi gelombang COVID-19, akibat varian Pirola.

“Ketika Omicron menyerang pada musim dingin tahun 2021, terjadi peningkatan besar dalam kasus COVID-19 karena sangat berbeda dari varian Delta, dan ia menghindari kekebalan baik dari infeksi alami maupun vaksinasi,” kata spesialis penyakit menular dr Scott Roberts. dalam buletin Yale Medication dikutip dri New York Submit, Minggu (3/9/2023).

“Jumlah mutasi yang begitu tinggi sungguh luar biasa. Saat kami beralih dari XBB.1.5 ke EG.5, mungkin ada satu atau dua mutasi. Namun pergeseran besar-besaran ini, yang juga kita lihat dari Delta ke Omicron, sangat mengkhawatirkan,” ujarnya lebih lanjut.

Sembari ia menambahkan, sampai saat ini belum ada informasi pasti perihal dampak dari varian Pirola. Namun, penelitian tengah berlangsung.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), varian Pirola awalnya terdeteksi di Israel dan kemudian diidentifikasi di Kanada, Denmark, Inggris, Afrika Selatan, Swedia, Norwegia, Swiss, dan Thailand. Namun, CDC belum membeberkan tingkat keparahan gejala yang muncul pada pasien COVID-19 dengan infeksi varian Pirola.

“Masih terlalu dini untuk mengetahui apakah varian ini dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya,” ungkap CDC.

“CDC memantau dengan cermat tingkat rawat inap untuk mengidentifikasi potensi sinyal awal bahwa varian BA.2.86 menyebabkan penyakit yang lebih parah,” pungkasnya.

Seorang pendiri klinik pengujian COVID-19 di London, Gabriela Brewer, mengungkapkan ada empat tanda penting yang harus diwaspadai sebagai gejala Pirola:

  • Demam tinggi
  • Batuk
  • Dingin
  • Hilangnya indera penciuman atau indera rasa

“Setelah Anda mengidentifikasi tanda-tanda ini dan ingin memastikannya, Anda harus melakukan tes antigen atau PCR,” ungkap Brewer dikutip dari Categorical.co.uk.

Simak Video “ Kenali Gejala Varian Pirola yang Disebut Picu Gelombang Covid-19 Baru
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Pakar Ungkap Ukuran Very best Mr P yang Bikin Wanita Terasa ‘Melayang’


Jakarta

Bagi kaum pria, ukuran Mr P atau penis menjadi hal yang sangat penting. Hal ini termasuk masalah yang sensitif dan sering diperdebatkan bagi banyak pria.

Ukuran penis dianggap berkaitan dengan harga diri atau berpengaruh pada durasi saat berhubungan seks. Bahkan, banyak yang beranggapan ukuran penis juga mempengaruhi kepuasan pasangannya.

Memang berapa sih ukuran penis yang disukai wanita?

Untuk mengetahuinya, tim ilmuwan dari College of New Mexico dan College of California melakukan studi yang melibatkan 75 wanita dengan usia antara 18 hingga 65 tahun. Mereka diminta untuk memilih antara 33 mannequin 3D dari penis saat ereksi dalam berbagai ukuran.

Dikutip dari laman Mensxp, hasilnya menunjukkan bahwa 6,3 inci atau sekitar 16 cm adalah panjang penis yang sempurna. Menurut penelitian, wanita lebih menyukai ukuran penis yang berbeda untuk situasi yang berbeda juga.

Ahli urologi dan pakar seks Dr Rena Malik pun ikut menanggapi pertanyaan kuno soal apakah ukuran penis itu penting atau tidak saat bercinta.

“Sebagian besar wanita benar-benar membutuhkan rangsangan klitoris untuk mencapai klimaks. Tapi, banyak juga wanita yang tidak mencapai orgasme hanya melalui penetrasi vagina,” katanya yang dikutip dari Males’s Well being, Rabu (9/8/2023).

“Penetrasi vagina bisa sangat menyenangkan, dan beberapa wanita bisa mengalami orgasme melalui seks vaginal, tapi itu jauh lebih jarang,” lanjutnya.

Dr Malik menjelaskan bagi wanita yang sangat sensitif terhadap rangsangan vagina dan leher rahim mungkin membutuhkan ukuran penis yang lebih panjang. Menurut mereka, itu akan lebih memuaskan karena bisa dengan mudah menjangkau dan merangsang space tersebut.

Namun, di sisi lain bagi wanita yang kurang responsif, mungkin ukuran penis bukan menjadi hal yang terlalu penting lagi.

“Di sisi lain, wanita yang kurang responsif terhadap rangsangan penis pada vagina dan leher rahim mungkin akan lebih sulit mencapai orgasme vagina. Oleh karena itu, bagi mereka, ukuran penis mungkin kurang penting,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dr Malik menegaskan pentingnya stimulasi klitoris. Itu merupakan cara yang jitu dan konsisten untuk mencapai orgasme yang tidak memerlukan penis dengan ukuran panjang dan tebal tertentu.

Maka dari itu, dia mendorong agar para pasangan suami istri lebih terbuka tentang apa yang mereka sukai dan membuatnya nyaman saat berhubungan seks.

Simak Video “Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Kasus Diabetes Anak Naik 10 Tahun Terakhir, Pakar: Jumlahnya Bisa Lebih Tinggi


Jakarta

Dalam waktu 10 tahun terakhir, prevalensi diabetes melitus tipe 1 di Indonesia melonjak tujuh kali lipat, dari semula 3,88 per 100 juta penduduk di 2000, menjadi 28,19 per 100 juta penduduk di 2013. Prof Dr dr Aman Bhakti Pulungan SpA memperkirakan jumlahnya jauh lebih tinggi, terlebih selama ini banyak pasien anak tidak terdiagnosis diabetes.

“Hidup dengan DMT1 tidaklah mudah dan memerlukan lebih dari sekadar dukungan medis. Pengelolaan DMT1 yang tepat memerlukan pemantauan kadar gula darah secara mandiri dan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi tersebut,” terang Altering Diabetes in Youngsters (CDiC) Lead untuk Indonesia tersebut, melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom Sabtu (22/7/2023).

Angka tersebut menurutnya dilaporkan di tengah keterbatasan pengelolaan kasus diabetes melitus tipe 1 di Indonesia. Karenanya, Prof Aman menyoroti perlunya pendampingan yang baik pada pasien, utamanya mereka yang sudah berada di fase kronis.

“Masih ada keterbatasan dalam pengelolaan DMT1 di Indonesia, tetapi tidak boleh ada seorang anak pun meninggal akibat diabetes (no baby ought to die from diabetes). Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pasien maupun caregiver adalah cara terbaik untuk mencegah komplikasi akut dan kronis,” pesan dia.

Terpisah, Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono Harbuwono sebelumnya sempat mengungkap ‘biang kerok’ di balik angka diabetes terus meningkat. Bahkan, perkiraan prevalensinya secara umum menyentuh 12 persen di 2023.

Ada dua faktor yakni genetik dan non genetik atau lingkungan. Faktor genetik menurutnya tidak bisa dihindari lantaran beriringan dengan peningkatan pertumbuhan penduduk.

“Sehingga kemungkinan diabetes karena mannequin perkawinan yang membawa gen diabetes itu muncul,” ucap Dante.

Sementara faktor non-genetik penyebab diabetes, seperti kebiasaan, way of life yang buruk, maupun pola hidup menurut Dante, juga berkontribusi dengan angka tren peningkatan diabetes di Indonesia.

“Kita sudah melakukan intervensi terhadap beberapa hal yang meningkat seperti diabetes tersebut, mungkin angkanya akan jauh lebih tinggi lagi kalau kita tidak melakukan intervensi. Tetapi yang kita tidak bisa hindari adalah faktor genetik. Nah ini penting, untuk kanker juga begitu,” pungkasnya.

Simak Video “Waspada Diabetes pada Anak
[Gambas:Video 20detik]
(naf/suc)

Pakar FKUI Ungkap Orang Bertubuh Kurus Juga Bisa Kena Diabetes, Kok Bisa?


Jakarta

Jika berbicara tentang diabetes, mungkin yang terlintas adalah orang yang mengidap obesitas atau kegemukan. Tapi ternyata, penyakit ini ternyata juga bisa menyerang orang yang badannya kurus.

Hal itu diungkapkan oleh pakar endkrin, metabolik, dan diabetes dari Universitas Indonesia, Prof Dr dr Rr Dyah Purnamasari Sulistianingsih, SpPD-KEM, FINASIM. Menurutnya, kegemukan atau obesitas hanya salah satu faktor risiko yang dapat memicu diabetes.

“Jadi sebenarnya indeks masa tubuh hanya salah satu faktor risiko. Faktor lain adalah aktivitas fisik, kemudian ada riwayat keluarga, dan kebiasaan-kebiasaan seperti merokok,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (7/7/2023).

“Artinya, meskipun dia kurus, paling tidak satu faktor risiko dia tidak ada. Tapi sebisa mungkin faktor risiko lain dihindari. Dia tetap aktif, dia menghindari merokok, dan menghindari alkohol, agar betul-betul pencegahannnya itu multi-disiplin dan bisa menyeluruh,” sambungnya.

Sementara dikutip dari Time, orang kurur yang mengidap diabetes memiliki risiko kematian lebih tinggi daripada pasien yang gemuk. Studi pada Journal of the Amercan Medical Affiliation (JAMA) menunjukkan pasien diabetes yang bertubuh kurus memiliki tingkat kematian dua kali lebih tinggi daripada yang obesitas.

Studi tersebut juga menemukan orang dengan masa indeks tubuh (BMI) yang kecil belum tentu memiliki komponen lemak yang sedikit pula di dalam tubuhnya. Riset menunjukkan orang dengan BMI yang perfect bisa saja memiliki timbunan lemak visceral yang tersembunyi di sekitar rongga perut, yang dapat memengaruhi kinerja hormon insulin untuk memecah kadar gula dalam tubuh.

Simak Video “Waspada Diabetes pada Anak
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)