Tag: Studi

Terbukti Lewat Studi, 5 Bahan Ini Terbukti Bisa Bantu Turunkan Kolesterol

Jakarta

Sudah menjadi rahasia umum, jika kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) berlebih dalam tubuh dapat mengancam kesehatan tubuh. Kadar kolesterol yang tinggi bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular.

Kolesterol jahat dapat menumpuk di arteri, menghalangi aliran darah ke jantung yang berpotensi menyebabkan serangan jantung atau stroke.Selain itu, kini bukan hanya orang dewasa, usia remaja bahkan anak-anak pun bisa memiliki kadar kolesterol tinggi.

Namun tak perlu cemas selain pengobatan dan perubahan gaya hidup, ternyata natural tertentu bisa membantu menurunkan kolesterol. Dikutip dari Medical Information Immediately, inilah beberapa natural alami yang terbukti dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Kemangi

Kemangi yang memiliki citarasa sedikit pedas dan pahit ini bisa membantu mengurangi kadar kolesterol tinggi. Menurut salah satu studi di tahun 2018, kemangi mempengaruhi orang dewasa berusia 40 tahun ke atas dengan gangguan metabolisme.

Selain itu, ditemukan bahwa mengonsumsi dosis yang lebih tinggi berhasil menurunkan kadar kolesterol. Namun, para peneliti mencatat efeknya bersifat jangka pendek.

2. Jahe

Natural yang sering dimanfaatkan sebagian besar orang ini, telah lama dipercaya bisa mengatasi beberapa keluhan dalam tubuh. Salah satu manfaatnya yakni bisa membantu menurunkan kolesterol jahat.

Studi menunjukkan bahwa jahe kurang dari dua gram per hari, mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol LDL.

3. Kunyit

Tak hanya biasa digunakan sebagai bumbu masakan, kunyit juga kerap dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Bahkan natural yang memiliki warna kuning khas ini juga bisa menurunkan risiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular.

Pada sebuah studi 2017, para peneliti menemukan bahwa kunyit dan kurkumin dapat melindungi pasien yang berisiko terkena penyakit kardiovaskular dengan meningkatkan kadar lemak serum.

4. Rosemary

Rosemary terbukti memiliki beberapa efek positif pada kadar kolesterol seseorang. Menurut penelitian 2014, orang yang setiap hari mengonsumsi 2,5 atau 10 gram bubuk rosemary mengalami penurunan kadar kolesterol whole.

Bahkan peneliti tersebut menyarankan untuk mengonsumsi rosemary, karena bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan kondisi kronis lainnya.

5. Fenugreek

Sebuah studi menunjukkan, fenugreek dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Bahkan di tahun 2020, para peneliti menemukan bukti penggunaan natural ini bisa membantu menurunkan kadar kolesterol pada penderita diabetes.

Simak Video “Suggestions dari Dokter untuk Pengidap Kolesterol Agar Aman Jalankan Puasa
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Terbukti Lewat Studi, 5 Makanan Ini Bisa Turunkan Risiko Diabetes

Jakarta

Diabetes melitus adalah penyakit paling mematikan ketiga di Indonesia setelah stroke dan jantung. Diperkirakan, jumlah pengidap diabetes di Indonesia mencapai 30 juta orang pada 2030, mengacu pada laman resmi Kementerian Kesehatan RI.

Penyakit ini terjadi ketika gula menumpuk di dalam darah akibat masalah pada produksi hormon insulin. Diabetes tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan agar tidak kemudian memicu komplikasi yang dapat berujung pada kematian.

Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa seseorang dapat menurunkan risiko terkena diabetes dengan memilih makanan tertentu. Dikutip dari The Solar, berikut adalah 5 makanan yang terbukti dapat menurunkan risiko terkena diabetes.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Anggur

Menurut sebuah penelitian, mengonsumsi anggur dapat memangkas peluang terkena diabetes hingga 10 persen. Menurut Pusat Pengendalian dan Perlindungan Penyakit AS (CDC), meningkatkan konsumsi buah adalah salah satu cara untuk mulai mengelola risiko penyakit ini.

Namun, para peneliti menemukan bahwa tidak semua buah memiliki manfaat yang sama dalam mengatasi diabetes. Adapun penelitian mereka, yang diterbitkan dalam Korean Journal of Household Medication, melacak kebiasaan makan pada orang dewasa berusia 40 hingga 69 tahun.

Mereka menemukan bahwa makan satu porsi anggur dalam seminggu dapat mengurangi risiko diabetes, tetapi satu porsi buah apa pun dapat meningkatkan risiko sebesar dua persen.

Hojun Yu, dari Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, mengatakan temuan mereka menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi buah-buahan tertentu dan risiko terkena diabetes tipe 2.

“Konsumsi anggur yang lebih besar secara signifikan terkait dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah pada kelompok kami. Tetapi jumlah whole konsumsi buah tidak terkait dengan penurunan risiko,” terangnya.

2. Beras cokelat

Mengganti karbohidrat bertepung dengan biji-bijian utuh juga dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes.

Diabetes UK mengatakan bahwa konsumsi roti putih, nasi putih, dan sereal sarapan bergula yang dikenal sebagai karbohidrat olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Namun, biji-bijian utuh seperti beras cokelat, pasta gandum utuh, tepung gandum utuh, roti gandum utuh, dan gandum dikaitkan dengan penurunan risiko.

Satu studi, yang diterbitkan dalam The BMJ, menemukan bahwa mengonsumsi lebih banyak biji-bijian utuh dapat mengurangi risiko secara signifikan.

Dua atau lebih porsi beras cokelat dalam seminggu mengurangi risiko sebesar 12 persen, jika dibandingkan dengan hanya makan satu porsi dalam sebulan.

3. Cabai

Pecinta makanan pedas mungkin sudah mengurangi risiko diabetes tanpa menyadarinya. Pasalnya, capsaicin, senyawa kimia dalam cabai yang memberikan rasa pedas, telah terbukti dapat mengurangi kadar glukosa darah.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Meals Chemistry menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut membantu meningkatkan kadar insulin pada tikus diabetes.

Shiqi Zhang, dari Southwest College di Chongqing, Cina, mengatakan, “Cabai menunjukkan efek antiobesitas, antikanker, antidiabetes, serta pereda rasa sakit dan gatal pada hewan dan manusia. Efek-efek ini disebabkan oleh capsaicin, yang merupakan komponen pedas dan aktif secara biologis dari cabai.”

Mohon Maaf yang Pernah COVID-19! Studi Bawa Kabar Tak Enak Lagi


Jakarta

Sejumlah orang yang pernah terkena COVID-19 mengalami lengthy COVID atau gejala berkepanjangan. Adapun salah satu gejala yang dikeluhkan berupa masalah kognitif seperti kabut otak atau mind fog.

Sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature Medication, mengamati lebih dari 1.800 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit karena COVID. Dalam penelitiannya, ditemukan peningkatan kadar dua protein, yakni fibrinogen dan D-dimer, sering terjadi pada mereka dengan lengthy COVID yang memengaruhi otak.

Kedua protein tersebut merupakan tanda adanya penggumpalan darah di dalam tubuh. Menurut Max Taquet, penulis studi di Universitas Oxford, pasien dengan kadar fibrinogen yang tinggi dapat mengalami pembekuan darah di otak yang menyebabkan masalah kognitif.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara peningkatan kadar D-dimer juga dapat menyebabkan pembekuan darah di paru-paru yang dapat memicu komplikasi, seperti mengurangi aliran darah ke otak dan juga menyebabkan kelelahan dan sesak napas.

Studi tersebut menemukan pasien dengan D-dimer konsentrasi tinggi cenderung mengalami kelelahan dan sesak napas pasca-COVID.

baca juga

“Individu dengan kadar D-dimer yang tinggi tidak hanya lebih rentan terhadap kabut otak tetapi juga menunjukkan peningkatan risiko gangguan pernafasan,” kata Taquet, dikutip dari The Unbiased.

Studi tersebut didasarkan pada pemikiran yang muncul saat puncak pandemi COVID-19 menyebabkan beberapa pasien mengalami gumpalan kecil di paru-paru dan di otak. Kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk masalah memori jangka panjang, konsentrasi dan berpikir.

“Ini adalah langkah maju yang penting dalam pemahaman kita tentang stratifikasi lengthy Covid dan, mungkin, beberapa mekanisme yang mendasarinya, mereka berpendapat bahwa kasus untuk mendukung kemungkinan masukan dari efek pada jalur pembekuan,” kata Danny Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial Faculty London, dan pakar lengthy COVID terkemuka,

Lebih lanjut, temuan ini menunjukkan pengujian kadar protein darah pasien yang dapat memperingatkan dokter jika pasien tersebut harus dirawat imbas pembekuan darah sejak dini.

Apalagi jika pasien tersebut pernah terkena COVID-19 yang paling mungkin mengalami kabut otak dan gejala lengthy COVID lainnya.

Sejak tahun 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 36 juta orang di kawasan Eropa diyakini telah mengalami masalah kesehatan jangka panjang atau lengthy COVID, setelah terinfeksi virus tersebut.

baca juga

Simak Video “BPJS Kesehatan Tanggung Biaya Perawatan Pasien Covid-19
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

Studi Bawa Kabar Nggak Enak, Ini yang Terjadi pada Tubuh Pasca Kena COVID-19


Jakarta

Beberapa orang yang pernah terkena COVID-19 mengalami gejala berkepanjangan atau disebut lengthy COVID. Dalam kondisi sudah sembuh dari COVID-19, mereka tetap merasakan sejumlah gejala yang berlangsung dalam waktu lama.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal ilmiah Lancet Respiratory, mengamati 259 pasien yang sakit parah karena COVID-19, sehingga mereka perlu dirawat di rumah sakit. Lima bulan setelah pulang dari RS, pemindaian MRI pada organ-organ utama mereka menunjukkan perbedaan signifikan dibanding mereka yang tak pernah terkena COVID.

Dampak paling besar terlihat pada paru-paru, saat pemindaian 14 kali lebih mungkin menunjukkan keabnormalan. Pemindaian MRI juga tiga kali lebih mungkin untuk menunjukkan suatu abnormalitas pada otak, serta dua kali lebih mungkin pada ginjal pada di pasien yang mengalami COVID parah. Tidak ada perbedaan signifikan dalam kesehatan jantung atau liver.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun temuan-temuan ini adalah bagian dari studi yang lebih besar untuk mengamati dampak jangka panjang COVID pada pasien yang dirawat di rumah sakit, dikenal sebagai studi Phosp-COVID.

“Lima bulan setelah dirawat di rumah sakit karena COVID, kami menemukan lebih banyak abnormalitas di paru-paru, otak, dan ginjal pada pasien-pasien tersebut dibandingkan grup yang tidak pernah mengalami COVID,” ungkap salah satu peneliti utama dalam studi tersebut, Dr Betty Raman, dari Universitas Oxford, dikutip dari BBC.

“Usia pasien, seberapa parah COVID mereka, serta apakah mereka juga mengidap penyakit lain pada waktu yang sama, semuanya menjadi faktor signifikan dalam apakah kami menemukan kerusakan pada organ-organ penting ini di dalam tubuh,” lanjutnya lagi.

Peneliti menemukan, beberapa gejala cocok dengan tanda-tanda kerusakan organ yang diungkap oleh pemindaian MRI, misalnya dada sesak dan batuk-batuk dengan abnormalitas di paru-paru. Namun, tidak semua gejala yang dialami mereka yang mengalami lengthy COVID dapat secara langsung dihubungkan dengan yang terlihat pada pemindaian.

Dr Raman mengatakan, kelainan pada lebih dari satu organ lebih umum terjadi pada orang yang pernah dirawat di rumah sakit dan masih melaporkan masalah kesehatan fisik dan psychological setelah mereka pulih dari infeksi awal.

“Apa yang kami lihat adalah orang-orang dengan kelainan multi-organ pada MRI, yaitu mereka punya lebih dari dua organ yang dampak, empat kali lebih mungkin melaporkan gangguan psychological dan fisik yang parah dan sangat parah,” ujarnya.

“Temuan kami juga menyoroti perlunya layanan tindak lanjut multidisiplin jangka panjang yang berfokus pada kesehatan paru dan ekstraparu (ginjal, otak, dan psychological), khususnya bagi mereka yang dirawat di rumah sakit karena COVID,” sambungnya lagi.

Di sisi lain, Prof Chris Brightling, dari Universitas Leicester dan pemimpin penelitian Phosp-COVID, mengatakan penelitian ini adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk memahami kelompok gejala berbeda yang membentuk sindrom yang dikenal sebagai lengthy COVID.

Simak Video “BPJS Kesehatan Tanggung Biaya Perawatan Pasien Covid-19
[Gambas:Video 20detik]
(suc/vyp)

Terbukti Lewat Studi, 3 Olahraga Ini Bisa Bikin Pria Tahan Lama di Ranjang

Jakarta

Olahraga disebut efektif untuk meningkatkan kesehatan seksual terutama dalam menjaga kekuatan ejakulasi pria. Sebuah penelitian bahkan bisa membuktikan hal tersebut.

Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Tendencies in Urology and Males’s Well being mengamati 54 penelitian dan hampir 3.500 peserta untuk menguji efektivitas intervensi non-obat untuk ejakulasi dini.

Tinjauan tersebut menemukan beberapa jenis olahraga bisa membantu mengatasi ejakulasi dini para pria. Peneliti menemukan bahwa aktivitas fisik secara teratur sebagai intervensi memberikan hasil yang menjanjikan untuk mengatasi ejakulasi dini.

Beberapa tanda ejakulasi dini antara lain:

  • Selalu atau sering ejakulasi dalam 1 hingga 3 menit setelah penetrasi
  • Tidak pernah atau jarang untuk bisa menunda ejakulasi saat berhubungan seks
  • Merasa tertekan dan frustasi sewaktu ejakulasi dan cenderung menghindari keintiman seksual

Adapun beberapa olahraga yang terbukti bisa mengatasi ejakulasi dini yakni:

Kegel

Kegel dikenal dengan latihan otot panggul (pelvic ground). Latihan ini terbukti bermanfaat untuk ejakulasi dini karena Otot dasar panggul berperan dalam ejakulasi dan pria yang dapat memperkuat dan meningkatkan kontrol otot panggul mungkin dapat menunda ejakulasi dengan mengendurkan otot perineumnya.

Berlari

Berlari selama 30 menit sebanyak lima kali dalam seminggu membantu memperpanjang waktu latensi (jarak waktu hingga terjadi ejakulasi). Efek ini sama dengan mengonsumsi dapoxetine, obat inhibitor yang awam digunakan pada ejakulasi dini.

Yoga

Yoga juga dapat menunda ejakulasi dini. Yoga memberikan efek menenangkan sehingga dapat membantu mengatasi stres berat yang bisa menjadi penyebab ejakulasi dini. Beberapa gerakan yoga ini bisa memperkuat otot panggul, seperti gerakan dhanurasana, sarvangasana, bhujangasana, dan matsyasana menjadi jenis latihan yang bisa dicoba untuk mengatasi ejakulasi.

Simak Video “Kisah Pekerja Kantoran Jakarta yang Rajin Lari Gegara Lama Nunggu Angkot
[Gambas:Video 20detik]
(Anggi Rustiana/kna)

Ibu-ibu Merapat! Begini Temuan Studi soal Dampak Display screen Time pada Balita


Jakarta

Menyibukkan balita dengan memberinya display time each day seperti bermain ponsel atau pill mungkin tampak sederhana. Akan tetapi, hal tersebut bisa memperlambat tumbuh kembang mereka.

Studi baru menemukan bahwa display time yang lebih lama pada balita usia 1 tahun berkaitan dengan keterlambatan perkembangan dalam komunikasi serta pemecahan masalah bagi balita berusia 2 sampai 4 tahun. Para ahli mengatakan, membatasi display time pada balita dapat mendukung perkembangan mereka.

Jurnal JAMA Pediatrics menjelaskan balita berusia satu tahun yang memiliki display time lebih lama lebih tinggi berisiko mengalami keterlambatan perkembangan dalam komunikasi dan pemecahan masalah pada usia 2 dan 4 tahun.

“Penelitian ini menambah bukti bahwa peningkatan display time (pada balita dan anak kecil), berkontribusi pada keterlambatan perkembangan di berbagai bidang. Seperti keterampilan komunikasi, keterampilan memecahkan masalah, dan keterampilan sosial,” ujar Dr. Christina Johns, dokter gawat darurat anak dan penasehat medis senior di PM Pediatric Care yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut dikutip dari Healthline.

Penelitian tentang keterlambatan perkembangan pada usia dua dan empat tahun ini melibatkan 7.097 anak-anak beserta orang tuanya yang direkrut dari 50 klinik kebidanan dan rumah sakit di Jepang antara tahun 2013 dan 2017. Orang tua melaporkan berapa banyak display time yang diizinkan untuk anak mereka yang berusia satu tahun di setiap harinya, termasuk TV (televisi), DVD (Digital Versatile Disk), online game, ponsel dan pill.

Kemudian ketika anak mereka berusia 2 dan 4 tahun, orang tua menanggapi kuesioner yang menilai perkembangan anak mereka di beberapa bidang komunikasi motorik kasar, motorik halus, pemecahan masalah dan keterampilan pribadi serta sosial.

Mereka yang memiliki dua kali display time empat jam bahkan lebih per harinya pada usia 2 tahun, dua kali lebih mungkin mengalami keterlambatan dalam komunikasi dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Selain itu dengan display time dan usia yang sama juga memiliki kemungkinan hingga dua kali lebih besar untuk mengalami keterlambatan dalam keterampilan motorik halus dan keterampilan pribadi serta sosial.

Sedangkan pada usia 4 tahun, peningkatan risiko keterlambatan tetap hanya pada keterampilan komunikasi dan pemecahan masalah.

Faktor-faktor lain seperti genetika, pengalaman negatif termasuk pelecehan atau penelantaran, dan faktor sosial ekonomi juga mempengaruhi perkembangan pada anak.

Dalam studi baru menyebutkan, orang tua yang cenderung lebih muda, belum pernah melahirkan sebelumnya, memiliki pendapatan rumah tangga yang lebih rendah, memiliki tingkat pendidikan lebih rendah serta mengalami depresi pasca persalinan memiliki anak-anak dengan display time yang lebih lama.

Salah satu kekurangan dalam penelitian ini yakni, tidak memiliki rincian tentang jenis display time yang terpapar pada anak-anak serta knowledge apakah orang tua menonton konten tersebut bersama anak.

Beberapa penelitian menunjukkan, tidak semua jenis display time memiliki efek yang sama pada perkembangan anak. Sebuah meta-analysis dari sumber tepercaya yang melibatkan penelitia dengan anak-anak di bawah usia 12 tahun menemukan bahwa display time yang dihabiskan untuk konten pendidikan berkaitan dengan peningkatan keterampilan bahasa, dibandingkan dengan jenis penggunaan display time lainnya. Selain itu orang tua yang melihat konten bersama anak mereka juga memiliki efek menguntungkan pada kemampuan bahasa.

Simak Video “Krisis Dokter Anak di Korsel: Imbas Angka Kelahiran dan Gaji Rendah
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Studi Ungkap 8 Kebiasaan Sehat yang Bikin Umur Makin Panjang 20 Tahun


Jakarta

Menerapkan sejumlah kebiasaan sehat di usia paruh baya diyakini dapat memperpanjang umur selama beberapa dekade. Sebuah studi besar di AS dari Carle Illinois Faculty of Drugs telah mengamati delapan kebiasaan penting dari gaya hidup sehat.

Adapun delapan kebiasaan tersebut di antaranya:

  1. Tak merokok
  2. Pola makan yang baik
  3. Tidur nyenyak
  4. Mengelola stres
  5. Aktif secara fisik
  6. Memiliki hubungan sosial yang positif dengan orang lain
  7. Tak meminum alkohol
  8. Menghindari kecanduan obat opioid

Menurut studi tersebut, wanita dengan delapan kebiasaan di atas pada usia 40 tahun bisa hidup rata-rata 21 tahun lebih lama daripada mereka yang tak menerapkannya. Sementara pria berusia 40 tahun yang menerapkan delapan kebiasaan tersebut bisa hidup rata-rata 24 tahun lebih lama.

Temuan studi tersebut mengacu pada riset terhadap 720.000 veteran militer di AS yang mengisi kuesioner tentang gaya hidup mereka, serta catatan medis dianalisis. Kelompok berusia 40 hingga 99 tahun itu kemudian ditindaklanjuti untuk melihat siapa yang meninggal.

“Kami benar-benar terkejut dengan seberapa banyak yang dapat diperoleh dengan mengadopsi satu, dua, tiga, atau delapan faktor gaya hidup,” kata dr Xuan-Mai Nguyen, penulis utama dari studi tersebut.

“Temuan penelitian kami menunjukkan bahwa menerapkan gaya hidup sehat penting untuk kesehatan masyarakat dan kesehatan pribadi. Lebih awal lebih baik, tetapi bahkan jika Anda hanya membuat perubahan kecil di usia 40-an, 50-an, atau 60-an, itu tetap bermanfaat,” imbuhnya.

Ada sekitar 33.375 kematian di antara mereka yang mengikuti penelitian ini, memungkinkan para peneliti untuk melihat seberapa besar kemungkinan orang dengan delapan kebiasaan sehat itu meninggal.

Secara keseluruhan, hasil menunjukkan tetap aktif secara fisik, tidak merokok, dan tidak kecanduan obat opioid memiliki dampak terbesar pada umur.

Ini mengurangi risiko kematian sebesar 46 persen karena aktif secara fisik, 29 persen untuk non-perokok, dan 38 persen untuk mereka yang tidak memiliki masalah opioid.

Sementara meminimalkan stres, memiliki pola makan yang baik, tidak minum alkohol berlebihan, dan tidur nyenyak dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sekitar 20 persen.

Efek terkecil terlihat pada orang-orang dengan hubungan sosial yang positif, tetapi ini terkait dengan penurunan sekitar lima persen kemungkinan kematian selama penelitian.

“Kebiasaan gaya hidup sehat dapat mencegah penyebab penyakit kronis, yang dapat membantu orang untuk hidup lebih lama, hingga usia delapan puluhan daripada enam puluhan,” dr Xuan-Mai Nguyen.

‘Itu bisa menghemat uang layanan kesehatan untuk obat-obatan dan perawatan.”

Pria berusia empat puluh tahun tanpa kebiasaan gaya hidup sehat diperkirakan akan meninggal pada usia rata-rata 62 tahun. Namun, mereka yang menerapkan delapan kebiasaan sehat tersebut bisa mencapai usia 86 tahun.

Sementara wanita yang tidak memiliki kebiasaan sehat diperkirakan hidup sampai usia 66 tahun. Namun bagi mereka yang menerapkannya dapat hidup hingga usia 88 tahun.

Memiliki semua kebiasaan sehat dikaitkan dengan penurunan 87 persen risiko kematian dini.

Simak Video “Rahasia Panjang Umur Ratu Elizabeth II Hingga 96 Tahun
[Gambas:Video 20detik]
(suc/vyp)

Ternyata Ini Warna Mata Paling Langka di Dunia Menurut Studi

Jakarta

Warna mata seseorang ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari gen sampai mutasi seseorang. Berbeda dari kepercayaan, warna mata anak tidak bisa hanya ditentukan dari warna mata kedua orang tuanya.

Ada proses rumit di balik warna mata yang kita miliki dan hasilnya terkadang tidak biasa. Warna mata dipengaruhi oleh produksi melanin atau pigmen di bagian iris mata.

Dikutip dari laman BBC Science Focus, studi menemukan hijau sebagai warna mata paling langka di dunia. Menurut survei yang dipublikasikan American Academy of Ophthalmology, hanya sembilan persen orang di dunia yang memiliki mata berwarna hijau.

Sementara itu, 18 persen lainnya memiliki warna mata hazel atau kombinasi coklat terang dengan aksen hijau dan oranye, 27 persen berwarna biru, 45 persen berwarna cokelat, dan satu persen sisanya memiliki warna selain cokelat, biru, hazel, atau hijau.

“Warna mata unik untuk semua orang, dan tidak ada satu pun mata cokelat yang mirip dengan yang lain,” kata Purnima Patel, MD, juru bicara klinis AAO dan pendiri Ophthalmology and Retina Associates of Georgia.

Menurut laporan serupa, kondisi mata terlangka adalah albinisme yang hanya ditemukan di 1 dari 20 ribu orang. Dalam kasus ini, iris mata albinisme berwarna bening, tetapi pembuluh darah membuat mata tampak merah muda atau merah.

Apa yang menentukan warna mata?

Singkatnya, warna mata ditentukan oleh melanin, hal yang sama yang menghasilkan pigmentasi rambut, mata, dan kulit.

Bagian berwarna mata, yang dikenal sebagai iris, terdiri dari dua lapisan: epitel di belakang, dan stroma di depan. Epitel tipis mengandung pigmen coklat kehitaman, sedangkan stroma memiliki jumlah pigmen yang bervariasi yang disebut melanin. Warna mata berhubungan langsung dengan jumlah melanin yang ditemukan di stroma.

“Orang dengan mata cokelat memiliki banyak melanin di iris, sementara orang dengan mata biru memiliki lebih sedikit melanin,” kata Yuna Rapoport, MD, dokter spesialis mata yang berbasis di New York Metropolis kepada Riders Digest.

Simak Video “Hii.. Begini Bentuk Kutu Bulu Mata
[Gambas:Video 20detik]
(kna/suc)