Tag: Pernah

Pernah Kena Stroke? Dokter Saraf Wanti-wanti Serangan Berulang gegara Ini


Jakarta

Stroke merupakan penyakit penyebab kematian paling tinggi di Indonesia. Menurut information Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat stroke mencapai 132 kasus per 100 ribu penduduk.

Dibutuhkan penanganan yang cepat dan tepat pada pasien stroke, khususnya di fase awal. Hal ini perlu dilakukan agar kondisi kesehatan tidak memburuk atau risiko stroke untuk muncul kembali menjadi rendah. Sebenarnya apa saja faktor yang menyebabkan seorang pasien mengalami stroke untuk yang kedua kalinya?

Dokter spesialis neurologi dr Nyoman Angga Krisna Pramana, SpN FINR menuturkan bahwa seorang pasien stroke harus mendapat penanganan yang adekuat. Namun dalam beberapa kasus, faktor risiko atau penyebab stroke pada seorang pasien bisa sulit ditemukan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Contoh misalnya ada pasien stroke non-hemoragik, mencari apa penyebabnya aja sulit dan membutuhkan waktu. Apakah pembuluh darah lehernya yang bermasalah, atau pembuluh darah otak, atau jantungnya yang bermasalah,” ucap dr Nyoman dalam webinar Kenali dan Kendalikan Stroke Kemenkes, Jumat (3/11/2023).

“Kondisi ini mengakibatkan pencarian faktor risiko dari pasien ini menjadi tidak adekuat, terlepas dari problem-problem tersebut. Ketika pencarian faktor risiko tidak adekuat, maka penanganan juga bisa menjadi tidak adekuat,” sambungnya.

Selain itu, dr Nyoman juga menuturkan bahwa menjalani pengobatan penyakit stroke tidaklah mudah. Dalam pengalamannya, ia kerap menemukan pasien yang tidak dapat mengikuti ritme proses perawatan lantaran begitu panjang dan memerlukan banyak sekali obat. Mulai dari obat pengencer darah, anti kolesterol, hingga anti kencing manis tergantung bagaimana kondisi pasien.

Tak jarang akhirnya kondisi ini membuat pasien merasa kelelahan dalam menjalani pengobatan penyakit stroke.

“Sering kali pasien stroke tidak meminum semua obat ini dengan baik karena merasa capek, merasa lelah, atau ketika minum obat tidak merasakan banyak perubahan seperti itu. Jadi itu saya rasa faktor seseorang bisa menyebabkan stroke kedua,” pungkasnya.

Simak Video “Viral Cuitan Kiky Saputri, Apakah Stroke Kuping Benar Ada?
[Gambas:Video 20detik]
(avk/naf)

Mohon Maaf yang Pernah COVID-19! Studi Bawa Kabar Tak Enak Lagi


Jakarta

Sejumlah orang yang pernah terkena COVID-19 mengalami lengthy COVID atau gejala berkepanjangan. Adapun salah satu gejala yang dikeluhkan berupa masalah kognitif seperti kabut otak atau mind fog.

Sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature Medication, mengamati lebih dari 1.800 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit karena COVID. Dalam penelitiannya, ditemukan peningkatan kadar dua protein, yakni fibrinogen dan D-dimer, sering terjadi pada mereka dengan lengthy COVID yang memengaruhi otak.

Kedua protein tersebut merupakan tanda adanya penggumpalan darah di dalam tubuh. Menurut Max Taquet, penulis studi di Universitas Oxford, pasien dengan kadar fibrinogen yang tinggi dapat mengalami pembekuan darah di otak yang menyebabkan masalah kognitif.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara peningkatan kadar D-dimer juga dapat menyebabkan pembekuan darah di paru-paru yang dapat memicu komplikasi, seperti mengurangi aliran darah ke otak dan juga menyebabkan kelelahan dan sesak napas.

Studi tersebut menemukan pasien dengan D-dimer konsentrasi tinggi cenderung mengalami kelelahan dan sesak napas pasca-COVID.

baca juga

“Individu dengan kadar D-dimer yang tinggi tidak hanya lebih rentan terhadap kabut otak tetapi juga menunjukkan peningkatan risiko gangguan pernafasan,” kata Taquet, dikutip dari The Unbiased.

Studi tersebut didasarkan pada pemikiran yang muncul saat puncak pandemi COVID-19 menyebabkan beberapa pasien mengalami gumpalan kecil di paru-paru dan di otak. Kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk masalah memori jangka panjang, konsentrasi dan berpikir.

“Ini adalah langkah maju yang penting dalam pemahaman kita tentang stratifikasi lengthy Covid dan, mungkin, beberapa mekanisme yang mendasarinya, mereka berpendapat bahwa kasus untuk mendukung kemungkinan masukan dari efek pada jalur pembekuan,” kata Danny Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial Faculty London, dan pakar lengthy COVID terkemuka,

Lebih lanjut, temuan ini menunjukkan pengujian kadar protein darah pasien yang dapat memperingatkan dokter jika pasien tersebut harus dirawat imbas pembekuan darah sejak dini.

Apalagi jika pasien tersebut pernah terkena COVID-19 yang paling mungkin mengalami kabut otak dan gejala lengthy COVID lainnya.

Sejak tahun 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 36 juta orang di kawasan Eropa diyakini telah mengalami masalah kesehatan jangka panjang atau lengthy COVID, setelah terinfeksi virus tersebut.

baca juga

Simak Video “BPJS Kesehatan Tanggung Biaya Perawatan Pasien Covid-19
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

Kisah Pria dengan Mr P Terbesar di Dunia, Tak Pernah Bisa Punya Pasangan?


Jakarta

Bagi sebagian pria, ukuran penis adalah bagian dari aset dan kebanggaan. Bahkan, ada yang mengatakan semakin besar alat important seorang pria maka makin ‘jos’ pula performanya di ranjang. Kalau begitu, apakah artinya pria dengan penis terbesar di dunia adalah orang paling ‘andal’ dalam berhubungan seks?

Kenyataannya mungkin tidak seperti yang dibayangkan. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Roberto Esquivel Cabrera, pria asal Meksiko yang menjadi pemilik penis terpanjang di dunia.

Cabrera pertama kali menjadi sensasi pada tahun 2015 saat mengaku memiliki penis sepanjang 48 cm dengan berat hingga 900 gram. Memiliki ‘anggota’ dengan ukuran jumbo, Cabrera pun sempat bermimpi menjadi aktor movie porno. Sayangnya, tak ada satupun tertarik untuk meng-castingnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Aku mengatakan kepada mereka, aku tidak masalah jika mereka mengambil gambarku, merekamku untuk televisi atau semacamnya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang memerhatikanku. Mereka pura-pura tidak melihat apa yang ada di hadapan mereka,” ujarnya dalam sebuah interview, dikutip dari Marca, Kamis (28/9/2023).

“Aku ingin membuat movie. Bukan mereka yang menawari kontrak, tapi aku ingin membeli semua peralatan, dan membuat filmku sendiri dalam berbagai bahasa dan memasarkannya ke banyak negara. Bayangkan, di China saja ada lebih 1 juta orang! Dengan uang penjualan tersebut aku bisa memiliki pacar, atau jika tidak, aku bisa saja memiliki anak dari inseminasi buatan bersama seseorang yang benar-benar mencintaiku,” ungkapnya.

Alih-alih mewujudkan mimpinya sebagai aktor movie porno, Cabrera kini malah hidup dalam kemiskinan. Tak hanya itu, penisnya kerap mengalami infeksi. Bahkan untuk bisa tertidur di malam hari, Cabrera mengaku harus mengikat penisnya ke paha agar bisa tidur dengan nyaman.

Dengan panjang penis 48 cm, Cabrera mengalahkan rekor yang dipegang oleh Jonah Falcon yang memiliki penis berukuran 35 cm. Meski begitu, banyak pihak, termasuk Falcon, yang meragukan keaslian ukuran penis yang dimiliki Cabrera.

Bahkan, seorang pakar bernama dr Jesus Pablo Gilmore pernah melakukan studi untuk membuktikan ukuran penis Cabrera yang sebenarnya. Berdasarkan hasil CT scan yang dilakukan, ia menemukan ukuran penis Cabrera aslinya ternyata hanya 18 cm. Sisanya hanya kulup yang tidak dipotong.

Sebuah media berita juga melakukan investigasi serupa untuk menyelidiki kebenaran di balik ukuran penis Cabrera. Berdasarkan hasil penyelidikan, mereka mengatakan ukuran penis Cabrera disebabkan oleh kebiasaan menggantung beban pada alat vitalnya sejak masih muda.

Kendati upaya yang dilakukan orang-orang untuk mencari tahu ukuran penisnya, Cabrera tetap menolak membuka perban yang menutupi penisnya dan memperlihatkan bentuk organ vitalnya yang sebenarnya.

Simak Video “Klinik Pengobatan Mak Erot Juga Bisa Tangani Keluhan Mr P Patah
[Gambas:Video 20detik]
(ath/vyp)

Dokter Gadungan Susanto Pernah Jadi Kepala Puskesmas, Kemenkes Buka Suara


Jakarta

Heboh pria lulusan SMA di Surabaya, Jawa Timur, Susanto dilaporkan dua tahun menjadi dokter gadungan. Usut punya usut, Susanto mengelabui Rumah Sakit PHC Surabaya, tempatnya bekerja, dengan ijazah milik orang lain yang kemudian fotonya diganti dengan foto dirinya.

Kasus Susanto terungkap pasca pihak RS akan memperpanjang kontrak Susanto. Susantio mendaftar lowongan tenaga layanan clinic sebagai dokter first help. Kemudian, diterima sebagai dokter hiperkes yang memastikan proses di perusahaan menerapkan standar K3, seperti menguji secara berkala kesehatan para pekerja, setiap peralatan yang digunakan, lingkungan kerja, hingga tata kelola kelembagaan.

Jauh sebelum itu, Susanto juga ternyata pernah menipu pihak Pemda Kalimantan dengan menjadi Kepala UPTD dan Kepala Puskesmas. Company Secretary PT Pelindo Husada Citra, Imron Soewon menyebut Susanto mencomot identitas dr Anggi Yurikno yang ternyata seorang residivis dan korbannya adalah pemerintah daerah (pemda).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Karena sebenarnya orang ini residivis dan sudah pernah kejadian dan pernah dihukum di daerah Kalimantan, tapi tidak jera juga. Kami tahunya setelah itu (kasus terbongkar),” ujar Imron seperti dikutip dari detikJatim, Selasa (12/9/2023).

Apa Kata Kemenkes?

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengaku belum mendapatkan informasi lebih element mengenai kasus tersebut. Namun, pihaknya menyinggung persoalan proses verifikasi dalam tahap awal penandatangan kontrak.

Dalam hal ini, komite etik memiliki tanggung jawab di balik kesesuaian tenaga medis yang direkrut dengan kompetensinya.

“Mengenai hal ini kami belum mendapatkan informasi lebih terinci, tapi pertama sebenarnya seharusnya, pada kontrak pertama proses kredensial dari komite medik untuk menentukan tenaga medis tadi kompetensinya sesuai dengan yang dibutuhkan,” terang dr Nadia saat dihubungi detikcom Rabu (13/9/2023).

“Dan proses kredensial ini harus dilakukan komite medik untuk mencari informasi, jadi di tahap perpanjangan ada proses cek and ricek, yang mungkin bagian kredensial, akhirnya dapat ditemukan permasalahan ini,” sambung dia.

Berkaca pada kasus Susanto, Kemenkes RI mengimbau setiap rumah sakit untuk melaksanakan tatakelola RS sebagaimana mestinya termasuk pembinaan SDM, juga kerja sama dengan dinas kesehatan setempat.

“Setiap RS punya hospital by legislation, tentu harus ada pembinaan mengingatkan akan terus dilakukan bersama juga dengan Dinkes provinsi, kabupaten/kota, juga dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA), juga Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI),” pungkasnya.

Simak Video “Besaran TPP yang Diterima Dokter Spesialis di Papua
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

Sudah Pernah Kena COVID, Masih Bisa Kena Varian Pirola? Begini Temuan Terbaru CDC

Jakarta

Dunia digegerkan dengan kemunculan varian baru Corona yakni subvarian Omicron BA.2.86 atau yang juga disebut sebagai varian Pirola. Varian ini diketahui memiliki mutasi paling banyak dibandingkan varian-varian Corona lainnya dengan complete lebih dari 30 mutasi.

Varian dikhawatirkan dapat menular dengan amat cepat, dan memiliki kemampuan untuk ‘kabur’ dari proteksi vaksin COVID-19 maupun antibodi yang terbentuk dari infeksi virus Corona alamiah.

Information dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menunjukkan, antibodi yang dihasilkan oleh infeksi virus Corona atau vaksin COVID-19 yang sudah ada masih efektif infeksi BA.2.86.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS juga menyoroti, penyebaran BA.2.86 di Amerika Serikat saat ini tidak mendorong peningkatan kasus COVID dan rawat inap, melainkan mengaitkannya dengan virus-virus lain yang sebagian besar beredar.

Gejala Varian Pirola

Di samping itu hingga kini, belum ada bukti yang yang memastikan bahwa varian Pirola berisiko memicu gejala serius, atau risiko kematian yang besar pada pasien COVID-19.

“Sejauh ini, tampaknya tidak ada peningkatan keparahan pada jenis COVID-19 ini, dan individu tersebut tidak dirawat di rumah sakit,” lapor Pusat Pengendalian Penyakit British Columbia dikutip darid Each day Voice.

Di samping itu, gejala COVID-19 dengan infeksi varian Pirola diyakini mirip dengan gejala Omicron pada umumnya berupa:

  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Pilek
  • Bersin

Simak Video “ Kenali Gejala Varian Pirola yang Disebut Picu Gelombang Covid-19 Baru
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

Buka-bukaan Jennifer Aniston Ngaku Pernah Facial Pakai Sperma Ini biar Awet Muda


Jakarta

Jennifer Aniston adalah salah satu artis Hollywood yang kerap dipuji berkat tampilannya yang terlihat awet muda. Meski sudah menginjak usia 54 tahun, penampilan aktris asal AS itu tak jauh berubah seperti saat bermain di serial Mates.

Dalam sebuah interview, Aniston mengaku akan melakukan hampir segala cara untuk membuat kulitnya tetap tampak muda. Salah satu cara ekstrem yang pernah dicobanya yakni facial dengan menggunakan sperma ikan salmon.

Aniston mengatakan ide gila itu datang dari salah seorang pakar kecantikan yang ia kunjungi.

“Aku lalu berkata ‘Kamu serius? Bagaimana kamu bisa mendapatkan sperma ikan salmon?’,” ucap Aniston, dikutip dari New York Put up, Kamis (24/8/2023).

Aniston mengatakan pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan sperma ikan salmon tersebut. Meski awalnya ragu, ia akhirnya memutuskan untuk menjalani perawatan menggunakan produk ‘unik’ itu.

Setelah melakukan perawatan tersebut, Aniston mengaku tidak merasakan perubahan yang signifikan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk tidak lanjut menggunakan sperma ikan salmon sebagai produk kecantikan.

Meski Aniston mengaku tidak merasakan manfaat yang berarti, sperma ikan salmon sendiri merupakan bahan wajib dalam produk skincare di Korea Selatan selama bertahun-tahun. Pakar dermatologi dari West Palm Seashore, Florida, dr Kenneth Beer menduga DNA yang diambil dari sperma ikan salmon, seperti Sodium DNA, HP DNA dan PDRN, memiliki fungsi meremajakan kulit yang membuat bahan tersebut menjadi sebuah luxurious di dunia kecantikan.

Lebih lanjut, ia mengatakan perawatan menggunakan sperma ikan salmon biasanya ditawarkan di spa kesehatan, dengan tujuan merangsang produksi kolagen, meningkatkan pergantian sel dan pigmentasi, serta mengurangi peradangan.

“Apa yang lebih menyegarkan selain sperma salmon? Meski begitu, alasan paling penting yang membuat bahan tersebut populer kemungkinan karena Jennier Aniston membicarakannya,” pungkas Beer.

Simak Video “Suggestions Layering Produk Skincare Agar Meresap Sempurna
[Gambas:Video 20detik]
(ath/naf)

Kabar Tak Enak Buat yang Pernah COVID, 700 Ribu Warga Inggris Alami Gejala Ini


Jakarta

Kabar nggak enak buat penyintas COVID-19, warga Inggris ramai-ramai melaporkan efek jangka panjang atau Lengthy COVID. Mereka diliputi rasa depresi dan kecemasan sehingga terlalu lelah atau sakit untuk bekerja.

Dikutip dari Reuters, Inggris menjadi salah satu negara yang terlambat pulih dari pandemi COVID-19, dibandingkan negara Eropa lain selain Jerman.

Kasus lengthy COVID meningkat dari 260 ribu kasus menjadi 754.000, naik 53 persen dibandingkan Januari, tahun lalu.

Ada 412.000 orang berusia 16 hingga 64 tahun yang tidak bisa bekerja karena mengalami efek jangka panjang dalam tiga bulan terakhir hingga Mei. Catatan ini naik 20 persen dibandingkan sebelum pandemi.

Sebaliknya, jumlah orang usia kerja yang tidak produktif secara ekonomi karena alasan umum lainnya, seperti pensiun dini atau tanggung jawab merawat, jauh lebih rendah daripada sebelum pandemi.

Angka yang dirilis pemerintah pada Rabu (26/7) memberikan rincian tentang apa yang ada di balik peningkatan kesehatan buruk.

Sebagian besar dari 2,5 juta orang usia produktif yang mengalami efek jangka panjang sedikitnya memiliki lima keluhan bahkan lebih. Tren ini meningkat sebanyak 42 persen dari 2019, demikian penjelasan Kantor Statistik Nasional Inggris.

Kategori kesehatan buruk yang paling umum ditemui adalah depresi, gangguan saraf, kecemasan.

“Jumlah orang yang sakit jangka panjang dengan kondisi ini naik 386.000 dari 2019 menjadi 1,351 juta,” kata ONS, peningkatan tercatat mencapai 40 persen.

Angka ini juga berimbas pada jumlah ‘ready checklist’ perawatan di Layanan Kesehatan Nasional Inggris, merangkak naik dari 4,6 juta pada Januari 2020, kini berada di 7,4 juta.

Simak Video “Jepang Turunkan Klasifikasi Covid-19 Jadi Setara Flu Biasa
[Gambas:Video 20detik]
(naf/vyp)

Tak Pernah Dikubur, Otak Einsten Dipotong Jadi Ratusan-Dibuat Penelitian Ilmiah


Jakarta

Fisikawan legendaris Albert Einstein meninggal karena aneurisma perut pada usia 76 tahun pada 18 April 1955. Jenazahnya dikremasi dan abunya disebar di lokasi yang dirahasiakan.

Namun, bagian otaknya tidak ikut dikremasi. Sampai akhirnya, ahli patologi rumah sakit Princeton bernama Thomas Stoltz Harvey mengeluarkan otak Einstein dari tubuhnya, dan memotongnya menjadi 240 bagian.

Sebagian besar potongan otak itu disimpan dan diawetkan untuk keperluan pribadi lebih dari 40 tahun. Namun, sekitar 170 dari potongan otak Einstein itu dikembalikan ke College Medical Middle of Princeton.

Sebanyak 46 potongan tipis jaringan otak Einstein dipajang di Museum Sejarah Medis Mütter di Philadelphia. Namun, banyak potongan lainnya yang masih hilang.

Setelah sekian lama mengamati dan menelitinya, Harvey menganggap ada hal luar biasa secara fisik pada otak Einstein. Itu mungkin dapat menjelaskan kejeniusan Einstain.

Di tahun 1955, Harvey memerintahkan beberapa peneliti untuk memotong beberapa bagian otak menjadi 200 irisan jaringan extremely tipis. Masing-masing dipotong tidak lebih dari setengah lebar rambut manusia.

Harvey juga memajang irisan otak Einstein ke slide dan mendistribusikannya ke sejumlah peneliti yang tidak diketahui, tanpa izin dari keluarga Einstein. Ia membawa sebagian besar sisa otak itu di dalam toples melintas AS dan sebagian Kanada.

Beberapa waktu kemudian, Harvey kembali memindahkan bagian otak yang tersisa ke beberapa toples di rumahnya. Meski sampel otak itu sudah dibagikan pada peneliti yang tertarik, Harvey masih menyimpan sebagian besar otak Einstein hingga tahun 1998. Sampai akhirnya, ia mengembalikan sisa potongan otak ke Pusat Medis Universitas Princeton.

Nasib Keberadaan Otak Einstein

Saat ini, para ilmuwan hanya diperbolehkan melihat otak jenius jika mereka memberikan proposal yang sangat menarik kepada Pusat Medis.

Pada tahun 1985, beberapa studi pertama dipublikasi tentang foto dan sampel potongan otak yang didistribusikan Harvey. Studi ini menemukan adanya perbedaan kecil dalam struktur otak Einstein, dibandingkan dengan kelompok kontrol otak non-jenius.

Ini termasuk alur ekstra di lobus frontal Einstein, yakni bagian dari otak yang terkait dengan memori kerja dan perencanaan dan konsentrasi neuron yang lebih besar di space tertentu, memungkinkan pemrosesan informasi yang lebih cepat.

Sejauh ini, para peneliti yang ditawari irisan otak Einstein oleh Harvey sudah mengembalikannya lagi. Sementara, sebagian yang dikirim Harvey tidak pernah ditemukan lagi.

Simak Video “Penjelasan Elon Musk Tentang Prosedur Pemasangan Chip Otak Miliknya
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Awal Mula Kakek di Vietnam Ngaku Tak Pernah Tidur Selama 60 Tahun


Jakarta

Beberapa waktu lalu seorang kakek di Vietnam membuat geger karena mengaku tidak pernah tidur selama 60 tahun. Kakek berusia 80 tahun bernama Thai Ngoc itu mengatakan bahwa dirinya terakhir kali tidur pada tahun 1962.

Pihak keluarga dan sahabat juga mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat Ngoc tertidur. Banyak tenaga medis yang diklaim telah menguji kondisinya. Namun tidak ada satupun yang bisa membuktikan Ngoc pernah tidur sama sekali.

Ngoc menceritakan bahwa kejadian ini berawal semenjak demam yang dialaminya saat masih kecil. Kejadian itu membuatnya tidak pernah tidur sampai sekarang.

Ngoc memang nampak mengalami permasalahan insomnia yang permanen. Namun, hingga saat ini kakek tersebut tidak memiliki masalah kesehatan apapun yang disebabkan oleh tidurnya yang kurang.

Seorang Youtuber bernama Drew Binsky yang penasaran dengan kisahnya pun mencoba mendatangi Ngoc yang tinggal di sebuah desa kecil di Vietnam.

“Pertama kali saya mendengar Pak Thai itu sudah bertahun-tahun lalu dan saya tidak pernah tahu bisa bertemu dengannya karena lokasi ia tinggal tak pernah diungkapkan,” ucap Binsky dikutip dari Instances Now, Jumat (30/6/2023).

Binsky berpendapat bahwa kejadian yang dialami oleh Ngoc bisa saja berasal dari masalah psikologis. Hal ini bisa berkaitan dengan post-traumatic stress dysfunction (PTSD) yang didapatkannya dari perang Vietnam. Perang tersebut terjadi antara tahun 1955 sampai 1975.

“Sebagian orang berpikir ini mungkin terjadi karena PTSD dari perang. Sebagian juga percaya bahwa ini adalah kondisi medis yang sangat langka,” jelas Binsky.

Vlogger asal Arizona, Amerika Serikat tersebut menghabiskan banyak waktu bersama Ngoc. Ia berusaha melihat secara langsung apakah kakek Ngoc memang tidak pernah tidur.

Pihak keluarga mengatakan bahwa sebenarnya Ngoc selalu berusaha untuk mencoba tidur. Namun usaha yang dilakukannya masih selalu gagal.

“Dia selalu mencoba karena ia ingin tidur. Seperti orang regular, mencoba menutup mata, namun tidak bisa. Dia masih berpikir di kepalanya,” pungkas salah satu kerabat.

Simak Video “Cara Memastikan Perasaan saat Jatuh Hati dengan Sepupu di Momen Lebaran
[Gambas:Video 20detik]
(avk/suc)

Bukan Predominant, Kakek Ini Ngaku Tak Pernah Tidur Selama 60 Tahun


Jakarta

Seorang kakek 80 tahun mengklaim tidak pernah tidur selama 60 tahun lamanya. Kakek di Vietnam bernama Thai Ngoc ini menceritakan kejadiannya berawal dari demam yang dialami semasa kecil hingga membuatnya tidak bisa tidur.

Ia mengaku terakhir kali ‘menutup matanya’ pada 1962. Keluarga hingga teman Ngoc mengatakan mereka belum pernah melihat Ngoc tidur sama sekali.

Meskipun banyak profesional medis yang diduga sudah menguji kondisinya, tidak ada satu pun petugas medis yang dapat membuktikan Ngoc pernah tidur sama sekali.

Walaupun tampak tengah menghadapi masalah insomnia permanen, kakek tersebut tidak menderita masalah kesehatan apa pun imbas dari kurangnya tidur.

Seorang YouTuber yang mengangkat kisahnya bernama Drew Binsky dan berbicara langsung dengan Ngoc mengatakan sudah lama mengetahui sosok kakek tersebut.

“Pertama kali saya mendengar Pak Thai itu sudah bertahun-tahun lalu dan saya tidak pernah tahu bisa bertemu dengannya karena lokasi ia tinggal tak pernah diungkapkan,” ucap Binsky dikutip dari Instances Now, Jumat (30/6/2023).

Kerabat Ngoc juga menceritakan bagaimana pengalaman kakek 80 tahun tersebut dalam Perang Vietnam. Kerabat menjelaskan Ngoc sebenarnya sangat berharap bisa tidur.

“Dia selalu mencoba karena ia ingin tidur. Seperti orang regular, mencoba menutup mata, tapi tidak bisa. Dia masih berpikir di kepalanya,” ujar salah satu kerabat.

Binsky mengatakan kondisi yang dialami oleh Ngoc juga bisa berkaitan dengan post-traumatic stress dysfunction (PTSD) yang didapatkan dari Perang Vietnam. Perang Vietnam terjadi pada 1955 sampai 1975.

“Sebagian orang berpikir ini mungkin terjadi karena PTSD dari perang. Sebagian juga percaya bahwa ini adalah kondisi medis yang sangat langka,” ucap Binsky.

Vlogger dari Arizona itu menghabiskan waktu bersama Ngoc untuk melihat secara langsung apakah kakek tersebut memang tidak pernah tidur. Setiap malam, Ngoc berusaha tidur tapi tidak pernah bisa.

Simak Video “Cara Memastikan Perasaan saat Jatuh Hati dengan Sepupu di Momen Lebaran
[Gambas:Video 20detik]
(avk/suc)