Tag: Sebut

Dokter Kulit Sebut Tawas Aman-aman Saja Dijadikan Deodoran, tapi…

Jakarta

Salah satu ‘mimpi buruk’ yang ditakuti banyak orang adalah mengalami bau badan, khususnya di space ketiak. Bagian tubuh ini memang paling rentan mengeluarkan bau tak sedap serta keringat berlebih.

Tak sedikit masyarakat yang menggunakan berbagai kosmetik atau produk untuk menghilangkan bau ketiak. Bahkan ada pula yang menggunakan tawas sebagai solusinya.

Dokter spesialis kulit dr I Gusti Nyoman Darmaputra SpKK, SubspOBK, FINSDV, FAADV menjelaskan, pada dasarnya tawas adalah mineral alami yang aman digunakan sebagai deodoran dan jarang menimbulkan efek samping. Hal ini dikarenakan tawas tak mudah terserap ke dalam kulit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski aman, dr Darma menyebut beberapa orang dengan kulit sensitif kemungkinan bisa mengalami iritasi kulit apabila menggunakan tawas.

“Terutama jika mereka memiliki kulit yang sensitif atau alergi terhadap aluminium, komponen utama tawas,” imbuhnya saat dihubungi detikcom, Kamis (7/12/2023).

Cara Penggunaan Tawas

Tawas memiliki sifat antiseptik dan antimikroba, yang bisa membantu mengurangi bau badan dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau pada kulit. Adapun cara penggunaan tawas yang benar menurut dr Darma, yakni:

  1. Basahi tawas: Sebelum digunakan, basahi batu tawas dengan air.
  2. Gosokkan pada kulit: Gosokkan lembut pada space ketiak yang sudah dibersihkan.
  3. Biarkan kering: Tunggu sampai space tersebut kering sebelum memakai pakaian untuk menghindari noda.

Simak Video “Kasus Nyeri Punggung Bawah Diprediksi Meningkat Ratusan Juta Tahun 2050
[Gambas:Video 20detik]
(suc/vyp)

Menkes Sebut COVID-19 Lagi Naik di Semua Negara Termasuk Indonesia


Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut tren kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia sejalan dengan laporan lonjakan pada banyak negara. Dirinya mengaku tidak heran lantaran gelombang infeksi COVID-19 umum terjadi setiap enam bulan.

Meski begitu, masyarakat diminta tidak panik, kenaikan kasus COVID-19 tidak memicu perawatan di RS membludak. Angka mattress occupancy price untuk COVID-19 secara nasional bahkan berada di bawah satu persen.

“Angka COVID di semua negara naik, di Indonesia juga naik. Kita tuh sempat ada di 50-an, 60-an kasus sehari. Jadi ya 200, 300, 400 persen naiknya. Kenaikan kita dari (angka) yang terkecil,” beber Budi kepada wartawan Kamis (7/12/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengacu pada pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dihitung dari jumlah penduduk, kasus COVID-19 di Indonesia sangat terkendali, di bawah 6.000, 7.000 kasus termasuk kategori aman.

“Di WHO ada guidance-nya (pedoman) berapa kasus yang terbanyak adalah (dihitung) 20 per 100.000 populasi per hari. Jadi itung-itungannya kalau belum 7.000, 8.000 per hari itu masih masuk kategori aman, karena kan penyakit terjadi terus,” terang Menkes.

“Kalau sampai masih di bawah 6.000, 7.000 kasus untuk jumlah penduduk kita per hari ya aman.”

Bukan terkait mobilitas, peningkatan kasus COVID-19 diyakini Menkes karena adanya varian baru.

“Kenaikan COVID itu kan dulu ada yang banyak yang bilang Lebaran, liburan, itu tidak ilmiah. Secara ilmiah sudah dibuktikan, semua kenaikan COVID terjadi karena ada varian baru. Ya Omicron kan ada anak cucu gitu, dia bermutasi terus,” pungkas Budi Gunadi.

“Dia penularan lebih cepat tapi fatality price (kematian) rendah.”

Simak Video “Covid-19 Kembali Ngegas, Perlukah Pakai Masker Lagi?
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Psikolog Sebut Istri Bergaji Besar Rentan Jadi Korban KDRT, Ini Alasannya


Jakarta

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut catatan KemenPPPA di tahun 2022, sekitar 18 ribu perempuan menjadi korban KDRT.

Psikolog klinis A Kasandra Putranto mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan, termasuk finansial.

“Ketika perempuan mungkin punya penghasilan yang lebih tinggi, lalu suaminya punya penghasilan yang lebih rendah, yang paling umum terjadi biasanya suami ini mungkin merasa insecure,” kata Kasandra dikutip dari Antara, Sabtu (25/11/2023).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sifat insecure inilah yang membuat para suami biasanya menampilkan reaksi yang sifatnya ingin menunjukkan kekuasaan. Terlebih ketika toleransi dan tidak adanya komunikasi yang baik, maka KDRT rentan terjadi.

Konflik akibat kesenjangan finansial ini akan semakin berkembang utamanya jika hanya bergantung kepada pendapatan istri. Apalagi jika terjebak sebagai ‘sandwich technology’ yang harus menanggung kebutuhan orang tua dan anak.

Meski demikian, Kasandra menekankan bahwa kasus KDRT bisa dipicu berbagai faktor, bukan hanya finansial. Kekerasan bisa terjadi karena faktor psikologis, sosial, bahkan tekanan dari masyarakat.

“Ketika konflik berkelanjutan, akhirnya bisa menjadi sebuah kekerasan,” tandasnya.

Simak Video “Saran Psikolog Jika Kamu Melihat Tanda-tanda Seseorang Ingin Bunuh Diri
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Kemenkes Sebut Dugaan Kasus Korupsi APD Terjadi Sebelum Period Budi Gunadi Sadikin


Jakarta

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mengusut kasus dugaan penyalahgunaan dana terkait pengadaan alat pelindung diri (APD) di Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI). Pihaknya disebut sudah mengantongi nama tersangka.

“Pengadaan APD apa sudah ada tersangka? Ya sudah ada,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat jumpa pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, dikutip dari detikNews, Jumat (10/11/2023).

Alex bahkan menyebut KPK sudah menandatangani surat perintah penyidikan kasus dugaan korupsi APD di Kemenkes RI. Meski begitu, identitas tersangka belum diungkap.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi juga mengaku belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait diduga tersangka kasus korupsi. Namun, pihaknya meyakini kasus tersebut terjadi jauh sebelum Budi Gunadi Sadikin menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI.

dr Nadia menegaskan pengaturan pencegahan kasus korupsi di lingkup Kemenkes RI sebetulnya sudah berjalan. Namun, dirinya tidak menampik kemungkinan sejumlah oknum yang memanfaatkan wewenang.

Hal ini kemudian menjadi evaluasi serius pihak Kemenkes RI.

“Mekanisme sudah ada dan sudah berjalan hanya kalau peluang individu, mungkin saja tentu ini akan menjadi evaluasi untuk terus meningkatkan upaya Kemkes untuk mencegah korupsi, kolusi, dan nepotisme,” sambungnya.

“Kami menunggu informasi lebih lanjut dari KPK ya. Sepemahaman kami ini terjadi sebelum masa Pak Budi Gunadi Sadikin sebagai Menkes RI,” pungkasnya.

Simak Video “Varian Eris Masuk RI, Menkes: Tak Usah Panik
[Gambas:Video 20detik]
(naf/vyp)

Riset Sebut Kasus Stroke Bakal Naik Drastis Beberapa Tahun ke Depan, Ini Gegaranya

Jakarta

Serangan stroke tak hanya menghantui orang-orang berusia lanjut, melainkan juga orang-orang muda dengan kisaran usia 20 hingga 30 tahun. Lebih lagi baru-baru ini, Organisasi Stroke Dunia-Komisi Neurologi Lancet melaporkan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, jumlah pasien stroke akan meningkat pesat di seluruh dunia. Mengapa demikian?

Tak hanya gegara kedatangannya yang seringkali mendadak tanpa ‘aba-aba’ beruba gejala tertentu lebih dulu, penyakit stroke juga ditakutkan lantaran berisiko menimbulkan kecacatan permanen.

Kemudian laporan dari Lancet baru-baru ini menyebut, jumlah orang yang meninggal dunia akibat stroke di seluruh dunia kemungkinan akan meningkat sebanyak 50 persen pada 2050, dengan 10 juta orang meninggal karena stroke setiap tahunnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Medical Information At present, saat ini, tercatat ada 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke setiap tahunnya. 5 juta dari orang-orang ini meninggal, sementara 5 juta lainnya masih hidup dengan kecacatan. Diketahui, stroke adalah penyebab kematian kedua terbesar dunia, setelah penyakit jantung iskemik.

Selain itu, laporan tersebut juga mencatat bahwa kasus stroke meningkat pesat di kalangan orang dewasa berusia kurang dari 55 tahun. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), pada kebanyakan kasus, stroke dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup berupa:

  • Makan Sehat
  • Aktif secara fisik
  • Tidak merokok
  • Membatasi asupan alkohol

Apa Penyebabnya?

Ahli saraf dari Universitas Columbia, dr Joshua Z. Willey, menyebut salah satu penyebab stroke paling signifikan adalah kondisi hipertensi, yang seringkali tidak diobati dengan baik dan tidak terdeteksi.

Kemudian kepala penelitian dan pengembangan di VA St. Louis Well being Care System, Ziyad Al-Aly, menyebut epidemi obesitas world adalah penyebab utama kasus stroke. Ditambah, kasus diabetes sebagai faktor stroke lainnya juga meningkat di dunia.

Sedangkan Profesor Madya Monash College, Monique Kilkenny, mencatat bahwa masalah lingkungan dan kualitas udara, termasuk masalah polusi, berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi stroke saat ini.

Simak Video “Seberapa Penting Menyederhanakan Istilah Medis ke Masyarakat Awam?
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

IDAI Sebut Kasus Batpil-ISPA Anak Melonjak gegara Polusi, Perlukah PJJ?


Jakarta

Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) dr Bernie Endyarni Medise, SpA(Ok), MPH, blak-blakan menyebut kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak meningkat imbas polusi. Menurutnya, banyak yang mengalami batuk hingga pilek yang tak sembuh-sembuh imbas alergi polutan.

“Batuk pilek lebih banyak, tapi nggak demam ya. Lebih ke alergi polutan. Cukup banyak,” ucapnya saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Selasa (15/8/2023).

Karenanya, ia mengingatkan orang tua untuk tidak mengajak anak ke tempat-tempat dengan polusi tinggi. Tak lupa juga menggunakan masker hingga memberikan asupan makan yang cukup pada anak.

“Anak cukup makan, harus dapat imunisasi, harus cukup tidur istirahat, stimulasinya harus dilakukan supaya dia berkembang juga,” tuturnya.

“Sebenarnya masker-masker biasa nggak apa-apa. Kalau masker untuk partikel besar seperti polusi, gunanya yang penting kan tidak masuk ke dalam,” sambungnya lagi.

Lantas, Selain Masker-Asupan Makan Cukup, Perlukah PJJ untuk Anak Sekolah?

Menurut dr Bernie, penerapan pembelajaran jarak jauh atau PJJ di tengah polusi buruk untuk anak sekolah perlu dipikirkan secara matang, termasuk dampak jangka panjangnya. Hal ini dikarenakan banyaknya anak didik yang tak bisa menyerap mata pelajaran dengan baik ketika belajar dari jarak jauh.

“Supaya anak ini harus terus bisa sekolah dong, jadinya mungkin perlunya pemerintah apa, kemudian mungkin pengguna kendaraan karena kan polusi banyak dari kendaraan mungkin lebih banyak pakai transportasi yang nyaman mungkin. Jadi apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi polusi ini,” imbuhnya lagi

Simak Video “Ideas Kurangi Potensi Gangguan Kulit Akibat Polusi Udara Ekstrem
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)

Saykoji Sebut Dirinya ‘Emotional Eater’, Bagaimana Mengatasinya?

Jakarta

Rapper kondang Indonesia, Ignatius Rosoinaya Penyami atau yang akrab disapa Igor Saykoji baru-baru ini membagikan kabar terbaru mengenai progres dietnya. Dalam waktu 8 bulan, berat badan Igor berhasil menyusut hingga 35 kilogram.

Perjalanan weight-reduction plan Igor bermula dari dirinya ‘dijebak’ sang istri, Tessy Penyami. Selain itu, berusia 40 tahun tersebut juga mengaku pernah menjadi emotional eater.

“Gue emotional eater. Banyak orang ngira gue bahagia terus, tapi gue makan sebagai cara gue menangani rasa sakit batin,” katanya dalam akun Instagram-nya @saykoji.

Apakah Emotional Consuming Bisa Diatasi?

Dikutip dari Healthline, emotional eater adalah seseorang yang mencari makanan ketika menghadapi sedang masalah emosi atau perasaan berat. Ketika seseorang makan sebagai respons dari sebuah emosi, hal tersebut disebut dengan istilah emotional consuming.

Jika seseorang mengalami masalah emotional consuming dan tidak memiliki cara lain untuk mengatasinya, hal ini bisa menjadi masalah. Sebab, makanan yang dikonsumsi tidak dapat memperbaiki masalah yang sebenarnya.

Emosi negatif dapat memicu seseorang untuk mengonsumsi makanan secara berlebihan. Dikutip dari Mayo Clinic, berikut adalah ideas untuk mengatasi emotional consuming:

1. Membuat ‘diary’ makanan

Cobalah menulis diary atau buku harian tentang makanan yang dikonsumsi. Tuliskan apa yang dikonsumsi, berapa banyak porsi makanan, kapan makanan tersebut dikonsumsi, bagaimana perasaan saat makan dan seberapa lapar.

Seiring waktu, pola yang mengungkapkan hubungan antara suasana hati dan makanan mungkin akan terlihat.

2. Mengendalikan stres

Jika stres berkontribusi pada emotional consuming, cobalah teknik manajemen stres, seperti yoga, meditasi, atau pernapasan dalam.

3. Melakukan ‘double examine’ sebelum makan

Sebelum makan, cobalah untuk memastikan bahwa apakah rasa lapar yang dirasakan bersifat fisik atau emosional? Jika perut tidak keroncongan meski sudah makan beberapa jam sebelumnya, mungkin rasa lapar tersebut hanya sekadar ‘lapar mata’.

Jika mengalami hal tersebut, berikan waktu agar perasaan tersebut segera berlalu.

4. Mencari help system

Keluarga, teman atau komunitas dapat menjadi sistem pendukung (help system). Sebab, seseorang cenderung menyerah pada perilaku emotional consuming jika tidak memiliki help system yang baik.

NEXT: Memiliki Hobi

Simak Video “Suggestions Weight loss program ala Fadli Zon yang Berat Badannya Turun 32 Kg
[Gambas:Video 20detik]