Jakarta

Banyak petugas kesehatan di Palestina yang mengalami trauma, frustasi, dan kelelahan yang luar biasa alias burnout imbas menangani ribuan korban serangan Israel. Deru bom dan rudal yang terdengar menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak secara psychological dan fisik para petugas kesehatan.

Dokter, perawat, staf administrasi, dan kru penyelamat bekerja sepanjang waktu mengobati dan merawat pasien korban serangan Israel, beberapa di antaranya mengalami burnout. Sementara yang lainnya mengalami kelelahan psikologis akibat merawat luka-luka yang mengerikan atau frustasi karena kekurangan sumber daya.

“Sebelum perang, kami bertanggung jawab untuk meringankan stres dan trauma para korban yang sakit dan terluka, tetapi sekarang kami lah yang justru membutuhkan pelampiasan karena tubuh dan jiwa kami yang kelelahan,” kata perawat Huda Shokry dari Al-Daraj Medical Advanced, dikutip Aljazeera.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pengawas ruang gawat darurat di Al-Daraj, dr Ahmed Ghoul mengatakan, para profesional medis yang bekerja bersamanya berdedikasi untuk merawat pasien.

“Meskipun kekurangan hampir semua hal yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan kami secara efektif, kami tidak meninggalkan kamar kami, siang atau malam, kecuali untuk istirahat ke rest room,” ucapnya.

“Kami telah kehilangan waktu berhari-hari dalam seminggu karena kami lebih mementingkan ribuan orang yang terluka,” sambungnya lagi.

Petugas kesehatan di Gaza juga tak memiliki tempat untuk tidur meskipun mereka memiliki kesempatan untuk memejamkan mata. Kamar tidur pribadi mereka bahkan telah diubah menjadi space operasi hingga perawatan darurat pasien.

Sementara itu, sebagian besar dapur rumah sakit sudah tidak berfungsi lagi. Mereka kekurangan sumber daya dasar untuk menyiapkan makanan bagi staf atau pasien.

“Kami sudah lelah dengan apa yang kami saksikan,” lanjut Shokry.

“Menjadi seorang dokter dalam perang di Gaza, berarti harus kehilangan rasa takut dan kelelahan. Mustahil untuk mempertahankan jiwa yang regular,” lanjutnya lagi.

Sebelumnya pada 7 Oktober, kelompok militan Hamas melakukan serangan terhadap Israel yang menewaskan 1.400 orang dan menyandera lebih dari 200 orang. Israel kemudian melancarkan serangan balasan ke Gaza, yang menurut Kementerian Kesehatan Hamas, telah menewaskan lebih dari 10.000 orang sejauh ini.

Simak Video “Krisis Bahan Bakar, Satu-satunya RS Kanker di Gaza Berhenti Operasi
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)