Tag: Pengakuan

Umur 22 Sudah Kena Serangan Jantung, Kok Bisa? Begini Pengakuan yang Mengalami


Jakarta

Penyakit jantung adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Meski kerap identik dengan orang tua, penyakit jantung juga bisa menyerang remaja atau orang dewasa muda.

Seperti halnya yang dialami oleh pemuda asal Inggris yang bernama Tom Birchy. Di usianya yang masih 22 tahun, Birchy terkena serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya. Seperti apa kisahnya?

Birchy adalah seorang pemuda yang bekerja di industri musik. Ia mengaku pekerjaan yang ia geluti memberikan banyak sekali stres dan tekanan. Untuk mengatasi hal tersebut, Birchy kerap mengandalkan obat-obat psikotropika untuk memberikannya ‘ketenangan’ dan ‘kepuasan’ sesaat.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suatu hari saat sedang bekerja di bawah pengaruh obat-obatan tersebut, Birchy merasakan sensasi aneh pada pergelangan tangannya. Tak butuh waktu lama, sensasi tersebut menyebar dan membuat kedua tangannya mengalami mati rasa.

“Hal pertama yang aku rasakan adalah sensasi ngilu di pergelangan tangan bagian belakang, yang kemudian menyebar ke seluruh tangan dan membuat tanganku mati rasa, dan terus menyebar hingga ke tangan kanan,” ujarnya, dikutip dari New York Put up, Selasa (3/10/2023).

“Aku ingat betul perasaan tidak nyaman yang kurasakan saat itu. Kedua tangan dan dadaku terasa sangat sesak saat itu,” sambungnya.

Birchy mengatakan rasa tidak nyaman itu membuatnya tidak bisa duduk ataupun berbaring. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah panik dan mondar-mandir tak karuan.

Tim medis yang datang untuk menolong Birchy kemudian melakukan elektrokardiogram (ECG) untuk aktivitas kelistrikan jantungnya. Hasil tes pun menunjukkan Birchy tidak mengalami serangan jantung, tapi untuk berjaga-jaga, ia dibawa ke rumah sakit untuk menjalani tes lebih lanjut.

“Aku ingat duduk di ruang tunggu dan seseorang datang menghampiriku dan mengatakan ‘Ayo, ke sini’. Mereka membawaku ke sebuah ruangan dan menyuntikkan sesuatu ke dalam perutku dan aku pun berpikir ‘Kenapa mereka menyuntikku di perut?’,” ucapnya.

“Malamnya aku dirawat di bangsal dan saat itu aku mengetahui kalau aku ternyata benar-benar mengalami serangan jantung, di usia 22 tahun,” sambung Birchy.

Birchy mengaku pengalaman itu benar-benar membuka matanya. Ia menggambarkannya sebagai sebuah pengalaman yang ‘menakutkan’, dan mengimbau orang-orang untuk lebih berhati-hati dan menjaga kesehatan.

Simak Video “Kenali Beda Tanda Serangan Jantung pada Pria dan Wanita
[Gambas:Video 20detik]
(ath/kna)

Apa Sih yang Bikin Orang ‘Malas’ Jalan Kaki? Ini Pengakuan Mereka


Jakarta

Salah satu bentuk aktivitas fisik yang sederhana dan menyimpan banyak manfaat adalah jalan kaki. Walaupun kelihatannya sepele, jalan kaki punya banyak manfaat untuk kesehatan jantung.

Namun, pada kenyataannya tidak banyak yang melakukannya secara rutin sebagai olahraga. Apa sih yang membuat jalan kaki susah banget dilakukan, benarkah karena malas atau memang situasi dan sarananya tidak mendukung?

Seorang mahasiswi asal Bandung bernama Amelia (20) mengatakan bahwa membiasakan diri untuk berjalan kaki tidaklah mudah. Apalagi bila harus berjalan 10 ribu langkah setiap harinya. Menurutnya cuaca yang panas menjadi salah satu alasan banyak orang menjadi malas jalan kaki.

“Wah itu mah susah banget ya. Pasti sudah capek, panas, terus belum lagi pulang dari kampus sama misalkan orang-orang yang kerja sih susah ya. Tapi keren sih kalau memang ada yang bisa menurut aku,” ucap Amelia ketika ditemui detikcom, Selasa (26/9/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senada dengan Amelia, menurut Dasep (60) kegiatan jalan kaki setiap hari dapat membuat stamina lebih terkuras. Terlebih cuaca Indonesia yang panas juga membuat orang lebih malas keluar untuk jalan kaki.

“Itu yang saya juga kadang alami (malas jalan kaki), makanya saya lebih banyak bersepeda. Kadang kalau jalan kaki perginya masih semangat, tapi pas pulang sudah malas. Bisa karena cuaca atau stamina juga, terus kalau gowes pulang bisa lebih cepat gitu ya,” ucap Dasep.

Walaupun masih ada banyak orang yang malas jalan kaki, hal tersebut tidak dirasakan oleh mahasiswa asal Lamongan bernama Yudha (21). Ia mengaku terbiasa jalan kaki setiap hari bahkan sudah bisa menjalani jalan kaki 10 ribu langkah sehari, namun ia bisa mengerti mengapa ada masih banyak orang yang malas jalan kaki.

Salah satunya adalah masalah waktu yang harus ditempuh ketika jalan kaki.

“Yang bikin orang malas mungkin pertama itu karena orang tersebut memiliki kendaraan dan mungkin mereka merasa jalan kaki akan memperlambat mengejar waktu,” ujarnya.

“Sebenarnya kalau saya yang perlu diatur itu waktunya, jadi kalau mau pergi ke suatu tempat ya harus berangkat lebih awal aja perginya untuk jalan kaki,” pungkasnya.

Ikuti jalan sehat ‘Indonesia Coronary heart Stroll 2023’ di Plaza Tenggara GBK Senayan, Kamis (28/9/2023) pukul 06.00 WIB. Data selengkapnya DI SINI.

Simak Video “World Coronary heart Day 2023: Kenali Jantungmu, Sayangi Jantungmu
[Gambas:Video 20detik]
(avk/up)

Pengakuan Wanita Ikutan Tren Perkecil Payudara, Ternyata Begini Kisah di Baliknya


Jakarta

Baru-baru ini sebuah tren baru marak di TikTok. Banyak wanita muda yang berbagi cerita telah melakukan prosedur pengecilan payudara, dengan alasan mereka ingin memiliki payudara berukuran kecil. Apa katanya?

Tren media sosial seputar cerita pengecilan payudara ini menampilkan para wanita yang memakai pakaian sebelum operasi dan setelah operasi. Tentu saja, terlihat adanya perubahan pada ukuran payudara mereka yang jauh lebih kecil.

Namun, perbedaan terbesarnya terlihat pada mereka yang jauh lebih bahagia dan percaya diri. Misalnya Megan Lynn, seorang kreator, menjelaskan bahwa dirinya sendirilah yang memutuskan untuk melakukan pengecilan payudara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasannya, ia mengalami sakit punggung dan merasa ‘tidak percaya diri’ dengan pakaian tertentu. Pada akhirnya, payudaranya berdampak buruk pada dirinya dan merasa ‘terbebani’.

“Itu (operasi) memberikan kepercayaan diri yang baru,” tulis Lynn yang dikutip dari New York Publish, Jumat (22/9/2023).

Kreator lainnya, Maddie, juga mengungkapkan perbedaanya setelah melakukan pengecilan payudara atau breast discount. Hal itu membuat sakit punggungnya hilang.

“Ini benar-benar mengubah hidup saya, sakit punggung, dan kepercayaan diri saya,” jelasnya.

Dalam postingan tersebut, banyak netizen mempertanyakan keputusan Maddie untuk memperkecil payudara. Netizen ini mengaku kasihan dengan pasangan dari orang-orang yang sengaja memodifikasi ukuran payudaranya.

“Mengapa dikurangi? Kasihan sekali,” tulis seseorang.

Ahli bedah payudara Professor Sanjay Warrier mengatakan adanya peningkatan jumlah wanita yang meminta pengecilan payudara. Kebanyakan dari orang-orang tersebut ingin melakukannya karena ukuran payudara yang terlalu besar.

“Pasien yang menjalani operasi memiliki dua alasan utama, karena alasan fungsional (biasanya karena payudara besar), atau pasien yang menginginkan tampilan lebih muda,” katanya.

Selain itu, banyak wanita yang melakukan pengecilan payudara karena menderita nyeri punggung atau bahu jangka panjang. Sebab, ukuran payudara yang lebih besar memang memberikan tekanan yang lebih besar pada tubuh beberapa wanita.

“Yang utama adalah beban payudara dan akibat ketegangan pada tubuh, khususnya bahu dan punggung,” ungkap Prof Warrier.

“Seiring berjalannya waktu, ketegangan pada punggung juga dapat berdampak pada tulang belakang. Oleh karena itu, semakin besar keinginan pasien, dari waktu ke waktu, untuk mempertimbangkan menjalani operasi karena alasan fungsional,” jelasnya.

Simak Video “Nunung Segera Jalani Operasi Pengangkatan Kanker Payudara
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

Fakta-fakta Pengakuan Pria Kena Kanker Tenggorokan Stadium 4 gegara Seks Oral

Jakarta

Seorang pria didiagnosis mengidap kanker tenggorokan stadium 4 yang dipicu human papilloma virus (HPV). Ia terkejut karena merasa dalam keadaan sehat dan rajin bersepeda.

Pria bernama Steve Bergman mengira kondisi yang diidapnya hanya berkaitan dengan kebiasaan merokok, minum alkohol, hingga paparan bahan kimia. Tapi, ia mengaku tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

“Ternyata itu semua tidak ada hubungannya,” ceritanya, kepada Metro, dikutip Sabtu (29/7/2023).

Gejala yang Dialami

Sebelum didiagnosis kankernya muncul pada Mei 2015, Bergman mengeluhkan pilek yang tidak kunjung sembuh. Ditambah rasa sakit di sisi lehernya.

“Sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh merupakan gejala kanker tenggorokan,” menurut American Most cancers Society.

Dia dikirim ke spesialis yang meletakkan kamera di tenggorokannya dan menemukan kanker di amandelnya.

“Saya benar-benar merasa mati rasa,” katanya.

Penyebab Kanker Tenggorokan

Seminggu kemudian, Bergman pergi ke rumah sakit mengira akan menjalani biopsi dan tonsilektomi. Ternyata, ia menjalani pembedahan untuk mengangkat kankernya.

Saat ahli bedah mengangkat kankernya, ternyata ukurannya lebih besar dari yang diperkirakan dan khawatir Bergman tidak bisa bernapas karena pembengkakan tersebut. Jadi, dia memasangkan Bergman dengan trakeostomi, sebuah lubang yang dibuat di bagian depan leher ke tenggorokan yang membantunya bernapas.

Beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit pasca operasi, tes memastikan bahwa kanker Bergman adalah stadium 4. Kondisi itu disebabkan HPV yang didapat melalui kontak seksual.

Bergman menjalani dua kali kemoterapi dan satu kali radioterapi, dirinya dinyatakan bebas kanker tahun lalu 2021.

NEXT: Kondisinya pasca operasi

Pengakuan Suami soal Istri Kena Bully saat PPDS, Kerap Didoktrin Aturan ‘Aneh’


Jakarta

Kasus bullying di kalangan calon dokter spesialis belakangan tengah menjadi sorotan. Berbagai pengalaman dan kesaksian tengah bermunculan, seperti cerita pria berinisial (G) yang menyebut istrinya mengalami perundungan saat menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di salah satu fakultas kedokteran Indonesia.

G mengaku kasus perundungan tersebut sampai membuat sang istri mengalami depresi, bahkan sampai mengajukan pengunduran diri alias ‘resign’ dari PPDS lantaran disarankan psikiater untuk segera memulihkan trauma terlebih dulu.

Akan tetapi, permintaan tersebut ditolak pihak kampus, hingga akhirnya saat ini istri G mengambil masa cuti.

Adapun kasus perundungan itu terjadi sesaat sang istri diterima di PPDS. G bercerita bahwa sang istri dan teman-teman seangkatannya dikumpulkan oleh senior-senior di suatu tempat yang kemudian didoktrin oleh aturan-aturan yang harus diikuti oleh mahasiswa residen.

“Seperti tidak boleh pulang sebelum senior pulang, harus respons 5 menit ketika di-WA, tidak boleh mengatakan ‘tidak ada’ ketika diminta suatu barang, tidak boleh mengatakan ‘tidak bisa’ ketika disuruh dan lain-lain,” ucap G kepada detikcom, Rabu (12/7/2023).

Tak hanya itu, G menyebut sang istri juga menerima perkataan kasar dan makian dari senior-senior yang sebenarnya tak pantas diutarakan. Pertemuan semacam ini disebutnya tidak diketahui oleh pihak kampus.

Terlebih, sang istri juga harus menyediakan barang yang diminta senior berapapun biayanya. Apabila ia tak sanggup untuk menyediakannya, sang istri bakal dicibir oleh senior dan dihukum dengan tugas tambahan. Karenanya G menyebut tak hanya kerugian fisik yang dialami sang istri, tetapi juga dari segi materil.

“Biaya kuliah saja sudah berpuluh-puluh juta, ditambah sering harus menyediakan barang yang diminta senior ‘in any respect price’,” cerita G.

Beban semacam itu semakin berat dilalui saat istri G, juga harus menyelesaikan tugas pekerjaan dari rumah sakit. Setiap hari, hanya ada sisa waktu istirahat sekitar dua hingga tiga jam dengan kebiasaan berangkat kampus pukul 5 pagi dan baru pulang pukul 11 atau 12 malam waktu setempat, beberapa kali bahkan sampai dini hari.

“Pernah assembly sampai dini hari hanya untuk mendengarkan omelan dari senior. Lalu jam 5 pagi harus kembali ke kampus atau RS,” lanjutnya.

Akibat stres, dalam dua bulan bobot istri G bahkan menyusut 8 kilogram.

“Sistem ‘kakak asuh’ dan ‘adik asuh’ di PPDS malah membuat senioritas semakin kuat. Bahkan cenderung disalahgunakan oleh senior-senior tersebut,” ceritanya

“Perlu diketahui, orang-orang yg masuk PPDS itu merupakan trah ‘darah biru’. Kalau Anda nggak punya keluarga spesialis atau backing jangan harap,” pungkasnya.

Simak Video “Apakah Rubella Bisa Ditularkan Melalui ASI?
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)