Tag: Ramai

Soal Child Blues, Kondisi yang Ramai Dikaitkan Ibu Tenggelamkan Bayi di Ember


Jakarta

Baru-baru ini heboh seorang ibu menenggelamkan bayinya dalam ember di Jakarta Selatan. Peristiwa tersebut viral melalui unggahan video di media sosial.

Dalam video yang beredar, awalnya anak korban dibawa ke dalam kamar mandi. Di sana sudah ada sebuah ember yang berisikan air. Tak lama kemudian, bayi tersebut dimasukkan dan ditenggelamkan oleh pelaku, yang diduga ibunya sendiri, ke dalam ember tersebut. Bayi tersebut tampak menangis dan kesulitan bernapas.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) turun tangan menginvestigasi kasus ibu yang menenggelamkan bayi dalam ember di Jakarta Selatan. Komnas PA telah menemui ibu tersebut dan menyatakan yang bersangkutan mengalami child blues syndrome.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kita monitor ke sana itu kemarin hari Jumat malam. Jadi itu kemarin kita sudah datang ke sana ketemu ibunya. Ibunya itu namanya ibu si bayi itu dah ketemu, terus kita tanya-tanya memang dia mengalami sindrom child blues dan ada sedikit depresi pada saat diagnosa awal ya,” kata Pjs Ketua Umum Komnas PA Lia Latifah, saat dihubungi wartawan, Senin (16/10/2023).

Child blues adalah kondisi yang biasanya dialami oleh ibu baru melahirkan. Kondisi ini berkaitan dengan psikis ibu setelah melahirkan yang mengalami berbagai macam perubahan.

Sekitar 80 persen ibu pasca melahirkan mengalami child blues, yang mengacu pada periode singkat setelah melahirkan yang dipenuhi dengan kesedihan, kecemasan, stres, dan perubahan suasana hati. Itu berarti 4 dari 5 ibu baru melaporkan mengalaminya. Child blues juga biasanya menyerang dalam beberapa hari setelah melahirkan.

Sampai saat ini dokter tak dapat menentukan secara pasti apa penyebabnya. Namun diduga terkait dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dan setelah bayi lahir. Perubahan hormonal ini dapat menghasilkan perubahan kimiawi di otak yang mengakibatkan depresi.

Selain itu, banyaknya penyesuaian yang terjadi setelah kelahiran bayi, serta gangguan tidur, gangguan rutinitas, dan emosi dari pengalaman melahirkan itu sendiri, semuanya dapat berkontribusi pada perasaan seorang ibu baru.

Simak Video “Psikolog Sebut Child Blues Tak Hanya Dialami Ibu Baru Saja
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

Ramai Pembalut ‘Reject’ Dijual Kiloan di Lapak On-line, Ini Wanti-wanti dr Boyke


Jakarta

Heboh pembalut ‘reject’ dijual kiloan. Banyak peminat lantaran harganya terbilang jauh lebih murah, yakni berkisar Rp 35-50 ribu untuk 100 lembar. Beberapa dari pembalut yang dijual di lapak on-line terlihat memiliki emblem yang jauh berbeda dengan yang dijual pasaran.

Deskripsi di beberapa market juga menunjukkan kualitas pembalut ini memiliki sejumlah kerusakan. Spesialis obgyn dr Boyke Dian Nugraha ikut berkomentar. Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan jika terpaksa banget harus membeli pembalut ‘reject’ dan ‘repack’-an.

“Sepanjang pembalut itu sudah ada izin alat kesehatannya dari Kemenkes RI, itu pertama aman, hanya mungkin kalau expirednya sudah lebih dari 3 bulan hati-hati pemutihnya, kemudian zat-zat di dalamnya seperti pewanginya, kan biasanya mint atau bahan-bahan aktif di situ,” terang dia saat dihubungi detikcom Selasa (17/10/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Reaksi yang mungkin dialami dari pemakaian pembalut reject adalah alergi pada vagina.

“Kemudian kalau dia di-rejectnya karena kesalahan atau kerusakan pembuatan kaya misalnya kapasnya kurang, lapisannya yang harusnya berapa lapis menjadi lebih sedikit, itu tentu terkait efektivitas,” sambung dia.

Artinya, efektivitas penyerapan darah menstruasi otomatis berkurang. Misalnya, dari yang seharusnya bisa menampung 50 cc, menjadi hanya 38 cc.

Di sisi lain, dr Boyke tetap menyarankan alternatif lain, alih-alih membeli pembalut repack atau reject. Misalnya, pemakaian kain seperti handuk kecil. Selain terbilang lebih nyaman, juga aman dipakai.

Meski tidak praktis, selama dicuci dengan detergen natural minim allergen, diyakini tidak memicu reaksi sensitif di space vagina.

“Saya sedih juga sampai lihat pada beli pembalut yang reject ya, sekarang kan ada handuk kecil yang tipis itu, bisa menyerap, nggak masalah juga, sebelum ada pembalut, dulu kan begitu. Handuk kecil dilipat, setelahnya dicuci bersih, itu juga kan jauh lebih aman,” terangnya.

“Dipakai oleh dia, dicuci oleh dia, sudah kering baru dipakai lagi, tetap bisa menyerap meskipun tidak praktis,” pungkasnya.

Simak Video “ Pedagang Bakso di Jembrana Viral karena Pelayanan Buruk Ternyata ‘Bercyandya’
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

Ramai soal Transplantasi Jantung Babi, RI Bakal Ikut ‘Uji Coba’?


Jakarta

Para dokter di College of Maryland Medical Middle melakukan transplantasi jantung babi ke manusia pada 20 September 2023. Prosedur ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan di dunia. Percobaan pertama dilakukan tahun lalu, dan pasien yang menerima cangkok telah meninggal dunia.

Kali ini, operasi transplantasi tersebut dilakukan terhadap seorang veteran angkatan laut berusia 58 tahun, Lawrence Faucette. Ia sempat mengalami kondisi kritis akibat gagal jantung. Namun karena ada masalah kesehatan, ia tidak bisa memenuhi syarat untuk menerima transplantasi jantung tradisional.

Kabar terbarunya, dua hari setelah operasi, Faucette duduk di kursi dan bercanda. Meskipun Faucette mungkin akan melewati masa kritis beberapa pekan ke depan, para dokter menyebut respons awal tubuh Faucette terhadap organ babi berjalan baik.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terpisah, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Erta Priadi, SpJP, FIHA, menjelaskan prosedur transplantasi jantung babi ke manusia tersebut sebenarnya masih bersifat percobaan. Walhasil, masih ada beberapa masalah yang ditemukan para dokter dari pencangkokan tersebut. Di antaranya, risiko penggumpalan darah pada pasien yang menerima cangkok.

“Ini belum sepenuhnya bisa kita aplikasikan secara regular. Masih sifatnya itu trial, karena ada beberapa masalah dalam xenotransplantasi,” ungkapnya dalam konferensi pers, Senin (26/9/2023).

“Memang kita memodifikasi gen pada babi itu penolakan oleh sistem kekebalan tubuh itu bisa kita cegah. Tapi ada masalah lain juga yang timbul seperti masalah penggumpalan darah. Ada risiko penggumpalan darah yang meningkat akibat kasus transplantasi jantung babi ke manusia,” imbuh dr Erta.

Selain itu, karena organ yang digunakan memang sejak awalnya tidak didesain untuk manusia, ada risiko terjadi masalah-masalah lain pada manusia yang menerima cangkok jantung babi. Di antaranya, berupa perbedaan tekanan darah yang membuat penerima cangkok susah menjalani aktivitas sehari-hari dengan regular.

“Kemudian karena ada juga perbedaan variabilitas tekanan darah yang kemudian menimbulkan di mana orangnya menjadi sulit untuk bisa beraktivitas sehari-hari dengan regular. Ini mungkin masih perlu ditindaklanjuti ke depannya. Jadi bukan hanya masalah penolakan yang harus kita atasin. Tapi juga ada masalah lain,” pungkas dr Erta.

Simak Video “Faktor Risiko Penyakit Jantung yang Bisa Diubah dan Tidak
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Ramai Fenomena Obesitas Ekstrem, Kok Berat Berat Badan Bisa Sampai Ratusan Kilo?


Jakarta

Belakangan fenomena kasus obesitas dengan bobot sampai ratusan kilogram mulai muncul ke permukaan. Setelah kasus mendiang M Fajri, kini muncul dua kasus obesitas ekstrem dengan berat badan 200 kg di Tangerang hingga Jakarta Timur.

Kenapa berat badan seseorang bisa mencapai ratusan kilogram seperti itu?

Dokter spesialis gizi klinik dr Christopher Andrian, MGizi, SpGK, mengungkapkan fenomena kasus obesitas dengan bobot yang ekstrem itu sangat berpengaruh dari gaya hidup yang buruk. Kebiasaan itu terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

“Mungkin nggak hanya jangka pendek, tapi dalam kasus ini biasanya dalam jangka panjang. Kalau sampai ratusan kilo itu, berarti menumpuk terus menerus kan dari kebiasaan dia kecil,” kata dr Christopher saat ditemui di Jakarta Pusat, Jumat (7/7/2023).

Jika dilihat dari kasus obesitas yang belakangan dialami anak-anak, bisa jadi itu adalah dampak dari kesalahan pola asuh dan kurangnya edukasi orang tua. Mereka mungkin membebaskan anak-anaknya untuk mengkonsumsi asupan manis dan berkalori tinggi, bisa jadi dalam jumlah yang besar.

dr Christopher mengatakan nantinya kebiasaan itu akan terus berlanjut hingga dewasa. Ketika dewasa, kebiasaan itu akan sulit untuk diubah.

“Kalau sudah dewasa, edukasi pengetahuan orang tersebut karena asupannya ngaco, lifestyle-nya dan aktivitasnya nggak ada,” tutur dia.

“Kita juga sudah melakukan aktivitas serba on-line, itu bisa mempengaruhi. Dan akses untuk mendapatkan makanan-makanan yang excessive calorie dan excessive sugar lebih gampang,” sambungnya.

Jika terus menerus dilakukan, itu akan memicu kenaikan berat badan yang signifikan. Meski berat badannya sudah mencapai lebih dari 100 kg, mungkin masih diabaikan dan tidak segera mencari bantuan ahli untuk mengatasinya, dan pada akhirnya kondisinya semakin parah.

“Pada saat dia 100 kg, 125 kg itu belum mencari bantuan, padahal itu sudah parah. Jika sudah mencapai 200 kg, itu sudah dianggap lebih susah,” pungkasnya.

Simak Video “Lebih dari Separuh Populasi Dunia Diprediksi Alami Obesitas pada 2035
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)