Jakarta

Aksi Susanto yang menjadi dokteroid atau dokter gadungan di klinik milik PHC Surabaya menarik perhatian publik. Hal ini lantaran Susanto aslinya adalah seorang lulusan SMA, tetapi ia lolos menjadi dokter first help di klinik tersebut selama dua tahun.

Ia juga sebelumnya pernah mengelabui sejumlah klinik dan RS. Bahkan sempat berpraktik menjadi dokter spesialis obgyn di salah satu RS Kalimantan dan melakukan tindakan operasi.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi, SpOT mengatakan masalah ini terjadi karena kurang ketatnya proses kredensial bagi dokter yang akan bekerja di fasilitas kesehatan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kredensialing adalah proses peninjauan dokumen terhadap tenaga keperawatan untuk menentukan kelayakan pemberian kewenangan klinis. Proses ini penting sebagai tanggung jawab rumah sakit dan untuk menjaga keselamatan para pasien.

Lebih lanjut, dr Adib menyebut kemungkinan bisa bobol karena proses yang dijalani oleh pelaku adalah proses inner langsung ke perusahaan tanpa melibatkan organisasi profesi.

“Dalam proses undang-undang praktik kedokteran, proses yang berkaitan dengan kredensial di mana memberikan penugasan kepada IDI itu dipertegas di Permenkes 2052 2011, Sehingga itu yang menjadikan suatu dasar bahwa di setiap proses kredensial atau penerbitan rekomendasi izin praktik, itu selalu melibatkan IDI cabang setempat,” imbuhnya dalam konferensi pers, Kamis (14/9/2023).

Menurutnya, proses penerimaan dokter atau tenaga medis seharusnya melibatkan organisasi profesi agar mengetahui kredibel dari dokter yang melamar di suatu tempat.

“Jadi kalau ada dokter yang ingin berpraktik di dalam suatu wilayah, atau mendapatkan satu penugasan klinis, maka dia masuk ke dalam suatu proses yang namanya masuk klip komite rekomendasi izin praktik dengan proses kredensial di inner,” imbuhnya lagi.

“Tetapi ini yang kemudian bahwa pada saat masuk dokter gadungan, artinya kalau dokter gadungan tidak ada proses yang dilakukan inner di Ikatan Dokter Indonesia karena dia bukan dokter. Dia memalsukan sebuah dokumen, memasukkan dokumen itu, dan kemudian dia diterima di institusi itu,” lanjutnya lagi.

Di sisi lain, Ketua IDI Surabaya, Dr dr Brahmana Askandar, SpOG Subsp Onk, menegaskan IDI Surabaya juga tak pernah memberikan surat izin praktik untuk dokter gadungan tersebut.

Simak Video “Ginjal Babi yang Dicangkok ke Tubuh Manusia Berhasil Bekerja selama 2 Bulan
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)