Tag: Stroke

Waspada, Ini 5 Gejala Stroke di Usia Muda yang Tidak Boleh Diabaikan

Jakarta

Stroke tak hanya menyerang orang lanjut usia (lansia), tetapi juga mereka di usia muda. Stroke merupakan suatu gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis yang berlangsung lebih dari 24 jam.

Dikutip dari laman Kemenkes RI, serangan stroke terjadi saat pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh penyumbatan yang disebut dengan stroke iskemik, serta akibat pecahnya pembuluh darah yang disebut dengan stroke hemoragik.

Sementara menurut laman resmi WHO, setiap tahun ada sekitar 15 juta orang di dunia mengalami stroke. Dari jumlah tersebut, 5 juta di antaranya meninggal dunia dan 5 juta orang lainnya mengalami cacat permanen akibat serangan stroke.

Tak hanya itu, stroke juga disebut sebagai ‘silent killer’ karena pengidapnya kerap tidak menyadari memiliki kondisi tersebut sampai memasuki tingkat yang sangat parah. Karena itu, gejala stroke terutama di usia muda harus diwaspadai dan ditangani secepat mungkin.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala Stroke di Usia Muda

Umumnya, gejala stroke di usia muda tidak jauh berbeda dengan gejala pada umumnya. Adapun gejala stroke di usia muda antara lain:

1. Lumpuh pada Bagian Tubuh Tertentu

Gejala stroke di usia muda yang paling umum adalah kelumpuhan pada anggota tubuh tertentu. Dikutip dari Mayo Clinic, stroke terjadi akibat menurunnya suplai darah dan oksigen ke otak. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya penyumbatan (stroke iskemik) atau pembuluh darah pecah (stroke hemoragik).

Berkurangnya suplai darah dan oksigen ke otak dapat mengganggu fungsi bagian otak, termasuk mengirim sinyak ke saraf motorik untuk menggerakkan anggota tubuh. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan.

2. Kesulitan Berbicara

Kesulitan saat berbicara merupakan gejala stroke yang kerap diabaikan. Selain menggerakkan anggota tubuh, bagian tertentu pada otak juga memengaruhi kemampuan untuk berbicara.

Umumnya, gangguan berbicara tersebut bisa berupa kesulitan merangkai kata-kata, terbata-bata saat berbicara, hingga kebingungan memahami perkataan orang lain.

3. Sakit Kepala Parah

Sakit kepala yang parah dan muncul tanpa sebab yang jelas bisa menjadi salah satu gejala stroke di usia muda. Hal ini disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah karotis yang menyalurkan darah dan oksigen ke otak.

Umumnya, sakit kepala pada stroke terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah karotis. Namun, nyeri kepala juga bisa dipicu oleh gangguan pada sistem vertebrobasilar yang berfungsi memasok darah ke bagian belakang otak.

4. Kehilangan Keseimbangan

Sering oleng saat berdiri atau berjalan? Hati-hati, sebab hal tersebut bisa menjadi indikasi penyakit stroke loh.

Dikutip dari laman Stroke Affiliation, stroke dapat menyebabkan kelemahan pada salah satu sisi tubuh, sehingga membuat pengidap stroke sulit menjaga keseimbangan saat berdiri atau beraktivitas. Biasanya, gejala ini juga disertai dengan pusing yang muncul secara mendadak.

5. Gangguan pada Penglihatan

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, stroke dapat menimbulkan kerusakan pada bagian otak yang mengatur fungsi organ tubuh. Jika terjadi pada bagian otak yang memengaruhi fungsi mata, maka dapat menyebabkan gangguan visible, seperti pandangan kabur atau gangguan fokus saat melihat (diplopia). Gangguan penglihatan akibat stroke tak hanya bisa terjadi pada salah satu mata, tapi juga bisa terjadi pada kedua mata secara bersamaan.

Faktor Risiko Stroke di Usia Muda

Umumnya, stroke di usia muda dipengaruhi oleh faktor pola hidup yang tidak sehat. Adapun gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko terkena stroke di antaranya:

  • Merokok
  • Obesitas
  • Sedentary life atau jarang beraktivitas
  • Stres
  • Mengonsumsi minuman beralkohol
  • Mengonsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol
  • Jarang mengonsumsi makanan berserat seperti buah dan sayur

Selain gaya hidup, stroke juga dapat dipicu oleh sejumlah kondisi medis seperti:

  • Darah tinggi atau hipertensi
  • Diabetes
  • Kolesterol tinggi
  • Gangguan irama jantung
  • Cacat jantung bawaan lahir, seperti defek septum ventrikel, pulmonary atresia, atau koarktasi aorta

Simak Video “Jangan Disepelekan! Anak Muda Juga Bisa Kena Stroke
[Gambas:Video 20detik]
(ath/suc)

Mengeluh Sakit Kepala Pagi Hari, Ternyata Serangan Stroke di Usia Muda


Jakarta

Seorang wanita di Inggris, Alex Bowles (23) bangun pagi dengan sakit kepala hebat setelah pesta minuman beralkohol malam sebelumnya. Namun setelah beristirahat, sakit kepalanya tak kunjung mereda. Tak diduga, sakit kepala yang dialaminya bukan ‘cuma’ gegara minuman, melainkan karena serangan stroke.

Alex menyebut, saking nyeri kepalanya saat itu, ia merasa ‘setengah kepalanya hilang’. Lebih lanjut pada hari itu, Alex tak bisa berbicara dengan regular dan cenderung berbicara dengan campur aduk. Ia pun dibawa ke rumah sakit.

Barulah saat itu, dokter mengungkapkan bahwa Alex mengalami pembekuan darah dan perdarahan di otak. Karena kondisi itulah, Alex tidak dapat membaca, menulis, berkomunikasi, atau berbicara dengan benar.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Saya menghabiskan Jumat malam dengan makan dan minum bersama teman-teman saya. Esok harinya saya merasa tidak enak. Saya minum gin dan tonic, jadi membuatku sakit kepala seperti sedang mabuk,” ungkap Alex dikutip dari Every day Mail UK, Selasa (14/11/2023).

“Ketika saya mencoba pergi berbelanja, saya merasa sangat kasar sehingga saya harus duduk. Jadi saya menghabiskan sisa akhir pekan di rumah, semakin sakit, seperti akan pingsan, berharap sakit kepala saya akan hilang”, sambungnya.

Selama empat hari setelah keluhan sakit kepala tersebut, Alex kehilangan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan regular. Menurut kesaksian petugas kebersihan yang sempat berbicara dengannya saat itu, Alex berbicara dengan tidak jelas dan sekadar omong kosong.

Petugas kebersihan tersebut kemudian menelepon ibu Alex dan segera memanggil ambulans. Barulah setelah itu, Alex dibawa ke Rumah Sakit Queen di Romford.

“Dokter yang bertugas mengira saya menderita sakit kepala yang berlebihan. Tapi untungnya, seorang dokter berpikir sebaiknya saya menjalani CT Scan sebelum pulang. Setelah menunggu lama, akhirnya saya mendapatkan hasil scan yang menunjukkan bahwa saya terkena stroke parah,” beber Alex.

Alex diketahui mengalami stroke iskemik dan hemoragik, yakni gumpalan dan perdarahan di otaknya. Ia pun kemudian menjalani perawatan selama dua minggu di rumah sakit ditemani ibunya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Alex menjadi banyak bergantung dengan keluarga dan teman-temannya. Ibunya selalu menemaninya ketika harus melakukan examine up ke dokter.

“Saya harus menjalani banyak terapi dan latihan otak, yang menurut saya sangat sulit. Saya diajari tugas-tugas sederhana dan saya merasa ingin berteriak. Saya bukan anak kecil, tapi saya harus belajar lagi banyak hal,” pungkas Alex.

Simak Video “Penyebab Golongan Darah A Lebih Rentan Kena Stroke di Usia Muda
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

Pernah Kena Stroke? Dokter Saraf Wanti-wanti Serangan Berulang gegara Ini


Jakarta

Stroke merupakan penyakit penyebab kematian paling tinggi di Indonesia. Menurut information Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat stroke mencapai 132 kasus per 100 ribu penduduk.

Dibutuhkan penanganan yang cepat dan tepat pada pasien stroke, khususnya di fase awal. Hal ini perlu dilakukan agar kondisi kesehatan tidak memburuk atau risiko stroke untuk muncul kembali menjadi rendah. Sebenarnya apa saja faktor yang menyebabkan seorang pasien mengalami stroke untuk yang kedua kalinya?

Dokter spesialis neurologi dr Nyoman Angga Krisna Pramana, SpN FINR menuturkan bahwa seorang pasien stroke harus mendapat penanganan yang adekuat. Namun dalam beberapa kasus, faktor risiko atau penyebab stroke pada seorang pasien bisa sulit ditemukan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Contoh misalnya ada pasien stroke non-hemoragik, mencari apa penyebabnya aja sulit dan membutuhkan waktu. Apakah pembuluh darah lehernya yang bermasalah, atau pembuluh darah otak, atau jantungnya yang bermasalah,” ucap dr Nyoman dalam webinar Kenali dan Kendalikan Stroke Kemenkes, Jumat (3/11/2023).

“Kondisi ini mengakibatkan pencarian faktor risiko dari pasien ini menjadi tidak adekuat, terlepas dari problem-problem tersebut. Ketika pencarian faktor risiko tidak adekuat, maka penanganan juga bisa menjadi tidak adekuat,” sambungnya.

Selain itu, dr Nyoman juga menuturkan bahwa menjalani pengobatan penyakit stroke tidaklah mudah. Dalam pengalamannya, ia kerap menemukan pasien yang tidak dapat mengikuti ritme proses perawatan lantaran begitu panjang dan memerlukan banyak sekali obat. Mulai dari obat pengencer darah, anti kolesterol, hingga anti kencing manis tergantung bagaimana kondisi pasien.

Tak jarang akhirnya kondisi ini membuat pasien merasa kelelahan dalam menjalani pengobatan penyakit stroke.

“Sering kali pasien stroke tidak meminum semua obat ini dengan baik karena merasa capek, merasa lelah, atau ketika minum obat tidak merasakan banyak perubahan seperti itu. Jadi itu saya rasa faktor seseorang bisa menyebabkan stroke kedua,” pungkasnya.

Simak Video “Viral Cuitan Kiky Saputri, Apakah Stroke Kuping Benar Ada?
[Gambas:Video 20detik]
(avk/naf)

Curhat Wanita Kena Stroke di Umur 26, Ketahuan saat Terkapar di Kamar Mandi


Jakarta

Seorang wanita muda terkena stroke di usia 26 tahun, beberapa bulan setelah melahirkan. Ia sempat curiga, kondisinya itu timbul karena ia sempat mengkonsumsi obat kombinasi sebelum melahirkan.

Wanita tersebut adalah Donna King di County Durham, Inggris. Serangan stroke tersebut Donna alami sekitar 11 tahun lalu, ketika Donna sedang berada di rumah bersama bayinya yang Masih berusia empat setengah bulan.

Kini dalam kondisi usia Donna sudah 37 tahun, hanya satu lengan Donna yang bisa berfungsi dengan regular. Menurutnya, kondisinya itu dipicu oleh efek samping penggunaan pil kontrasepsi kombinasi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Donna mengaku, dirinya tak pernah mengalami gejala ‘khas’ stroke seperti vertigo atau masalah pendengaran. Ketika serangan stroke itu terjadi, semua terjadi begitu saja tanpa gejala apa pun. Suami Donna, Nicky, menemukan Donna sudah terkapar di kamar mandi dan langsung memanggil ambulans.

“Saya bisa memastikan bahwa Millie (anak Donna) ada di tempat tidur dan untungnya saya tidak berguling. Tapi saya tidak bisa melihat dengan jelas. Ketika paramedis tiba, mereka mengira saya terkena infeksi telinga yang parah. Mereka sempat menyuruh saya beristirahat, tapi saya memohon minta dibawa ke rumah sakit,” ungkap Donna dikutip dari Mirror Information UK, Kamis (2/11/2023).

Seiring waktu, kondisi Donna terus memburuk. Ia kehilangan kemampuan berbicara dengan regular, begitu juga kemampuan berjalannya menurun. Ia sempat berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan di RS selama tiga bulan.

“Saya kritis selama beberapa minggu pertama. Saya bahkan risak bisa melihat Millie sampai setelah beberapa minggu di rumah sakit kerika saya sudah harus lebih stabil. Saya harus menggunakan tabel ejaan untuk berkomunikasi dan dibawa berkeliling menggunakan kursi roda,” tutur Donna.

Meski kini sudah bisa berbicara dan berjalan dengan regular, Donna mengaku hanya satu lengannya yanf bisa bekerja dengan regular. Donna merasa, dirinya telah melewatkan berbagai peran yang harusnya ia jalani sebagai seorang ibu.

“Saya melewatkan begitu banyak pencapaian sebagai ibu. Tapi Nicky luar biasa dan Millie belajar melakukan banyak hal sendiri. Seperti menata rambut dan mengikat tali sepatu. Saya sangat bangga padanya. Kami belajar untuk melakukan banyak hal. Segalanya bersama-sama ketika saya dalam pemulihan,” pungkasnya.

Kini, Donna bekerja untuk mendukung Nationwide Well being Service (NHS) dan Asosiasi Stroke. Ia berharap dengan pekerjaannya sekarang, ia bisa ikut serta membantu orang-orang yang mengalami penyakit serupa dengan dirinya.

Simak Video “Penyakit Jantung Penyakit Orang Tua?
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

Dokter Beri Warning Efek Serius Polusi Tingkatkan Risiko Stroke, Ini Kaitannya


Jakarta

Masyarakat yang kerap terpapar polusi udara dihantui sejumlah risiko penyakit. Beberapa yang sering disebut-sebut oleh praktisi kesehatan yakni batuk dan sesak, masalah pada paru, hingga risiko stroke. Memang sebenarnya, apa hubungannya paparan polusi dengan stroke?

Dokter spesialis saraf sekaligus anggota Dewan Pembina Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSh) Prof Dr dr Yuda Turana, SpS, menjelaskan, polusi memang terbukti memiliki kaitan dengan risiko penyakit pada otak. Dalam hal ini penyakit yang dimaksud bukan hanya stroke, melainkan juga risiko demensia.

“Polusi itu banyak hal. Karena di dalam polusi itu kita bicara zat yang berbeda-beda. Itu harus baca dulu. Tapi yang agak unik dalam konteks kesehatan otak, memang outcome-nya disebutnya fungsi kognitif itu polusi udara termasuk yang evidence-nya cukup kuat,” terangnya saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Selasa (24/10/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Artinya pada kondisi polusi yang tinggi, risiko demensia lebih besar. Kalau mungkin di Lancet, itu faktor risiko kesehatan otak kan ada pendidikan, bodily inactivity, depresi, obesitas, ada DM, kemudian dimasukkan selain merokok ada polusi udara,” imbuh dr Yuda.

Di samping itu dr Yuda juga menjelaskan, hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi faktor risiko utama penyakit stroke. Seringkali, hal ini dipicu oleh kebiasaan asupan garam yang tinggi, dibarengi kondisi obesitas, minim aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi minuman beralkohol.

“Bukan hanya garam banyak, tapi juga obesitas dan bodily inactivity. Bisa saja langsing, berat badannya sempurna tapi dia nggak aktif bergerak, itu juga faktor risiko. Merokok, alkohol,” tutur dr Yuda dalam kesempatan tersebut.

Simak Video “Ini 5 Aplikasi Cek Kualitas Udara di Android-IOS
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

Riset Sebut Kasus Stroke Bakal Naik Drastis Beberapa Tahun ke Depan, Ini Gegaranya

Jakarta

Serangan stroke tak hanya menghantui orang-orang berusia lanjut, melainkan juga orang-orang muda dengan kisaran usia 20 hingga 30 tahun. Lebih lagi baru-baru ini, Organisasi Stroke Dunia-Komisi Neurologi Lancet melaporkan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, jumlah pasien stroke akan meningkat pesat di seluruh dunia. Mengapa demikian?

Tak hanya gegara kedatangannya yang seringkali mendadak tanpa ‘aba-aba’ beruba gejala tertentu lebih dulu, penyakit stroke juga ditakutkan lantaran berisiko menimbulkan kecacatan permanen.

Kemudian laporan dari Lancet baru-baru ini menyebut, jumlah orang yang meninggal dunia akibat stroke di seluruh dunia kemungkinan akan meningkat sebanyak 50 persen pada 2050, dengan 10 juta orang meninggal karena stroke setiap tahunnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Medical Information At present, saat ini, tercatat ada 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke setiap tahunnya. 5 juta dari orang-orang ini meninggal, sementara 5 juta lainnya masih hidup dengan kecacatan. Diketahui, stroke adalah penyebab kematian kedua terbesar dunia, setelah penyakit jantung iskemik.

Selain itu, laporan tersebut juga mencatat bahwa kasus stroke meningkat pesat di kalangan orang dewasa berusia kurang dari 55 tahun. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), pada kebanyakan kasus, stroke dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup berupa:

  • Makan Sehat
  • Aktif secara fisik
  • Tidak merokok
  • Membatasi asupan alkohol

Apa Penyebabnya?

Ahli saraf dari Universitas Columbia, dr Joshua Z. Willey, menyebut salah satu penyebab stroke paling signifikan adalah kondisi hipertensi, yang seringkali tidak diobati dengan baik dan tidak terdeteksi.

Kemudian kepala penelitian dan pengembangan di VA St. Louis Well being Care System, Ziyad Al-Aly, menyebut epidemi obesitas world adalah penyebab utama kasus stroke. Ditambah, kasus diabetes sebagai faktor stroke lainnya juga meningkat di dunia.

Sedangkan Profesor Madya Monash College, Monique Kilkenny, mencatat bahwa masalah lingkungan dan kualitas udara, termasuk masalah polusi, berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi stroke saat ini.

Simak Video “Seberapa Penting Menyederhanakan Istilah Medis ke Masyarakat Awam?
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Gejala yang Muncul Beberapa Hari Sebelum Stroke, Salah Satunya Pandangan Kabur


Jakarta

Stroke kerap dipandang sebagai momok mengerikan. Sebab seiring kedatangannya yang tiba-tiba tanpa menunjukkan ‘aba-aba’ lebih dulu, penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, dengan risiko kerusakan permanen.

Sebenarnya, menurut sejumlah ahli, ada beberapa gejala umum yang dapat timbul beberapa hari sebelum stroke terjadi. Misalnya berupa kelemahan pada satu sisi tubuh atau kebingungan mendadak. Kemudian, perubahan kemampuan penglihatan juga dapat menandakan penyakit kardiovaskular yang akan datang.

Stroke terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terputus. Stroke mata misalnya, terjadi ketika suplai darah ke mata terputus. Kondisi ini mungkin merupakan indikasi bahwa seseorang berisiko terkena stroke serius.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian yang berkembang menunjukkan bahwa kerusakan dini pada pembuluh darah kecil yang menuju ke mata mungkin menjadi tanda peringatan dari kondisi tersebut. Penyumbatan di pembuluh darah ini dapat menyebabkan perubahan penglihatan secara tiba-tiba seperti kabur, space gelap, atau bayangan.

Sebagaimana dijelaskan oleh para ahli di Harvard Well being, stroke mata dapat menandakan stroke yang lebih serius. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini terjadi hanya pada salah satu mata. Jika penyumbatan tidak tergolong serius, ada 80 persen kemungkinan penglihatan akan kembali regular.

Namun, kondisi ini tetap berbahaya karena kurangnya aliran darah ke jaringan yang terletak di bagian depan saraf optik dapat berdampak buruk pada penglihatan jika pengobatan tidak dilakukan sesegera mungkin.

“Kebanyakan orang dengan stroke mata menyadari hilangnya penglihatan pada salah satu matanya saat bangun di pagi hari tanpa rasa sakit,” tertera dalam laman situs net Penn College, dikutip dari Mirror Information UK, Sabtu (14/10/2023).

“Beberapa orang melihat space gelap atau bayangan dalam penglihatan mereka yang mempengaruhi bagian atas atau bawah bidang visible mereka,” terangnya lebih lanjut.

Selain itu, gejala yang seringkali timbul sebagai tanda beberapa hari sebelum stroke terjadi adalah penurunan kontras visible dan sensitivitas terhadap cahaya.

Simak Video “Seberapa Penting Menyederhanakan Istilah Medis ke Masyarakat Awam?
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Kata Ahli, Ini Golongan Darah yang Rentan Terkena Stroke Dini

Jakarta

Stroke adalah penyakit pembuluh darah otak (cerebrovascular) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang disebabkan berkurangnya aliran darah dan oksigen di otak.

Mengutip laman American Stroke Affiliation, berkurangnya aliran darah dan oksigen dapat terjadi karena adanya sumbatan, penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah, sehingga mengakibatkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat merusak atau mematikan sel-sel otak.

Sebagian orang menganggap bahwa penyakit stroke dapat menyerang ketika memasuki usia tua. Namun ternyata, dalam sejumlah kasus pasien stroke ada yang masih berusia muda, lho.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, sebuah riset menunjukkan kalau golongan darah tertentu berisiko terkena stroke di usia muda. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasannya secara lengkap di bawah ini.

Golongan Darah yang Rentan Terserang Stroke

Dalam sebuah riset yang diterbitkan oleh College of Maryland di tahun 2022, ditemukan bahwa sejumlah golongan darah berisiko terserang stroke sejak usia dini. Hal ini berdasarkan penelitian dengan mengumpulkan knowledge dari 48 studi genetik mencakup sekitar 17.000 orang dengan stroke dan hampir 600.000 kontrol non-stroke. Semua peserta berusia antara 18 hingga 59 tahun.

Pencarian di seluruh genom mengungkapkan ada dua lokasi yang sangat terkait dengan risiko stroke sebelumnya. Satu bertepatan dengan tempat gen untuk golongan darah berada.

Dari analisis tersebut, terungkap bahwa mereka yang punya golongan darah A 16% lebih tinggi berisiko terkena stroke sebelum usia 60 tahun jika dibandingkan dengan populasi golongan darah lain. Sedangkan kelompok golongan darah O memiliki risiko lebih rendah sebesar 12%.

Steven Kittner selaku penulis senior dan ahli saraf vaskular di College of Maryland mengatakan, ia masih belum mengetahui kenapa golongan darah A punya risiko tinggi terserang stroke. Namun, Steven menduga ada hubungannya dengan faktor pembekuan darah.

“Tapi itu mungkin ada hubungannya dengan faktor pembekuan darah seperti trombosit dan sel yang melapisi pembuluh darah serta protein sirkulasi lainnya, yang semuanya berperan dalam perkembangan pembekuan darah,” kata Steven.

Temuan kunci lain dari penelitian itu berasal dari membandingkan orang yang mengalami stroke sebelum usia 60 tahun dengan mereka yang terserang stroke setelah berusia 60 tahun. Penelitian tersebut melibatkan orang yang berusia di atas 60 tahun dengan rincian 9.300 orang pengidap stroke dan 25.000 orang yang tidak mengidap stroke.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan risiko stroke pada golongan darah A menjadi tidak signifikan pada kelompok stroke late-onset (berusia di atas 60 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa stroke yang terjadi di usia muda (early-onset) mungkin memiliki mekanisme yang berbeda dengan yang terjadi ketika sudah lanjut usia.

Gejala Stroke

Perlu diketahui bahwa gejala awal stroke sering tidak diketahui oleh penderitanya. Stroke sering muncul secara mendadak dan berlangsung cepat, sehingga menyebabkan penderitanya tak sadarkan diri (koma).

Lantas, apa saja gejala umum penyakit stroke? Simak di bawah ini yang dikutip e-jurnal milik poltekkes-denpasar.ac.id:

  • Nyeri kepala disertai penurunan kesadaran bahkan mengalami koma (pendarahan otak)
  • Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh
  • Seluruh badan mendadak lemas dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop assault) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop)
  • Gangguan penglihatan (mata kabur) pada satu atau kedua mata
  • Gangguan keseimbangan berupa vertigo dan sempoyongan (ataksia)
  • Rasa baal pada wajah atau anggota badan di satu maupun kedua sisi
  • Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara (afasia)

Penyebab Stroke di Usia Muda

Bagi detikers yang masih berusia muda, jangan anggap remeh stroke dan berpikir kalau penyakit ini hanya menyerang saat tua. Soalnya, stroke juga dapat menyerang sejak usia dini.

Stroke di usia muda cenderung disebabkan oleh penumpukan timbunan lemak di arteri (suatu proses yang disebut aterosklerosis). Selain itu, stroke di usia dini juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan pembentukan gumpalan.

Nah, itu dia pembahasan mengenai stroke yang dapat menyerang di usia muda. Jadi, tetap jaga kesehatan dengan menjaga pola makan dan rutin olahraga ya.

Simak Video “Penyakit Jantung Penyakit Orang Tua?
[Gambas:Video 20detik]
(ilf/fds)

5 Hal Ini Ternyata Bisa Picu Risiko Stroke, Termasuk Kelamaan Jomblo

Jakarta

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu (stroke iskemik) atau saat pembuluh darah di otak bocor atau pecah (stroke hemoragik). Kondisi ini dipandang sebagai momok mengerikan lantaran di samping kemunculannya yang tiba-tiba, tingkat fatalitasnya pun tinggi.

Memang, risiko stroke dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang tidak bisa dikendalikan seperti faktor genetik, usia, dan ras. Namun di samping itu, ada juga hal-hal yang bisa dikendalikan untuk menekan risiko stroke. Pasalnya, stroke ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan seperti pola makan dan gaya hidup sehari-hari.

Dikutip dari NBC Information, berikut beberapa kebiasaan yang meningkatkan risiko terkena stroke.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Sering makan makanan tinggi lemak

Makanan yang melalui proses penggorengan dapat meningkatkan risiko terkena stroke.

Dalam Konferensi Stroke Internasional American Stroke Associations (ASA), para peneliti dari College of North Carolina menyebut temuan bahwa wanita pasca menopause yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak memiliki insiden stroke iskemik 40 persen lebih banyak dibanding yang mengkonsumsi makanan rendah lemak.

2. Memilih hidup melajang

Sebuah studi di Universitas Tel Aviv terhadap lebih dari 10.000 pria Israel menemukan bahwa orang-orang yang menikah di usia paruh baya 64 persen lebih kecil kemungkinannya meninggal karena stroke selama 34 tahun ke depan dibandingkan pria lajang.

Information tersebut disesuaikan dengan faktor lainnya seperti standing sosial ekonomi, tekanan darah, dan merokok. Selain itu, pria yang merasa tidak puas dengan pernikahan nya juga sama berisikonya terkena stroke seperti pria lajang.

3. Merasa tidak bahagia

Kebahagiaan menjadi musik bagi sistem kardiovaskular seseorang. Para peneliti di College of Texas Medical Department di Galveston pada 2001 melaporkan bahwa, seseorang yang lebih tua dengan suasana hati dan sikap positif dapat terlindungi dari stroke.

Bahkan peningkatan kebahagiaan secara bertahap, menurunkan 41 persen risiko pada pria dan 18 persen risiko pada wanita untuk terkena stroke.

4. Kelebihan berat badan

Menurut para peneliti dari College of Minnesota, kelebihan berat badan juga meningkatkan risiko yang lebih tinggi mengalami stroke.

Pada sebuah penelitian yang dipresentasikan di Worldwide Stroke Convention, para peneliti mengamati 13.000 orang Amerika selama 19 tahun dan menemukan bahwa, orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) tertinggi lebih berisiko terkena stroke daripada seseorang yang memiliki IMT lebih rendah.

Menurut penulis studi, Hiroshi Yatsuya dalam sebuah pernyataan, hal tersebut berkaitan karena beberapa faktor risiko stroke dapat diperburuk dengan kondisi obesitas. Selain itu dirinya mengatakan bahwa tekanan darah tinggi dan diabetes menjadi penyebab terbesarnya.

5. Merokok

Kebiasaan merokok membuat seseorang lebih rentan terkena stroke. “Merokok hampir menggandakan risiko anda terkena stroke iskemik,” kata para ahli di John Hopkins Drugs.

Simak Video “Seberapa Penting Menyederhanakan Istilah Medis ke Masyarakat Awam?
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Awal Mula Pria 28 Tahun Kena Stroke, Sempat Dikira Alami Efek Samping Obat


Jakarta

Stroke adalah salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia. Meski kerap terjadi pada lansia, stroke ternyata juga dilaporkan menyerang kelompok usia produktif.

Salah satunya dialami oleh Stephen Vidman. Pria asal Ohio, Amerika Serikat, itu terkena stroke saat masih berusia 28 tahun.

Dikutip dari TODAY, Vidman waktu itu sedang berbicara dengan ibunya melalui telepon. Namun, sesaat kemudian dia merasa pusing.

Awalnya Vidman mengabaikan gejala tersebut dan menganggapnya sebagai efek samping obat yang diminumnya. Tapi tak lama, Vidman mulai kesulitan untuk berkata-kata.

“Saya mencoba mengabaikannya, tapi akhirnya saya terjatuh,” ucap Vidman dikutip dari TODAY, Senin (24/7/2023).

dr Em Harington, orang yang memberikan pertolongan pertama kepada Vidman, langsung melakukan analysis. Selama pemeriksaan, Vidman menunjukkan gejala lain seperti cadel dan bergumam. dr Harington juga mendapati Vidman melihat sekeliling sambil bertingkah seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Saya memperhatikan wajahnya, Saya menyuruhnya mengangkat wajah dan alisnya. Dia mengalami kelumpuhan wajah sepenuhnya,” ujar dr Harington.

Melihat kondisi Vidman, dr Harington langsung mengetahui kalau pria muda itu mengalami stroke. Ia dengan cepat membawa Vidman ke departemen darurat di rumah sakit dengan perwatan stroke yang berada di seberang kantor.

Sesampainya di departemen darurat, Vidman langsung menjalani trombektomi, prosedur yang dilakukan untuk menghilangkan gumpalan darah yang menyumbat dan memicu stroke.

Dokter mengungkapkan stroke yang dialami Vidman bermula dari kecelakaan yang membuat aortanya pecah. Kala itu, Vidman yang masih berusia 18 tahun ditabrak sebuah truk dan membuatnya terhempas ke udara.

Meski kerusakan pada aorta Vidman waktu itu berhasil ditangani, dokter menduga pembuluh darah yang pecah itu melemah sehingga memungkinkan terjadinya penggumpalan darah seiring dengan waktu.

Simak Video “Seberapa Penting Menyederhanakan Istilah Medis ke Masyarakat Awam?
[Gambas:Video 20detik]
(ath/naf)