Tag: Racun

Ilmuwan Temukan Racun Laba-laba Bisa Jadi Obat Kuat Alami buat Pria Impoten


Jakarta

Para ilmuwan mengatakan senyawa sintetis dari racun laba-laba dapat mengobati disfungsi ereksi yang tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan.

Laba-laba yang dimaksud adalah Phoneutria nigriventer, kadang disebut laba-laba pengembara Brazil atau laba-laba pisang karena sering ditemukan di daun pisang. Gigitannya yang tidak enak dengan racun dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk rasa sakit yang luar biasa, gemetar, kram, keringat berlebih, kelemahan, dan perubahan detak jantung.

Dalam beberapa kasus, gigitan berbisa bahkan bisa berakibat deadly.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari IFL Science, jika laki-laki terkena gigitan laba-laba tersebut, mereka juga bisa mengalami priapisme, kondisi ketika penis tetap ereksi selama berjam-jam. Meskipun kedengarannya tidak berbahaya, ini bisa menjadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, menyebabkan rasa sakit yang hebat dan berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada penis.

Para peneliti sebelumnya telah mengidentifikasi senyawa bioaktif yang bertanggung jawab atas ereksi yang tidak diinginkan, sebuah peptida yang disebut BZ371A, dan mensintesisnya di laboratorium. Setelah menyelesaikan uji pendahuluan pada tikus, para ilmuwan di Universitas Federal Minas Gerais di Brazil berharap dapat menggunakan senyawa ini dalam uji klinis fase 2 yang melibatkan pria dengan disfungsi ereksi.

Senyawa BZ371A akan digunakan dalam pengobatan topikal yang dioleskan ke penis, sehingga mendorong darah mengalir ke space tersebut. Hal ini menyebabkan timbulnya ereksi, tanpa ada efek samping yang tidak diinginkan dari racun laba-laba.

“Tes, sejauh ini, telah menunjukkan bahwa senyawa tersebut bekerja dengan penggunaan dalam jumlah minimal dan tanpa toksisitas apa pun karena secara praktis tidak terdeteksi dalam aliran darah,” kata peneliti Maria Elena de Lima, Profesor di Universitas Federal Minas Gerais yang telah mempelajari senyawa tersebut selama bertahun-tahun, kata dalam sebuah pernyataan.

“Keuntungan besarnya adalah persetujuan obat topikal cenderung lebih cepat, karena kemungkinan efek samping yang lebih rendah. Selain itu, kandidat obat tersebut telah menunjukkan bahwa obat tersebut tidak menimbulkan efek samping apapun, bahkan ketika disuntikkan dalam dosis tinggi,” sambungnya.

Para peneliti yakin penelitian ini menyimpan beberapa pelajaran penting untuk masa depan. Kawasan dengan keanekaragaman hayati yang melimpah seperti hutan hujan tropis kaya akan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai obat, seperti racun laba-laba pisang.

Setelah mengujinya pada hewan pengerat, para peneliti melakukan percobaan percontohan pada pria dan wanita untuk menguji keamanan gel pada manusia, dan mereka kemudian menunjukkan tidak adanya efek toksik atau efek yang tidak diinginkan pada uji klinis tahap pertama.

Obat tersebut kini memasuki uji coba tahap kedua untuk menguji efeknya pada pria dengan disfungsi ereksi akibat prostatektomi, operasi pengangkatan prostat, yang sering menyebabkan disfungsi seksual.

Simak Video “Dua Pria Alami Impotensi Usai Terserang COVID-19
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

BPOM Siapkan Pelabelan Galon Bermerek Antisipasi ‘Racun’ BPA


Jakarta

Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM Anisyah menilai rencana pelabelan risiko senyawa kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) pada galon air minum bermerek merupakan wujud kehadiran negara dalam melindungi kesehatan masyarakat. Sekaligus menjadi tanggung jawab negara yang diharapkan mendapat dukungan semua kalangan.

“Rencana regulasi tersebut menunjukkan negara hadir dalam melindungi kesehatan masyarakat, kata Anisyah dalam keterangan tertulis, Selasa (15/8/2023).

“Pelaku usaha pastinya memahami rencana pelabelan ini dan kami berharap dukungan semua stakeholders (pemangku kepentingan),” imbuhnya.

Dalam talkshow di salah satu media nasional pada Jumat (11/8) lalu, Anisyah mengatakan BPOM telah berdiskusi dengan semua pihak selama proses penyusunan regulasi pelabelan risiko BPA. Diskusi intens ini melibatkan pelaku usaha air kemasan, baik skala mikro, kecil dan menengah, maupun market chief serta asosiasi terkait.

“Alhamdulillah Badan POM mendapat dukungan positif dari banyak kalangan, termasuk Komisi IX DPR,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, BPA adalah salah satu bahan baku pembentuk polikarbonat, jenis plastik keras yang di Indonesia jamak sebagai kemasan galon air minum bermerek. Riset di berbagai negara menunjukkan BPA pada plastik polikarbonat rawan luruh dan berisiko pada kesehatan bila sampai terminum melebihi ambang batas.

Ia menambahkan penyusunan rancangan regulasi soal BPA ini telah melalui semua tahapan perancangan regulasi. Termasuk koordinasi dengan kementerian terkait, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), kalangan akademisi, dan ahli.

“Di stage kementerian, kami sudah menyepakati urgensi pelabelan ini sebagai bentuk tanggung jawab negara sekaligus untuk melindungi pelaku usaha, termasuk pemerintah, dari kemungkinan tuntutan hukum di masa datang,” ujarnya.

Anisyah berharap dengan adanya rancangan regulasi, produsen galon bermerek dapat berinovasi menghadirkan kemasan galon yang lebih menjamin kualitas dan keamanan air minum.

Lebih lanjut, Anisyah mengatakan kebijakan khusus terkait BPA banyak diadopsi negara di berbagai belahan dunia karena pertimbangan risiko kesehatan. Ada yang menetapkan ambang batas migrasi, melarang complete penggunaannya pada kemasan pangan, hingga mewajibkan pelabelan untuk mengedukasi konsumen.

Sejak 2019, Indonesia melalui BPOM menetapkan batas migrasi BPA pada kemasan pangan berbahan polikarbonat sebanyak 0,6 ppm. Ambang ini wajib dipatuhi produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menggunakan polikarbonat sebagai kemasan galon guna ulang.

Kendati demikian, Anisyah menyebut ada tren pengetatan toleransi di stage world atas BPA pada kemasan pangan. Ia mencontohkan Uni Eropa kini menetapkan ambang batas migrasi BPA sebesar 0,06 ppm dari 0,6 ppm pada 2011.

Otoritas keamanan pangan Eropa, EFSA, pun merevisi batas asupan harian (Whole Each day Consumption) BPA. Pada 2015 sebesar mikrogram/kilogram berat badan, menjadi 0,2 nanogram/kilogram berat badan pada April 2023.

“Ini berarti ada pengetatan 20.000 kali lebih rendah, toleransi asupannya jadi lebih ketat. Ini juga salah satu alasan BPOM mengkaji kembali regulasi yang ada terkait BPA,” tutur Anisyah.

Menurut Anisyah, rencana pelabelan risiko BPA juga didasarkan hasil pengawasan yang menunjukkan migrasi BPA pada galon bermerek yang beredar di sejumlah kota.

“Datanya memang cenderung mengkhawatirkan, migrasi BPA ada di kisaran 0,06 ppm sampai 0,6 ppm dan bahkan ada yang di atas 0,6 ppm,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono memaparkan BPA mendatangkan risiko yang ‘luar biasa’ bagi kesehatan manusia.

“Bahkan sebelum jadi manusia sudah berisiko, saat dalam kandungan, BPA berpotensi mengganggu pertumbuhan janin sehingga dalam perkembangannya akan menimbulkan banyak masalah kesehatan, termasuk autisme, Consideration Deficit atau Hyperactivity Dysfunction (ADHD),” terang Pandu.

Ia menambahkan paparan BPA dalam jangka panjang dapat mengganggu sistem tubuh, termasuk gangguan organ reproduksi, penyakit endokrin, gangguan syaraf, dan kanker. Ia mengatakan semua jenis penyakit tak menular tersebut cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Senada, Ahli Polimer dari Universitas Indonesia Muhammad Chalid mengatakan ada risiko pelepasan BPA yang besar pada kemasan galon bermerek. Terutama bila produk tersebut masih didistribusikan dengan serampangan, termasuk dibiarkan terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang cukup lama.

Selain paparan suhu yang relatif tinggi, kata Chalid, pelepasan BPA pada galon bermerek juga rawan. Sebab proses pencucian galon di pabrik umumnya menggunakan sejenis deterjen yang bisa memicu peningkatan keasaman dan berimbas pada pelepasan BPA.

(akd/ega)