Tag: Pemanis

Masih Dipantau BPOM RI! Ini Makanan yang Bisa Mengandung Pemanis Aspartam


Jakarta

Belakangan ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyorot penggunaan aspartam atau pemanis buatan yang berisiko karsinogenik atau kanker. Klasifikasi WHO dan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) terkait aspartam ini muncul pasca laporan di tiga penelitian besar, yang menunjukkan hubungan antara jenis kanker hati yakni karsinoma hepatoseluler dengan aspartam.

Riset yang dilakukan di AS dan Eropa meneliti minuman dimaniskan secara artifisial.

Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) memastikan pihaknya masih mengizinkan penggunaan aspartam. Ini tercantum dalam aturan PerBPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan.

Sederet pemanis buatan yang diizinkan dengan kadar batas tertentu termasuk aspartam adalah asam siklamat, kalsium siklamat, natrium siklamat, sakarin, sukralosa, neotam. Pertimbangan BPOM RI sejauh ini mengacu pada pedoman Codex Normal Commonplace for Meals Components (Codex GSFA).

“Saat ini regulasi untuk bahan tambahan pangan pemanis buatan aspartam masih tetap sesuai batas maksimum yang ditetapkan di PerBPOM Nomor 11 tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan,” demikian penegasan BPOM, yang merespons kekhawatiran kanker di aspartam, ditulis Senin (17/7/2023).

Meski begitu, BPOM RI tetap akan memantau perkembangan lanjutan terkait kemungkinan aspartam bisa memicu kanker.

Aspartam merupakan pemanis buatan yang ditemukan pada tahun 1965. Bahan tersebut terdiri dari dua asam amino, yakni asam aspartat dan fenilalanin.

Jika dibandingkan dengan gula biasa, aspartam sekitar 200 kali lebih manis, yang berarti sedikit saja sudah cukup. Singkatnya, satu bungkus aspartam (1 gram), yang memiliki 4 kalori, sama dengan 2 sendok teh gula biasa (8 gram) dengan 32 kalori.

Dikutip dari Livestrong, pemanis aspartam ditemukan di sejumlah produk makanan bebas gula, seperti:

  • Soda food regimen
  • Permen karet
  • Agar-agar
  • Es krim
  • Sereal
  • Campuran kakao bebas gula

Selain itu, pemanis buatan juga digunakan untuk menambahkan sentuhan manis pada obat-obatan, seperti obat batuk, serta vitamin yang bisa dikunyah. Meski banyak makanan yang mengandung aspartam, pemanis buatan tidak ditemukan dalam makanan yang dipanggang.

Struktur asam amino aspartam tidak stabil saat dipanaskan. Bahan itu akan kehilangan sebagian rasa manisnya selama proses pemanggangan.

Simak Video “Hati-hati! Aspartam Banyak Ditemukan di Minuman Soda
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

WHO Disebut Bakal Umumkan Pemanis Aspartam Berpotensi Picu Kanker


Jakarta

Pemanis buatan aspartam disebut akan dinyatakan sebagai zat yang mungkin memicu kanker. Pemanis buatan itu diketahui banyak digunakan di dunia. Sebagian di antaranya cukup populer di banyak negara.

Dilaporkan Reuters, sumber menyebut bahwa aspartam pada Juli 2023 akan dimasukkan pada daftar zat yang mungkin bersifat karsinogenik terhadap manusia untuk pertama kalinya oleh Badan Riset Kanker Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Worldwide Company for Analysis on Most cancers (IARC).

Putusan IARC sebenarnya sudah diselesaikan sejak awal Juni ini setelah pertemuan dengan para pakar eksternal. Namun, tidak disebut takaran aspartam yang aman dikonsumsi.

Pada 1981, JECFA (Joint Knowledgeable Committee on Meals Components) atau komite gabungan ahli WHO dan Meals and Agriculture Group (FAO) untuk bahan pangan tambahan menyatakan aspartam aman dikonsumsi jika dikonsumsi sesuai batas harian.

Aspartam sendiri telah dipelajari secara ekstensif selama bertahun-tahun. Pada tahun 2022, sebuah studi observasional di Prancis pada 100 ribu orang menunjukkan orang yang mengonsumsi pemanis buatan dalam jumlah lebih besar (termasuk aspartam) memiliki risiko kanker sedikit lebih tinggi daripada mereka yang mengonsumsinya secara regular.

Namun, belajar dari keputusan IARC di masa lalu mengenai zat berbeda, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen. Pada 2015, muncul putusan bahwa glifosat berpotensi bersifat karsinogenik. European Meals Security Authority (EFSA) menentang penilaian ini.

Namun, pada tahun-tahun berikutnya, sejumlah perusahaan masih merasakan dampaknya. Bayer Jerman kalah di meja hijau dan harus memberikan ganti rugi pada pelanggan yang terkena kanker dan menyalahkan glifosat.

“IARC bukan badan keamanan pangan dan tinjauan aspartam mereka tidak komprehensif secara ilmiah dan sangat didasarkan pada penelitian yang didiskreditkan secara luas,” kata Frances Hunt-Wooden, sekretaris jenderal Worldwide Sweeteners Affiliation (ISA), dikutip dari Reuters.

Pada Maret lalu, pejabat dari Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang menuliskan surat pada WHO. Dia meminta agar dilakukan peninjauan sebelum laporan dirilis.

“Kami dengan hormat meminta kedua badan untuk mengkoordinasikan upaya mereka dalam meninjau aspartam untuk menghindari kebingungan atau kekhawatiran di kalangan masyarakat,” tulis Nozomi dalam suratnya pada Wakil Direktur WHO Zsuzsanna Jakab.

Simak Video “Waspada Kanker Mata
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)