Jakarta

Antraks muncul lagi di Gunungkidul, penyakit ini dipicu oleh bakteri bacillus anthracis yang bersifat deadly pada hewan, juga bisa menular ke manusia lantaran termasuk virus zoonosis.

Bahkan, antraks dikenal dengan penyakit tanah karena bisa bertahan selama puluhan tahun. Sapi yang mati tidak boleh dibedah maupun dibuka. Penanganannya harus langsung dibakar atau dikubur.

“Ketika ini dibedah, maka spora akan keluar masuk ke dalam tanah, sehingga dia akan membentuk melindungi dirinya sampai bertahan puluhan tahun,” sebut Nuryani Zaenuddin Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam konferensi pers Kamis (6/7/2023).

Antraks di Indonesia sebetulnya sudah dilaporkan sejak 1884. Setiap tahun bahkan rutin dilaporkan beberapa kasus secara sporadis atau tidak merata di berbagai wilayah. Karenanya, jika ada faktor risiko, potensi antraks terus mewabah akan selalu ada.

Mengapa Muncul Lagi di Gunungkidul?

Gunungkidul menjadi salah satu wilayah endemis antraks. Menurutnya, tidak heran jika kemudian penyebaran begitu masif hingga menginfeksi 93 orang saat tidak ada pengendalian yang dilakukan di wilayah endemis.

“Gunungkidul ini memang endemis antraks, ketika endemis tidak dilakukan secara baik, baik di tanah, lingkungan, maupun masyarakat, maka ini akan terus berlanjut kasusnya,” terang dia.

Kasus di Gunungkidul

  • Mei 2019: Menyebar di Dukuh Grogol Desa Bejiharjo Kepanewon Kecamatan Karangmojo
  • Desember 2019: Kepanewon Ponjong
  • Januari 2020: Kepanewon Ponjong
  • Januari 2022: Gedangsari
  • Januari 2023: Semanu

NEXT: Wilayah Berisiko Penularan Antraks