Tag: Persen

25,9 Persen Anak-Remaja Minum Minuman Manis Tiap Hari


Jakarta

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pemerintah segera menerapkan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Hal tersebut berkaitan dengan tingginya risiko kasus diabetes melitus tipe dua pada kalangan anak muda dan anak-anak.

Berdasarkan knowledge Worldwide Diabetes Federation (IDF), Indonesia menempati peringkat kelima jumlah pengidap diabetes terbanyak di dunia dengan 19,47 juta orang. Prevalensi pengidap diabetes di Indonesia berarti mencapai 10,6 persen.

Dalam survei yang dilakukan oleh di 10 kota di Indonesia, YLKI mencatat tingginya jumlah anak dan remaja yang mengonsumsi MBDK setiap harinya. Survei yang dilakukan dengan 800 responden tersebut menemukan bahwa 25,9 persen anak dan remaja di bawah usia 17 tahun mengonsumsi MBDK setiap hari.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Temuan kita mengonfirmasi bahwa kalau kita lihat anak-anak usia kurang dari 17 tahun yang mengonsumsi manis setiap hari itu tinggi ya. Tentunya tingginya konsumsi ini dapat memicu masalah obesitas dan diabetes,” ucap peneliti dari YLKI Ainul Huda ketika ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Senin (11/12/2023).

Ainul mengatakan mudahnya akses MBDK menjadi salah satu faktor di balik jumlah konsumsi minuman manis di RI tinggi. Survei tersebut menunjukkan 38 persen responden membeli MBDK di warung-warung terdekat.

“Kemudahan akses itu akan berasosiasi dengan frekuensi dengan quantity konsumsi. Kalau kita perhatikan itu yang pertama warung (38 persen), lalu minimarket (28 persen), dan grocery store (17 persen). Kalau warung itu 2-5 menit saja bisa dijangkau dengan mudah,” jelas Ainul.

Di tengah tingginya konsumsi MBDK di kalangan masyarakat khususnya anak muda dan anak-anak, YLKI menilai diperlukan intervensi lebih kuat dari pemerintah untuk membendung hal tersebut. Pelaksanaan cukai MBDK serta strategi lain seperti edukasi terkait label kemasan dapat menjadi cara untuk menekan perilaku konsumsi di kalangan masyarakat.

Wacana terkait penerapan cukai MBDK ini sebenarnya sudah dibahas oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan semenjak 2019. Namun, implementasinya beberapa kali tertunda hingga kemungkinan bisa diberlakukan pada tahun 2024.

“Kita berharap betul di tahun 2024 nanti pemerintah punya komitmen konsisten untuk mengeksekusi janjinya ya untuk bisa menerapkan cukai nanti di tahun 2024. Dengan cara ini masyarakat bisa terlindungi,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam kesempatan yang sama.

“Cukai itu menjadi instrumen yang paling kuat memberikan efek pada konsumen untuk mengendalikan konsumsi karena terkait dengan harga. Konsumen kita itu sensitif dengan harga jadi nanti akan mengurangi dan beralih ke air putih,” pungkasnya.

Survei yang dilakukan oleh YLKI dilakukan pada awal hingga pertengahan Juni 2023. Adapun kota yang menjadi lokasi survei meliputi Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, dan Kupang.

Dalam survei tersebut, 58 persen responden mengaku akan mendukung kebijakan cukai MBDK sebesar 25 persen jika akhirnya diberlakukan. Survei tersebut juga menyebutkan bahwa 18,3 persen responden menyatakan akan mengubah kebiasaan mengonsumsi minuman manis jika cukai MBDK diterapkan.

Simak Video “Penjelasan Kemenkes soal Dorong Cukai untuk Minuman Berpemanis
[Gambas:Video 20detik]
(avk/naf)

Kasus COVID-19 Melonjak hingga 57 Persen, Menkes Malaysia Ungkap Biang Keroknya


Jakarta

Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Dr Zaliha Mustafa melaporkan ada peningkatan kasus COVID-19 yang dilaporkan secara world, termasuk di negaranya. Namun disebutkannya, sebagian besar pasien COVID-19 di negaranya mengalami gejala ringan dan tak memerlukan perawatan di rumah sakit.

“Ada peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan secara world. Di Malaysia, peningkatan ini mengikuti tren yang terlihat setiap akhir tahun, yang juga terjadi di negara lain,” ujarnya, dikutip dari The Star.

Adapun varian yang saat ini mendominasi di negara tetangga RI itu adalah Omicron dengan subvariannya yang diketahui memiliki tingkat penularan tinggi. Meski begitu, Dr Zaliha menekankan, varian tersebut tak menimbulkan kasus yang parah. Menurutnya, tak ada varian baru COVID-19 yang terdeteksi di negaranya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Meski terjadi peningkatan kasus, situasi saat ini di Malaysia masih terkendali dan tidak membebani fasilitas kesehatan yang ada. Kementerian tetap siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi, ujarnya.

baca juga

Dr Zaliha juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga kebersihan diri hingga memakai masker bagi mereka yang mengalami gejala.

Jika gejalanya memburuk, ia mengimbau untuk berkonsultasi ke dokter dan mendapatkan pengobatan antivirus di klinik kesehatan terdekat bagi mereka yang positif COVID-19 dan berisiko tinggi.

“Masyarakat juga dapat menerima vaksin COVID-19 dosis utama di klinik kesehatan untuk mengurangi risiko penularan,” tuturnya,

“Kementerian akan terus memantau situasi dan varian Covid-19 dari waktu ke waktu,” katanya seraya menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh menyebarkan berita yang tidak terverifikasi untuk menghindari kebingungan dan keresahan masyarakat.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Malaysia mengatakan, ada 3.626 kasus COVID-19 yang dilaporkan pada 19 hingga 25 November 2023. Angka tersebut meningkat sebanyak 57,3 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya yang tercatat ada 2.305 kasus.

baca juga

Simak Video “Susul Singapura, Kasus Covid-19 Malaysia Naik 57%
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

Dugaan Pemicu Kasus COVID-19 Malaysia Ikut ‘Ngegas’, Naik Lebih dari 50 Persen


Jakarta

Kasus COVID-19 dilaporkan kembali meningkat di Malaysia. Direktur Jenderal Kesehatan Dr Radzi Abu Hassan mengatakan kasus baru COVID-19 meningkat pada minggu lalu sebesar 57,3 persen, dari 2.305 menjadi 3.636 kasus.

Dalam laporan terbarunya untuk pekan yang berakhir 25 November, Radzi mengatakan 48 persen kasus terjadi pada individu berusia antara 20 dan 40 tahun, dan 98 persen hanya mengalami gejala ringan.

Kenaikan kasus dikaitkan dengan laporan pemerintah soal adanya empat varian Omicron baru yang teridentifikasi. Semuanya diklasifikasikan sebagai variant of concern (VoC). Radzi mengatakan dua kasus varian Omicron baru, BA.2.86, telah dilaporkan setelah pemeriksaan gejala di klinik kesehatan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski diduga memicu peningkatan kasus, infeksi yang dikeluhkan bukan merupakan gejala berat.

Radzi mengatakan kedua kasus tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri dalam waktu 14 hari, sebelum gejala muncul. Mereka juga tengah menjalani rawat jalan.

“Varian tersebut tidak menimbulkan gejala yang lebih parah,” kata Radzi yang dikutip dari laman Free Malaysia In the present day, Senin (4/12/2023).

Meski terjadi peningkatan kasus, Radzi memastikan bahwa situasi dan fasilitas kesehatan di Malaysia masih terkendali. Namun, ia mengimbau agar masyarakat dan layanan kesehatan tetap waspada.

“Mengingat peningkatan kasus COVID-19, petugas kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta diimbau untuk tetap waspada dan memiliki ‘indeks kecurigaan yang tinggi’ terhadap pasien dengan gejala pernapasan akut, terutama yang berasal dari kelompok risiko tinggi,” jelasnya.

Simak Video “Kasus COVID-19 di Singapura Naik 2 Kali Lipat dalam Sepekan
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

Bukan Cuma Singapura, Kasus COVID-19 di Malaysia Naik 57,3 Persen!


Jakarta

Tidak hanya Singapura, Malaysia juga melaporkan peningkatan signifikan kasus COVID-19, mencapai 57,3 persen. Namun, angkanya masih jauh lebih rendah ketimbang laporan di Negeri Singa, yakni dalam periode 19 hingga 25 November tercatat sebanyak 3.626 kasus, meningkat dari periode 12 hingga 18 November yakni 2.305 pasien.

“Kasus mingguan yang terdeteksi telah melampaui 1.000 setiap minggunya sejak pekan lalu, dengan tingkat peningkatan antara 7,1 persen hingga 57,3 persen,” tutur Direktur Jenderal Kesehatan Datuk Dr Muhammad Radzi Abu Hassan, dikutip dari media lokal Malaysia, The Star, Senin (4/12/2023).

“Telah dilaporkan delapan klaster aktif COVID-19 dengan whole 121 kasus,” sambungnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar kasus ditemukan menyerang usia 20 hingga 40 tahun. Kabar baiknya, 98 persen dari whole keseluruhan pasien COVID-19, hanya mengeluhkan gejala ringan.

“Jumlah kumulatif klaster yang dilaporkan hingga kini 7.248 klaster. Mayoritas adalah klaster yang melibatkan sektor pendidikan,” kata Dr Muhammad Radzi dalam keterangannya kemarin.

Ia menambahkan, tingkat perawatan pasien COVID-19 ke fasilitas kesehatan meningkat menjadi 2,9 persen per 100.000 penduduk pada Juli, dibandingkan 2 persen pada Juni.

“Angka ini sudah termasuk kasus suspek dan infeksi terkonfirmasi,” katanya.

Pemerintah Malaysia mendeteksi empat varian Omicron baru.

“Ini semua terdiri dari varian of concern (VOC),” kata Dr Muhammad Radzi.

“Kasus kumulatif yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 yang dikategorikan VOC dan varian of curiosity (VOI) sebanyak 28.102 kasus.”

Organisasi Kesehatan Dunia telah melaporkan peningkatan varian Omicron baru, dengan BA.2.86 pertama kali dilaporkan pada 24 Juli.

“Namun, tidak ada perubahan klinis dan tingkat keparahan yang diakibatkannya,” tutur Radzi.

Varian yang mendominasi kasus di Malaysia saat ini adalah BA.2.86.

“Kasus-kasus tersebut terdeteksi melalui skrining gejala dan tidak memiliki riwayat pergi ke luar negeri dalam waktu 14 hari setelah gejala muncul.”

“Mereka telah dirawat sebagai pasien rawat jalan dan kondisinya stabil. Meski terjadi peningkatan kasus COVID-19, situasi terkendali. Kementerian akan terus memantau situasi dan variannya,” sorotnya.

Petugas kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta diimbau untuk waspada dengan meningkatnya jumlah kasus, terutama pada pasien dengan gejala pernapasan akut dan kelompok risiko tinggi. Ia mengingatkan masyarakat Malaysia untuk melakukan tindakan pencegahan, termasuk menjaga kebersihan diri.

Simak Video “Kasus COVID-19 di Singapura Naik 2 Kali Lipat dalam Sepekan
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Menanti Turunnya Angka Stunting RI ke 14 Persen di 2024


Jakarta

Pemerintah menargetkan angka stunting atau gangguan pertumbuhan anak pada 2024 menurun yakni di angka 14 persen. Kementerian Kesehatan RI menyebut pihaknya tengah menganalisis Survei Standing Gizi Indonesia (SSGI) yang hasilnya direncanakan rampung akhir November 2023. Harapannya, di tahun ini angka stunting sudah bisa ditekan ke 17 persen.

Pekerjaan rumah terbesar bagi Kemenkes RI ada di lima provinsi dengan penduduk terpadat termasuk DKI Jakarta. Meski prevalensi kasus di kelima provinsi tersebut sebetulnya menurun, jumlah penduduk di lima daerah ini tentu berpengaruh.

“Jadi kita saat ini masih optimis. Kita menunggu hasil survei kan kemarin sudah survei di Agustus, September ya, untuk SSGI, sekarang datanya lagi dianalisis jadi kita untuk 2023 semoga akhir November, kita sudah tahu hasilnya,” beber Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, Maria Endang Sumiwi pasca meresmikan Pageant Ayo Sehat dan Jambore Kader di Hari Kesehatan Nasional, Minggu (12/11/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tapi yang kita lihat semua gerakannya belakangan, apa yang kita upayakan untuk dorong pusat juga masih optimis untuk 2024, 14 persen,” sambung dia.

Adapun provinsi prioritas yang ditargetkan untuk penurunan stunting meliputi:

  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Banten
  • Sumatera Utara
  • Jawa Timur

“Yang Jabar kan tinggi jumlahnya, tapi mereka sudah turun dari 24 ke 20 persen, jadi penurunannya rata-rata lebih cepat daripada nasional, Jabar turun 4 persen dalam setahun bisa menurunkan segitu pasti kerjanya luar biasa di lapangan,” sorotnya.

Khusus sejumlah provinsi prioritas, pemerintah melakukan monitor ketat setiap pekan. Termasuk intervensi langsung, juga bertemu dengan bantuan kader puskesmas di setiap daerah.

“Bayi yang dilahirkan 18,5 persen tahun lalu, sudah dalam keadaan stunting bayinya dalam waktu lahir, artinya kualitas waktu kehamilan kurang bagus,” ungkap dr Endang.

“Nah sehingga hari ini dan kemarin kita lakukan ayo sehat competition salah satunya usaha-usaha kita edukasi kesehatan, kalau lagi hamil harus perfect, termasuk psychological health-nya, pemeriksaan idealnya apa, sudah ada usg di semua puskesmas, sekarang kita jadi tahu berat badan janinnya itu dengan umur kehamilannya itu cocok nggak,” sambung dia.

Tidak hanya masa kehamilan yang menjadi waktu krusial pencegahan stunting. Pasca melahirkan, anak juga sebaiknya mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan.

Mirisnya, setelah tiga bulan pertama, banyak ibu menyusui mengalami kendala ASI eksklusif khususnya bagi wanita yang bekerja. Karenanya, perlu ada dukungan dari lingkup terdekat.

“3 bulan pertama banyak drop karena ibu-ibu mulai kerja, ini harus ada dukungan dari ayahnya, dan tempat kerja supaya ibu-ibu bisa kasih ASI terus selama 6 bulan,” pesan dia.

Tantangan selanjutnya adalah setelah enam bulan ke dua tahun, masa tumbuh kembang anak perlu dibarengi dengan MPASI. Banyak ibu-ibu yang belum mengerti betul asupan nutrisi yang dibutuhkan anak, sehingga perkembangan mereka tak jarang terganggu.

Bahkan, risiko stunting di masa usia 6 bulan ke dua tahun meningkat lebih dari satu setengah kali.

“Artinya kan apa? Keluarga-keluarga Indonesia, nutrisinya tidak cukup, nah kita ini ada jambore kader, 1.200 kader datang, acara utamanya lomba memasak MPASI bersama Chef Juna, mempromosikan yang bagus MPASI seperti apa, baru keluar awal tahun ini,” lanjut dia.

“Mengacu ke proof, mempromosikan MPASI saja bisa menurunkan stunting,” pungkasnya.

Simak Video “Berkat Aplikasi SIMPATI Angka Stunting Sumedang Turun Drastis
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Repair 99,9 Persen! Hasil Tes DNA Buktikan 2 Bayi di Bogor Tertukar

Jakarta

Kecurigaan Siti Mauliah (37) akhirnya terjawab sudah. Bayi yang ia bawa pulang dari RS Sentosa Bogor ternyata memang benar-benar tertukar.

Hal tersebut dibuktikan oleh hasil tes DNA yang disampaikan ke kepolisian.

“Ditemukan memang repair 99 persen, berdasarkan knowledge yang diberikan oleh beliau bahwa anak tersebut memang tertukar,” ujar Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro dalam konferensi pers, Jumat (25/8/2023).

Sebelum hasil tes DNA itu keluar, Rio mengatakan pihaknya juga sudah melakukan serangkaian penyelidikan dan memeriksa saksi dari pihak rumah sakit.

Diketahui, kecurigaan itu dirasakan Siti di hari kedua usai melahirkan. Saat itu, suster datang menanyakan nama pasien.

“Di situ mulai tertukar ternyata gelangnya. Namun saat itu suster bilang ini cuma jatuh aja atau tertukar. Ketika dia pulang, suster datang lagi keesokan harinya menanyakan perihal gelang,” ungkap pengacara Siti, Rusdy Ridho.

Akurasi Tes DNA

Dokter forensik dari RSCM Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Ade Firmansyah, menjelaskan tingkat akurasi tes DNA bisa mencapai 99,999999 persen, tergantung pada jumlah lokasi yang diperiksa dan pembandingnya.

“Apabila dibandingkan dengan kedua orang tua maka pemeriksaan DNA dapat mencapai hingga 99,999999%. Persentase akurasi akan turun apabila dibandingkan dengan salah satu orang tua atau saudara,” tuturnya.

dr Ade mengatakan untuk membuktikan garis keturunan, jenis tes DNA yang paling sering digunakan adalah pemeriksaan pengulangan basa (STR). Sementara, jika pemeriksaan tes DNA spesifik pada garis keturunan ayah menggunakan metode kromosom Y (Y-STR), dan mtDNA/DNA mitokondria untuk pemeriksaan pada garis keturunan ibu.

Simak Video “Operasi Pemisahan Bayi ‘Berkaki 6’ di Lombok Dilakukan Akhir Pekan
[Gambas:Video 20detik]
(ath/naf)

Sepekan Berlalu Sejak WFH ASN 50 Persen, Polusi DKI Masih ‘Gini-gini’ Aja


Jakarta

Penampakan langit DKI Jakarta dalam sepekan terakhir masih tampak berwarna abu pekat meski pemerintah provinsi DKI sudah memberlakukan kebijakan 50 persen make money working from home (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN). Itu menjadi salah satu strategi untuk menghalau polusi, meski pada akhirnya langkah itu memicu pro-kontra di masyarakat.

Tidak sedikit yang menilai WFH kurang efektif dan kemungkinan hanya menurunkan polutan dalam beberapa waktu, tidak secara permanen. Bagaimana information kualitas udara di ibu kota dalam seminggu terakhir?

Aplikasi pemantau kualitas udara Nafas Indonesia merinci rata-rata konsentrasi PM 2.5 sejak WFH diberlakukan. Hasilnya, kurang lebih tidak ada perbedaan seperti hari biasanya sebelum kebijakan diterapkan.

21 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 44 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
22 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 53 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
23 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 49 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
24 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 47 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
25 Agustus: konsentrasi PM 2.5 sebesar 58 (merah, tidak sehat)

Angka tersebut di atas 5 hingga 10 kali lipat pedoman aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni particulate matter (PM) 2.5 angka 5 µg/m³.

Tren yang tidak jauh berbeda dilaporkan situs IQAir dalam periode yang sama, berikut detailnya:

21 Agustus: indeks kualitas udara 147 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
22 Agustus: indeks kualitas udara 158 (merah, tidak sehat)
23 Agustus: indeks kualitas udara 155 (merah, tidak sehat)
24 Agustus: indeks kualitas udara 144 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)
25 Agustus: indeks kualitas 147 (oranye, tidak sehat untuk kelompok sensitif)

Simak Video “ASN Diimbau Naik Transportasi Umum, Benarkah Sudah Diterapkan?
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

Ternyata Olahraga Ini Bikin Panjang Umur, Risiko Kematian Berkurang 47 Persen


Jakarta

Siapa sangka, aktivitas memperkuat otot seperti angkat beban ternyata perlu menjadi bagian dari rutinitas olahraga mingguan para orangtua. Sebuah penelitian menemukan rutinitas tersebut ditambah dengan latihan aerobik bisa memperpanjang umur, dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.

Nationwide Well being Service (NHS) AS juga mengimbau orang dewasa di atas 65 tahun untuk aktif secara fisik setiap hari dan melakukan aktivitas meningkatkan kekuatan, keseimbangan, fleksibilitas, setidaknya dua kali seminggu.

Setidaknya diibutukan waktu 150 menit untuk aktivitas intensitas sedang dalam seminggu atau 75 menit aktivitas intensitas tinggi dalam sepekan jika sudah mulai terbiasa.

Apa Alasannya?

Studi di AS, yang diterbitkan dalam British Journal of Sports activities Medication, mewawancara lebih dari 150.000 orang berusia 60-an dan 70-an tentang rutinitas olahraga mereka.

Para peneliti menemukan orang yang melakukan olahraga sedang selama 150 menit seperti direkomendasikan, hidup lebih lama daripada mereka yang tidak melakukannya, mereka yang menggabungkan latihan aerobik teratur dengan aktivitas penguatan otot sekali atau dua kali seminggu, juga bernasib lebih baik.

Mereka memiliki risiko kematian 47 persen lebih rendah dari sejumlah pemicu termasuk kanker, selama sembilan tahun ke depan, dibandingkan mereka yang tidak aktif sama sekali.

Melakukan angkat besi saja menurunkan risiko hingga 9-22 persen kematian, dan latihan aerobik hingga 24-34 persen.

Contoh latihan aerobik yang memompa jantung dan paru-paru yakni jalan cepat, lari, bersepeda, dan berenang.

Studi tersebut juga menemukan bahwa wanita mendapat manfaat lebih banyak dari angkat besi daripada pria.

Tim peneliti dari Nationwide Most cancers Institute di Maryland, dan College of Iowa menjelaskan latihan penguatan otot dapat membuat tubuh lebih ramping dan tulang lebih kuat, yang mengarah ke kehidupan yang lebih sehat di usia tua.

“Temuan kami bahwa risiko kematian tampak paling rendah bagi mereka yang berpartisipasi dalam kedua jenis latihan tersebut memberikan dukungan kuat untuk rekomendasi saat ini untuk melakukan aktivitas aerobik dan penguatan otot,” kata penulis studi Dr Jessica Gorzelitz.

“Orang dewasa yang lebih tua mungkin akan mendapat manfaat dari menambahkan latihan angkat beban ke dalam rutinitas aktivitas fisik mereka.”

Simak Video “Kisah Pekerja Kantoran Jakarta yang Rajin Lari Gegara Lama Nunggu Angkot
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Nyaris 50 Persen Warga Jepang yang Belum Menikah Umur 30 Ogah Jadi Ortu


Jakarta

Krisis populasi yang menerpa Jepang kini disebut-sebut gegara banyak warga di sana ogah memiliki anak. Seiring ketar-ketir pemerintah saat ini, sebuah riset beberapa waktu lalu menemukan bahwa hampir setengah warga Jepang yang belum menikah di bawah umur 30 tahun memang tidak tertarik untuk memiliki anak. Bagaimana temuannya?

Dikutip dari Kyodo Information, riset tersebut diadakan oleh perusahaan farmasi Rohto Pharmaceutical Co. Mereka melakukan penelitian terhadap 400 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Sebanyak 49,4 persen responden mengaku tidak ingin memiliki anak.

Jika dilihat dari jenis kelamin, sebanyak 53 persen pria dan 45,6 persen wanita tidak tertarik untuk menjadi orang tua. Dengan alasan, membesarkan anak memerlukan biaya yang tinggi. Selain itu, mereka juga cemas tentang masa depan Jepang, sehingga merasa lebih baik tidak punya anak.

Survei tersebut digelar setelah knowledge pemerintah Jepang menunjukkan, jumlah bayi yang lahir di negara tersebut anjlok tahun lalu, mencapai di bawah 800.000 kelahiran untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1899.

Untuk memulihkan tren penurunan angka kelahiran, pemerintah Jepang pada bulan April meluncurkan Badan Anak dan Keluarga. Badan ini dibuat dengan tujuan mengawasi kebijakan anak, juga termasuk kasus pelecehan anak dan kemiskinan.

Survei pada 2022 juga menemukan bahwa 48,1 persen pria dan wanita menikah yang ingin memiliki anak bekerja sama untuk meningkatkan kesuburan pasangan.

Di samping itu, seorang pejabat perusahaan berspekulasi bahwa orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu dengan pasangan mereka. Hal ini disebabkan kehidupan berangsur-angsur kembali regular setelah pandemi COVID-19.

Simak Video “Angka Kelahiran Jepang Anjlok, Pejabat Khawatir Negaranya Lenyap
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

30 Persen Warga RI Idap Diabetes, Waspadai Gejala yang Bisa Dilihat di Ketiak


Jakarta

Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah melaporkan lonjakan kasus diabetes dari semula di 2007 10,5 persen, sementara di 2018 prevalensinya mencapai 21,8 persen. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini bahkan mengestimasi sekitar 30 persen warga Indonesia terkena diabetes atau 26 sampai 30 juta orang.

Sayangnya, hanya lima juta orang yang baru teridentifikasi. “Jumlah kasus diabetes di Indonesia itu melonjak sangat cepat. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, bahkan terjadi pada-anak,” kata Menkes Budi dalam sebuah acara di IMERI FKUI, Jumat (14/7/2023).

Menurut American Diabetes Affiliation (ADA) pertanda diabetes atau gula darah tinggi, juga bisa terlihat dari kondisi kulit di ketiak dan leher.

“Tanda-tanda awal bahwa kadar gula tidak terkendali bisa muncul di sekitar leher dan ketiak,” beber ADA, dikutip Jumat (14/7/2023).

Kadar gula darah yang meningkat secara tidak regular dapat menimbulkan space kulit yang tebal di bagian belakang leher, tangan, dan ketiak alias acanthosis nigricans.

Adalah kelainan kulit berupa penebalan dan kehitaman pada kulit, terutama di daerah leher dan lipatan kulit.

“Acanthosis nigricans adalah penggelapan kulit yang biasanya terjadi di daerah intertriginos,” sambung mereka.

Dikutip dari Occasions of Now, berikut perubahan yang terjadi pada ketiak dan leher.

  • Adanya bercak kuning
  • Kemerahan
  • Warna coklat pada kulit
  • Adanya benjolan padat kecil yang terlihat bak jerawat, kemudian mengempis lalu terasa menjadi bengkak dan keras. Bercak bisa berwarna kuning, kemerahan, atau coklat.
  • Bercak gelap juga tak hanya terlihat di bagian belakang leher hingga ketiak, tetapi selangkangan, atau di tempat lain.

Kapan Harus Waspada?

Jika kamu melihat ciri-ciri tersebut pada kulit, saatnya untuk berkonsultasi dengan dokter. Pasalnya, diabetes juga bisa menyebabkan banyak masalah kulit lain. Sebagian besar masalah kulit tidak berbahaya, tetapi jika tidak diobati kondisi tersebut membuat seseorang rentan terhadap komplikasi, termasuk masalah pada jantung.

Simak Video “Waspada Diabetes pada Anak
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)